Sembilan

1367 Kata
  Dalam kisah cintanya Jihan adalah orang yang paling bodoh. Dion adalah pacar pertamanya. Dan dia adalah pria paling berengsek sedunia. Mereka pacaran sejak SMA. Awalnya Jihan tak memperdulikan usaha Dion mendekatinya. Dion, tampan, berbakat, dan berada. Dia terkenal dengan supel, humoris, namun playboy. Perempuan mana yang tak luluh hatinya setelah didekati dengan banyak usaha. Termasuk Jihan yang akhirnya menyerah dan menerima Dion dan segala kelakuannya. Waktu itu Dion berjanji akan menghentikan ke playboy-annya. Hubungan mereka seperti kebanyakan hubungan pacaran biasa. Tak ada peluk apalagi cium. Gandengan saja jarang. Apel saja hanya dirumah. Itupun kalau Dion sanggup melalui introgasi kedua hero-nya. Hubungan mereka adem ayem pada tahun pertama. Setelah lulus SMA, Dion memilih kuliah di Malang, ikut pamannya. Dan Jihan memilih berkuliah di Semarang. Karena memang jurusan yang dia inginkan ada di kota kelahirannya. Semester pertama kuliah, hubungan mereka seperti biasa, meskipun komunikasi mereka sedikit berkurang, kesibukan semester awal yang menjadi masalah. Apalagi tidur Jihan yang tak teratur. Semester kedua, awal pertemuan Jihan dengan Siska. Mereka bertemu dimata kuliah umum, dari situlah mereka menjadi sahabat. Setiap akhir pekan, terkadang Siska akan menginap dirumah Jihan. Pada Siskalah, Jihan bercerita tentang hubungannya dengan Dion. Meskipun Jihan dan Dion bertemu tiap libur semester, tapi tetap saja ada yang berubah diantara mereka. Dion yang lebih suka bermain game saat bersamanya, atau dirinya yang enggan mengungkapkan pendapatnya tentang hubungan mereka. Permasalahan semakin memuncak saat keluarga Dion pindah ke Surabaya. Makin sedikitlah waktu mereka bertemu. Awal dari pertengkaran mereka, saat awal semester enam ketika Dion mengabaikan pesannya satu hari penuh, meskipun statusnya terlihat online. Jelas saja hal itu menjadi pertanyaan Jihan, kemana Dion, tidak mungkin membuka aplikasi tanpa menutupnya sehari penuh. Sehari, dua hari Jihan coba menahannya. Tapi ini sudah seminggu pria itu tak menghubunginya sama sekali. Kesal. Jihan membuka i********: miliknya dan men-search akun Dion. Terakhir kali dia membuka akun itu masih fotonya saat memakai almamaternya yang dijadikan foto profil oleh Dion. Namun sekarang berganti menjadi foto Dion saat dipuncak Bromo. Ditambah lagi, ada sebuah foto yang membuat Jihan bingung. Dion dan Rasti, sahabatnya yang paling dekat saat SMA berada dalam satu frame. Tak ada caption apa - apa disitu, namun sebuah komentar yang menjadi masalah. Rastisita31_ last @Dionmoha Tak ada balasan dari Dion namun tetap saja hal itu membuat Jihan terganggu. ****** Setelah mencoba bersabar, akhirnya Jihan memutuskan untuk menelepon Dion ketika subuh. "Iya." Ucap Dion pertama kali saat mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum." Ucap Jihan. "Waalaikumsalam. Ada apa An." Kata Dion sambil mengucapkan panggilan specialnya untuk Jihan. "Gimana kabar?" "Sehat." "Lagi apa?" "Habis sholat." "Kemasjid?" "Enggak. Dirumah ini. Tumben telepon." Lanjut Dion. "Kemana aja selama ini?" "Kuliah, nggak kemana - mana. Maksud kamu gimana?" "Bukan badanmu. Aku tahu badanmu itu di Malang. Tapi hati dan pikiranmu ada dimana pas aku lagi chat kamu tapi nggak dibales. Padahal kamu lagi online. Nggak cuma sekali dua kali loh, kamu seminggu di wa gak dibales. Kemana?" Ucap Jihan sambil menahan agar tak berteriak, menganggu tidur Siska. Dia memang menginap ditempat Siska. "Ya aku kuliah dong. Aku sibuk. Kadang sekalinya buka w******p gak ketutup. Maaf." Balas Dion membela. "Pesan aku nggak dibales, katanya sibuk, tapi masih sempet post foto di i********:. Foto sama siapa itu? Gak bisa apa bales aku dulu, gak sampe lima menit kamu bales chat aku." "Sama Rasti, sahabat kamu, kan? Kami ketemu waktu seminar di Surabaya empat hari yang lalu. Aku lupa." "Kamu udah bosan sama hubungan ini?" Tanya Jihan. "Ji, kamu jangan bilang gitulah, aku disini juga berjuang buat masa depan kita." "Ji? Udahlah Yon, kututup dulu. Assalamualaikum." Ucap Jihan mengakhiri sambungannya tanpa memperdulikan Dion lagi. ****** Akhir semester enam,  setelah ujian akhir semester, Jihan dan teman angkatannya mengadakan kunjungan ke Surabaya. Kampus dimana Rasti kuliah. Sahabat? Laikkah disebut sahabat, saat bertemu pacarnya namun tak memberi tahunya. Untung saja kegiatan ini banyak dilakukan didalam ruangan, Jihan tak terlalu suka dengan panasnya Surabaya, meskipun, beberapa saudaranya ada yang tinggal dikota ini. Hari ketiga di Surabaya, Jihan dan teman - temannya diajak berkeliling kampus negeri tersebut. Mereka berhenti disebuah pelataran kampus. Dan Jihan melihat Rasti sedang bersama Dion, tertawa riang, saling berpandangan, dan sesekali Dion mengusap tangan Rasti. Tak tahan, Jihan kemudian mengirim pesan ke Dion. Namun dilihatnya kalau hape milik Dion ada ditangan Rasti, bahkan dirinya tak diizinkan meminjam benda pipih itu mendadak. Jihan : Lagi dimana? Udah makan siang? Dion : Di perpus kampus ini, habis ada praktik tadi. Udah. Jihan : Loh, kukira libur. Dion  : Libur apa, An? Jihan : Oh ya, aku lagi di Surabaya loh. Dion : Ngapain? Jihan : Kunjungan kekampus Rasti. Tapi aku nggak liat dia, kamu tau dimana bocah itu nggak? Dion : Kan aku di Malang, aku nggak tau dimana dia. Tak ada keinginan Jihan untuk membals pesan tersebut. Jihan sudah muak pada Dion. Lelaki itu berbohong padanya. Jelas - jelas dia di Surabaya bersama Rasti pula. Great. ****** Sudah seminggu Jihan mengabaikan pesan dari Dion. Terkadang dia hanya membalasnya cuek. Dan usaha Dion hanya sebatas itu. Tak ada niat untuk meneleponnya. Dasar Jangkrik Genggong. Iya sedari pagi Jihan memutar lagu itu. Untungnya lagu itu dinyanyikan Waldjinah. Jadi dirinya sedikit terhibur. "Dek." Panggil Imran. Kakaknya sedang libur dari koassnya. "Apa?" Jawab Jihan. "Kemarin abang lihat Dion di CL. Tapi dia sama cewek deh. Kayaknya abang kenal cuma lupa. Masih sama dia?" Ucap Imran saat Jihan mendudukkan diri dikursi sebelahnya. "Masih. Cuma nggak tau. Dia berubah." Jawab Jihan cuek. "Ajak ketemuan. Abang temenin." Kata Imran. Dia tidak ingin adiknya terlibat hubungan seperti ini. Dia takut kegiatan kuliah adiknya akan menurun karena hal ini. "Nantilah. Males aku." "Sini hapemu." "Abang!" "Udah. Sana bantu ibu." Usir Imran setelah mendapat ponsel pintar Jihan. Jihan berlalu sambil menghentakkan kakinya keras. Kemudian mendekat kearah dapur mendekati ibunya. "Kenapa?" Tanya sang ibu. "Abang tuh." "Udah, dia sayang sama kamu, dari apda cemberut mending kupas bawang ini." Ucap ibu, yang meski tak mendapat balasan Jihan, anak gadisnya itu tetap mengupas bawang yang disuruhnya. ****** Imran marah saat mengetahui Dion jalan dengan perempuan yang ditemuinya tempo hari di  mall untuk yang kedua kalinya. Pacar adiknya itu menolak bertemu dengannya karena sudah berada di Malang. Lalu siapa yang jalan dengan wanita lain tadi. Kemudian diliriknya reaksi Jihan yang biasa saja, namun tatapan matanya sangat terluka. "Berapa lama?" Tanya Imran dingin. "Udah lama." Jawab Jihan tenang. "Kita tunggu diparkiran." Kata Imran sambil menarik adiknya. Dirinya marah, sebagai kakak dia gagal melindungi perasaan adiknya. Lama menunggu diparkiran, akhirnya Dion dan Rasti muncul disana. Dengan sisa rasa yang tersisa untuk Dion, dan rada kesal karena terlalu bodoh, Jihan mendekati kedua anak muda tersebut "Dion." Panggil Jihan, mencoba berpura - pura tak tahu apa - apa. Sedang Imran, dia masih terus memantau adiknya. "Loh ada Rasti juga." Ucap Jihan seolah kaget melihat mantan sahabatnya. "Apa kabar, Ji?" Tanya Rasti. "Dion kok gak bilang kesini. Ditanyain sama bapak, terus mau diajak maen futsal sama abang." Ucap Jihan mengindahkan pertanyaan basa basi dari Rasti. "Baru kemarin kesini." Ucap Dion. "Bisa anterin aku pulang nggak?" Kata Jihan mencoba mengetes Dion, siapa yang mereka pilih diantara mereka berdua. "Tapi aku kesini sama Rasti. Aku kesini pake motor loh." Jawab Dion. Fix, Dion menolaknya. Sebenarnya siapa yang pacarnya disini. "Kamu pulang sama taksi aja Ji, aku teleponin." Ucap Rasti menawarkan bantuan. "Nggak usah." Sahut Jihan cepat. "Kita putus aja, Yon." Ucap Jihan setelah diam beberapa saat. "Kenapa?" Tanya Dion. "Apa karena aku?" Tanya Rasti. "Karena kamu udah nggak jujur sama aku, Yon. Dan karena kamu udah jalan sama pacar aku tanpa ngasih tahu aku, Ras." Jawab Jihan. "Alah itu sepele, Ji." Ucap Dion membela. "Kamu berubah, kamu udah ngerubah panggilan kamu ke aku. Kamu bohong sama bang Imran." Lanjut Jihan. "Loh katanya di Malang, Yon." Ucap Imran tiba - tiba muncul. "Bang, itu..-" Ucap Dion terbata - bata saat melihat Imran. "Ini pacar baru kamu? Sahabatnya Jihan kan, eh bukan, mantan sahabat, iya kan?" Ucap Imran sambil menunjuk Rasti. "Langgeng ya. Ayo dek, kamu udah single sekarang. Bebas." Ucap Imran sambil berdiri didepan Jihan. Imran melangkan kedepan lalu melesakkan pukulan kerahang Dion, hingga pria itu tersungkur. Hal itu membuat Rasti menjerit, dan langsung membantu Dion berdiri. Sedang Jihan, dia tak sudi melihat pria itu lagi. "Jangan dekati Jihan lagi. Dan saya menyesal membiarkan adik saya kenal kalian berdua." Ucap Imran sambil menunjuk keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN