BAB 39 : Pembalasan Dendam Parlan

2038 Kata
Merasa bila ucapan Zenon bukanlah sekadar gertakan. Xena buru – buru menarik lengan Zenon dan menjauhkannya dari Peter yang permukaan kulitnya kian memucat. Sebelum ini, Zenon telah meminta Peter untuk menjauhkan para pelayan serta pengawalnya dari rumah selama satu hari penuh, sehingga kini Peter tidak mempunyai perlindungan lebih. “Master Dominic, Apa maksud dari ucapanmu?” teriak Peter. Ekspresi Zenon seketika berubah drastis, keningnya berkerut saat dia membalas, “Kamu masih bertanya? Sudah berapa banyak wanita polos yang kau manfaatkan selama ini seperti Nona Estelle? Agensi busuk seperti ini harusnya hancur hingga tak bersisa.” Bukannya merenungkan ucapan Zenon, Peter malah terlihat sangat marah. “Lancang sekali! Beraninya kamu menuduhku telah memanfaatkan model wanitaku dan Nona Estelle. Aku tidak pernah memanfaatkan mereka!” “Jangan berdusta! Memangnya aku tidak mengetahui perbuatanmu yang telah membuat para wanita menanda tangani kontrak yang akan merugikan mereka nantinya. Kamu pikir mereka itu apa? Sebuah objek yang bisa kamu pakai untuk memuaskan nafsumu itu?” Peter memandangi Zenon dengan wajah yang menggelap. Dia merupakan seseorang yang sangat berhati – hati dalam melaksanakan trik liciknya itu, jadi dia merasa marah saat tahu ada orang luar yang mengetahui rahasia gelap mengenai agensinya. Jika memang rahasianya sudah terkuak, maka dia secara spontan turut meladeni ucapan Zenon. “Pada dasarnya wanita – wanita yang berkecimpung di dalam dunia hiburan hanyalah sekumpulan boneka pajangan yang dipamerkan. Bagi kebanyakan orang, penampilan adalah nomor satu dan kemampuan bisa dilihat setelahnya.” “Tanpa campur tangan orang tinggi sepertiku, mustahil wanita yang berasal dari kota kecil seperti Nona Estelle mampu mendapatkan perhatian lebih dari banyak perusahaan terkemuka.” lanjut Peter. Emosi Zenon naik hingga ke tingkat paling atas, membuatnya hendak melayangkan tendangan menuju Peter. Akan tetapi, sebelum dia berhasil menendang Peter, hantu Parlan lebih dahulu berdiri di hadapan Peter dan membuat pria itu ketakutan. “Hantu! Kenapa hantu ini belum terusir?! Kalian para shaman memang tidak berguna!” Zenon mendecih, “Siapa juga yang sudi membantumu! Parlan, usili saja dia sesukamu!” Parlan melangkahkan kakinya secara perlahan menuju tempat Peter. Darah kental berwarna hitam berjatuhan dari mulutnya yang terluka, Parlan menyeret kakinya yang patah sedikit demi sedikit hingga menimbulkan suara ‘srek .. srek ..’ yang terdengar menakutkan di telinga Peter. Hantu Parlan memang tidak mampu membunuh manusia, tapi setidaknya dia bisa menakuti dan sedikit menyakiti Peter sampai pria itu kehilangan kesadarannya. Peter dengan susah payah menyeret tubuhnya agar menjauh dari Parlan, sudut matanya melirik ke arah Zenon seolah ingin meminta bantuan. “Aku … aku pasti akan membayarmu dengan sejumlah uang yang besar. Jadi, bantulah aku untuk melenyapkan hantu ini.” Zenon membalikkan punggungnya, enggan menatap wajah Peter yang sudah terlihat begitu menjijikan di pandangannya. “Simpan saja uangmu, aku tidak membutuhkannya.” Sudut bibir Peter berkedut ringan tatkala mendengar perkataan dari Zenon. Selama ini, Peter selalu mampu menjadikan orang lain sebagai bidak caturnya selama ia memberikan mereka uang yang besar, dari rakyat biasa hingga petinggi sebuah agensi besar, hati mereka semua bisa Peter dapatkan dengan menggunakan uang. Akan tetapi, Zenon merupakan sebuah anomali yang tidak bisa ia kendalikan, dan kenyataan itu semakin membuat Peter merasa frustasi. Dengan mengumpulkan sisa keberanian, Peter mengambil dompet kulit miliknya dari atas nakas kemudian melemparkan dompet tersebut ke punggung Zenon. Secara spontan, Zenon mengayunkan payung miliknya ke belakang sehingga dompet itu terjatuh ke atas permukaan lantai. “Kamu boleh mengambil seluruh kartu debit dan kredit yang ada di dompet itu! KUMOHON SINGKIRKAN HANTU INI!” teriak Peter dengan sorot mata yang ketakutan. Tahu bila Zenon tidak akan mau mengambil barang tidak berguna itu, Xena akhirnya memungut dompet tersebut dan mengecek isinya yang ternyata berisikan kartu debit milik perusahaan. Sontak saja Xena mengernyitkan keningnya dan memandang Peter dengan penuh kebencian. “Selain menipu banyak wanita, ternyata kamu juga seorang petinggi yang menistakan uang milik perusahaan. Tuan Rodriguez, saya berharap hidup Anda akan menderita setelah ini.” BRAK! Xena membanting pintu kamar Peter dengan keras karena sudah merasa muak harus melihat wajah Peter dalam kurun waktu yang lama. Suara jeritan serta pukulan keras lantas terdengar nyaring dari dalam ruangan. Mungkin saat ini Parlan tengah melampiaskan segala kemarahan, kesedihan, dan kebencian yang telah membelenggu hatinya selama ini kepada Peter. Seluruh energi kebencian yang mengisi jiwa Parlan kini meledak tanpa henti. Meski dia telah memukul atau menendang Peter berulang kali, tetap saja dendam itu tidak kunjung surut sehingga dia harus menaruh teror yang lebih kejam untuk Peter. Sampai ombak kebencian di hati Parlan surut, Peter harus menahan segala bentuk penyiksaan yang diberikan oleh Parlan. Xena membuka masker di wajahnya dengan kasar dan segera membuang napas berat. Dia mungkin sudah terbiasa mendengar rumor tentang seorang petinggi eksekutif yang melakukan tindakan kriminal seperti pencucian uang, penipuan, atau penjualan manusia. Namun, Xena belum pernah mendengar ada seorang eksekutif perusahaan yang sebusuk Peter. Kejahatan yang dilakukan oleh Peter terlampau banyak sampai Xena tahu harus menyumpahi Peter seperti apa. “Jika tahu dia sebusuk ini, lebih baik aku memukul wajahnya lebih dahulu daripada kamu!” kesal Xena. Tanpa disangka, wajah Zenon yang semula terlihat kesal kembali menampakkan senyuman seperti biasa. “Aku tidak memukulnya tanpa alasan.” Zenon mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemeja, kemudian ia memperlihatkan tampilan layarnya kepada Xena. Ekspresi wanita itu berangsur – angsur juga menjadi lebih cerah. “Kamu merekam semua percakapan kalian?” Zenon mengangguk dengan bangga, “Tentu saja.” Ia menekan simbol play sehingga sebuah suara yang tak asing muncul dari dalam ponsel. “Pada dasarnya wanita – wanita yang berkecimpung di dalam dunia hiburan hanyalah sekumpulan boneka pajangan yang dipamerkan. Bagi kebanyakan orang, penampilan adalah nomor satu dan kemampuan bisa dilihat setelahnya.” Seulas senyuman merekah di wajah Xena. “Kamu sengaja memancing amarah Tuan Rodriguez supaya dia membeberkan rahasianya sendiri?” “Mhm. Jika ingin menjatuhkan namanya, kita harus memiliki bukti terlebih dahulu. Tuan Rodriguez itu licik, seluruh kejahatannya tidak menyisakan jejak sehingga aku hanya bisa menggunakan cara seperti ini untuk mendapatkan bukti,” jelas Zenon. Dia kembali berkata, “Haruskah kita melaporkan kejahatannya ke polisi sekarang?” “Jangan!” seru Xena tiba – tiba. “Polisi tidak akan berguna. Peter Rodriguez itu adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan tinggi, besar kemungkinannya apabila dia telah membeli pejabat kepolisian supaya pihak polisi tidak bisa mengadilinya secara adil. Alih – alih memberikan bukti itu ke polisi, lebih baik kita sebar luaskan ke media massa dan membiarkan masyarakat memberikan sanksi sosial kepada Tuan Rodriguez. Jika dia sudah mendapatkan atensi dan kebencian dari masyarakat, polisi pasti secara otomatis akan menindak lanjuti perbuatan busuknya itu.” Dengan kata lain, mereka tidak perlu mengotori tangan mereka demi menghancurkan kehidupan Peter. Hal yang harus mereka lakukan hanyalah melemparkan umpan kepada khalayak umum dan membiarkan orang – orang di seluruh dunia menyebar luaskan perbuatan Peter. “Tapi, kita tidak bisa menyebarkan bukti ini di platform media kecil. Orang – orang bisa mengira kita hanya menyebarkan rumor palsu belaka. Kita harus menyebarkannya di sebuah platform berita besar yang bisa membuat semua orang percaya dengan mudah. Sepertinya aku bisa meminta bantuan Felix untuk menghubungi media besar.” Secara mengejutkan, Zenon menyarankan. “Jangan khawatir, kita bisa meminta bantuan pamanku untuk menghubungi media besar.” Xena mengerutkan keningnya saat dia merasa bingung. “Pamanmu? Bukannya pamanmu sudah …” Sudah meninggal. Tidak ingin membuat kesalah pahaman, Zenon segera menjelaskan. “Ibuku mempunyai dua saudara laki – laki. Satunya adalah Paman Arsen dan satunya lagi adalah Paman Martin. Paman Martin tidak ingin menjadi bagian dari shaman di Desa Amynthas, sehingga dia tinggal di luar desa dan tidak menekuni pekerjaan sebagai seorang shaman. Namun, dia tidak pernah memutus kontak dengan kami karena pekerjaannya masih berkutat soal hantu.” “Apa pekerjaan yang berhubungan dengan hantu selain shaman?” Bahkan seorang pemuka agama sekali pun sangat jarang menangani jemaat yang diganggu oleh hantu. “Kamu pasti pernah melihatnya.” Xena berpikir keras, berusaha mencari seseorang yang mungkin bisa berhubungan dengan Zenon. Bukankah saat mereka bertemu di sebuah acara penghargaan, Zenon berkata disuruh oleh pamannya untuk duduk di kursi khusus aktor dan produser? Martin. Rasanya Xena pernah mendengar nama itu. Tapi, dia lupa pernah mendengarnya di mana. Nama keluarga Zenon adalah Dominic, artinya pamannya bernama Martin Dominic bila tidak merubah nama. “Martin Dominic … eh, Martin Dominic?!” seru Xena tiba – tiba. “Martin Dominic yang pemilik perusahaan DMC Studio? Perusahaan yang terkenal akan produksi film hantu dan thriller?” Zenon tersenyum senang saat Xena mampu menebaknya. “Ya, dia pamanku! Kebanyakan naskah film nya diambil dari kasus yang pernah Desa Amynthas tangani. Oleh karena itu, Desa Amynthas mempunyai saham sebesar 25 % persen di perusahaannya. Dia pasti tidak akan menolak apabila kita meminta bantuan.” Selama menjadi aktris, nama DMC Studio seringkali terdengar di telinganya. Rumah produksi film horror itu memang terkenal akan cerita yang terlihat natural dan mampu menghantarkan penontonnya ke dalam mimpi buruk, karena kualitasnya yang tinggi itulah, DMC Studio telah mengukir prestasi setinggi langit dan menjadi salah satu studio besar yang ditakuti oleh banyak rumah produksi lainnya. Dan siapa yang menyangka bila Zenon mempunyai saham sebanyak itu di sebuah perusahaan besar. Anak ini pasti telah menyerap banyak keberuntungan orang lain sehingga mendapatkan sumber kekayaan yang tidak ada habisnya. Walaupun masih terkejut, Xena tetap berusaha terlihat tenang agar tidak membuat Zenon besar kepala. “Kalau memang pamanmu bersedia membantu, maka kita bisa menemuinya.” “Tapi sebelum kita menemuinya, bisakah kita mengunjungi Serene di rumah sakit jiwa? Bagaimana pun juga dia adalah satu – satunya korban yang kita ketahui dengan pasti, kita mungkin bisa meminta keterangan darinya untuk menambah bukti.” lanjut Xena. Ketika berada di dalam ingatan Parlan, Xena merasa tidak tahan untuk melihat kemalangan yang menimpa Serene. Wanita itu sangat berbakat dan sesungguhnya mampu menjejaki tangga popularitas yang tinggi apabila dia tidak salah memilih agensi. Sayangnya waktu tidak bisa berputar ulang dan Serene tidak mampu menghapus masa lalu yang menghantuinya. Dia pasti terlalu menderita banyak tekanan sampai mentalnya terluka. Zenon juga menyetujui hal itu, “Kita juga bisa membawa Parlan untuk menemui Nona Estelle.” “Parlan? Tapi dia mempunyai energi yang sangat berat, manusia lain pasti akan merasa sangat tertekan apabila berdiri di dekatnya. Tidakah itu hal yang berbahaya?” bingung Xena. “Jangan khawatir, dendam yang ada di hati Parlan akan berkurang setelah dia selesai melampiaskan amarahnya kepada Tuan Rodriguez. Karena dendamnya berkurang, maka energi beratnya akan berkurang juga. Lagi pula, membalaskan dendam bukanlah satu – satunya keinginan Parlan, dia masih mempunyai dua keinginan lain.” “Dua keinginan lain?” Zenon, “Mempunyai lidah lagi dan bertemu dengan Serene. Aku menyimpulkan seperti itu karena kedua hal tersebut sangat berhubungan erat dengan kematian Parlan.” Begitu Zenon menyebutkan nama Parlan, hantu itu tiba – tiba saja sudah berjalan keluar dari dalam kamar Peter. Tepat seperti ucapan Zenon, energi gelap disekitar tubuh Peter telah berkurang drastis sehingga penampilannya terlihat lebih baik. “Kamu tidak membunuhnya, kan?” tanya Zenon acuh, seolah jika Peter benar – benar mati, dia tidak akam perduli. Parlan menggeleng pelan, kemudian memperlihatkan dua gigi patah yang ia bawa di telapak tangannya. Seketika Zenon tertawa, “Kamu memukulinya sampai gigi dia patah? Tuan Gustov, kamu pasti mempunyai bakat sebagai atlit tinju.” “Haruskah kita mengecek kondisinya?” tanya Xena, tapi langsung disambut gelengan kepala oleh Zenon. “Tidak perlu, kita panggilkan ambulan saja ke sini dengan laporan telah terjadi perampokan.” “Tapi, tidak ada barang yang hilang. Mereka akan curiga.” ujar Xena. Tanpa berpikir jauh, Zenon mengambil alih dompet milik Peter dari tangan Xena. “Dia meminta kita untuk mengambil ini, maka kita bawa saja.” Xena tertawa, “Dia pasti akan kerepotan untuk mengurus surat kehilangan untuk dokumen pribadi dan semua kartu kredit di dalam dompet ini.” “Apa kita juga harus menggunakan kartunya? Kita bisa memaksa dia mengatakan pin nya.” kata Zenon. Xena, “Uangnya kebanyakan dari dana gelap, aku tidak mau terseret hukum.” Zenon ingin membalas ucapan Xena, tapi terhenti saat melihat ada sebuah lembaran kertas kuning di dalam dompet tersebut. Ketika Zenon menarik kertas yang terlipat itu, Zenon baru sadar bila itu adalah jimat. Dia membuka lipatannya dan segera tersenyum saat melihat isi dari jimat itu. “Pantas saja Tuan Rodriguez selalu bisa melihat hantu Tuan Gustov. Dia ternyata menyimpan sebuah jimat kesialan di dalam dompetnya.” • • • • • To Be Continued 11 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN