Pupil putih milik hantu itu terkunci rapat pada kedua manik Xena. Tangan – tangan kurus milik hantu itu melekat di bahu Elaine dan mengikuti wanita itu kemana pun ia melangkah.
Xena mundur beberapa langkah akibat tidak tahan mencium bau anyir yang menguar, ditambah hantu wanita itu terlihat juga tertarik dengan Xena.
“Apa kamu juga ingin menjadi cantik?” hantu itu mengulang pertanyaannya sekali lagi, tetapi Xena masih tetap diam dan mengarahkan pandangannya menuju Zenon yang berdiri jauh darinya.
Zenon sejak awal sudah memperhatikan Elaine beserta hantu yang menempel kepadanya. Jadi begitu Xena menatapnya, Zenon langsung memberikan isyarat kepada Xena untuk mundur dan memberikan angka dua di jarinya sebagai tanda bahwa hantu itu merupakan hantu tingkat dua.
Xena sontak menghela napas lega begitu tahu hantu itu hanyalah tingkat dua. Walau dapat mengganggu manusia, setidaknya hantu itu tidak benar – benar mampu memberikan sentuhan fisik yang bisa dirasakan oleh manusia.
“Xena, apa ada yang salah?” tegur Felix saat melihat Xena tak kunjung memberikan respon.
“Ah, tidak apa. Hanya masih terkejut saja saat melihat Nona Chastelair berada di sini. Apa Nona Chastelair juga akan melakukan pemotretan untuk majalah DMC?”
Elaine memberikan senyuman yang terlihat menyebalkan kepada Xena. “Begitu aku memenangkan perhargaan ‘Pemeran Utama Wanita Terbaik’ beberapa bulan yang lalu, Presiden Direktur dari DMC Studio langsung menghubungiku dan meminta aku menjadi pemeran utama dalam salah satu film layar lebar mereka. Karena itulah, sekarang aku juga diundang untuk melakukan pemotretan untuk majalah bulanan.”
Xena tertawa di dalam hatinya, Presiden Direktur segera menghubungi Elaine hanya karena Xena menolak tawaran untuk bermain dalam film horror besutan DMC Studio. Bisa dibilang, harusnya Xena yang ganti mengejek Elaine karena mau menerima tawaran yang telah ditolak oleh Xena beberapa bulan yang lalu.
“Itu bagus, film horror dari DMC Studio kebanyakan selalu terlihat sangat nyata, sehingga kamu bisa menjadikan film ini sebagai batu loncatan untuk meningkatkan aktingmu,” saran Xena. Walau Elaine bertindak kurang ajar, Xena tentu saja tidak akan langsung menyerang Elaine selama perkataannya masih berada di batas wajar.
“Nona Archer, terima kasih atas sarannya. Tapi menurutku, kemampuan aktingku sudah cukup bagus sampai bisa mengalahkanmu di acara penghargaan.”
“Elaine! Ucapanmu sudah keterlaluan! Jaga sopan santunmu di hadapan Xena. Bagaimana pun juga dia adalah seniormu.” marah Felix.
“Oh, aku tidak bermaksud menyinggung, aku berkata seperti itu hanya karena ingin memberi semangat kepada Nona Archer supaya bisa cepat – cepat kembali ke dunia entertainmen dan bermain seni peran lagi,” balas Elaine tanpa memperdulikan perasaan Xena.
Felix naik pitam begitu mendengar ucapan Elaine. “Elaine! Kamu benar – benar …”
“Tidak apa, Felix,” potong Xena dengan cepat. “Nona Chastelair masih terlalu muda saat ia mengecap ketenaran, sehingga tentu sopan santunnya terkadang masih kurang.”
Perkataannya itu memang terdengar ramah, tapi sejujurnya mempunyai makna sindiran yang kuat terhadap Elaine. Namun, Elaine tetap tidak mengindahkan sindiran Xena. Ia terlalu sombong sampai merasa bahwa Xena yang ada dihadapannya adalah orang yang lebih rendah.
“Nona Chastelair! Kita akan segera melakukan pemotretan, mohon untuk segera kemari!” seru salah satu staff dari kejauhan.
Elaine melemparkan senyum kepada Xena sebelum berjalan pergi, “Aku pergi dulu, Nona Archer.”
Ketika Elaine melewati Xena, samar – samar dia juga mendengar hantu itu berkata di samping telinga Elaine, “Kamu masih belum cantik, masih ada banyak lemak di tubuhmu dan bentuk wajahmu juga tidak sempurna.”
Xena menggerakan bola matanya mengikuti Elaine, lebih tepatnya menatap ke arah hantu wanita yang tampaknya sedang membisikkan sesuatu ke telinga Elaine. Hantu itu sangat aneh, dia tidak menampakkan diri kepada manusia, tetapi selalu berniat untuk memasuki pikiran manusia dengan melontarkan pertanyaan atau bisikan – bisikan menjebak.
“Xena,” panggilan Felix lantas membuyarkan pikiran Xena.
“Aku benar – benar minta maaf karena sudah melukai perasaanmu,” kata Felix seraya menundukkan kepalanya.
Xena menghela napas pendek, kemudian menepuk pundak Felix. “Kenapa harus minta maaf? Kamu adalah manajer terbaik yang Eryx Entertainment miliki, Tuan Dawson pasti tidak akan membuatmu menganggur walau sebentar.”
Selama ini, Felix hanya pernah menaungi dua selebriti, yaitu Xena Archer dan Gerald Doppler. Keduanya merupakan aktor dan aktris terbaik yang dimiliki oleh Eryx Entertainment, sayangnya Xena melakukan hiatus sementara Gerald adalah seorang aktor yang hanya mengambil satu film setiap tahunnya. Karena kondisi itulah, Felix bisa dikatakan menganggur sementara dan Dawson pasti tidak akan menyia – nyiakannya.
“Xena, apa kamu tidak marah kepadaku?”
“Tentu saja aku marah, kita sudah berteman sangat lama tapi ternyata kamu malah menjadi manajer dari seseorang yang selalu mencari masalah kepadaku,” balas Xena yang akhirnya bisa jujur setelah kepergian Elaine.
Felix, “Kamu boleh memarahiku bila ingin.”
Xena tertawa kecil, “Tidak perlu, kamu juga tampaknya sudah tersiksa dengan menjadi manajer Elaine.”
“Xena … daripada harus mengurus Elaine, lebih baik aku menganggur seumur hidup,” lirih Felix yang merasa setengah hidupnya telah melayang pergi.
Menjadi manajer Xena tidaklah sulit, dia hanya perlu mengatur jadwal dan Xena akan mengikutinya. Mereka juga sudah lama menjadi teman dekat sehingga sangat jarang bertengkar saat dihadapkan oleh masalah kecil.
Namun saat menjadi manajer dari Elaine, Felix merasa seakan dirinya tengah dicekik menggunakan tali. Elaine itu sulit diatur, terkadang saat dia tidak dalam suasana hati yang bagus, Elaine bisa tiba – tiba menghilang begitu saja dan tidak datang ke acara tertentu. Elaine juga seringkali tidak mau menggunakan dresscode yang sudah ditentukan dan bersikeras untuk menentukan pakaiannya sendiri.
“Dia bahkan akhir – akhir ini semakin sulit diatur. Kamu tadi lihat, bukan? Elaine menggunakan banyak aksesoris berlebihin di pakaiannya dan membuat dirinya tampak bagaikan anjing poodle yang ingin datang ke kontes. Aku sudah berusaha memintanya untuk berganti pakaian tapi Elaine tetap saja tidak akan mendengarkanku.”
Selain menggunakan aksesoris yang berlebihan, Elaine juga membubuhkan riasan yang lumayan tebal sampai membuat wajahnya tidak lagi tampak natural.
Xena, “Memangnya sejak kapan dia bertingkah berlebihan seperti itu?”
Felix berpikir sejenak, “Mungkin dari satu minggu yang lalu, tepatnya setelah aku mengantarkannya pergi ke sebuah klinik kecantikan. Saat pulang, dia jadi lebih sering melihat cermin dan merias diri sepanjang waktu. Benar – benar membuatku sakit kepala setiap kali melihat tingkah lakunya.”
Ada kemungkinan hantu yang menempel pada Elaine sekarang juga berasal dari klinik kecantikan tersebut. Hantu itu pastinya merupakan alasan dibalik tingkah Elaine yang terobsesi dengan kecantikan.
Xena, “Tingkahnya itu pasti akan membuat dia segera mendapatkan masalah.”
Felix tiba – tiba memegang kedua tangan Xena dan menampakkan ekspresi yang menyedihkan. “Xena, kamu harus segera kembali supaya Tuan Dawson tidak lagi memaksaku untuk menjadi manajernya. Kamu pasti tidak akan memperpanjang hiatusmu kan?”
Xena tidak segera menjawab. Sesungguhnya ia juga tidak tahu akankah dia kembali ke dunia akting atau tidak. Karena sampai sekarang, Xena masih belum mampu menjawab pertanyaan Diane yang bertanya apakah profesi aktris merupakan sesuatu yang Xena gemari.
Selama dia menjadi aktris, Xena bahkan selalu mendapatkan tekanan dari berbagai arah dan tak dapat hidup dengan tenang.
Xena mulai bisa mendapatkan ketenangan dan banyak pengalaman hidup hanya setelah ia mengikuti Zenon untuk membantu para hantu.
“Entahlah, aku belum bisa memastikannya,” balas Xena pada akhirnya.
“Intinya kamu harus kembali!”
Xena lantas tertawa, “Jika aku tidak kembali, kamu masih bisa menjadi manajer Elaine selamanya.”
“Tidak mau! Aku bisa mati muda jika harus meladeni bocah menyebalkan itu.”
Felix yang tidak mau lagi membahas masalah Elaine, mulai bertanya hal lain, “Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini? Apa kamu diam – diam juga ingin melakukan pemotretan? Apa Tuan Dominic kembali menawarkanmu peran di filmnya?”
“Tidak. Tidak. Aku ke tempat ini hanya untuk mengantar seseorang.”
Felix mengerutkan keningnya. “Mengantar siapa? Sejak kapan kamu punya teman dekat seorang model?”
Pasalnya, selama Felix mengenal Xena, wanita itu tidak pernah dekat dengan model mana pun kecuali saudaranya sendiri. Oleh karena itu, rasanya agak mustahil bagi Xena untuk mengantarkan seseorang ke sebuah pemotretan.
Tanpa banyak bicara, Xena hanya menunjuk ke arah Zenon yang kini tengah bersusah payah mengikuti arahan dari seorang fotografer. “Mengantar dia.”
Felix mengikuti arah tunjukkan Xena dan kedua matanya langsung membelalak kaget saat menyadari bahwa ada model seperti Zenon di dalam tempat ini. “Siapa dia? Aku belum pernah melihat model serupawan itu sebelumnya?”
“Kamu pernah melihatnya,” tukas Xena.
“Hah? Kapan aku melihatnya?”
“Ingatlah dengan baik, semalam kamu baru saja melihatnya.”
Felix memiringkan kepalanya seraya berpikir di mana ia melihat wajahnya. Setelah dipikirkan secara matang, tiba – tiba saja Felix mendapat pencerahan dan menatap Xena dengan tidak percaya. “Pria yang kemarin! Xena, itu pria yang berci—”
Xena lantas menutup mulut Felix rapat – rapat. “Jangan mengatakannya dengan keras.”
Felix mendorong tangan Xena dan berbisik pelan. “Itu pria yang menciummu kemarin?”
Rona merah yang samar tercipta di pipi Xena saat dia membalas. “Iya, itu dia.”
Felix menganga lebar seraya menatap Zenon dengan pandangan yang terpesona. Padahal dari foto buram saja wajah pria itu sudah terlihat rupawan, tapi ternyata kerupawanannya itu meningkat dua kali lipat tatkala dilihat secara langsung.
“Tapi kemarin kamu berkata itu bukanlah model.”
“Memang bukan. Hari ini dia hanya menggantikan model yang berhalangan hadir.”
Mendengar hal itu, tingkat keingin tahuan Felix kian meningkat. “Bagaimana mungkin dia tiba – tiba mendapatkan tawaran begitu saja bila bukan berasal dari dunia modelling? Apa dia punya koneksi dengan petinggi di DMC?”
Xena tertawa parau sejenak, sebelum akhirnya berbisik di samping telinga Felix. “Namanya adalah Zenon Dominic. Dia adalah keponakan dari Tuan Martin Dominic.”
“Apa?!” teriak Felix tidak percaya. “Xena, kamu benar – benar beruntung!”
Xena ingin membalas Felix, tetapi pandangannya teralihkan kepada Elaine yang sedari tadi tampak ribut dengan fotografer dan beberapa staff. “Tampaknya riasannya kali ini tidak disukai oleh fotografer.”
Felix yang melihat hal itu buru – buru menghampiri Elaine. Fotografer sontak berteriak kepada Felix sebagai gantinya. “Tema dari pemotretan ini adalah shaman atau pengusir hantu dari setiap negara! Nona Chastelair seharusnya memakai pakaian biarawati yang telah disiapkan, tapi kenapa sekarang dia malah memakai busana heboh seperti ini?!”
Felix, “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, saya pasti akan menyuruhnya berganti pakaian segera.”
Elaine memutar bola matanya malas dan berkata acuh, “Pakaian seperti itu akan menutupi kecantikanku. Lagi pula, memangnya tidak ada shaman yang memakai pakaian menarik di dunia ini?”
“Nona Chastelair, saya mengerti Anda ingin selalu tampil menawan. Namun, sesuaikan dengan tema yang ada!”
“AKU TETAP TIDAK MAU BERGANTI PAKAIAN!” teriak Elaine marah, dia bahkan sempat mendorong Felix yang ingin membawanya pergi.
Suara ribut yang dihasilkan dari Elaine sontak membuat berhenti melakukan kegiatan mereka dan mulai menonton keributan itu.
Keributan itu berlangsung sekitar sepuluh menit, sampai akhirnya Martin Dominic datang ke dalam studio dan berteriak dari ambang pintu. “Kenapa memotret saja harus begitu ribut! Kalian benar – benar menghambat pekerjaan saja!”
Fotografer yang menangani Elaine angkat bicara. “Tuan Dominic, keributan ini bukanlah tanpa alasan. Saya tidak bisa memotret Nona Chastelair karena dia bersikeras tidak ingin memakai kostum yang telah staff siapkan.”
Martin melangkahkan kakinya memasuki ruangan, kemudian melihat Elaine secara seksama. Walau dirinya bukanlah shaman, Martin tetap mampu melihat sosok hantu wanita yang kini tengah tersenyum setiap kali melihat Elaine berteriak.
“Benar, kamu tidak boleh sampai terlihat buruk. Mereka tidak mengerti apa pun tentang kecantikan, jangan perdulikan mereka.”
Martin memijat pelipisnya saat tahu bila salah satu aktrisnya tengah ditempeli oleh hantu dan membuat dia kehilangan akal. Bila tidak segera dihilangkan, kondisi Elaine pasti akan semakin parah.
Setelah memperhatikan cukup lama, Zenon akhirnya berjalan ke samping Martin dan berbisik, “Berikan aku waktu satu jam untuk menangani hantu itu.”
Martin menghela napas sebentar sebelum berkata kepada seluruh orang yang ada di dalam ruangan. “Dinginkan kepala kalian terlebih dahulu dan lanjutkan pemotretan satu jam lagi.”
Martin lalu menatap Elaine. “Nona Chastelair, saya harap Anda sudah memakai pakaian yang sesuai di pemotretan nanti.”
Ekspresi Elaine menghitam. “Tidak mau! Intinya aku tidak mau berganti pakaian!”
“Elaine! Cukup! Jangan bertingkah konyol seperti ini!” bentak Felix yang sepertinya sudah habis kesaran. Ia lantas menyeret Elaine untuk keluar dari studio dan membawanya ke ruang istirahat.
Para staff akhirnya bisa menghembuskan napas lega tatkala Elaine sudah keluar dari studio. Mereka saling berbisik satu sama lain dan mulai membicarakan tingkah Elaine yang buruk.
“Aku meminta kalian untuk beristirahat, bukannya bergosip! Lebih baik kalian makan di luar daripada membicarakan keburukan orang lain!” seru Martin yang langsung membuat seluruh staff berbondong – bondong keluar dari studio, meninggalkan Martin bersama Zenon dan Xena di dalam studio.
“Paman, tidak perlu semarah itu. Kerutan di wajahmu semakin bertambah,” ejek Zenon yang tentu saja dibalas oleh kemarahan, “Anak kurang ajar! Lakukan saja tugasmu untuk mengusir hantu!”
Sebelum Martin bisa memukul kepala Zenon, pria itu sudah lebih dahulu melarikan diri sambil membawa Xena. “Aku tidak akan melakukan pengusiran gratis! Bayarannya akan kumasukkan ke tagihan Paman di bulan ini!”
“Kamu benar – benar! Beraninya bersikap perhitungan kepada keluarga sendiri!”
Zenon langsung tertawa begitu dia berhasil keluar dari studio dan meninggalkan Martin seorang diri. Setelah dipaksa melakukan pemotretan selama hampir setengah jam, akhirnya Zenon mampu merenggangkan otot – ototnya yang terasa kaku.
“Xena, pemotretan sangat melelahkan, aku tidak mau lagi melakukannya,” rengek Zenon, berusaha meminta izin kepada Xena untuk melarikan diri saja.
“Jangan bertingkah, pemotretanmu sebentar lagi juga akan selesai. Lebih baik, sekarang kamu berusaha melenyapkan hantu yang menempel di tubuh Elaine supaya kita bisa cepat – cepat pulang.”
• • • • •
To Be Continued
24 Oktober 2021