BAB 42 : MATA

2415 Kata
“Xena, tampaknya kita terlambat. Nona Estelle sudah meninggal sejak satu bulan yang lalu.” Jika Serene memang sudah meninggal, maka Zenon mampu mengetahui hubungan antara Serene dengan Carissa melalui hantu Serene. Xena terdiam, perlahan ia menutup kelopak matanya dan meyakinkan diri untuk membuka mata batin. Tatkala kelopak mata Xena terbuka, ia mampu melihat kerumunan hantu yang berlalu lalang di koridor dan lobi rumah sakit, mereka semua kebanyakan memakai seragam pasien dan beberapa mengenakan seragam perawat. Di antara kerumunan hantu itu, ada satu hantu wanita yang mampu mengunci pandangan Xena. Permukaan kulit hantu itu tampak kelabu dan terdapat sedikit bercak – bercak luka terbakar di beberapa bagian kulitnya. Tatapan mata dari hantu itu mengarah tepat kepada Xena, menusuk tajam seperti ingin menembus tengkorak kepala Xena. “Serene, kamu benar – benar sudah meninggal …” lirih Xena tidak percaya. Walaupun Xena belum pernah bertemu langsung dengan Serene, dia tetap memiliki rasa simpati yang begitu besar setelah melihat ada banyak penderitaan yang harus Serene lalui di masa lalu. Penderitaan – penderitaan yang dihadapi oleh Serene bukanlah hal yang sepele, malah cenderung sangat berat untuk ditanggung seorang diri. Oleh karena itu, Xena sebelumnya mempunyai tekad untuk membantu Serene mendapatkan kebebasan setelah menemuinya hari ini. Namun, dia tidak menyangka bila Serene sudah kehilangan nyawanya sebelum mampu mengecap kebahagiaan. “Nona Archer, akhirnya kita bisa bertemu,” balas Serene dengan suara yang terdengar lemah. Serene melangkah, menembus hantu – hantu yang berkeliaran di sekelilingnya. Tidak seperti Parlan, energi dendam yang menguar dari tubuh Serene tidak begitu kental, malah sepertinya roh Serene hanya dilingkupi oleh energi penyesalan. Dari kejauhan, Xena turut melihat Carissa sedang berjalan cepat ke arahnya. Perawat itu baru saja menyelesaikan shift kerjanya dan sudah bisa memandu Xena untuk pergi ke ruangan Serene. Di tangan perawat itu, terdapat beberapa dokumen yang tampaknya memuat informasi tentang Serene di dalamnya. “Maaf telah membuat Anda menunggu, Nona Archer. Mari kita berbicara sambil berjalan ke ruangan Nona Estelle.” ajak Carissa. Tatapan mata Xena terlepas dari Serene, kemudian ia mengikuti langkah Carissa yang sudah lebih dahulu berada di depannya. Meski dia sudah tahu bila Serene tidak lagi hidup, tetapi Xena tidak dapat membeberkan pengetahuannya itu di hadapan Carissa. “Saya sudah sangat lama tidak berjumpa dengan Nona Estelle, bagaimana kabarnya?” Seperti dugaan Xena, senyuman yang terpatri di wajah Carissa perlahan mulai luntur, menampakkan guratan kesedihan yang sangat ketara. “Nona Archer, sesungguhnya ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai Nona Estelle.” Xena berpura – pura merasa khawatir. “Mungkinkah kesehatan Nona Estelle buruk selama berada di sini?” “Tidak. Tidak. Kesehatan Nona Estelle jauh lebih baik saat dirawat di rumah sakit ini. Hanya saja, yang baik hanyalah jasmaninya, tetapi jiwanya tidak pernah baik sedikit pun. Dia menanggung begitu banyak trauma di dalam hidupnya dan tak pernah mau menceritakan traumanya kepada para dokter. Nona Estelle menganggap semua orang pasti akan menatapnya dengan hina apabila dia menceritakan kisah masa lalunya.” “Selama tiga tahun berada di dalam perawatan. Kondisi jiwa Nona Estelle kian menurun. Setiap malam, dia akan selalu berteriak kepada para perawat untuk membiarkannya pergi dari Kota Paris supaya dia bisa mencari seseorang bernama Parlan. Selama ini kami sudah berusaha mencari pria bernama Parlan di Kota Paris yang kenal dengan Nona Estelle, tetapi tidak ada hasil yang memuaskan. Seolah – olah, pria bernama Parlan yang dimaksud hanyalah sebuah tokoh fiksi belaka.” “Walinya juga tidak mau membantu?” tanya Xena yang mengarah kepada Peter. “Kami sudah berusaha menghubungi walinya beberapa kali, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Walinya hanya mengirimkan biaya rumah sakit secara berkala dan tak pernah sekali pun berkunjung ke sini.” Tampaknya kejiwaan Serene memang sudah terganggu semenjak kepergian Parlan. Kemungkinan besar, Peter sengaja menaruh Serene di rumah sakit jiwa karena tidak mau mengurusnya secara pribadi, apalagi citra dari agensinya juga bisa buruk bila sampai penyakit mental Serene di publikasikan ke umum. “Nona Carissa, walau Anda berkata Nona Estelle tidak mau membicarakan masa lalunya kepada dokter di sini. Dia pasti pernah membuka diri kepada Anda secara pribadi.” Zenon menambahkan, “Anda ingin mengantarkan kami secara pribadi ke ruangan Nona Estelle, kebanyakan perawat hanya akan memberi tahu keadaan pasien mereka secara gamblang dan tidak bercerita seperti ini. Anda pasti memiliki hubungan yang dekat dengan Nona Estelle.” Carissa terkejut saat mendengar penuturan Zenon. Dia tidak menyangka bila tingkah lakunya begitu jelas, sampai orang asing mampu mengetahui hubungannya dengan Serene. “Seperti yang dikatakan oleh Tuan …” “Dominic.” sahut Zenon. Carissa mengangguk, “Seperti yang dikatakan oleh Tuan Dominic. Saya memang lumayan dekat dengan Nona Estelle. Dahulu, saya adalah perawat yang sering bertanggung jawab untuk menemani Nona Estelle berjalan di taman rumah sakit, dan setelah beberapa kali mengobrol bersama, akhirnya Nona Estelle memberitahukan masa lalunya kepada saya.” Dalam seperkian detik, pancaran cahaya di kedua bola mata Carissa mulai meredup dan mati. Ingatannya menerawang jauh, membuka kotak memori tentang Serene yang sudah lama terkunci. “Masa lalu Nona Estelle tidak baik. Malah sangat buruk. Karena itu, saya tidak menyangka ia memiliki seorang teman sesama selebriti.” Xena turut menampakkan wajah sedih. “Hubungan kami memang dekat. Namun, kami harus menjaga jarak supaya media tidak dapat memanfaatkan hubungan pertemanan kami.” “Ternyata hidup di tengah – tengah gemilang tetap tidak mampu membuat manusia bahagia.” ujar Carissa, merasa iba akan cerita palsu yang diucapkan oleh Xena. Xena tidak lantas menjawab, pandangan matanya mengarah pada puluhan sosok hantu yang berdiri di sepanjang lorong rumah sakit. Alih – alih terlihat seram, para hantu itu malah terlihat menyedihkan. Kebanyakan pasien di rumah sakit jiwa, jarang dikunjungi oleh keluarga mereka, dan selalu di anggap sebagai aib yang harus dihilangkan. Mungkin karena itulah, mereka turut meninggal dengan hati yang dipenuhi luka. “Nona Archer, bagaimana bila Anda tidak dapat melihat Nona Estelle lagi?” tanya Carissa secara tiba – tiba. Pembicaraan yang mengarah pada kesuraman ini sudah bisa Xena perkirakan sebelumnya, sehingga wanita itu telah lebih dahulu menyiapkan skenario palsu untuk mengelabui Carissa. “Apa maksud Anda? Bukankah sekarang kita tengah berjalan ke kamar Nona Estelle?” Carissa menghela napas dalam – dalam sebelum berkata, “Maaf, Nona Archer. Saya hanya sedang mengantarkan Anda menuju kamar Nona Estelle, bukan untuk menemuinya.” “Saya tidak mengerti.” balas Xena. “Nona Estelle … ia telah meninggal satu bulan yang lalu.” bisik Carissa, meski begitu, suara bisikannya mampu menggema di antara lorong yang sepi. Xena menutup mulutnya, terlihat seolah begitu terkejut dengan penuturan Carissa. “Tidak mungkin. Serene tidak mungkin meninggal! Dia masih tampak baik – baik saja saat kita bertemu terakhir kali, dia juga berjanji akan memberikanku kue kering ketika bertemu lagi. Saya tidak percaya, temanku Serene pasti masih hidup. Apakah Anda menyembunyikannya? Apakah semua ini adalah suruhan dari Tuan Rodriguez?” Carissa, “Anda salah! Saya tidak bekerja sama dengan Tuan Rodriguez!” “Lantas, mengapa kamu berkata bila Serene telah meninggal?” “Karena memang itu kenyataannya.” Mereka berhenti di hadapan sebuah pintu kamar bertuliskan ‘Serene Estelle’. “Nona Estelle telah meninggal satu bulan lalu, dia membunuh dirinya sendiri.” Xena tertegun, “Bunuh diri? Serene bunuh diri? Dengan cara apa?” “Dia membakar ruangannya sendiri, tubuhnya hanya mengalami luka bakar ringan, tetapi kami tidak dapat menyelamatkannya karena Nona Estelle sudah menghirup asap terlalu banyak. Sampai hari ini, kami juga tidak mengerti, darimana Nona Estelle mendapatkan korek api, padahal kami tidak pernah mengizinkan pasien untuk membawa barang – barang berbahaya seperti itu.” Xena tidak mampu mengatakan apa pun, karena dia terlalu kaget, mendengar Serene meninggal dengan cara bunuh diri seperti itu. Di lain sisi, Zenon akhirnya mengambil alih pembicaraan itu. “Jika memang Nona Estelle sudah meninggal. Mengapa kalian masih belum menghilangkan namanya dari ruangan?” Carissa mengambil jeda sejenak, “Itu karena kematian Nona Estelle tidak pernah diketahui oleh walinya, sehingga Tuan Rodriguez masih mengirimkan biaya rumah sakit milik Nona Estelle.” “Atas dasar apa kalian berbohong seperti itu?” “Atas permintaan Nona Estelle.” Carissa berkata, “Nona Estelle memegang sebuah kertas kecil di tangannya saat kita menemukannya. Secarik kertas itu memuat permintaan Nona Estelle yang tidak ingin Tuan Rodriguez mengetahui kematiannya. Sesungguhnya kami tidak mau menyembunyikan ini, tapi kami juga tidak bisa mengabaikan permintaan seorang pasien yang bunuh diri.” “Di mana kalian memakamkan tubuh Nona Estelle sekarang?” tanya Zenon. Carissa merunduk, “Ketika masih hidup, Nona Estelle pernah mendaftarkan diri ke sebuah lembaga donor. Setelah para dokter mengambil hampir keseluruhan organ tubuh milik Nona Estelle, kami mengkremasikan tubuhnya dan menyebarkan abu Nona Estelle ke laut.” Mendadak kepala Xena terasa sakit. Dia tidak mau menggunakan teori yang mengada – ngada untuk menghubungkan kematian Serene dengan donor matanya. Akan tetapi, jika dihitung secara seksama, hari kematian Serene itu bertepatan dengan hari di mana Xena mendapatkan kabar bahwa ada donor yang cocok dengannya. Lidia juga pernah berkata bahwa pendonor Xena merupakan seseorang yang meninggal akibat kebakaran. Mungkin saja orang tuanya tidak ingin Xena tahu bila pendonornya meninggal dengan cara bunuh diri, sehingga mereka sengaja menyembunyikan identitas Serene darinya. “Nona Carissa, bisakah aku mengetahui nama pasien yang mendapatkan donor mata dari Serene?” tanya Xena. “Data itu sifatnya sangat rahasia, saya bahkan tidak bisa melihatnya tanpa mendapatkan izin dari kepala perawat.” Xena berseru, “Kalau begitu katakan kepala kepala perawat Anda, apakah ada nama Xena Archer yang tertera di dalam data itu? Jika memang tidak ada, maka aku tidak perlu mengetahui nama pasien itu.” Carissa tiba – tiba saja baru ingat jika tidak lama sebelum ini, Xena turut melakukan operasi donor mata. Sehingga wajar bila wanita itu merasa curiga atas identitas pendonornya. “Saya mengerti, Anda bisa menunggu di ruangan Nona Estelle terlebih dahulu saat saya memeriksa data tersebut.” Carissa membuka kunci pintu ruangan Serene, lalu mempersilahkan Xena untuk masuk. Ruangan di balik pintu tampak sangat sederhana. Hanya terdapat sebuah ranjang berukuran single, sebuah lemari kayu, dan meja di sudut ruangan. Tidak ada barang – barang elektronik yang mengandung hiburan seperti televisi atau pun radio, mungkin karena pihak rumah sakit tidak ingin pasien mereka mendapatkan doktrin dari media massa. Begitu pintu ruangan ditutup rapat, Zenon mulai berbicara, “Nona Estelle, apa Anda benar – benar bunuh diri?” Serene yang sejak tadi berjalan di belakang punggung Zenon, akhirnya berjalan ke tengah ruangan. “Menurut Anda bagaimana? Apakah saya terlihat seperti orang yang bunuh diri?” “Tidak.” Zenon berkata, “Jika Anda bunuh diri, pasti roh Anda akan terus mengulang kematian di dalam ruangan ini dan tak mampu berkeliaran dengan bebas.” “Karena itu, Xena tidak perlu merasa berat hati bila memang Nona Estelle adalah pendonormu.” Zenon menepuk pundak Xena sekali, berusaha menenangkan hati Xena yang sebelumnya kalut. “Tapi, jika memang tidak bunuh diri. Bagaimana bisa ruangannya terbakar begitu saja?” “Awalnya saya memang ingin bunuh diri. Namun, saya merasa bahwa bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri penderitaan saya. Sayangnya, saya tanpa sengaja menjatuhkan korek gas ke atas permukaan lantai yang sudah saya tuangi minyak tanah. Api langsung menyambar ruangan dan pintu ruangan saya tiba – tiba saja terkunci dari luar.” Serene yang pada saat itu sudah pasrah, memutuskan untuk menulis pesan terakhir di atas secarik kertas. Setidaknya, bila ia mati, Serene tidak mau sampai Peter tahu. Serene juga tidak ingin Peter menginjakkan kaki di dekat abu kremasinya. “Tapi, Nona Archer. Karena saya sebelumnya memang sudah berniat untuk bunuh diri. Saya sempat menelepon lembaga donor satu minggu sebelumnya, dan meminta secara khusus untuk memberikan mata saya kepada Anda.” Xena merasa seolah ada air dingin yang menyiram ujung kepalanya, sehingga membuat tubuhnya menggigil. “Kenapa? Kenapa kamu ingin mendonorkan mata untukku? Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.” “Karena saya ingin terlepas dari rasa bersalah akibat telah membuat saudaramu sempat menderita.” Xena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sampai buku – buku jarinya memutih. “Omong kosong. Kemalangan yang pernah menimpa Helios adalah murni kesalahan agensimu dan Peter Rodriguez. Kamu sama sekali tidak berbuat kesalahan.” Serene tersenyum miris, “Tetap saja itu berawal dariku.” “Beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri. Seorang pria datang ke ruanganku pada tengah malam, dia tidak masuk, hanya berdiri di luar ruangan dan berbicara melalui celah kecil yang biasa digunakan para perawat untuk mengecek pasien mereka.” Baik Xena mau pun Zenon, sama – sama mengerutkan kening mereka dan bertanya secara bersamaan. “Siapa pria itu?” “Saya tidak tahu. Dia hanya memberi tahu saya bahwa Tuan Gustov sudah meninggal, Tuan Rodriguez tidak lagi memperdulikan kehadiran saya, dan dunia telah lama melupakan sosok Serene Estelle. Saat itu, saya sedang berada di titik terendah, dan sedikit masalah saja sudah memicu kesadaran saya untuk mengakhiri hidup.” Satu – satunya orang yang selalu memperhatikan Serene telah meninggal, sehingga Serene merasa bila melanjutkan hidup tidak akan ada gunanya. Dia lantas mengutarakan keinginannya itu kepada pria asing yang berdiri di luar ruangan. Siapa yang menyangka, pria itu malah mendukung keinginan Serene dan memberikan Serene sebuah jimat serta beberapa barang untuk bunuh diri. Tidak hanya itu, pria asing tersebut juga berjanji mampu membalaskan dendam Serene kepada Peter Rodriguez, asal Serene mau memberikan donor matanya untuk Xena. Baik Serene harus mati atau pun tetap hidup. Saat itu, Serene menyanggupi syarat tersebut karena memang dirinya merasa bersalah dengan Keluarga Archer, sehingga memberikan donor mata kepada Xena bukanlah perkara sulit. Ketika Serene menyampaikan hal itu, Xena menjadi semakin bingung dan terus dilanda oleh kekhawatiran. “Kenapa pria itu ingin Anda mendonorkan matanya kepada saya? Keluarga saya bahkan tidak pernah memaksa orang lain untuk melakukan hal itu.” Xena terdiam, pikirannya berputar – putar dan mulai meragukan ucapannya sendiri. Benarkah keluarganya tidak pernah melakukan apa pun? Baik Adryan dan Lidia merupakan orang yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perekonomian industri hiburan. Mereka juga sangat berpengalaman dan tahu bahwa sekali seorang selebriti jatuh, maka kemungkinan untuk bangkit kembali akan sangat kecil. Memaksa Serene Estelle untuk melakukan donor mata adalah hal yang mudah, mengingat kondisi kejiwaan Serene memang sudah terganggu dan tak mampu berpikir dengan jernih lagi ketika hidup. Saat itu, Xena juga berada di titik terendah dalam hidupnya dan selalu merasa bahwa dunianya runtuh akibat tidak bisa melihat. Mungkinkah memang pria itu adalah suruhan keluarganya? “Xena.” Zenon menepuk pucuk kepala Xena. “Jangan berpikir terlalu banyak, pria itu belum tentu suruhan keluargamu. Lagi pula, bukankah seluruh keluargamu adalah orang yang skeptis akan hantu? Mengapa bisa tiba – tiba mempercayai seorang shaman untuk membantu putri mereka?” • • • • • To Be Continued 15 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN