BAB 43 : Pembawa Bencana

1715 Kata
“Xena.” Zenon menepuk pucuk kepala Xena. “Jangan berpikir terlalu banyak, pria itu belum tentu suruhan keluargamu. Lagi pula, bukankah seluruh keluargamu adalah orang yang skeptis akan hantu? Mengapa bisa tiba – tiba mempercayai seorang shaman untuk membantu putri mereka?” Zenon benar. Keluarganya tidak mungkin bertindak sepicik itu untuk membantu Xena. Namun, tetap saja hatinya masih memiliki banyak keraguan. “Tapi .. Mengapa pria itu sampai meminta Nona Estelle untuk membantuku?” “Memangnya dia membantu? Dia itu hanya ingin membuat kamu menderita,” Zenon membalas dengan tatapan mata yang kesal. Xena tidak lekas membalas karena dia belum paham. Pria asing itu meminta Serene untuk memberikan donor mata kepada Xena, tetapi mengapa Zenon malah berkata bila pria itu ingin membuatnya menderita. Zenon yang mengetahui kebingungan Xena itu segera menjelaskan, “Ada tiga alasan mengapa aku berkata dia ingin membuatmu menderita. Alasan pertama, kamu dan keluargamu itu sesungguhnya punya bakat alami untuk melihat hantu, hanya saja perlu pemicu supaya mata batin kalian terbuka. Karena bakat alami itulah, ada banyak hantu yang tertarik untuk mendekati kalian, dan kamu bahkan pernah mendapatkan kesialan karena diikuti oleh hantu tingkat tiga akibat merasa iri di acara penghargaan.” “Alasan kedua, Nona Estelle merupakan seseorang yang memiliki banyak kesialan dan penyesalan di dalam hidupnya, bahkan dia sudah punya tendensi untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang sudah tidak mempunyai semangat hidup itu biasanya selalu dilingkupi oleh Energi Yin yang besar.” “Dan alasan yang terakhir, jika Nona Estelle memberikan salah satu organ tubuhnya kepadamu, maka organ yang mengandung banyak Energi Yin itu mampu membuat Energi Yin yang sudah lama mengendap di dalam tubuhmu meledak.” Xena memutar roda di otaknya dengan cepat, berusaha memahami kalimat inti yang telah dijabarkan oleh Zenon. Selama ini dia belum pernah mendapatkan penjelasan atas meledaknya Energi Yin di dalam tubuhnya sendiri. Sampai akhirnya baru tahu bila keluarganya sudah memiliki bakat untuk melihat hantu sejak dahulu, hanya saja bakat itu tidak dikembangkan dan tidak pernah mendapatkan pemicu sehingga seluruh keluarganya tidak pernah mampu membuka mata batin. Siapa yang menyangka bila kabar gembira kala mendengar dirinya mendapatkan donor mata akan menjadi awal dari kesialannya hingga hari ini. “Jika memang ucapanmu benar. Mengapa dia harus berbuat sejauh itu hanya untuk membangkitkan kemampuanku?” Zenon menghela napas, “Untuk alasan itu, aku juga belum tahu.” Xena belum pernah bertemu dengan shaman sebelum ia berjumpa dengan Zenon, sehingga mustahil bagi wanita itu untuk menyinggung seorang shaman dan membuat shaman itu memiliki dendam kepada Xena. “Apa suatu saat dia akan mendatangiku secara pribadi?” khawatir Xena. Dia belum mengetahui tabiat orang asing itu secara jelas, sehingga kepalanya menciptakan banyak skenario buruk apabila mereka sampai bertemu. Namun, kekhawatiran itu segera sirna tatkala mendengar perkataan Zenon. “Jangan khawatir, aku akan membantu kamu mencari orang itu. Kemungkinan besar, orang asing itu merupakan shaman yang juga memberikan jimat kesialan kepada Tuan Rodriguez.” “Bagaimana kamu bisa seyakin itu?” “Orang asing itu juga sempat memberikan selembar jimat kepada Nona Estelle. Sebelumnya Nona Estelle berkata bahwa dia tanpa sengaja menjatuhkan korek gas dari tangannya sehingga api bisa menjalar cepat di dalam ruangan. Secara kebetulan, pintu ruangan Nona Estelle juga terkunci dari luar sehingga sulit terbuka, mungkin saja memang sengaja dikunci oleh perawat supaya Nona Estelle tidak berkeliaran di malam hari.” Zenon melanjutkan, “Kesialan – kesialan yang fatal itu sudah mampu membuatku yakin bahwa jimat yang diberikan oleh shaman itu jugalah sebuah jimat kesialan.” Agar argumennya lebih tepat, Zenon menuliskan huruf – huruf rune yang tertera pada jimat kesialan di atas secarik kertas, kemudian memperlihatkan isi dari kertas tersebut kepada Serene. “Seingatmu, apa tulisannya persis seperti ini?” Serene segera mengangguk, “Ya, tepat seperti ini. Hanya saja ada satu simbol lain yang belum Anda tuliskan di sini.” Zenon mengerutkan keningnya. “Simbol lain? Tapi, tulisan di jimat kesialan hanya seperti ini …” Kedua mata pria itu terpaku pada tulisan yang ada di kertas. Seketika dia sadar, mungkin saja dia keliru, mungkin memang jimat yang diberikan oleh orang asing itu bukanlah jimat kesialan. Seingat Zenon, ada satu jimat yang kalimatnya sama dengan jimat kesialan, hanya saja ada penambahan satu simbol dibagian bawah jimat sebagai pembeda. Zenon lantas menggambar sebuah simbol itu, lalu kembali menunjukkannya kepada Serene. “Seperti ini?” “Ya! Ya! Tepat seperti ini!” Zenon terdiam, manik matanya hanya terus tertuju kepada simbol tersebut, sampai ia mengabaikan kehadiran semua orang yang ada di ruangan. Wajahnya tampak kaku, seperti sebongkah batu yang keras. Xena beberapa kali memanggil Zenon, tetapi pria itu tidak memberikan balasan, hingga akhirnya Xena menepuk pundak Zenon dan memanggil dengan intonasi yang agak tinggi. “Zenon!” Mendengar seruan Xena, sontak membuat Zenon tersentak, “Ya?” “Jimat apa itu? Apakah sangat berbahaya?” Zenon, “Sangat berbahaya. Jimat ini merupakan jimat pembawa bencana. Pada dasarnya, prinsip kerja dari jimat ini mirip dengan jimat kesialan yang akan mendatangkan berbagai macam kesialan serta mampu membuka titik Energi Yin pada tubuh manusia. Hanya saja, jimat pembawa bencana mempunyai tingkatan yang lebih ekstrim. Selain mendatangkan kesialan, jimat ini juga bisa memanggil banyak hantu ke tempat di mana jimat pembawa bencana ditempelkan. Jumlah hantu yang bisa dipanggil bisa mencapai puluhan sampai ratusan, tergantung seberapa kuat energi yang dituangkan oleh si pembuat jimat.” Zenon memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap Serene. “Nona Estelle, tampaknya Anda tidak mengalami sesak napas karena asap beracun, tetapi karena tidak kuat menahan tekanan yang muncul akibat ada banyak hantu yang tiba – tiba mendatangi ruangan Anda. Para hantu itu baru pergi setelah jimat terbakar oleh api, namun nyawa Anda sudah tidak tertolong.” Penjelasan Zenon cukup membuat Serene merasa terpukul. Ia selalu beranggapan bahwa kematiannya hanya akibat kecerobohan bodohnya saja, tapi ternyata kematiannya memang sudah direncanakan. Orang asing itu berkata bahwa jimat itu hanyalah sekadar benda untuk mendatangkan ketenangan, Serene tidak tahu bahwa jimat itulah yang pada akhirnya mendatangkan bencana ke dalam kehidupannya. Ketika Serene merasa seluruh dunianya runtuh, sebuah boneka kertas melayang jatuh dari dalam kantung celana Zenon. Boneka itu menggeliat kecil di atas permukaan lantai, pertanda bahwa roh yang ada di dalam boneka kertas sedang berusaha untuk mengeluarkan dirinya sendiri. Zenon yang baru ingat bahwa tujuan mereka adalah untuk mempertemukan Parlan dengan Serene, langsung mengeluarkan roh Parlan dari dalam boneka kertas. Meskipun Parlan tidak mampu mengucapkan kata, tatapan matanya terlihat begitu marah dan eskpresi wajahnya menghitam. Tampaknya dia sangat marah setelah mendengar ada seseorang yang telah mencelakai Serene hingga wanita itu meninggal. “Tuan Gustov?!” pekik Serene tidak percaya. Pertemuan mereka bukanlah sesuatu yang Serene harapkan untuk nyata. Mereka telah begitu lama berpisah dan Serene bahkan tidak pernah tahu lokasi tempat tinggal Parlan selama ini. Dia tidak menyangka bila mereka berdua dapat kembali berjumpa saat sudah menjadi hantu. “Tuan Gustov, ini benar – benar Anda?” suara Serene lambat laun terdengar lirih. Aliran darah mengalir keluar dari rongga matanya sebagai pengganti air mata. Ekspresi wajah Parlan melunak tatkala melihat Serene yang menangis. Ia lantas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Serene dan segera menarik Serene ke dalam pelukannya. Tanpa memperdulikan kehadiran yang lain, Serene terus menangis dan menangis. Isakan kecil perlahan berubah menjadi raungan keras yang memilukan. Bagi Serene, Parlan merupakan satu – satunya harapan hidup yang pernah ia miliki yang kemudian hilang akibat ulah Peter. Serene bisa berakhir di rumah sakit jiwa juga karena tak kuasa menahan kerinduan yang mendalam pada sosok Parlan. Padahal mereka belum mengenal selama bertahun – tahun, tapi kedekatan mereka sudah melebihi keluarga sendiri. “Apa yang terjadi kepadamu, Tuan Gustov?” tanya Serene dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh linangan darah. Tahu bila Parlan tidak mampu menjelaskan, maka Xena lebih dahulu menjelaskan, “Setelah kalian berpisah di pelabuhan. Tuan Rodriguez memotong lidah Tuan Gustov dan membawanya pergi ke Tiongkok. Tidak lama setelah itu, Tuan Gustov meninggal akibat kecelakaan kerja.” Tangisan Serene semakin keras setelah mendengar penjelasan dari Xena. “Tuan Gustov! Malang sekali nasibmu. Maaf, semua ini karena kesalahanku.” Parlan menggerakan tangannya, kemudian memegang pipi Serene dengan lembut. Pria itu mengusapnya pelan, seolah berkata bahwa semua yang menimpa dirinya bukanlah kesalahan Serene, sehingga wanita itu tidak perlu merasa bersalah. Tangan Parlan kemudian membuat gerakan menulis di atas telapak tangan Serene, “Nona Estelle, saya senang bisa bertemu Anda lagi.” Awalnya Parlan menampakkan senyuman yang cerah di wajahnya, tetapi berangsung – angsur senyuman itu menghilang dan ia menuliskan kalimat lain lagi. “Saya pasti akan mendatangi orang yang telah mencelakai Nona Estelle.” Bahkan sebelum Serene membalas, Zenon sudah lebih dahulu angkat bicara. “Tidak, Anda tidak bisa melakukan itu.” Parlan mengalihkan pandangannya menuju Zenon dan mempertanyakan ucapan Zenon dalam diam. “Saya hanya berjanji untuk mengabulkan dua keinginan Anda, jika lebih dari itu, maka saya tidak akan lagi bisa menolong. Orang yang mencelakai Nona Estelle jugalah seorang shaman sehingga dia pasti mampu menghancurkan roh Anda. Alih – alih menambah daftar dendam Anda, lebih baik Anda dan Nona Estelle segera pergi untuk bereinkarnasi dan menyerahkan segala urusan di dunia kepada saya dan Xena.” Walaupun Zenon selalu ingin membantu para hantu untuk mendapatkan keinginan mereka, dia juga masih memiliki batasan tersendiri sampai sejauh mana ia akan membantu. Jika Zenon hanya berjanji akan mengabulkan dua permintaan, maka dia tidak akan mengabulkan permintaan lain, karena hantu itu tidak akan pernah puas dan selalu meminta lebih. “Setidaknya, bisakah kami melakukan reinkarnasi setelah mengetahui identitas orang itu?” tanya Serene. Zenon, “Nona Estelle, Anda tetap berada di dunia ini hanya karena memiliki penyesalan terhadap Tuan Gustov. Namun, sekarang kalian sudah bertemu dan bahkan menyelesaikan masalah yang tertunda. Anda hanya akan menyiksa diri sendiri bila terus tertahan di dunia ini. Lagi pula, bukankah reinkarnasi akan menjadi pilihan yang lebih baik? Kalian berdua mungkin bisa dilahirkan secara bersamaan dan bertemu lagi dengan nasib yang lebih baik.” “Semua urusan dunia yang belum terselesaikan pasti akan saya tuntaskan, kalian bisa mempercayai ucapan saya.” Lagi pula, orang yang mencelakai Serene juga terhubung dengan masalah Xena, sehingga Zenon pasti akan mengurusnya dengan sukarela. “Tapi …” Kali ini Xena yang menyahuti. “Jangan khawatir, Nona Estelle. Zenon tidak akan mengingkari janjinya. Kalian telah lama hidup dalam penderitaan di dunia ini, alangkah lebih baik bila mampu bereinkarnasi dan mendapatkan kehidupan yang dipenuhi oleh kedamaian.” • • • • • To Be Continued 16 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN