Secara reflek Xena menutup kedua matanya saat melihat kondisi leher Diane yang sudah lunglai ke samping. Kelopak mata Diane terbuka dan dadanya sama sekali tidak bergerak, pertanda bahwa jantungnya sudah tidak lagi memompa darah.
Walau penampilan saat ini masih lebih baik daripada penampilan Diane ketika sudah menjadi hantu, tetap saja Xena belum terbiasa melihat orang mati di depan matanya sendiri.
“Apa kilasan baliknya hanya sampai di sini?” tanya Xena yang sudah tidak tahan melihat mayat Diane yang tergolek di atas lantai.
“Belum.” Zenon berkata, “Hantu Diane dipenuhi oleh darah serta bekas tanah. Pasti James melakukan hal lain setelah membunuh Diane.”
Untuk menstabilkan dunia ilusi, Zenon membakar sebuah jimat ‘penenang roh’. Abu dari hasil pembakarannya itu lantas ia sebarkan di sekeliling dirinya dan Xena. Berkat jimatnya itu, Energi Yin yang keluar lambat laun berkurang, membuat dunia ilusi itu menjadi lebih stabil.
Xena kembali mengarahkan pandangannya kepada James yang kini tersungkur di atas lantai seraya memandangi Diane yang sudah tidak bernapas. Berulang kali dia membisikan sesuatu, “Tidak. Tidak. Ini bukan salahku, bukan salahku. Kamu bisa mati karena kamu duluan yang membuat ulah dan aku hanya tidak sengaja mendorongmu.”
“Diane, ini benar – benar bukan salahku. Jika aku menghubungi rumah sakit dan polisi, maka karirku sebagai sutradara drama akan hancur. Kamu pasti mengetahui impianku yang ingin menjadi sutradara drama dan film terkenal suatu saat nanti. Jadi, bisakah kamu berkorban untukku?”
Padahal beberapa bulan yang lalu James selalu melimpahkan kata – kata cinta kepada Diane, berkata bahwa wanita itu akan menjadi wanita terakhirnya yang akan mengikat sumpah di atas altar. Beberapa bulan yang lalu pula, James berjanji akan selalu melindungi Diane dan memastikan tidak ada hal buruk yang mendatangi kehidupannya.
Akan tetapi, hanya karena sebuah bukti yang bahkan belum tentu benar, James Dalton sudah kehilangan akal sehatnya dan menganggap Diane sebagai penipu ulung. Pada akhirnya, ucapan cinta yang pernah dia ucapkan menjadi buih yang tidak berarti.
James yang dilanda kepanikan segera mengintip keluar untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pemain teater mau pun staff yang tinggal. Setelah itu, dia mengganti papan penanda di depan pintu menjadi ‘Sibuk’ dan mengunci pintu ruangan pribadinya rapat – rapat. Beruntung ruangannya itu kedap suara sehingga pertengkaran antara dirinya dan Diane tidak akan di dengar oleh orang luar.
James menyeret tubuh Diane yang mulai dingin ke atas sofa, kemudian menutupi jasadnya menggunakan selimut. Setelah itu, James pergi keluar untuk mengambil sekop dan linggis dari gudang. Tidak lupa dia mengambil sarung tangan agar bekas sidik jarinya tidak tertinggal di tubuh Diane.
Untuk menghilangkan bukti pembunuhan, James harus mengubur jasad Diane. Tapi, bila dia membawa Diane keluar dari lingkungan teater, bisa saja akan ada seseorang yang melihatnya sehingga James memutuskan untuk mengubur tubuh Diane di halaman belakang gedung teater.
James Dalton merupakan seorang pria perfeksionis yang akan melakukan segala sesuatu dengan rencana matang. Walaupun hatinya dilanda panik, James sama sekali tidak kehilangan akal dan bertindak gegabah.
Seperti yang ia lakukan sekarang. Alih – alih langsung menguburkan jasad Diane untuk menghilangkan bukti, James menunggu beberapa jam untuk memastikan gedung teater benar – benar sudah kosong.
Teng! Teng!
Jam di dekat panggung teater berdentang keras dan membuat James terkejut. Dia melihat jam dinding di ruangannya dan mendapati bahwa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Kali ini, James benar – benar tidak bisa menunda lebih lama. Waktu untuk menguburkan dan membersihkan jejak – jejak pembunuhan tidaklah sebentar, para kru teater akan datang pada pukul tiga untuk melakukan persiapan sehingga James harus mulai bergerak sekarang.
Sekop ditancapkan pada tanah yang gembur, James mengeruk tanah dan melemparkannya ke sisi luar. Dia terus menggali dan menggali hingga sebuah lubang yang cukup dalam terbentuk. James menyeka keringatnya beberapa kali sebelum menyeret tubuh tak bernyawa Diane ke halaman belakang.
Untuk terakhir kalinya, James memandang wajah cantik Diane dengan seksama. Dahulu, James akan selalu mengagumi wajah Diane setiap malam, bahkan saat kedua matanya terpejam pun dia akan melihat Diane di dalam mimpi.
Namun, siapa yang menyangka bila seorang pengagum tertinggi pada akhirnya bisa menjadi penyebab kematian seseorang.
Seraya menahan napas, Xena melihat James mengubur jasad Diane dengan kasar seolah wanita itu hanyalah seonggok sampah yang tidak berarti. Kadang kala sekop akan mengenai tubuh Diane saat James mengubur tanah itu kembali. Permukaan kulit Diane yang sehalus porselen kini telah tertutupi oleh lebam kebiruan dan noda darah.
“Tidak perlu diteruskan, aku sudah mengetahui keinginan Diane.” Ujar Zenon secara tiba – tiba.
“Apa?”
“Menurutmu apa?”
Xena berdecak kecil saat mendengar Zenon yang balik bertanya dan menuntut jawaban dari Xena. Sesungguhnya dia juga sudah memiliki tebakan kasar atas keinginan Diane. “Diane ingin jasadnya di temukan dan dikuburkan dengan layak?”
“Ya, Diane ingin kebenaran atas kasus hilangnya dia terungkap.”
Sebelum Zenon menarik kesadarannya dan Xena ke dunia nyata, ia melihat James yang tengah menuliskan surat pengunduran diri palsu yang mempunyai bubuhan tanda tangan Diane.
Pria itu memang perfeksionis yang nyata.
Bekas kuburan Diane ditutupi oleh tanaman yang belum sempat di tanamkan oleh tukang kebun, setiap inchi ruangan pribadinya dibersihkan oleh klorin sehingga tidak meninggalkan bukti apa pun. Tidak sampai di situ, James juga menyebarkan rumor palsu keesokan harinya, dia berkata bahwa Diane telah bersikap tidak proffesional hanya karena James menegurnya sekali.
“Pantas saja kebenaran tentang Diane White tidak pernah terungkap. Pengalihan yang dilakukan oleh James terlalu bersih sehingga mudah untuk dipercayai.” Kata Xena.
Zenon menganggukan kepala. “Mhm, ditambah Diane tidak mempunyai sanak keluarga yang tersisa sehingga hilangnya dia tidak menimbulkan dampak yang berarti selain memunculkan pertanyaan di benak para penggemar.”
Dunia ilusi kemudian berhamburan menjadi partikel – partikel kecil, menghancurkan ilusi yang tergambar di hadapan Xena dan Zenon. Gedung teater yang mewah kini telah berganti menjadi ruang latihan yang sepi. Hantu Diane yang masih tampak menyeramkan berdiri di tengah ruangan, suara desisan kecil keluar dari mulutnya seolah dia ingin mengatakan sesuatu.
Zenon mendekati hantu Diane, kemudian berkata, “Ruang latihan ini sebelumnya adalah teater yang sangat kamu cintai sehingga kamu tidak mau pergi dari sini, bukan?”
Diane mengangguk pelan seraya berusaha berkata, “Te..m..patku.”
“Tempat ini bukan lagi teater, kamu sudah tidak boleh lagi ada di sini.”
Ucapan Zenon tampaknya menggores titik kemarahan Diane sehingga Energi Yin sekali lagi memenuhi satu ruangan. Diane telah menjadi hantu selama hampir seratus tahun, mengumpulkan begitu banyak energi negatif yang dia ambil dari para manusia sehingga Energi Yin-nya telah mencapai puncak yang bisa diraih oleh hantu tingkat dua.
• • • • •
To Be Continued
7 September 2021