Xena bertanya, “Bagaimana caranya?”
“Bisa menggunakan ritual tertentu atau juga dengan memberikan jimat kesialan kepada Tuan Rodriguez. Tapi, hanya orang bodoh yang mau menerima jimat kesialan secara cuma – cuma.”
Zenon benar. Orang normal pasti tidak akan mungkin memegang jimat kesialan di saku mereka dan keduanya juga belum pernah melihat ada hal yang aneh selama berada di rumah Peter.
Karena tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan mereka. Zenon akhirnya ingin segera memulai ritual untuk menekan roh Parlan. “Xena, menjauhlah selama aku melakukan ritual penekanan. Aku akan kembali memanggilmu saat sudah selesai.”
Xena mengangguk tanda mengerti dan segera mundur sejauh lima meter dari tempat Zenon berdiri.
Seusai melihat Xena menjauh, Zenon langsung mengambil sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya. Zenon memutar pisau itu beberapa kali sebelum dia menyayat telapak tangan kirinya dengan cepat.
Xena yang merasa terkejut dengan tindakan Zenon segera berseru, “Apa yang ka—”
“Jangan diganggu, kamu bisa membuyarkan konsentrasinya.” potong Luna yang ternyata masih berdiri di samping Xena.
Karena Luna memintanya untuk tidak menggangu Zenon, maka Xena membungkam mulutnya rapat-rapat dan membiarkan Zenon melanjutkan ritual penekanan roh.
Darah mengalir dari telapak tangan Zenon yang terluka, tetapi pria itu hanya melihat luka itu dengan acuh. Tanpa membuang waktu, Zenon segera menggambar sebuah lingkaran menggunakan darahnya di atas permukaan lantai. Di sekitar lingkaran itu kemudian ditulisi oleh huruf – huruf rune yang berbunyi, ‘Darah menjadi perantara bagi roh yang tersesat’.
Setelah selesai menulis kalimat itu, Zenon lantas merapelkan mantra, “Tetesan darah menggenangi tanah, berperan sebagai jembatan yang akan menjadi perantara. Dengan persembahan darah ini, aku akan terhubung dengan jiwa yang tersesat.”
BRAK! BRAK!
Pintu dan jendela seketika terbuka secara bersamaan tanpa adanya angin ataupun orang yang membuka. Jendela – jendela itu terus bergerak dengan cepat, membuka dan menutup tanpa henti sehingga membuat suara bising yang memenuhi seisi ruangan.
Zenon sudah memberikan instruksi kepada Peter untuk menyuruh para pelayan pergi dari rumah untuk sementara waktu, sehingga kini dia tidak perlu khawatir energi dendam dari hantu Parlan akan menyakiti manusia lain.
Gumpalan asap berwarna hitam berterbangan dari luar dan melesat cepat memasuki lingkaran yang dibuat oleh Zenon. Zenon meletakkan ujung payungnya di samping simbol lingkaran, kemudian ia mengitari lingkaran itu sebanyak tiga kali seraya merapelkan mantra.
“Jiwa – jiwa tersesat datang membawa badai. Darahmu dan tulangmu terkubur dalam timah panas. Lingkaran penuh dendam tidak akan putus. Jiwa – jiwa yang marah, aku akan menjadi sangkar untukmu.”
Begitu mantra penekan roh telah dikumandangkan, gumpalan asap hitam tersebut berputar-putar dengan kecepatan tinggi di dalam lingkaran, seolah tengah mencari celah untuk melarikan diri.
Tekanan yang dihasilkan dari energi dendam membuat barang – barang yang berada disekitarnya berguncang kuat dan akhirnya terjatuh ke atas lantai. Lampu – lampu yang ada di plafon turut pecah satu persatu, membuat Xena harus beberapa kali berlari untuk menghindari pecahan kaca.
Sekali lagi Zenon berkata, “Jiwa – jiwa tersesat datang membawa badai. Darahmu dan tulangmu terkubur dalam timah panas. Lingkaran penuh dendam tidak akan putus. Jiwa – jiwa yang marah, aku akan menjadi sangkar untukmu.”
Pergerakan asap itu malah bertambah cepat, kini mulai menabrakkan dirinya ke tembok tak kasat mata yang berdiri disekelilingnya. Berselang beberapa saat kemudian, asap hitam itu meledak dan memunculkan satu sosok hantu yang pernah diceritakan oleh Peter.
Tubuh Parlan diselimuti oleh aliran darah yang berbau amis, kaki sebelah kanannya benar-benar tampak patah sehingga hantu itu menopangkan bobot tubuhnya ke kaki sebelah kiri.
“Aaa… a.. aa..”
Ketika hantu Parlan membuka mulutnya, dia tidak mampu mengucapkan sedikit pun kata. Bagian dalam mulutnya yang tak mempunyai lidah dipenuhi oleh darah berwarna kehitaman yang menggumpal, sehingga setiap kali ia membuka mulut, maka aliran darah itu akan menetes ke bawah.
Hantu Parlan mengangkat tangannya, hendak menggapai tubuh Zenon yang berdiri di luar lingkaran jimat. Akan tetapi, ujung jarinya tidak bisa menyentuh Zenon karena ada perisai yang terbentuk di antara mereka.
“Xena! Kemarilah!” seru Zenon yang menjadi pertanda bahwa Xena sudah bisa melakukan empati.
Xena langsung berlari ke sebelah Zenon. Tanpa disuruh, Xena segera menyentuh Parlan menggunakan tangan dan menggenggam tangan Zenon dengan tangan kirinya.
Sedikit sentuhan pada sosok Parlan, mampu menghantarkan keduanya ke dalam ingatan masa lalu Parlan. Citra demi citra dunia nyata perlahan mulai runtuh dan tergantikan oleh dunia palsu yang tercipta dari ingatan Parlan.
Xena memejamkan kedua matanya selama beberapa detik dan kembali membukanya tatkala ia mendengar suara deru mobil yang turut terdengar saat Xena memasuki ingatan Parlan sesaat setelah Xena sampai di pekarangan rumah Peter.
Sekarang ini, Xena dan Zenon tengah berdiri di halaman depan rumah Peter, menyaksikan sosok Parlan yang masih tampak segar tengah menggunting batang tanaman yang mencuat keluar, tetapi gerakan tangannya berhenti tatkala seorang wanita muda turun dari dalam mobil bersama Peter.
Wanita muda itu adalah Serene Estelle. Sebagai model pendatang baru, penampilan Serene bisa dikatakan sama rupawannya dengan model-model senior yang sudah biasa tampil di acara Fashion Show. Rambutnya yang pirang tampak berkilauan saat terkena cahaya matahari, membuat kulit wajahmya yang bersih menjadi lebih cerah.
“Nona Estelle, selamat datang.” sapa Parlan singkat seraya tersenyum lembut.
Serene melambaikan tangannya saat berjalan melalui Parlan. “Selamat siang, Tuan Gustov. Oh, omong-omong bunga yang baru kamu tanam terlihat sangat cantik.”
Parlan ingin membalas perkataan Serene, tapi diurungkan saat melihat Peter menarik lengan Serene agar segera pergi dari Parlan, seolah tengah melarang Serene untuk berinteraksi dengan seorang tukang kebun.
Xena yang melihat kelakuan Peter tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. “Tuan Rodriguez itu benar-benar melarang Serene berbicara dengan seorang tukang kebun. Cih, betapa sombongnya dia sampai merendahkan orang lain hingga ke titik ini. Dan sepertinya Tuan Rodriguez memang berbohong saat dia menceritakan kisah Parlan kepadamu tadi.”
“Kenapa kamu yakin?” tanya Zenon yang sesungguhnya sudah mengetahui jawabannya sendiri.
“Tuan Rodriguez tadi berkata bila Serene sering datang ke rumahnya untuk mengurus kontrak. Namun, Serena bahkan tidak datang bersama manajernya jika memang ingin mengurus kontrak, seorang model pendatang baru seperti dia pasti tidak akan mengerti cara mengurus kontrak tanpa didampingi oleh manajer. Menurutku, sepertinya Serene diundang oleh Tuan Rodriguez secara pribadi ke rumahnya.”
Zenon turut menyetujui. “Mhm. Kebohongan seperti ini semakin membuatku merasa curiga.”
Sepanjang siang hingga sore hari, Parlan menghabiskan waktunya dengan merawat tanaman yang ada di halaman. Dia juga merapihkan tanaman hias yang baru saja dia tanam dan langsung tersenyum saat mengingat pujian dari Serene.
Tidak lama setelah Parlan memikirkan Serene, wanita itu muncul dari dalam rumah Peter seraya melingkarkan sebuah syal baru di lehernya. Wajah wanita itu secerah biasanya dan langsung tersenyum lembut saat melihat Parlan.
“Tuan Gustov, lihatlah! Tuan Rodriguez baru saja memberikanku syal baru, apakah terlihat bagus saat aku memakainya?” tanya Serene dengan begitu antusias.
Parlan mengangguk. “Apa pun yang dikenakan oleh Nona Estelle pasti akan terlihat cantik.”
Serene lantas tertawa renyah. “Kamu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali aku bertanya kepadamu. Aku jadi ragu apakah aku memang terlihat cantik atau kamu hanya mempermainkanku?”
“Mana mungkin! Nona Estelle memang benar-benar selalu terlihat cantik,” kata Parlan.
Serene, “Baik. Baik. Aku percaya. Oh, kemarin aku membuat kue muffin dan aku juga membuatkannya untukmu beberapa.”
Serene mengambil sebuah kotak makan dari dalam tas jinjingnya. Di dalam kotak bening itu, terdapat enam buah muffin berwarna cokelat dengan topping taburan cokelat parut di atasnya. Ia kemudian menyerahkan kotak makanan itu kepada Parlan yang tampaknya juga sudah biasa diberikan makanan oleh Serene selama ini.
“Aku yakin kue yang ini tidak gagal,” ujar Serene yakin.
Parlan tertawa pelan, “Tidak apa-apa. Walaupun gagal, kue Nona Estelle masih enak.”
“Kamu berbohong lagi! Rasa kue yang sebelumnya terasa pahit karena gosong, tapi kamu malah berkata itu terasa enak.”
“Menurutku rasanya masih bisa dimakan,” balas Parlan.
Tidak ingin berdebat lagi, Serene segera membuka tutup kotak itu dan mengambilkan sebuah kue muffin untuk Parlan. “Cobalah dan katakan dengan jujur bagaimana rasanya.”
Parlan mengambil kue dari tangan Serene, kemudian menggigitnya sedikit. Rasa manis khas kue cokelat langsung memenuhi bagian dalam mulutnya, tekstur dari kue itu juga terasa sangat lembut sehingga Parlan bisa langsung menelannya meski baru mengunyah beberapa kali.
“Nona Estelle, sepertinya kamu berbakat dalam membuat kue. Rasa kue kali ini sangat enak!”
Serene yang sesungguhnya sudah tahu bila rasa kue kali ini tidak gagal langsung tersenyum lebar. “Aku sudah berjuang keras untuk meracik resep yang enak. Karena itu, kamu harus memakan semua kue ini sampai habis!”
Parlan mengangguk. “Tentu saja, apa aku perlu memakan kotak makanannya juga agar Nona Estelle merasa senang?”
“Kamu tidak pernah menanggapiku dengan serius!” seru Serene.
Baru Parlan ingin membalas, seorang supir pribadi dari Peter datang menghampiri Serene dengan terburu-buru. “Nona Estelle, segera masuklah ke dalam mobil. Tuan Rodriguez pasti akan marah apabila melihat Anda belum juga pulang dari sini.”
Mendengar Peter akan memarahi supir itu jika Serene tak kunjung pulang, wanita itu segera mengucapkan selamat tinggal kepada Parlan dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sebelum dia berangkat, Serene melambaikan tangannya kepada Parlan. “Sampai bertemu minggu depan, Tuan Gustov.”
• • • • •
To Be Continued
4 Oktober 2021