Begitu Serene meninggalkan rumah Peter, kilasan masa lalu bergerak dengan begitu cepat sehingga pemandangan di hadapan Xena tampak seperti isi dari kaset rusak.
Berdasarkan ucapan dari Serene, sepertinya wanita itu selalu datang ke rumah Peter setiap minggunya. Hal seperti ini sebenarnya agak aneh, jika memang ingin membicarakan masalah pekerjaan, mengapa Peter tidak membawa Serene ke kantornya saja alih-alih ke rumah pribadinya?
“Memangnya kamu pernah ke rumah pribadi atasanmu sendiri?”
Xena memandang Zenon dengan seksama, jika pertanyaannya seperti itu jawabannya tentu saja pernah karena Zenon juga atasan Xena dalam pekerjaan ini dan mereka tinggal bersama. Tapi, tentu saja Xena tidak akan mengingatkan Zenon tentang hal itu.
“Aku selalu mengurus kontrak dan masalah pekerjaan di kantor, itu pun juga didampingi oleh Felix,” Xena berpikir sejenak sebelum berkata, “Aku tidak mengerti mengapa Serene datang sendirian tanpa didampingi oleh manajer. Asumsiku, dia dan Peter bertemu bukan untuk membicarakan masalah pekerjaan, melainkan masalah pribadi.”
“Sebelum terkena skandal, Apakah Nona Estelle memang orang yang problematik?”
Xena menggeleng cepat. “Tidak. Dia bahkan belum pernah mendapatkan masalah sebelumnya. Dari informasi yang kutahu, Serene adalah seseorang yang berasal dari kota kecil sehingga sifatnya cenderung polos dan tidak begitu kompetitif. Helios bahkan tidak pernah membenci Serene walaupun namanya sempat hancur setelah bersaing dengannya, bisa dibilang yang busuk itu adalah agensinya tapi Serene adalah orang yang murni.”
Jika Xena tidak menganggap Serene sebagai orang yang buruk, maka Zenon akan mempercayainya. “Orang sebaik itu pasti tidak pernah mendapatkan kebencian dari orang lain.”
“Kamu keliru,” Xena menambahkan, “Serene memang tidak pernah melakukan hal buruk tapi bukan berarti tidak ada yang membencinya. Kedatangan Serene ke dunia modelling agak aneh, dia tidak pernah mengikuti acara besar seperti ‘Next Top Model’ atau acara survival lain, tidak pernah pula mengikuti acara runway kecil. Debut pertamanya itu malah menjadi model di sebuah acara Fashion Show ternama yang kebanyakan modelnya merupakan model senior yang sudah melewati banyak perjuangan untuk mendapatkan ketenaran tapi Serene malah bisa masuk ke acara ini tanpa harus melewati proses yang panjang.”
“Kemampuan Serene dalam bidang modelling memang cukup baik, sangat baik malah. Namun, kemampuan saja tidak cukup untuk membuat seseorang mendapatkan popularitas tinggi hanya dalam waktu satu tahun. Karena itu, banyak model lain yang menyebarkan rumor bila Serene mempunyai hubungan kotor dengan Tuan Rodriguez.”
Zenon berpikir sejenak untuk mencerna penjelasan Xena. “Jika kamu berkata demikian, maka aku juga bisa curiga dengan Nona Estelle. Dia bahkan datang ke rumah Tuan Rodriguez setiap minggu tanpa membawa manajernya, jika bukan karena mempunyai hubungan gelap mana mungkin dia datang begitu rajin ke rumah atasannya.”
“Tapi, kita tidak bisa mempercayai rumor. Bagaimana pun juga, rumor hanyalah senjata yang digunakan oleh para artis untuk menjatuhkan karir satu sama lain. Selama kebenaran belum terungkap, maka kamu tidak perlu mempercayainya,” peringat Xena.
Zenon mengangguk tanda mengerti dan berhenti memikirkan hal yang buruk tentang Serene.
Kilas balik terus berputar dengan cepat, terus memperlihatkan sosok Serene yang akan selalu membawakan kue-kue manis buatannya untuk Parlan, sedangkan Parlan selalu memakannya hingga tak bersisa setelah melihat kepergian Serene. Keduanya terlihat sangat bahagia pada masa-masa itu, mungkin karena mereka hampir seumuran, baik Parlan dan Serene tidak mempunyai rasa canggung saat berbincang satu sama lain.
Akan tetapi, suatu hari Parlan melihat Serene keluar dari rumah Tuan Rodriguez dengan wajah yang kusut. Eskpresi wanita itu tampak kosong dan bahkan tidak menyunggingkan senyuman hangat seperti biasanya.
“Nona Estelle, apa kamu sedang menghadapi masalah?” tanya Parlan dengan khawatir.
Serene langsung tersenyum kecil saat mendengar suara Parlan dan menjawab dengan lesu. “Aku baik-baik saja, Tuan Gustov. Kamu tidak perlu khawatir.”
Parlan ingin kembali berbicara tapi Serene sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Saat itu, Parlan berpikir mungkin Serene hanya sedang menemui masalah di pekerjaannya dan akan kembali normal dalam waktu dekat.
Tapi ternyata dugaan Parlan salah besar.
Serene tidak pernah membaik sejak hari itu. Jika sebelumnya Serene akan datang ke rumah Peter dengan wajah yang dipenuhi senyum dan keluar dengan bahagia karena mendapatkan hadiah kecil dari Peter, kini Serene datang dengan wajah lesu dan pulang dengan raut wajah yang murung.
Punggung wanita itu kian hari kian membungkuk, seolah sedang membawa beban yang begitu berat sampai membuatnya kesulitan. Jiwanya yang selalu dipenuhi oleh kehangatan sekarang mulai retak dan menguap pergi, membuat Serene tampak seperti manusia tanpa jiwa dari waktu ke waktu.
Keadaan Serene mulai menumbuhkan rasa kekhawatiran yang tinggi di hati Parlan. Pria itu sudah terlalu biasa melihat tingkah Serene yang selalu kelebihan energi, sehingga sangat sulit untuknya melihat Serene menjadi orang lesu seperti sekarang.
Karena itu, begitu melihat Serene keluar dari pintu rumah Peter, Parlan langsung datang menghampirinya dan menahan lengan Serene yang ingin melangkah pergi.
“Nona Estelle, jika kamu sedang dalam masalah, kamu bisa membaginya denganku. Tolong, jangan dipendam sendirian.”
Serene tertegun, dia menatap kedua mata Parlan yang tampak bersinar di bawah teriknya matahari. Tapi, bukannya membagi masalahnya, Serene hanya memaksakan senyum seperti biasa “Kamu tidak perlu khawatir, aku hanya sedang merasa lelah.”
“Kamu bukan lagi sekadar lelah, Nona Estelle. Selama beberapa minggu ini kamu terlihat sangat tertekan, sehingga sulit bagiku untuk tidak merasa khawatir.”
Bagi Parlan, Serene merupakan seseorang yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya. Dia tahu bila Serene berasal dari sebuah kota kecil dan masih berusaha menyesuaikan diri dengan kota besar yang dipenuhi oleh kebusukan. Oleh karena itu, sejak pertama kali ia melihat Serene menginjakkan kaki di atas rumah Peter, Parlan tidak pernah berhenti untuk meyuruh Serene berhati-hati dalam memilih pertemanan.
Parlan hanya takut wanita yang polos itu akan hancur apabila salah memilih pergaulan di kota besar. Dia selalu tahu bahwa industri hiburan itu keras dan Serene akan terlihat seperti seekor kelinci buruan di tengah serigala lapar.
Setelah terus – menerus melihat wajah lesu dari Serene, wajar bila Parlan merasa khawaktir. Dia takut bila ada seekor serigala lapar yang berhasil menjebak kelinci kecil itu dan berusaha mempermainkan Serene.
“Aku sungguh tidak apa.” Serene berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Parlan, tetapi kekuatan fisik mereka berbeda sehingga Serene tidak mampu melepaskan diri.
Melihat Serene bersikeras untuk menyembunyikan masalahnya seorang diri, Parlan tiba – tiba saja merasa marah dan berteriak, “Nona Estelle! Jiwamu bisa retak apabila terus berpura – pura seperti ini!”
Serene terkejut saat mendengar bentakan dari Parlan sampai membuat lidahnya terasa keluh. Tanpa menunggu balasan dari Serene, Parlan segera menarik tangan Serene menjauh dari rumah Peter dan melangkah keluar dari wilayah kediaman Peter.
Melihat Peter bertindak seenaknya seperti itu, tentu Serene merasa kesal dan berusaha memberontak. “Lepaskan tanganku, Tuan Gustov.”
“Tidak, kita perlu bicara.”
“Apa yang ingin kamu bicarakan?! Memangnya kamu berhak mengetahui semua masalahku?! Setelah mengetahui masalah yang kuhadapi, apa yang akan kamu lakukan? Membantuku? Tidak mungkin, kamu tidak mungkin bisa membantuku Tuan Gustov,” cecar Serene. Tampaknya, setelah lama memendam perasaannya, hati Serene menjadi mudah tersulut emosi.
Seketika Peter menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di sebuah taman perumahan yang tengah sepi. Hanya ada mereka berdua di taman itu sehingga mereka bebas membicarakan apapun tanpa khawatir akan ada orang lain yang mendengar.
“Apapun masalah yang sedang kamu hadapi, aku pasti akan berusaha untuk membantumu, Nona Estelle,” kata Parlan dengan penuh keyakinan.
Tanpa Parlan duga sebelumnya, Serene malah menanggapi ucapan Parlan dengan tawa yang terdengar seperti ejekan. “Membantuku? Jangan terlalu besar kepala, Tuan Gustov. Kamu tidak akan mampu membantuku keluar dari masalah ini. Tidak, bukan hanya kamu, mungkin memang tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membantuku.”
“Nona Estelle …”
“Aku sudah muak dengan semua ini, Tuan Gustov,” Serene menundukan kepalanya sebelum kembali berkata, “Aku ingin berhenti, tapi aku terjebak dan tidak bisa menemukan jalan keluar untuk menyelesaikannya.”
Parlan meletakkan kedua tangannya di atas pundak Serene. “Katakanlah masalahmu, Nona Estelle. Aku pasti akan berusaha membantumu. Entah seberapa besar masalah yang kamu hadapi, aku pasti akan membantu.”
Kedua mata Parlan menyiratkan perasaan yang begitu tulus sampai membuat Serene dapat melihat harapan yang fana. Wanita itu memutupi wajahnya menggunakan tangan, kemudian menangis dalam diam.
Siang itu, Serene masih tidak mau memberitahukan masalah yang sedang ia hadapi dan Parlan memutuskan untuk tetap berada di sisi wanita itu hingga dia menjadi lebih tenang.
“Tampaknya, masalah yang dihadapi oleh Serene berhubungan dengan Tuan Rodriguez,” tebak Zenon.
“Mungkinkah dia terikat dengan kontrak yang merugikan dirinya sendiri? Terkadang, ada beberapa agensi yang bisa menipu artis mereka menggunakan perjanjian kontrak. Seseorang yang berasal dari kota kecil seperti Serene pasti sangat mudah untuk dibodohi,” ujar Xena.
Kilas balik kemudian beranjak pergi menuju waktu minggu depan.
Seperti minggu – minggu sebelumnya, Serene datang berkunjung ke rumah Peter. Namun, hari ini dia tidak langsung memasuki rumah Peter, tapi malah menghampiri Parlan terlebih dahulu.
“Tuan Gustov, bisakah aku meminta bantuan?”
Parlan langsung menjatuhkan gunting kebun yang ia pegang begitu mendengar permintaan dari Serene. “Tentu, apa yang bisa kubantu?”
Serene tersenyum, “Tidak banyak. Aku hanya ingin kamu menemuiku di dalam rumah Tuan Rodrigiez setengah jam lagi.”
Sesungguhnya ini adalah kali pertama Serene mengundang Parlan masuk ke dalam rumah Peter. Parlan merasa permintaannya itu tidak masuk akal, apalagi Peter juga tidak senang apabila ada pekerja yang membersihkan halaman luar memasuki rumahnya.
Akan tetapi, Parlan tidak bisa menolak permintaan Serene yang terdengar seperti sebuah permohonan putus asa.
“Baiklah, aku pasti akan menemui Nona Estelle di dalam nanti.”
• • • • •
To Be Continued
5 Oktober 2021