BAB 40 : Jimat Kesialan

1124 Kata
“Pantas saja Tuan Rodriguez selalu bisa melihat hantu Tuan Gustov. Dia ternyata menyimpan sebuah jimat kesialan di dalam dompetnya.” Zenon melanjutkan, “Jimat kesialan juga mampu membuka titik Energi Yin milik manusia secara paksa, sehingga dia mampu menarik roh – roh jahat yang mungkin mempunyai dendam kepadanya. Karena itulah, Tuan Gustov bisa sampai di kediaman Tuan Rodrigiez lebih cepat, karena dia tanpa sadar telah ditarik oleh jimat ini.” Xena turut memperhatikan goresan rune berwarna merah yang terukir di atas permukaan kertas tersebut. Dibandingkan dengan tulisan Zenon, huruf rune itu terlihat lebih rapi dan tertata, tetapi tidak sampai serapih milik Xie Jia. “Orang biasa juga bisa menulis rune?” tanya Xena penasaran. “Bisa, tentu saja orang biasa mampu menulis rune. Tapi tidak semua rune bisa menjadi mantra. Seorang shaman harus menyalurkan energi mereka sendiri ke dalam jimat untuk mengaktifkan rune, dan tidak semua orang mampu mengendalikan energi mereka secara leluasa.” Zenon menundukkan kepalanya dan menatap deretan rune itu. “Tuan Rodriguez tidak mungkin menyimpan jimat pembawa sial di dalam dompetnya. Sepertinya, ada seorang shaman yang berkata bila itu adalah jimat keberuntungan tetapi sebenarnya bukan.” “Bagaimana cara membedakannya? Semua jimat terlihat sama.” kata Xena. Pasalnya dia tidak mampu membedakan setiap huruf rune, sehingga di mata Xena maupun orang awam, semua jimat pasti terlihat persis. Zenon mengeluarkan selembar jimat keberuntungan dan memperlihatkan kedua jimat itu kepada Xena. “Jika kamu perhatikan lebih baik, kedua jimat ini mempunyai runtutan huruf yang berbeda. Sesungguhnya rune itu dituliskan sama persis dengan bahasa yang kita gunakan, hanya saja jimat menggunakan huruf rune yang mempunyai energi lebih besar daripada deretan huruf biasa.” “Pada jimat keberuntungan tertulis kalimat, ‘Cahaya akan membawa kehidupan’ sedangkan jimat pembawa sial akan bertuliskan, ‘Kegelapan mendatangkan kematian’. Kamu tidak boleh sampai memegang jimat yang salah, karena jimat kesialan benar – benar mampu mendatangkan kematian kepada penggunanya.” Xena bergidik ngeri saat mengetahui hal itu. Ternyata hanya dengan memberikan sebuah jimat yang salah, seseorang mampu celaka atau bahkan sampai mati. Diam – diam Xena bertekad untuk menghafalkan huruf rune supaya ia tidak bisa dibodohi oleh shaman lain. “Jika jimat ini mampu mendatangkan hantu tingkat tiga, bukankah artinya si pembuat jimat telah mengeluarkan banyak energi?” Zenon, “Ya, energinya sangat kuat, bahkan aku sendiri malas untuk menetralisirnya. Di antara komunitas shaman lain, Amynthas merupakan komunitas yang menampung shaman – shaman yang sangat berbakat. Aku curiga, ada seorang shaman di Desa Amynthas yang melakukan praktik gelap. Hal seperti ini, bisa – bisanya luput dari penglihatanku.” Xena tertegun saat melihat Zenon menampakkan wajah yang serius. Awalnya Xena mengira Zenon hanya akan menanggapi masalah seperti ini dengan main - main seperti biasanya, tapi ternyata pikiran Xena salah, karena Zenon menganggap masalah ini sangat penting. “Apa praktik gelap sangat berbahaya sampai kamu terlihat khawatir seperti ini?” Zenon, “Sangat, sangat bahaya. Sebagai shaman, selain dapat melakukan ritual untuk kebaikan, kami juga sesungguhnya mampu melakukan ritual untuk membuat orang lain celaka. Karena itu, seluruh pergerakan shaman di Amynthas harus terorganisir dan dilaporkan secara berkala ke Fransisco. Walau aku jarang melihat laporan mereka, harusnya Fransisco mampu melihat kejanggalan dari laporan – laporan itu. Orang ini … dia tampaknya sudah lama melakukan praktik gelap sampai guratan tulisan di jimat ini terlihat rapih.” “Tapi, jika memang ada shaman yang memberikan Tuan Rodriguez jimat kesialan, maka siapa klien dari shaman itu?” heran Xena. “Seseorang yang pastinya mempunyai dendam yang sangat besar kepada Tuan Rodriguez. Namun, dia mempunyai banyak musuh di hidupnya, sehingga sulit untuk menemukan orang yang mengirimkan jimat ini kepada Tuan Rodriguez.” Xena, “Kita bisa memulai dari Serene. Bagaimana pun juga, dia adalah salah satu orang yang dibuat paling menderita oleh Tuan Rodriguez.” Zenon menyetujuinya, “Ya, dia mungkin tahu sesuatu.” Pandangan mata Xena lantas beralih kepada jimat di tangan Zenon, “Kamu ingin menghancurkan jimat ini?” Alih – alih mengangguk, Zenon malah tertawa, “Untuk apa menghancurkannya? Biarkan saja Tuan Rodriguez menderita karena jimat ini.” Xena ikut tertawa pelan, merasa bila Peter memang pantas mendapatkan jimat kesialan, sehingga mereka tidak perlu melakukan apa pun untuk membantunya. Jimat kesialan itu kembali diletakkan oleh Zenon di dalam dompet Peter, membiarkan jimat kesialan terus mendatangkan petaka ke dalam rumah itu. Sebelum mereka meninggalkan kediaman Rodriguez, Zenon memasukkan roh Parlan ke dalam sebuah boneka kertas karena takut roh Parlan akan tanpa sengaja mengganggu manusia lain bila dilepaskan secara bebas. Berdasarkan ingatan Parlan, Xena mampu melihat papan nama rumah sakit jiwa yang Serene datangi. Rumah sakit itu bernama ‘Mental and Care Hospital’, yang jika dilihat dari internet, lokasinya berada lumayan jauh dari pusat Kota Paris. Rasanya pergi menggunakan taksi akan memakan banyak waktu, sehingga Xena memutuskan untuk mengajak Zenon menaiki kereta bawah tanah saja. Zenon belum pernah pergi ke Kota Paris sebelumnya, jadi dia tidak begitu banyak protes saat Xena memberikan saran. Saat sampai di stasiun pun, dia sangat mengandalkan Xena dalam membeli tiket keberangkatan. “Hari ini kereta sedang sangat ramai, mungkin karena waktu sudah sore dan banyak masyarakat yang baru saja pulang dari tempat kerja.” Xena lantas menatap Zenon dengan penuh perhatian. “Kamu sudah meminum obatmu?” Zenon tersenyum saat mendengar perhatian Xena, “Sebelum pergi ke rumah Tuan Rodriguez, aku sempat meminumnya. Mungkin sekarang masih tidak apa – apa. Lagi pula, selama ada calon istriku yang menjaga, aku pasti akan baik – baik saja.” Xena mendengus karena lagi – lagi mendengar godaan Zenon yang terkesan ingin bermain – main dengannya. “Jangan bicara omong kosong, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Alih – alih meneruskan pembicaraan dengan Zenon, Xena mengalihkan pandangannya menuju Luna yang sudah diam saja semenjak Xena masuk ke dalam kilas balik Parlan. Padahal biasanya hantu anak – anak itu sangat aktif dalam berbicara dan cenderung tidak bisa diam. Pantas saja dunia Xena terasa sepi selama beberapa saat terakhir. Tampaknya Zenon juga menyadari keanehan dari perilaku Luna, sehingga akhirnya dia bertanya, “Kamu kenapa diam saja?” Luna yang sedari tadi sedang berjongkok di depan rel kereta api akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Zenon. “Saat aku berisik, kamu akan menyuruhku diam. Tapi, ketika aku diam, kamu malah ingin aku berbicara. Zenon, jangan membuatku bingung.” Ucapan Luna terkesan dingin, seolah dia memang tidak tertarik untuk berbicara dengan Zenon. Walaupun Zenon juga seringkali kesal saat mendengar ocehan Luna, tapi bukan berarti ia senang saat Luna berhenti berbicara. “Ada apa? Kenapa bersikap begitu?” tanya Zenon seraya turut berjongkok di samping Luna. Tidak tahan mendengar pertanyaan Zenon terus, Luna akhirnya membuka suara. “Tidak apa – apa, sungguh. Aku hanya merasa iri dengan Parlan. Dia mampu mengingat masa lalunya, sedangmkan aku tidak bisa.” • • • • • To Be Continued 13 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN