Jika bukan karena Bang Aris dan Mbak Dewi mengajak, ehem lebih tepatnya memaksa Jihan untuk ikut makan siang dengan mereka, Jihan tidak akan makan siang. Bagaimana tidak, Ibu kepala bagian menyuruhnya untuk menjadi presentator kali ini. Ini bukan kali pertama Jihan menjadi presentator namun bedanya ini sangat mendadak kurang dari beberapa jam saja.
"Aku minum aja, Mbak." Ucap Jihan saat tiba di tempat makan. "Makan dek." Ucap Mbak Dewi. "Iya sih mbak, makan aja. Toh kemarin kan kebanyakan mbak udah nguasain materinya." Ucap Dito, junior Jihan di divisi mereka. "Lagian makan gak makan toh pulangnya bareng kita." Tambah Aris.
"Ya udah, aku mau pesen." Ucap Jihan kemudian melangkah cepat kedepan etalase yang memajang makanan. "Mbak, makan disini, nasi setengah sayur bayem, perkedelnya dua, kentang keringnya, sama sambel, minumnya teh anget ya mbak." Ucap Jihan cepat pada karyawan tempat makan. "Tunggu ya mbak, masnya ini dulu." Jawab karyawan dengan senyum manis itu.
Kemudian Jihan memilih menunggu sambil membuka ponselnya mempelajari materi nanti. "Ini mbak." Ucap sang pelayan tempat makan. "Makasih ya mbak." Jihan memilih tempat yang dekat dengan tembok. Kemudian datanglah tiga temannya. Terkadang terjadi obrolan diantara mereka, namun Jihan memilih diam sambil menikmati makannya.
"Diem aja mbak." Ucap Dito. Anak ini memang supel. Berbeda dengan mbak Dewi yang kalem namun sangat pengertian. "Jangan ganggu, Dit. Nanti kalo dia mau ngomong juga ngomong." Ucap Aris santai. Yang langsung di hadiahi delikan oleh Jihan. Tak sampai 10 menit, makanan dipiring Jihan sudah habis. Minumannya pun tinggal setengah. Jihan kembali membuka ponselnya untuk mempelajari materinya lagi. Tak ada pesan dari Pandu. Dia benar - benar menepati perkataannya waktu itu.
"Jihan?" Panggil seseorang membuat keempat pasang mata itu menoleh, termasuk Jihan. Saking terkejutnya Jihan, dia tak sanggup menjawab sapaan Dion kepadanya. Buru-buru dia mengemasi barangnya dan pamit, "Mbak, Bang, To. Aku duluan. Bang Aris bayarin dulu." Ucap Jihan sedikit panik.
"Lah Han." Baru saja hendak bertanya pada Jihan, gadis itu sudah keburu pergi dengan raut panik diwajahnya.
"Jihan tunggu!" Kata Dion sambil menarik lengan Jihan. "Lepas!!" Ucap Jihan sambil menyentak tangan Dion. "Please, listen to me." Ucap Dion memelas. Dia pikir Jihan akan luluh? Tidak akan.
"Nggak."
"Aku butuh kamu buat jelasin semuanya ke Rasti."
Apa?! Jelasin apa? Kesiapa? Gak kebalik? Tak berniat menjawab Jihan memilih melepas sepatu high heelsnya kemudian berjalan hanya dengan kaos kaki melapisi kakinya. Bodo amat yang penting bisa terbebas dari Dion. Lima menit dari tempat makan ke kantornya terasa sangat lama. Dion masih mengikutinya.
"Stop!! Lo pikir gue yang salah dalam hubungan kalian? Think again, Yon! Gue bakal ketemu kalian tapi gak sekarang. Fine. Gue turutin lo, karena gak ingin ketemu lo lagi. Itupun Mas Pandu yang bakal nemenin. Jangan bikin gue tambah dosa." Ucap Jihan meledakkan emosinya. Dia tidak ber elo-gue kecuali sedang sangat marah.
"Now." Ucap Dion datar. "Terserah." Ucap Jihan tak peduli. Dan memilih berlari menuju kantornya. "Aku tunggu kamu nanti waktu pulang." Ucap Dion saat Jihan sudah didepan kantornya. Terserah. Tak ada niatan menjawab dari Jihan.
******
Jihan langsung memakai sepatunya dan masuk kedalam lift. s**l kakinya terluka. Dia ingin menangis sekarang. Sampai kekubikelnya Jihan bertemu dengan Winda. Anak paling baru ditimnya. "Mbak kenapa?" Tanya Winda saat melihat keadaan Jihan yang berantakan, jalannya pincang, dan mata berkaca - kaca. "Tolong ambilin baskom sama air dek." Ucap Jihan bergetar. Tanpa bertanya lagi Winda langsung berlari ke dapur mengambil permintaan Jihan. Kemudian membantu Jihan membersihkan dan mengobati lukanya. Tanpa bertanya apapun.
Setelah selesai membantu Jihan. Winda meletakkan kaki Jihan pada lantai yang dilapisi sapu tangannya. Kemudian memeluk Jihan. "Kalau aku ngomong pasti nangis, dek." Ucap Jihan saat dipeluk Winda. "Istighfar mbak. Tuh udah pada balik. Nanti di interogasi loh." Balas Winda. "Dek, Bang Aris yang presentasi. Tadi udah bilang ke Bu Tina." Ucap Dewi sambil mengusap punggung Jihan.
"Emang boleh?" Satu isakan lolos dari bibir Jihan. Kedua pria diruangan itu pura - pura tidak mendengarkan isakan Jihan. "Boleh. Bang Aris bilang kamu lagi sakit." Ucap Dewi lembut. Tak menjawab Jihan lebih memilih menangis dipelukan Winda. Tak peduli dianggap cengeng oleh teman timnya. Toh Jihan memang tidak malu pada mereka.
"Saatnya rapat tim." Ucap Bu Tina. Sang Kepala Bagian.
"Jihan cukup ditemani satu orang saja. Cewek." Lanjut Tina tegas. Dan akhirnya Dewi yang menemani Jihan. Aris, Dito, dan Winda pergi dari kubikel mereka, melangkah keruang rapat. Jihan masih menangis saat bersama Dewi.
"Telepon Pandu?" Tanya Dewi. Namun dibalas gelengan oleh Jihan. Jihan jarang berekspresi berlebihan. Dia biasanya akan jadi penyemangat juniornya. Menjadi pundak bagi Winda saat menangis karena salah. Sekarang Jihan benar - benar kacau.
******
Saat Aris, Dito, dan Winda kembali kekubikel mereka Jihan sudah lebih tenang meskipun pandangannya kosong. "Gak ngehubungin Pandu, Han?" Tanya Aris saat duduk disebelah Dewi. Namun hanya dibalas gelengan oleh Jihan. Kemudian Aris berbisik pada Dito untuk mengambil hape Jihan.
"Mbak, pinjem hape dong. Punyaku lowbatt. Kutuker sama coklat deh." Ucap Dito mencoba bernegosiasi sambil menyodorkan setoples coklat miliknya. Jihan tak menjawab namun mendorong hapenya kearah Dito. Kemudian dibalas senyum tiga jari Dito. Kemudian Jihan mengambil toples itu dan memakannya.
"Nih Bang." Ucap Dito sambil menyerahkan benda tipis itu pada Aris. "Sip." Kemudian Aris mencari kontak Pandu diponsel Jihan.
"Halo." Ucap Aris saat dering pertama langsung diangkat oleh Pandu. Sontak hal itu membuat Jihan menoleh. Kemudian memilih memakan coklatnya lagi. Tak peduli tatapan Dito yang sangat menyukai coklat itu. Berharap agar Jihan menyisakan coklatnya. "Waalaikumsalam. Enggak, dia baik kok." Ucap Aris.
"Jadi gini, Jihan nanti gak ada yang jemput nih. Kasihan loh. Bisa gak jemput dia." Ucap Aris. Yang langsung mendapat pekikan dari Jihan. Namun tak ada pergerakan dari Jihan. "Tuh, dia sehat. Tolonglah jemput. Soalnya ada cowok aneh tadi." Ucap Aris. Kemudian Aris menyerahkan ponselnya pada Jihan. Sambungan teleponnya masih berlangsung.
"Halo." Ucap Jihan. "Assalamualaikum." Lanjut Jihan. "Waalaikumsalam." Jawab Pandu. "Kenapa?" Lanjut Pandu. "Kalau sibuk gak usah jemput." Ucap Jihan. s**l suaranya bergetar. Suara Pandu benar - benar mengacaukannya.
"Gak kangen?"
"Nggak."
"Pulang jam berapa?"
"Jam lima." "Mas?" Ulang Jihan karena lama tak ada jawaban dari seberang.
"Ngomong aja." Kata Pandu.
"Ngabisin pulsa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kemudian Jihan menutup teleponnya. Dia sedikit tenang. Mungkin karena suara Pandu entah apa. Suara notifikasi membuat Jihan berpaling. Pulsanya bertambah setara dengan pecahan uang berwarna merah. Dia tahu yang mengirim. Pandu. Ini sih rejeki yang tak bisa ditolak. Meskipun ingin. Lumayanlah. - pikir Jihan sambil senyum sendiri.
Aneh - pikir keempat rekannya.