BAB 41 : Kunjungan ke Rumah Sakit

2672 Kata
Tidak tahan mendengar pertanyaan Zenon terus, Luna akhirnya membuka suara. “Tidak apa – apa, sungguh. Aku hanya merasa iri dengan Parlan. Dia mampu mengingat masa lalunya, sedangkan aku tidak bisa.” Luna telah menemani Zenon sedari pria itu masih kecil, mereka telah hidup bergantung satu sama lain dalam kurun waktu yang sangat lama. Akan tetapi, tidak pernah sekalipun Zenon mengetahui kisah hidup Luna di masa lalu dan Luna pun juga tidak pernah mengingat masa lalunya. Entah sekeras apa pun Luna mencoba, dia tetap saja tidak mampu ingat. Seolah – olah, rohnya memang sengaja untuk membuang kenangan lampau itu jauh – jauh dari Luna. “Memangnya kalau ingat, kamu ingin melakukan apa? Memberitahuku tentang keinginan terakhirmu dan pergi untuk bereinkarnasi?” Luna melirik Zenon sebentar, kemudian menundukan kepalanya. “Aku juga tidak tahu.” Roh Luna sudah terlalu lama tertahan di dunia manusia, membuatnya tidak lagi menginginkan reinkarnasi. Luna berkata, “Hidup menjadi manusia itu sulit. Jika lahir sebagai orang miskin, aku harus bekerja keras seumur hidup tanpa mendapatkan upah yang tinggi. Tapi lahir menjadi orang kaya juga tidak begitu bagus, bagaimana bila lahir di sebuah keluarga kaya yang memiliki saudara picik? Mungkin aku perlu bersaing sengit dengannya seumur hidup dan tak pernah menikmati kehidupan dengan benar.” Selama ini Luna selalu mengobservasi kehidupan manusia, dan dia selalu mendapati para manusia memiliki masalah hidup yang berbeda – beda. Sekecil atau sebesar apapun masalah yang mereka hadapi, tetap saja di mata Luna itu adalah masalah yang dapat menghambat kebahagiaan manusia. Usia Luna mungkin sudah tidak terhingga, tetapi pola pikirnya tetap persis sama seperti saat ia meninggal. Bagi seorang anak kecil, melihat kekejaman dunia adalah suatu hal yang menakutkan, wajar bila Luna merasa kehidupan itu adalah hal yang harus ia hindari. “Tapi, setidaknya manusia itu hidup.” Zenon melanjutkan. “Selama manusia hidup, selama mereka masih bernapas, maka manusia akan lebih menghargai suatu kehidupan. Berbeda dengan manusia, hantu sudah tidak lagi bernapas, sehingga kehidupan hanyalah sesuatu yang main – main di mata mereka. Lagi pula, tidak selamanya manusia menderita, akan selalu ada cahaya yang datang ke dalam kehidupan mereka selagi mereka berjuang untuk terus hidup. Luna, hidup menjadi manusia juga tidak begitu buruk.” Sontak Luna mengangkat kepalanya dan memperhatikan wajah Zenon yang tersenyum. Mereka tidak mengatakan apapun, hanya saling bertatapan tapi pikiran mereka saling terhubung satu sama lain. Di mata Luna, kehidupan Zenon adalah kehidupan manusia yang terburuk bila dibandingkan dengan manusia lainnya. Dia harus terlahir sebagai anak pembawa sial, melihat orang yang ia sayangi harus meninggal satu demi satu karena kesialan yang ia bawa. Zenon menanggung begitu banyak kesedihan dan beban berat yang seharusnya sulit untuk dipikul oleh satu orang. Zenon memang pada dasarnya tidak sekuat itu, selalu ada masa di mana dia berada di titik terendah dalam hidupnya, merasa bahwa ia tidak pantas hidup dan lebih baik mati supaya menjadi hantu. Luna melihat semua proses perkembangan Zenon, sedari ia kecil hingga dewasa. Meski pria itu selalu tersenyum dan bertingkah bodoh, Luna lebih dari tahu bahwa kebahagiaannya hanyalah sebuah fasad dan perasaan aslinya tersembunyi dibalik fasad tersebut. Akan tetapi, sekarang Luna mulai melihat perasaan asli yang tersembunyi itu mulai muncul ke permukaan. Kebahagiaan yang akhir – akhir ini ditunjukkan oleh Zenon bukanlah sebuah kepalsuan. “Kamu sudah menemukan cahayamu?” Luna tidak perlu menyuarakan pertanyaannya karena Zenon dan dirinya sudah sering berkomunikasi melalui tatapan. Zenon tersenyum lembut, “Ya, aku sudah menemukannya.” “Luna, tidak apa jika tidak mengingat apapun sekarang. Suatu hari nanti kamu pasti bisa mengingatnya dan aku akan membantumu untuk pergi.” Kata Zenon Luna hendak membalas, tapi mengurungkan niatnya tatkala mendengar suara laju kereta api disertai peluit yang melengking. Permukaan lantai peron sedikit bergetar saat kereta bergerak cepat melewati mereka. Zenon segera berdiri dan berbaris untuk masuk ke dalam kereta bersama Xena. Sedari tadi, Xena tidak mau menanggapi Luna karena dia masih merasa malu apabila berbicara seorang diri seperti yang sering dilakukan oleh Zenon. Namun, dia juga diam – diam mendengarkan keluhan dari Luna, sehingga dia langsung berbisik ke samping telinga Zenon saat pria itu berdiri, “Jika ingin mengetahui masa lalu, bukankah aku hanya perlu memasuki ingatannya?” “Tidak bisa. Jika Luna tidak bisa mengingatnya, maka kamu juga tidak bisa melihat ingatannya. Kamu hanya akan melihat ruang hitam bila memaksa masuk ke dalam ingatan Luna.” “Oh, sayang sekali.” bisik Xena seraya mengintip sosok Luna yang berdiri di samping Zenon. Luna mendengus, “Kamu! Kamu bahkan tidak mau berbicara denganku! Tidak perlu memperdulikanku!” “Xena Archer! Aku masih memiliki banyak perhitungan denganmu yang sudah banyak merebut perhatian Zenon! Tahun depan akan kupastikan kita tidak pernah bertemu lagi!” Zenon yang berada tepat di samping Luna langsung menutup kupingnya sambil bergumam, “Berisik.” Tahu bila Luna akan selalu mengoceh sepanjang perjalanan, Zenon akhirnya turut mengurung roh Luna di dalam boneka kertas bersama Parlan. Membuat suasana disekitar menjadi lebih tenang dan membuat Xena menghela napas lega. Kereta bawah tanah akhirnya berhenti tepat di hadapan peron. Ketika pintu terbuka, Xena menarik tangan Zenon untuk masuk ke dalam kereta dan mengambil kursi kosong di bagian belakang. Zenon duduk di samping jendela, sedangkan Xena mengambil tempat duduk yang dekat dengan sirkulasi jalan. Seperti yang ia perkirakan, kereta sedang sangat ramai sampai tidak ada kursi yang kosong. Tapi keramaian yang dilihat oleh Xena bukanlah semata kerumunan manusia, tetapi juga kerumunan hantu, hantu – hantu itu terlihat seperti masih hidup, mereka berdiri di lorong kereta seraya memegang handle. Perkiraan Xena, kebanyakan dari mereka mungkin adalah hantu tingkat satu, sehingga tidak memiliki keinginan untuk mengganggu manusia. Meski begitu, kehadiran mereka tetap saja membuat Xena merasa sesak. “Xena, hantu di rumah sakit jauh lebih banyak daripada di kereta. Jika berada di antara hantu kereta saja sudah sesak, bagaimana kamu bisa menghadapi hantu di rumah sakit?” Xena, “Sebanyak apa?” Zenon mengangguk, “Selalu ada orang yang meninggal di rumah sakit setiap harinya, entah itu rumah sakit jiwa atau pun rumah sakit biasa. Jika kamu pikirkan dengan baik, kebanyakan pasien di rumah sakit jiwa itu tidak begitu bahagia dan memiliki banyak penyesalan di hidup mereka. Jadi, mungkin akan ada banyak hantu tingkat satu dan dua di sana, bahkan bisa juga sampai tingkat tiga.” “Kamu masih ing—” “Tanganmu.” Xena memalingkan wajahnya seraya menyorongkan tangannya ke hadapan Zenon. “Kemarikan tanganmu.” Zenon dengan senang hati segera memberikan tangannya, sehingga mereka saling berpegangan tangan. Walau Zenon terlihat hanya ingin mencari kesempatan untuk memegang tangan Xena, sesungguhnya ia serius saat mengatakan akan ada banya hantu di rumah sakit jiwa dan mungkin Xena tidak akan sanggup untuk menghadapi mereka untuk saat ini. Peluit kereta kembali berbunyi dan roda – roda mulai melaju di atas rel besi. Setelah memasuki ingatan Parlan yang sangat panjang, energi Xena terkuras drastis, sehingga membuatnya mudah lelah. Baru saja Xena ingin memejamkan mata, tetapi suara obrolan anak kecil di samping kursi mereka membuatnya kembali membuka mata. “Kemarin aku baru saja pergi ke taman bermain dengan Ibuku, ada banyak wahana baru di sana dan juga aksesoris yang lucu.” Anak kecil lain menyahuti, “Minggu depan juga mama mengajakku pergi ke Disney Land. Aku ingin bertemu dengan Mickey Mouse!” Sepertinya mereka adalah anak – anak dari kedua ibu yang duduk di depan mereka. Xena hanya melirik sebentar, sebelum akhirnya kembali memejamkan mata karena tidak tertarik, tapi sepertinya orang di sebelah Xena tampak sangat antusias saat mendengar obrolan dua bocah itu. Jadi, Zenon mengguncang lengan Xena dan membuat wanita itu kembali terjaga. “Nana. Nana. Apa kamu pernah ke Disneyland?” Xena menghela napas sejenak, “Ketika aku kecil, aku sering pergi ke sana.” “Memangnya hanya anak kecil yang boleh masuk?” “Tidak juga, semua orang boleh datang. Tapi, kebanyakan orang pasti pernah ke Disneyland saat mereka masih anak – anak.” “Tapi, aku belum pernah pergi.” kata Zenon dengan suara yang sedikit sedih. Xena terdiam, dia ingat jika saat kecil Zenon harus mengurung diri di dalam Desa Amynthas karena takut akan membawa kesialan kepada orang lain. Jadi, wajar saja bila pria itu belum pernah bermain di wahana bermain saat kecil, meski pamannya bisa saja membawa Zenon ke tempat – tempat menyenangkan seperti itu. Merasa tidak tega karena melihat wajah Zenon yang sedikit tertekuk, Xena akhirnya membuat janji tanpa berpikir. “Besok kita bisa pergi ke Disneyland jika kamu mau.” Ekspresi Zenon langsung berbinar dan segera memajukkan wajahnya ke hadapan Xena. “Benarkah? Benar – benar pergi?” Xena mendorong wajah Zenon agar menjauh. “Ya, tapi kamu yang bayar.” Zenon mengangguk cepat, “Tentu. Tentu. Aku pasti akan membayar semua kebutuhanmu!” Xena tanpa sadar turut tersenyum saat melihat Zenon yang bahagia. Sepanjang sisa perjalanan, Zenon terus bersenandung kecil, sehingga membuat Xena merasa sangat mengantuk. Xena memejamkan matanya dan sepenuhnya jatuh tertidur. Kepalanya yang tidak memiliki sanggahan pada akhirnya mendarat di pundak Zenon. Pria itu menghentikkan senandungnya, kemudian melihat Xena yang sudah tidur di pundaknya. Di mata Zenon, Xena itu seperti seekor kucing yang akan selalu mengamuk setiap kali ia mengganggunya saat sadar, tapi wajah Xena akan berubah menjadi sangat manis saat terlelap. Zenon meletakkan tangannya di belakang punggung Xena dan menjaga sisi kepala wanita itu agar tidak banyak terguncang. Selama hidup, Zenon belum pernah duduk sedekat ini dengan orang lain, dia juga tidak menyangka bisa sampai menyentuh manusia lain hingga begini. Karena itulah, bagi Zenon, Xena adalah seseorang yang membawakan cahaya harapan baru ke dalam hidupnya. “Nana, aku harus mencari cara agar kamu mau memperpanjang kontrak kita.” bisik Zenon pelan yang suaranya teredam oleh deru mesin kereta. • • • Sesaat sebelum kereta sampai di tempat tujuan, Xena membuka kedua matanya dan mendapati kepala Zenon tengah tidur dengan bertumpu pada kepalanya. Sontak saja Xena mendorong kepala Zenon dengan kasar sampai kepala pria itu menghantam jendela kereta. Zenon seketika terbangun dan langsung mengusap kepalanya yang terasa agak sakit. “Xena, tidak bisakah kamu membangunkanku dengan cara yang lebih lembut?” “Apanya cara yang lembut?! Kamu hanya sedang mencari kesempatan untuk menyentuhku!” seru Xena. “Tapi kamu juga mencari kesempatan dengan memegang tanganku,” balas Zenon seraya memperlihatkan kedua tangan mereka yang masih berpegangan tangan. “Kamu ..” “Hadirin sekalian, dalam beberapa menit, kereta ini akan sampai di stasiun tujuan akhir. Dimohon untuk memeriksa barang bawaan Anda dan turun dengan hati – hati. Terima kasih.” Xena menahan ucapannya karena mendengar pengumuman itu. Dia segera berdiri dari kursi dan mengajak Zenon untuk turun saat pintu kereta sudah terbuka. “Lihat, kamu masih memegang tanganku sampai turun,” kata Zenon. Xena yang kesal akhirnya melepaskan tangan mereka. “Sudah kulepas.” Xena melangkah lebih dahulu dari Zenon, sehingga membuat pria itu harus berlari kecil untuk mengejar Xena. “Aku hanya bercanda. Kamu boleh memegang tanganku selama yang kamu mau.” Xena mendengus, “Berhenti bermain – main. Sekarang kita harus cepat pergi ke rumah sakit jiwa sebelum jam kunjungan habis.” Hari sudah hampir gelap, wajar bila Xena takut rumah sakit tidak akan lagi menerima kunjungan. Dia juga tidak mau jauh – jauh datang ke sini lagi besok hari. Keduanya lantas menelusuri jalan setapak, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh aplikasi penunjung arah. Lokasi rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari stasiun, sehingga mereka tidak perlu menaiki kendaraan umum lain. Berselang sepuluh menit kemudian, Xena akhirnya bisa melihat palang rumah sakit ‘Mental and Care Hospital’, yang terlihat sama persis dengan yang ada di dalam ilusi. Namun, ada sesuatu di dalam diri Xena yang membuatnya merasa seperti pernah melihat rumah sakit ini secara langsung, padahal dia belum pernah ke Paris bagian ini. Xena juga merasa begitu enggan untuk memasuki rumah sakit, seolah dia mempunyai kenangan buruk yang tak dapat dijelaskan di dalam sana. “Xena,” Zenon memanggil, “Xena, kenapa kamu hanya diam?” Xena akhirnya tersadar dari lamunannya setelah Zenon mengguncang lengannya pelan. “Tidak. Tidak apa – apa, mungkin aku masih terlalu lelah sampai mudah berhalusinasi.” Zenon menunjukkan kekhawatiran. “Apa hari ini kita mencari penginapan di daerah ini saja dan baru kembali ke pusat kota besok?” “Mhm. Tidak masalah. Kita bisa membeli keperluan mandi yang baru di sini,” balas Xena yang tampaknya juga merasa lelah. Keduanya lantas memasuki rumah sakit dan berbicara kepada resepsionis mengenai keperluan mereka. Ketika nama Serene Estelle disebutkan, resepsionis mengerutkan keningnya, seperti merasa kaget karena ada seseorang yang mengetahui lokasi Serene di dalam rumah sakit. “Mohon maaf sebelumnya. Tapi, bisakah Anda menyebutkan identitas Anda dan memberitahu hubungan Anda dengan Nona Estelle?” Tidak mau memperpanjang masalah, Xena segera melepaskan masker dan kacamata yang melekat di wajahnya, membuat perawat yang ada di meja resepsionis langsung terkejut saat melihat identitas asli Xena. “Nama saya Xena Archer dan hubungan saya dengan Nona Estelle adalah … teman. Saya sudah berusaha menghubungi Nona Estelle sejak tiga tahun yang lalu, tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban. Akhirnya, setelah berusaha mencari banyak informasi, ternyata saya menemukan Nona Estelle di rumah sakit ini. Saya sungguh merasa kehilangan saat tidak mendapatkan kabar dari Nona Estelle dan baru bisa tenang sekarang. Karena itulah, bisakah Anda membantu saya untuk bertemu dengan Nona Estelle?” “Jika Anda tidak memperbolehkan saya untuk bertemu dengan Nona Estelle. Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk meredakan kesedihan saya.” Bagaimana pun juga, Xena itu adalah aktris papan atas. Mengelabui seseorang dengan ekspresi dan tindakan merupakan sesuatu yang mudah bagi Xena. Hatinya bisa saja tidak merasakan apa – apa, tapi wajahnya mampu terlihat menyedihkan seakan ingin menangis sebentar lagi. Dengan wajah serapuh itu, resepsionis tentu saja turut merasa iba dan percaya bahwa Xena memanglah teman lama Serene. Perawat itu memang pernah mendengar kabar bahwa hubungan agensi Serene dengan Archer bersaudara tidak begitu bagus. Namun, hal – hal yang ada di media hanyalah sebuah kulit luar yang belum pasti kebenarannya. Para selebritis selalu mempunyai rahasia yang disembunyikan kepada publik, termasuk hubungan pertemanan mereka. Mungkin saja memang Xena dan Serene merupakan sepasang teman yang tidak ingin dipublikasikan supaya nama mereka tidak terseret apabila salah satu mempunyai skandal. Sungguh pertemanan yang mengharukan hingga membuat hati perawat dengan name tag ‘Carissa’ itu terenyuh. “Nona Archer, kondisi dari Nona Estelle agak sulit untuk dijelaskan. Bila Anda bersedia, bisakah Anda menunggu selama lima belas menit lagi? Waktu jaga saya akan segera habis, sehingga saya bisa memandu Anda ke ruangan Nona Estelle dengan lebih leluasa.” Meski Xena merasa bingung, tapi dia tetap mengangguk. “Saya mengerti, kalau begitu saja akan menunggu di Lounge.” Secara umum, rumah sakit hanya akan memberikan akses kepada pengunjung untuk pergi ke kamar pasien seorang diri. Akan tetapi, mengapa Carissa harus secara khusus memandunya? “Mungkinkah perawat itu ingin memberitahukan keberadaan kita di sini kepada Tuan Rodriguez?” tanya Xena. Seseorang yang membawa Serene ke dalam rumah sakit ini tidak lain pastilah Peter. Serene sudah tidak mempunyai sanak keluarga di Paris, dia juga bukanlah tipe wanita yang mempunyai banyak teman, sehingga hanya Peter yang bisa menjadi wali untuk Serene. “Tidak.” Zenon berbicara dengan Xena tetapi matanya menelisik jauh ke depan, terus melihat pada satu titik, tepatnya pada ujung koridor kamar pasien. “Perawat bernama Carissa itu merupakan seseorang yang dekat dengan Nona Estelle selama wanita itu berada di sini, kemungkinan besarnya Nona Carissa sudah mengetahui kebusukan – kebusukan yang dilakukan oleh Tuan Rodriguez kepada Nona Estelle. Nona Carissa pasti tidak akan pernah menghubungi Tuan Rodriguez, terutama bila itu menyangkut hubungan pertemanan Nona Estelle. Karena Nona Carissa selalu berharap ada seseorang yang datang untuk mengeluarkan Nona Estelle dari rumah sakit ini suatu hari nanti.” Xena merasa suhu tubuhnya menjadi dingin saat mendengar penjelasan dari Zenon. Ia lantas turut melihat ke arah titik yang diperhatikan oleh Zenon. Mata batinnya sedang ia tutup, sehingga ia tidak dapat melihat apa pun selain koridor yang kosong. “Bagaimana kamu tahu?” Zenon menghela napas panjang seraya mengelus boneka kertas di tangannya. “Nona Estelle sendiri yang memberitahuku.” Xena tercengang, “Tidak … tidak mungkin.” “Xena, tampaknya kita terlambat. Nona Estelle sudah meninggal sejak satu bulan yang lalu.” • • • • • To Be Continued 13 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN