Penderitaan yang dialami oleh Parlan tidak berhenti sampai disitu. Kontainer yang ia tempati ternyata telah dinaikkan ke atas kapal dan membawanya pergi menuju Tiongkok. Selama perjalanan, Parlan hanya mampu berbaring di lantai seraya menghadap ke arah sebuah celah kecil di dinding kontainer.
Dari celah kecil itulah dia mampu melihat cahaya dan sedikit merasakan kehangatan matahari. Akan tetapi, cahaya matahari itu secara perlahan terbenam sehingga menyisakan dinginnya malam.
Parlan menghela napasnya, setelah sampai di Tiongkok, dia pasti akan tinggal seorang diri dan menjalani hari – hari tanpa mendengarkan celotehan Serene lagi. Serene tidak pernah mengetahui pengorbanannya saat ini, mungkinkah wanita itu akan terus mengingatnya meski mereka telah hidup berjauhan.
Sudahlah. Jika memang Serene akan melupakannya, maka tidak masalah. Lagi pula, wanita itu memang tidak meminta Parlan untuk berkorban hingga ke taraf ini. Semua pengorbanannya berlandaskan keinginan sendiri sehingga Serene tidak perlu tahu.
Asal gemilang di dalam kehidupan Serene tidak meredup, maka Parlan rela melakukan segalanya.
• • •
Walau telah menyiksa hidup Parlan sedemikian buruk, setidaknya Peter masih berbaik hati dengan memberikan Parlan sejumlah uang yang bisa ia gunakan sebagai biaya pengobatan. Uang yang diberikan Peter memang lumayan banyak, tapi biaya rumah sakit juga kian membengkak dari waktu ke waktu sehingga Parlan harus mencari cara lain untuk mendapatkan uang.
Setelah dua bulan hidup di terlunta – lunta, akhirnya Parlan mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja buruh bangunan. Meski pekerjaannya terasa berat, setidaknya Parlan sudah mampu menyewa sebuah kamar kecil dan membeli makanan yang cukup untuk sehari – hari.
Setiap kali dia naik ke atas gedung yang masih berupa balok dan kolom, Parlan bisa melihat sebuah papan reklame yang memuat wajah Serene yang tengah mengiklankan sebuah parfum. Wajah wanita itu masih cantik seperti biasanya, dan senyuman yang diperlihatkan di kamera masih mampu menghangatkan hati Parlan.
Berkorban demi seseorang yang sehangat itu memang sepadan.
“Hei, Parlan. Jangan terlalu banyak melamun dan melihat papan reklame, sebentar lagi akan malam dan surveyor akan segera datang untuk mengecek pekerjaan kita.” tegur rekan kerja Parlan yang bernama Jiang Liu.
Mendengar ucapannya, Parlan segera mengalihkan pandangannya dari papan reklame dan melanjutkan pekerjaannya dengan memasang beton precast.
“Kamu tampaknya sangat menyukai model bernama Serene Estelle itu. Apa dia sangat populer di negaramu?” tanya Jiang Liu.
Parlan mengangguk sebagai balasan. Jiang Liu telah mengenal Parlan selama beberapa minggu, sehingga dia sudah mengerti cara untuk berkomunikasi yang baik dengan pria itu.
“Dia memang cantik. Sayang sekali, agensinya mengumumkan bila Serene Estelle akan berhenti dari dunia hiburan karena sebuah alasan yang disembunyikan.”
Parlan mengangkat wajahnya, tampak kaget dengan ucapan yang dilontarkan oleh Jiang Liu. Jiang Liu lantas kembali berbicara, “Agensinya memang tidak mengatakan apapun, tapi ada seorang penggemar fanatik yang mengirimkan foto terbaru Serene Estelle yang diambil secara diam – diam.”
Jiang Liu mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto itu secara sekilas. Foto itu memperlihatkan sosok Serene yang tengah berjalan masuk ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Wajahnya ditutupi oleh sebuah kain, tapi penggemar berhasil memotret wajah Serene saat angin menerbangkan sedikit kainnya.
“Apakah dia sangat tertekan saat menjadi seorang model sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa? Menyedihkan sekali. Tapi, wajar saja dia seperti itu, akhir – akhir ini ada banyak berita buruk yang beredar tentangnya karena terkena skandal dengan seorang aktor bernama Dion Nixon. Orang – orang berkata bila Serene merupakan wanita busuk yang berusaha mendapatkan hati para pria terkenal. Parlan, apa setelah mendengar berita – berita itu, kamu masih mau menggemari Serene?”
Seluruh tubuh Parlan menjadi kaku, tidak menyangka bahwa Serene telah terkena begitu banyak skandal dan berita buruk seperti itu. Selama tinggal di Tiongkok, Parlan tidak mempunyai ponsel sehingga dia tidak bisa melihat berita terbaru mengenai Serene di internet.
Siapa yang menyangka bahwa Serene tetap akan tertimpa banyak berita miring meski Parlan telah mengorbankan dirinya sendiri.
Peter Rodriguez itu pasti telah ingkar janji.
Tiba – tiba saja Parlan mulai menyadari bahwa ancaman yang dikeluarkan oleh Peter beberapa bulan lalu mungkin hanya sekadar gertakan semata tanpa akan benar – benar dilakukan. Karena pada saat itu, nama Serene temgah melambung begitu tinggi sehingga Peter pasti tidak akan mungkin menghancurkan sumber uangnya begitu saja.
Bodoh.
Parlan begitu bodoh sampai mengira pengorbanannya pasti akan membuat Serene bahagia.
Pada akhirnya, wanita itu tetap saja mendapatkan penderitaan dan keluar dari dunia hiburan.
Semua pengorbanan Parlan rupanya hanyalah suatu kesia – siaan belaka.
Parlan terlalu hanyut dalam pemikirannya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa kakinya sudah berada di penghujung tangga stagger.
“Parlan! Hati – hati!” seru Jiang Liu saat melihat Parlan melangkah mundur semakin jauh.
Tapi peringatan dari Jiang Liu tidaklah berarti karena Parlan tanpa sengaja terpeleset dan terjatuh dari ketinggian lima lantai. Kedua matanya menatap ke arah langit dengan sendu, melihat cahaya matahari untuk terakhir kalinya sebelum sekujur tubuhnya menghantam tanah dengan keras sampai menghancurkan setiap tulang yang ada di tubuhnya.
Dalam sisa napasnya, Parlan bersumpah di dalam hati, “Aku tidak akan pernah memaafkan Tuan Rodriguez. Sampai mati pun, aku pasti akan mengganggu hidup pria b******n itu.”
• • •
Xena dan Zenon seketika tertarik keluar begitu kilas balik dari hidup Parlan selesai. Xena merasa kepalanya terasa sakit setelah memasuki pikiran hantu tingkat tiga seperti Parlan, dia menumpukkan tangannya pada bahu Zenon dan menunduk selama beberapa saat sebelum akhirnya bisa menghela napas lega.
“Ternyata kakinya patah karena dia terjatuh dari gedung tinggi.” kata Xena pelan, kemudian melanjutkan, “Apakah karena dia meninggal di Tiongkok, Parlan jadi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendatangi Tuan Rodriguez?”
“Bisa iya, bisa juga tidak. Jarak antara Paris dan Tiongkok sangat jauh. Energi yang dimiliki hantu juga bisa habis seperti manusia, sehingga mereka juga perlu banyak istirahat selama perjalanan. Mungkin butuh waktu selama lima tahun bagi Parlan untuk sampai di kediaman Tuan Rodriguez.”
“Lima tahun? Tapi, bukankah sekarang baru tiga tahun?” bingung Xena.
“Hmm. Karena itu, kemungkinan besar ada seseorang yang memang sengaja membuka Energi Yin milik Tuan Rodriguez dan memanggil roh jahat ke rumah ini.”
“Jika asumsi itu benar, orang itu pasti mempunyai dendam yang besar kepada Tuan Rodriguez.” Lanjut Zenon.
“Dengan kepribadian sebusuk itu, pasti ada banyak orang yang membencinya.” kesal Xena. Setelah melihat berbagai penderitaan yang harus dilalui oleh Parlan dan Serene, Xena akhirnya juga menaruh kebencian yang sangat besar untuk Peter Rodriguez.
“Jika dia hanya merendahkan para pelayan, aku bisa memakluminya. Tapi, pria menjijkan itu telah berani menodai seorang wanita dan menghancurkan hidup orang lain. Perbuatan seperti itu, seharusnya tidak boleh dimaafkan.” kata Zenon yang juga memupuk kebencian di dalam hatinya.
Keduanya lantas menatap sosok Parlan yang kini memancarkan energi gelap yang kian kental. Jimat penekanan yang dibuat oleh Zenon tampaknya mulai melemah sehingga tekanan yang dihasilkan oleh Parlan semakin kuat. Xena bahkan harus berdiri di belakang Zenon supaya bisa bernapas dengan baik.
“Apa yang sekarang harus kita lakukan?” bisik Xena.
Sudut mata Zenon bergerak ke arah Xena dan berkata dengan ringan. “Tentu saja mengabulkan permintaannya. Menurutmu, permintaan seperti apa yang akan diajukan oleh Parlan?”
Tidak perlu waktu lama bagi Xena untuk menjawab, “Membalas dendam.”
“Ya, balas dendam. Mari kabulkan permintaannya itu.”
Xena tertawa kecil. “Kamu yakin Tuan Chevalier akan mengizinkanmu melukai klien?”
“Siapa yang perduli dengan Fransisco? Pria itu bahkan tidak pernah memburu hantu secara langsung. Bagaimana bisa dia mengerti hal – hal yang ada di lapangan?” balas Zenon tanpa rasa bersalah.
Sesungguhnya, Xena juga tidak keberatan apabila Zenon ingin membantu Parlan untuk membalas dendam. Lagi pula, Peter Rodriguez memang sudah sepantasnya untuk dibuat menderita.
“Nana, jika melihat wajah Tuan Rodriguez, kamu tidak boleh sampai memukulnya. Karena bisa saja dia akan melaporkan kita ke pihak berwajib, reputasimu bisa jelek hanya karena harus berurusan dengan seorang pria tua busuk.” peringat Zenon seraya menghancurkan segel yang mengitari roh milik Parlan.
Xena mengangguk, “Tentu saja, aku tidak mau namaku tercoreng karena dia. Lagi pula, membuatnya ketakutan sampai ingin mati akan terdengar jauh lebih menyenangkan dibanding memukul wajahnya.”
“Kamu benar.” Zenon menatap Parlan dengan serius. “Tuan Gustov, aku akan memberimu kebebasan untuk mengganggu Tuan Rodriguez. Tapi kamu tidak boleh sampai membunuhnya, karena jika kamu membunuhnya maka aku juga harus menghancurkanmu.”
Walau sudah diliputi oleh dendam, Parlan masih bisa menerima permintaan Zenon. Dia juga sesungguhnya tidak mempunyai niatan untuk membunuh Peter, karena Parlan merasa bahwa kematian secara langsung akan membuat pria itu merasa nyaman. Hal yang Parlan inginkan adalah membuat Peter menderita seumur hidupnya, entah dengan menerornya atau dengan menghancurkan segala hal yang ada dikehidupan Peter.
Seusai melihat Parlan yang mengangguk, Zenon lantas melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Peter. Karena sekarang Parlan mengikuti Zenon di belakang, maka Xena beralih ke samping Zenon. Setelah memperhatikan sikap Zenon dari waktu ke waktu, Xena mampu tahu bahwa Zenon adalah seseorang yang bisa menyembunyikkan perasaannya dengan mudah.
Xena bahkan tidak bisa membedakan mana wajah yang dipenuhi oleh kekesalan atau kegembiraan. Semuanya terlihat sama di mata Xena, terutama karena Zenon selalu saja tersenyum seolah tidak memiliki beban hidup.
Tok .. Tok ..
Zenon mengetuk pintu kamar Peter beberapa kali seraya berkata dengan ramah. “Tuan Rodriguez, Anda boleh keluar sekarang.”
“Bagaimana dengan hantunya?! Apakah dia sudah pergi? Apa kamu berhasil mengusirnya?”
“Ada suatu hal yang perlu Anda lakukan supaya kita bisa mengusirnya secara permanen. Karena itulah, bisakah Anda membantu saya sebentar?”
Intonasi suara Zenon terlampau ramah dan ringan, membuat Peter tidak menaruh curiga sedikit pun kepada Zenon.
“Saya akan baik – baik saja jika keluar?” tanya Peter sekali lagi.
“Tenang saja. Anda tidak akan mati.” balas Zenon yang mempermainkan kata – katanya. Peter mungkin tidak akan mati, tapi bukan berarti dia tidak mengalami cidera.
Setelah berpikir beberapa saat, Peter akhirnya membuka pintu untuk menemui Zenon. “Master, Apa lagi yang harus kita lakukan …”
BUK!
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zenon segera melayangkan pukulannya ke wajah Peter dengan sangat keras. Pria setengah baya itu langsung terhuyung jatuh seraya memegangi hidungnya yang berdarah dan ada kemungkinan mengalami patah tulang.
Xena sontak membulatkan kedua matanya saat melihat tindakan barbarik Zenon secara tiba – tiba. “Kamu bilang tidak boleh memukul!”
Zenon mengibaskan tangannya sebelum membalas, “Aku hanya berkata kamu tidak boleh memukul, tapi tidak pernah bilang aku tidak akan memukulnya.”
Xena tertegun dan akhirnya hanya menghela napas sebagai balasan. Pria itu tampaknya sangat senang bermain kata, sehingga Xena harus lebih berhati – hati kedepannya agar tidak tertipu dengan mudah.
“Apa yang kamu lakukan?! Kenapa malah memukulku? Aku .. Aku pasti akan melaporkanmu kepada polisi!”
“Melaporkanku?” Zenon menatap Peter dengan tatapan penuh intimidasi, kemudian meletakkan satu kakinya di antara kedua paha Peter. “Jika mau melaporkanku atas tuduhan kekerasan, maka laporkan saja setelah aku menghancurkan kemaluanmu ini dan membuat kamu berhenti menjadi pria.”
• • • • •
To Be Continued
10 Oktober 2021