Anora terbangun tiba-tiba. Matanya telah melek sempurna dan ia kaget mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Di pandanginya keliling kamarnya yang cukup luas dengan penerangan yang cukup baik. Sisi kirinya ada lilin aroma therapy yang membuatnya rileks. Ia menunduk, memikirkan bagaimana ia bisa berakhir di sana, dengan selang dan jarum inpus di kaki kirinya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang tengah terjadi. Ingatannya melayang ke dirinya yang menuliskan bab 6 dan 7 buku Diarynya namun belum ia tayangkan. Tapi ia yakin sesudahnya pasti ada sesuatu. Ia tak menemukan jawaban meski berusaha keras, sedangkan otaknya masih sibuk mengingat kejadian malam itu, saat Haris membopongnya ke hotel. Ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Batin Anora. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sangat

