BAB 52 : Penghinaan

1350 Kata
Karena ingin memeriksa kondisi Elaine lebih lanjut, Xena dan Zenon berniat untuk mendatangi Elaine di ruang istirahatnya. Akan tetapi, baru saja Xena ingin mengetuk pintu, dirinya sudah dikejutkan dengan suara bantingan barang yang begitu keras dari dalam ruangan. Takut bila terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka berdua, Xena langsung membuka pintu tanpa mengetuk. “Pakaian seperti itu tidak pantas untuk kugunakan!” teriak Elaine dengan keras, sampai membuat gema yang menyakitkan telinga. “Elaine! Mengapa kamu harus bertingkah buruk seperti ini?! Cepat bersihkan riasanmu yang norak itu dan pakai baju dengan benar!” “Siapa kamu berani memerintahku?! Lagi pula, memangnya manajer seperti kamu mampu menilai suatu kecantikan?” Felix naik pitam, kedua matanya melotot dan ia mulai berteriak lebih keras dari Elaine. “JAGA UCAPANMU! Jika bukan karena Xena sedang hiatus, aku pasti tidak akan sudi menjadi manajermu!” Setelah mendengar nama Xena keluar dari mulut Felix, Elaine menjadi lebih marah dan bahkan membanting barang – barang yang berada di atas meja rias. “Xena! Xena! Xena! Kenapa kamu selalu menyebutkan namanya saat bersamaku?! Dia bahkan tidak pernah mampu mendapatkan piala penghargaan, tapi kenapa ada banyak orang yang menyanjungnya? Apa karena dia lebih cantik?” Elaine tertawa parau, “Tidak! Xena terkenal hanya karena dia berasal dari Keluarga Archer! Seandainya saja nama belakangnya bukanlah Archer, dia pasti tidak akan mendapatkan ketenaran!” Tangan Xena yang masih menggenggam kenop pintu langsung bergetar tatkala mendengar hinaan itu. Cacian seperti itu memang sudah biasa Xena dengar dari para haters dan seharusnya Xena tidak perlu semarah ini. Akan tetapi, sejak tadi Elaine sudah banyak melontarkan hinaan kepadanya, menuangkan air panas ke dalam hatinya yang sejuk, dan akhirnya membuat emosi Xena meledak – ledak seperti kembang api. “Elaine Chastelair!” teriakan Xena mampu membuat Elaine dan Felix menoleh dan baru menyadari kehadiran Xena di ambang pintu. “Kata – katamu sungguh tidak mempunyai sopan santun! Apa kamu pikir dengan menyandang nama Archer akan membuatku langsung mendapatkan ketenaran dalam waktu singkat? Apa selama ini aku hanya perlu bersantai – santai ria di dalam rumah saat mendapatkan tawaran pekerjaan? TIDAK! Tentu saja tidak! Aku juga selama ini bekerja keras, siang dan malam berlatih sandiwara, menghafal rentetan dialog yang terkadang bisa mencapai ribuan lembar!” “Apa bedanya aku dengan aktris lain?! Kamu memang bekerja keras, tetapi aku juga bekerja sama kerasnya denganmu! Archer hanyalah sebuah nama, tanpa kerja keras dan ketekunan, nama itu tidak akan berarti apa – apa!” Napas Xena tersengal – sengal setelah dia menumpahkan seluruh emosi yang tertanam di dalam hatinya. Rasa sesak yang berada di dadanya berangsur – angsur mulai membaik. Mungkin Xena tidak hanya marah kepada Elaine, mungkin sesungguhnya dia marah terhadap seluruh orang yang selalu merendahkannya dan kerap memanggil dia sebagai ‘Pengguna Ketenaran Keluarga’. Xena muak. Sungguh dia sangat muak dengan mereka semua. Melihat kefrustasian tercetak di wajah Xena, Elaine malah melontarkan tawa penuh ejekan. “Untuk apa membela diri mati – matian? Pada akhirnya, kamu tetap saja mendapatkan sokongan dari keluargamu supaya bisa menapaki jalur entertainmen tanpa hambatan.” “Kamu ..” Xena menghentikan ucapannya tatkala mendengar bisikan Zenon. “Tidak perlu meladeni omongannya. Pikiran Elaine tidak dalam kondisi yang sehat akibat dipengaruhi terus – menerus oleh hantu yang menempel kepadanya, karena itulah dia menjadi lebih impulsif dan mudah marah.” Pandangan Xena akhirnya beralih menuju hantu wanita yang hingga saat ini masih menempel di punggung Elaine. Tampaknya, hantu itu tahu bahwa Zenon meruapakan ancaman terbesar untuk keberadaannya di dunia, sehingga hantu itu mulai bersikap lebih agresif dari sebelumnya. Kali ini, hantu itu tidak hanya ingin menjatuhkan kepercayaan diri Elaine terhadap penampilannya, tetapi juga ingin membuat Elaine membenci Xena dan menjauhi dari wanita itu. “Lihatlah wanita itu, tingkahnya seperti racun dan berusaha keras untuk menekan pendatang baru seperti kamu.” “Wanita itu juga selalu terlihat lebih cantik daripada kamu. Apabila kamu berdiri di sampingnya, semua orang pasti akan menertawai penampilanmu yang buruk.” Siapa yang dia katakan sebagai wanita racun?! Jika ingin mengatai racun, maka hantu itu lebih pantas menyandang gelar sebagai hantu beracun! Tingkah laku dari hantu itu terasa sangat menjengkelkan di mata Xena sampai ia tidak lagi merinding saat melihatnya. Hantu itu tampaknya selalu menempel di tubuh wanita yang memiliki obsesi terhadap kecantikan dan akan menyuruh mereka untuk melakukan berbagai hal demi mendapatkan kesempurnaan. Sekeras apa pun para wanita itu merias diri mereka, tetap saja sang hantu akan berkata bila mereka mempunyai wajah yang buruk dan tubuh yang jauh dari kata ideal. Tingkah hantu yang seperti ini, sama bahayanya dengan hantu tingkat tiga yang mampu mendorong manusia ke jurang. “Apa yang harus kita lakukan untuk mengusirnya?” tanya Xena. Sebelum menjawab, Zenon menutup pintu sekaligus menguncinya terlebih dahulu. “Pertama – tama, kita harus memastikan Nona Chastelair tidak berontak terlebih dahulu.” “Haruskah kita mengikatnya?” Zenon tertawa kecil, “Xena, aku tidak menyangka kamu bisa memunculkan ide sebrutal itu. Tapi sepertinya idemu tidak buruk.” “Kalau begitu kamu carikan kain yang bisa digunakan sebagai pengikat, sedangkan aku akan menahan tubuh Elaine.” Begitu membagi tugas, keduanya langsung bergerak cepat. Xena berjalan menghampiri Elaine, sedangkan Zenon mengambil beberapa lembar kain di dalam kotak penyimpanan busana. Karena Xena tahu bila ia tidak akan sanggup menahan Elaine seorang diri, dia lantas meminta bantuan Felix. “Jika ingin aktrismu ini kembali normal, lebih baik kamu bantu aku untuk menahannya.” Bukannya Felix yang memberi tanggapan, malah Elaine yang berteriak keras. “Apa katamu?!” Tanpa mengatakan apa – apa, Xena segera mendorong tubuh Elaine sampai wanita itu duduk di atas kursi meja rias. Ketika Elaine ingin bangkit berdiri, Xena akan berusaha menekan bahunya supaya Elaine tetap berada di atas kursi. “Felix, cepat bantu aku!” pekik Xena yang kesulitan. Meski Felix masih merasa bingung, dirinya tetap melaksanakan perintah Xena yang ingin menahan Elaine. “Apa yang ingin kamu lakukan kepada Elaine?” Seraya menahan Elaine dibelakang kursi, Xena membalas dengan setengah berteriak, “Melakukan pengusiran hantu!” Sontak kedua mata Felix membelalak kaget, “Xena, apa ada masalah dengan kepalamu? Kenapa tiba – tiba membicarakan omong kosong?” Zenon yang sudah mendapatkan kain, akhirnya menghampiri Elaine dan mulai mengikat kaki dan tangan Elaine pada kursi. “Dia tidak berbicara omong kosong, kita memang akan melakukan pengusiran hantu.” “Tuan .. Dominic,” Felix berkata dengan ragu. “Saya tidak percaya Anda mempercayai hal – hal semacam itu?” Gelak tawa langsung keluar dari mulut Zenon, dia bahkan hampir saja menitikkan air mata akibat terlalu banyak tertawa karena mendengar ucapan Felix. “Tuan Bailey, pekerjaanku itu adalah shaman. Bagaimana mungkin tidak percaya kepada hantu?” Semakin Felix mendengar perkataan Zenon, maka semakin bingung pula pikirannya. Dia lalu melirik Xena, “Apa rasa frustasi dapat membuat kamu kehilangan akal dan masuk ke dalam aliran sekte sesat?” Xena meringis, “Dia itu shaman, seseorang yang bertugas untuk mengusir hantu, bukan seseorang yang berasal dari sekte sesat. Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya, lebih baik bantu aku untuk membuat Elaine menjadi tenang.” Begitu kaki dan tangan Elaine terikat dengan sempurna, wanita itu mulai berontak dan berusaha untuk melepaskan diri. Ia menarik – narik tangannya yang ada dibelakang kursi, sehingga membuat kursi beberapa kali terangkat dan menimbulkan suara bising. “LEPASKAN AKU! APA YANG INGIN KALIAN LAKUKAN?!” “TOLONG! SESEORANG TOLONG AKU! ADA DUA PRIA YANG INGIN MENC—” Karena tidak tahan mendengar teriakan Elaine, Xena akhirnya menyumbat bibir Elaine menggunakan sepotong kain. Meski begitu, wanita itu tetap berusaha untuk berteriak dan menatap Xena dengan tatapan bengis, seolah akan segera menguliti Xena apabila dia sampai lepas. Hantu wanita yang sedari tadi hanya menempel di punggung Elaine, lambat laun mulai bergerak. Tubuhnya yang kurus seperti kerangka tulai perlahan – lahan membesar sampai kepalanya hampir menyentuh langit – langit ruangan. Kedua mata dari hantu itu tampak merah seolah akan mengeluarkan darah. “Pergilah! Aku tidak akan pernah melepaskan wanita ini!” Hantu wanita itu lantas berteriak keras, begitu keras hingga Xena merasa gendang telinganya mungkin akan berdarah apabila terus mendengarnya. “Aku tidak akan melepaskan wanita ini sampai dia menjadi sempurna!” • • • • • To Be Continued 25 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN