Kali ini Xena yang menyahuti. “Jangan khawatir, Nona Estelle. Zenon tidak akan mengingkari janjinya. Kalian telah lama hidup dalam penderitaan di dunia ini, alangkah lebih baik bila mampu bereinkarnasi dan mendapatkan kehidupan yang dipenuhi oleh kedamaian.”
Usai mendengar penuturan dari Xena, Parlan dan Serene saling bertatapan dengan pancaran mata yang lembut. Seperti yang dikatakan oleh Xena, keduanya telah lama mengalami pasang surut kehidupan, mendapatkan berbagai macam kekejaman dunia yang tak adil sehingga menyisakkan dendam serta penyesalan di hati mereka.
Apabila mereka menambahkan daftar dendam ke dalam hati dan tertahan di dunia lebih lama lagi, maka mereka hanya akan menderita karena selalu mengingat masa – masa kelam dari kehidupan mereka.
Satu – satunya obat yang mampu meredakan rasa sakit di hati mereka hanyalah dengan melewati reinkarnasi. Menghapus segala bentuk penderitaan yang terpatri kuat di dalam ingatan dan datang kembali ke dunia dalam pikiran yang masih murni.
Serene akhirnya mengangguk pelan. “Jika memang Anda benar – benar memegang janji, maka saya akan dengan senang hati pergi meninggalkan dunia ini.”
Zenon, “Terima kasih karena sudah mempercayai saya, Nona Estelle. Saya pasti akan memastikan orang – orang yang telah menyakiti Anda mendapatkan ganjaran yang setimpal.”
“Bukan Anda yang harus berterima kasih, tetapi saya lah yang harusnya berterima kasih kepada Anda. Berkat bantuan Tuan, saya mampu bertemu lagi bersama Tuan Gustov. Saya bahkan tidak tahu harus melakukan apa demi membalas kebaikan Anda.”
Zenon menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang perlu Anda lakukan. Saya membantu para hantu hanya karena ingin, jadi tidak perlu merasa sungkan.”
Serene lantas menoleh kepada Xena dan berkata, “Nona Archer, saya mohon tidak perlu merasa bersalah atas kematian saya. Saya memberikan mata saya bukan semata karena diminta oleh orang asing itu, melainkan memang keinginan saya sendiri. Alih – alih menganggap pemberian saya sebagai hal yang menakutkan, saya lebih senang bila Anda menganggap mata itu sebagai sebuah anugrah.”
Xena sontak menundukkan kepalanya, segala emosi seperti rasa haru dan senang bercampur menjadi satu sehingga ia tidak mampu mengeluarkan emosi ke permukaan wajahnya. Di satu sisi, Xena memang senang karena mampu melihat lagi, tapi di sisi lain, dia merasa bila pemberian ini merupakan sebuah beban untuknya.
Karena mata ini, Xena harus menghadapi berbagai macam kesialan serta para hantu ganas yang memiliki wajah rusak.
Karena mata ini pula, dia tidak mampu melanjutkan karirnya sebagai seorang aktris untuk sementara.
“Nana.” Zenon berkata, “Mungkin ucapanku akan terdengar egois. Tapi, berkat mata pemberian Nona Estelle, aku bisa mendapatkan seorang teman. Seorang teman manusia yang mampu berbicara denganku, menemaniku setiap hari, dan bahkan memberiku keyakinan bahwa takdirku bukanlah untuk menjadi pembawa kesialan. Nana, jika aku boleh jujur, bagiku kamu itu adalah cahaya yang menuntunku keluar dari segala kemelut dunua.”
Xena tertegun, akhirnya tersadar, bahwa tanpa mata pemberian Serene, dia dan Zenon tidak akan pernah bertemu lagi dan menjadi teman. Walaupun Zenon merupakan pribadi yang menyebalkan, sesungguhnya Xena tidak pernah menganggap Zenon sebagai sesuatu yang mengganggu hidupnya.
Tanpa ada Xena, mungkin Zenon tidak akan pernah memperhatikan kesehatannya dan masih terus menghisap rokok serta meminum alkohol setiap hari.
“Zenon …”
“Nana, jika kamu menganggap mata itu adalah sebuah beban, maka hatiku juga akan terasa berat.”
Xena mengangkat kepalanya, menatap kedua manik aqua milik Zenon yang tampak penuh harapan saat melihat Xena. “Kamu dan Nona Estelle benar, tidak sepantasnya aku menganggap mata ini sebagai beban.”
Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Serene. “Nona Estelle, tidak ada hal lain yang bisa saya ungkapkan kecuali kata terima kasih.”
Setelah bertukar beberapa kalimat, Serene dan Parlan akhirnya telah siap untuk pergi menuju akhirat. Keduanya telah mendapatkan keinginan mereka yang tertunda dan tidak lagi meninggalkan penyesalan di hati mereka.
Dendam dan kemarahan yang kerap menggerubungi roh mereka lambat laun mulai runtuh secara berkala, membuat roh mereka yang selalu tampak kehitaman menjadi seputih kertas. Wajah – wajah yang selalu tampak pucat dan hancur turut terekontruksi ulang, menampakkan wujud manusia mereka yang sesungguhnya.
Ketika dilihat secara langsung, wajah Parlan tidak bisa tergolong sebagai pria yang begitu tampan, tapi wajahnya cukup menarik untuk dilihat, sehingga ketika dia disandingkan dengan Serene, keduanya akan menciptakan harmoni yang sepadan.
Zenon dan Xena menundukkan kepala mereka, memberikan penghormatan terakhir kepada roh yang sebentar lagi akan terbang menuju akhirat dan mampu melakukan reinkarnasi.
Titik – titik cahaya yang menyilaukan mulai jatuh dari langit ruangan, memperlihatkan sebuah tangga berwarna emas yang sebelumnya pernah Xena lihat juga. Serene dan Parlan kemudian menapaki tangga pertama, mereka menoleh sebentar ke arah Xena serta Zenon dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
“Tuan Dominic, Nona Archer. Terima kasih atas segalanya, saya berharap hidup kalian selalu diberkati dan dapat mati tanpa penyesalan.”
Xena, “Saya juga berharap di kehidupan selanjutnya, kalian bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak.”
“Kami pasti akan selalu berdoa untuk kalian. Selamat tinggal, Nona Estelle, Tuan Gustov.” kata Zenon.
Kedua arwah itu kembali melangkahkan kaki, menaiki tangga demi tangga yang memancarkan kilau emas. Setelah keduanya telah mencapai setengah jalan, tangga emas tersebut menghilang dan pintu akhirat tertutup. Meninggalkan Xena dan Zenon seorang diri di dalam ruangan milik Serene.
Tak lama kemudian, Carissa kembali datang seraya memberitahu, “Nona Archer, setelah saya periksa, ternyata memang pendonor mata Anda adalah Nona Estelle.”
Xena sudah mengetahui fakta itu terlebih dahulu, sehingga dia tidak terkejut dengan penuturan Carissa.
“Saya mengerti, terima kasih banyak Nona Carissa.”
Setelah beberapa saat, Zenon dan Xena memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Namun, sebelum mereka melangkah pergi, Carissa lebih dahulu berkata, “Nona Archer, mata itu adalah pemberian dari orang yang saya kenal. Jadi, saya mohon jaga mata itu sebagai penghormatan kepada Nona Estelle.”
Xena tersenyum sebelum akhirnya pergi, “Jangan khawatir, saya pasti akan menjaganya dengan baik.”
Karena Xena tidak dalam suasana hati baik, sehingga Zenon berinisiatif untuk mencari penginapan untuk mereka. Sesampainya mereka di dalam kamar, Xena tidak mengucapkan sepatah kata pun dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, tidak lagi perduli apakah dia akan tidur bersama dengan Zenon atau tidak di atas tempat tidur yang sama.
“Zenon,” bisik Xena yang suaranya teredam oleh bantal. “Aku lelah.”
Dia sangat lelah hari ini.
Ada terlalu banyak hal yang ia lakukan hari ini, mulai dari melakukan empati, mengetahui berbagai kebusukan Peter Rodriguez, menemui Serene dan mendapatkan kebenaran mengenai donor matanya. Seluruh informasi itu memasuki kepalanya tanpa henti dan membuat Xena merasa pusing sekaligus lelah.
“Jika lelah, maka tidurlah.”
Xena mengeluarkan tangannya dari dalam selimut dan mengarahkannya ke hadapan Zenon yang tengah duduk di sofa dekat tempat tidur. “Kemarikan tanganmu. Di kereta kita belum berpegangan tangan selama satu jam, aku tidak mau mendengar suara hantu selama aku tidur nanti.”
Xena sudah begitu muak melihat hantu hari ini, bila sampai ia mendengar suara hantu lagi di dalam penginapan, mungkin Xena lebih baik menjadi tuli dan buta dibandingkan harus menemui mereka.
“Memangnya aku boleh tidur di sampingmu?” tanya Zenon yang sesungguhnya hanya basa – basi belaka.
Xena mendecih, “Biasanya juga kamu tidak pernah bertanya.”
Seusai mendapatkan persetujuan dari Xena, Zenon dengan cepat melepaskan mantelnya dan segera masuk ke dalam selimut. Akhir – akhir ini cuaca di Paris sedang tidak menentu, terkadang meski langit di siang hari begitu cerah, langit di malam hari pasti akan mendung dan menebarkan suhu dingin yang mampu membuat seseorang menggigil.
Karena cuaca yang dingin itu pula, baik Zenon dan Xena sama – sama menguburkan hampir setengah wajah mereka di dalam selimut, sehingga hanya menyisakkan kedua mata yang saling bertatapan.
Alih – alih memegang tangan Xena, Zenon malah menarik tubuh Xena supaya lebih dekat dengannya dan segera memeluk tubuh wanita itu seperti koala yang berpegangan pada batang pohon.
“Apa yang kamu lakukan? Aku hanya menyuruhmu untuk memegang tangan, bukannya malah memeluk.” protes Xena dengan malas. Energinya sudah terkuras begitu banyak, karena itulah dia tidak lagi mempunyai minat untuk meributkan masalah sepele.
“Aku pernah menonton acara televisi tentang hewan. Di tayangan itu, narator menerangkan bila penguin akan memeluk pengeuin lain untuk menghangatkan tubuh mereka.”
“Lalu? Sekarang kamu ingin mengikuti gaya hidup para penguin?”
“Apa salahnya meniru sesuatu yang baik. Lagi pula, bukankah penghangat di ruangan ini agak buruk sehingga suhu udaranya masih terasa dingin?”
Karena mereka sedang berada di pinggir Kota Paris, Zenon hanya mampu menemukan penginapan kelas menengah. Fasilitas yang disediakan pun tidak bisa dibandingkan dengan fasilitas yang mereka dapatkan di hotel pusat kota.
Mesin penghangat di ruangan ini pun tidak begitu bagus. Suaranya menderu terlalu keras, membuat Zenon langsung mematikan penghangat ruangan begitu mereka masuk supaya tidak menganggu istirahat mereka.
“Bukankah dipeluk oleh orang lain akan terasa jauh lebih hangat bila dibandingkan dengan penghangat ruangan?” tanya Zenon sekali lagi.
Xena yang awalnya selalu menolak keras kehadiran Zenon di sebelahnya, kini hanya bergumam pelan. “Hmn. Lumayan.”
Zenon lantas memposisikan kepala Xena di atas lengan kirinya, sedangkan tangan kanan Zenon berada di punggung wanita itu. Dia menepuk – nepuknya pelan seraya berkata dengan intonasi yang begitu lembut. “Malam ini, aku pasti akan memastikan kamu tidur dengan nyenyak. Tidak akan ada keburukan yang mendatangi Nana, baik hantu mau pun mimpi buruk.”
Xena yang lambat laun merasa nyaman akibat diperlakukan lembut seperti itu, akhirnya membiarkan kepalanya bersandar pada d**a Zenon dan bahkan tidak menghentikan tepukan tangan Zenon pada punggungnya. Dari jarak sedekat itu, ia bahkan mampu mencium aroma citrus yang menguar dari tubuh Zenon, aroma yang terasa menyegarkan sekaligus membuat seluruh tubuhnya menjadi rileks.
Sebelum Xena benar – benar jatuh tertidur, ia mendengar suara senandung pengantar tidur dari Zenon. Suara bariton yang halus itu mengalun lembut di samping telinga Xena, menjadi pemandu yang mampu menghantarkan Xena ke dalam mimpi yang indah.
“Selamat tidur, Nana.”
• • •
Keesokan harinya, kala matahari bahkan belum terbit dari arah timur dan menampakkan sinarnya, Zenon sudah lebih terbangun akibat suara bising yang terdengar dari ponselnya.
Zenon melenguh pelan, berusaha mencari – cari ponselnya yang berada di atas nakas dengan kedua mata yang terpejam. “Aduh, berisik …”
Di lain sisi, Xena masih tetap tidur dengan nyaman tanpa terganggu sedikit pun. Sepertinya, Xena merupakan seseorang yang sulit dibangunkan hanya dengan suara, sampai suara panggilan ponsel saja tidak dapat merussak kualitas tidur miliknya.
Karena tangan kiri Zenon masih digunakan sebagai penopang kepala Xena, pria itu hanya mampu mencari ponsel dengan tangan kanannya dan tak dapat bangkit.
Setelah berusaha mencari selama beberapa saat, Zenon akhirnya mendapatkan ponsel tersebut dan melihat tampilan nama ‘Paman Martin’ tertera di atas layar ponsel.
Zenon lantas mengangkat panggilan tersebut dan berbicara dengan suara serak. “Ada apa, Paman?”
“Zenon Dominic! Bisa – bisanya kamu baru menghubungi Paman saat ingin menyingkirkan seorang bajingan.” seru Martin kesal.
“Paman sudah mendengar rekaman yang kukirimkan tadi?” tanya Zenon.
Sebelum Zenon tidur pada tengah malam, Zenon sempat mengirimkan rekaman suara milik Peter Rodriguez dan membuat permohonan kepada pamannya itu untuk memberitahu media tentang perbuatan busuk yang dilakukan oleh Peter.
Namun, dia tidak menyangka bila pamannya akan mendengarkan rekaman itu di pagi buta dan mulai berteriak kepadanya sekarang.
“Paman sudah mendengarnya. Benarkah itu adalah suara dari Peter Rodriguez? Paman tidak tahu bila dia menjadi orang yang sebusuk itu.”
“Itu karena paman saja yang mudah percaya kepada orang lain. Lain kali tanyakan dulu kepada hantu yang berada di sekitar seseorang mengenai perilaku orang tersebut. Bila para hantu berkata ia dapat dipercaya, maka paman baru boleh mempercayainya.”
“Omong kosong apa lagi yang kamu ucapkan! Paman tidak perduli dengan ucapan hantu! Mereka semua sering berbohong!”
Zenon menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar pamannya berteriak terus – menerus. “Paman ini masih pagi, jangan berteriak terus, kupingku sakit. Dan tolong jangan menyamakan satu hantu dengan yang lainnya. Bila ada satu hantu yang suka berbohong, belum tentu hantu lainnya juga gemar berbohong.”
• • • • •
To Be Continued
17 Oktober 2021