Meskipun Zenon telah berusaha keras untuk menolak, entah bangaimana, dirinya tetap berakhir di dalam studio pemotretan dan kini tengah duduk di dalam ruang rias.
Seorang wanita bernama Hannah bertanggung jawab atas merias wajah Zenon. Sejak pertama kali melihat Zenon datang, Hannah tidak dapat berhenti merasa takjub di dalam hati. Dia sudah merias wajah begitu banyak model, dari model pria sampai wanita. Namun, belum pernah ada satu pun model yang mempunyai fitur wajah semenarik Zenon.
Tidak seperti kebanyakan model pria yang mempunyai rahang berbentuk kotak dan tegas, Zenon mempunyai rahang berbentuk oval dengan dagu yang runcing, hidungnya tampak kecil dan lancip sehingga fitur bagian samping wajah Zenon terlihat begitu menarik. Namun, di antara semua fitur – fitur itu, Hannah menganggap bila kedua manik aqua milik Zenon adalah sesuatu yang paling indah.
Berkat dari seluruh perpaduan yang menarik itulah, wajah Zenon mampu terlihat maskulin dan feminim di saat yang bersamaan, membuat wajahnya menjadi suatu kecantikan yang langkah.
“Tuan, produk kecantikan apa yang selalu kamu gunakan sampai mempunyai kulit sehalus ini?” tanya Hannah dengan penasaran. Pasalnya, kulit Zenom benar – benar lembut tanpa pori – pori yang besar. Hannah bahkan hanya perlu memoles kulit Zenon menggunakan foundation yang tipis.
Zenon menatap pantulan bayangannya dari balik cermin, memperhatikan gerakan tangan Hannah yang tengah membentuk alisnya menjadi lebih tegas. “Tidak ada yang spesial, hanya menggunakan sunscreen.”
Hannah menghela napas seraya menepuk – nepuk pelan wajah Zenon. “Mhm .. kecantikan karena genetik memang menyeramkan.”
Tak ingin lagi berbicara dengan Hannah, Zenon mulai menatap Xena dari pantulan cermin. Wanita itu tengah duduk di kursi belakang Zenon seraya membaca sebuah majalah keluaran DMC Studio di tahun kemarin.
“Xena, bukankah ini tidak adil? Kita bekerja sama untuk menjatuhkan Tuan Rodriguez, tapi kenapa hanya aku yang harus memberikan bayaran?”
Tanpa mengangkat pandangannya dari majalah, Xena membalas dengan acuh, “Aku sedang hiatus, tidak mungkin bisa tampil di media massa.”
“Tapi tetap saja itu tidak adil! Kamu bahkan jauh berpengalaman daripada aku! Nana, kamu harus membujuk Paman supaya tidak memberikanku pekerjaan seperti ini. Bagaimana bila majalah ini mendapatkan perhatian yang besar dari publik dan mereka mulai mencari tahu tentang diriku?”
Zenon menambahkan, “Nana, terlalu banyak berinteraksi manusia bisa membuatku cepat mati!”
Xena akhirnya menutup majalah di tangannya, kemudian menatap lekat kedua manik Zenon yang terpantulkan oleh cermin. “Pamanmu, Tuan Dominic sangat tahu betul tentang kondisi mental keponakannya. Ia tidak mungkin menyerahkan pekerjaan ini kepadamu tanpa memikirkan konsekuensi secara matang. Sebelum ini, Tuan Dominic memberitahuku bila identitas dirimu tidak akan tercantum di dalam majalah. Kamu juga tidak memiliki sosial media sehingga tidak akan ada orang biasa yang mampu mencari tahu identitasmu dengan mudah.”
“Lagi pula, ketenaran model pendatang baru sepertimu paling – paling hanya akan meledak di satu atau dua bulan pertama. Jika kamu tidak melakukan pemotretan lagi, maka sosokmu juga akan mulai pudar dan hanya akan dikenal sebagai sosok misterius dari majalah DMC.”
Kata – kata yang dilontarkan oleh Xena akhirnya membuat hati Zenon lebih tenang. Bila memang majalah ini akan meledak dan menjadi perbincangan besar, setidaknya dia mampu bersembunyi di dalam Desa Amynthas dan tak perlu takut akan ada wartawan yang datang ke hadapan pintu rumahnya.
“Baiklah, mungkin satu pemotretan saja tidak akan apa – apa,” pasrah Zenon.
Berselang hampir setengah jam kemudian, Hannah selesai memoles wajah Zenon dengan riasan. Riasan yang ia pakai tidaklah tebal, hanya dipoles setipis mungkin supaya mampu menonjolkan paras rupawan yang alami.
“Apa sudah selesai?” tanya Zenon dengan semangat. Pasalnya, dia sudah sangat lelah terus duduk di hadapan meja rias dan tidak mau lagi berurusan dengan bubuk – bubuk bedak serta riasan lain yang membuat hidungnya terasa gatal.
Hannah, “Belum. Saya masih perlu menata rambut Anda.”
Hannah lantas menyisir helaian rambut Zenon menggunakan jari dan terkejut saat ia merasakan tekstur rambut Zenon yang selembut sutra, sampai – sampai tidak ada sedikit pun rambut yang tersangkut di jari tangannya.
Secara kualitas tekstur, rambut Zenon memang sudah sangat bagus, apalagi warna rambutnya selalu tampak berkilauan setiap kali terkena cahaya lampu. Akan tetapi, tatanan rambutnya agak berantakan dan tidak tampak rata pada bagian bawahnya,
“Di bagian bawah rambut, panjangnya tidaklah sama, mungkin aku perlu memotongnya sedikit supaya terlihat lebih bagus.”
“Tidak!” Zenon buru – buru memegang rambutnya sendiri dan sedikit menjauh dari Hannah. “Kamu tidak bisa memotong rambutku. Tidak ada yang boleh memotongnya!”
Hannah tampak sedikit terkejut saat mendengar penolakan dari Zenon, namun tetap berusaha membujuk. “Hanya sedikit saja, aku pasti akan memotongnya tanpa membuat perubahan.”
“Tetap tidak boleh!”
Hannah masih berusaha untuk membujuk, sedangkan Xena yang hanya memperhatikan tahu betul bila Zenon selalu mempunyai alasan dibalik tindakannya yang aneh. Jadi, Xena memutuskan untuk bangkit berdiri dan berkata, “Nona Hannah, terima kasih karena sudah merias wajahnya. Untuk bagian rambut, biar aku saja yang menatanya.”
Hannah sontak menoleh dan menampakkan wajah terkejut. “Nona Archer, mana mungkin aku membiarkan kamu yang menata. Pemotretannya akan dilangsungkan satu jam lagi, apabila kamu merusak tatanan rambutnya, maka pemotretan bisa diundur.”
Xena tersenyum, “Tidak perlu risau. Aku sudah sering menata rambutku sendiri saat akan menghadiri acara besar atau pun pemotretan, sehingga menata rambut Zenon bukanlah masalah besar.”
Merasa bila melawan Xena tidak ada gunanya, Hannah akhirnya mengalah dan membiarkan Xena mengambil alih. “Kalau begitu, aku percayakan sisanya kepada Nona Archer.”
“Mhm, kamu bisa mempercayaiku.”
Tatkala Hannah telah melangkah pergi, Xena segera menghampiri Zenon dan berdiri di belakangnya, sehingga membuat Zenoleh menoleh ke belakang untuk melihat Xena. “Aku benar – benar tidak mau potong rambut!”
Xena mengangguk, “Iya, iya. Tidak akan dipotong, tidak perlu gusar.”
Xena lantas memposisikan kepala Zenon ke depan lagi dan mulai menyisir untaian rambut Zenon secara perlahan. Di dalam hati, Xena juga sama terkejutnya seperti Hannah saat merasakan tekstur rambut yang begitu lembut.
Xena bahkan harus menahan diri supaya tidak mengelus kepala Zenon secara langsung karena merasa gemas.
Rambut Zenon itu menjuntai hingga hampir menyentuh pinggang, pertanda bahwa dia mungkin belum pernah memotong rambutnya dalam kurun waktu yang sangat lama.
“Kamu tidak bertanya?” kata Zenon tiba – tiba.
Xena membalas, “Tentang apa?”
“Tentang alasanku tidak ingin memangkas rambutku.”
“Jika aku bertanya sekarang, apakah kamu akan menjawabnya?”
Zenon terdiam selama beberapa saat, dia tidak tahu harus merespon Xena seperti apa. Namun, sebelum Zenon membalas, Xena sudah lebih dahulu berkata lagi. “Tidak harus bercerita sekarang apabila belum bisa. Waktu kita masih panjang, tidak perlu terburu – buru.”
“Aku … aku pasti akan menceritakannya! Tapi tidak bisa sekarang, karena agak berat untukku.”
Tatapan mata Xena terlihat lembut saat dia berkata, “Mhm, tenang saja, aku akan menunggu.”
Untuk mengalihkan topik, Zenon akhirnya bertanya tentang hal lain, “Kamu ingin menata rambutku seperti apa?”
Xena berpikir sejenak, “Supaya rambutmu terlihat lebih rapih, kita bisa mengikatnya saja. Lagi pula pemotretan ini juga tidak begitu formal, tidak perlu memakai tatanan rambut yang rumit.”
Zenon mengangguk dengan bahagia. “Benar! Buat yang sederhana saja!”
Xena kemudian mulai menata rambut Zenon. Pertama, Xena memanaskan rambut Zenon di samping wajah Zenon dengan menggunakan blower, sehingga Xena mampu membuat rambut bagian samping wajah Zenon tampak mengembang. Setelah itu, Xena menyisakkan beberapa helai rambut di bagian depan sebelum mengikat untaian rambut Zenon ke belakang.
Ketika rambutnya sudah terikat dengan sempurna, Xena mulai membuat rambut Zenon tampak lebih bergelombang untuk memperbesar volume rambut. Tatkala dia selesai menata rambut Zenon, Xena menyematkan hiasan rambut berbentuk mutiara di bagian atas untuk menutupi ikatan rambut.
“Bagaimana? Apakah terlihat bagus?”
Zenon tersenyum lebar, “Bagus! Sangat bagus! Xena memang terbaik.”
Xena tertawa kecil, “Aku tidak melakukan banyak. Cepat ganti pakaianmu, kita tidak boleh membuat para staff menunggu lama.”
Zenon mengangguk dan kemudian segera berlari kecil ke belakang bilik yang ada di samping ruangan. Setelah lima belas menit, Zenon akhirnya keluar saat sudah selesai mengenakan pakaian tradisional Tiongkok yang identik dengan pakaian panjang hingga menutupi kaki. Karena Zenon akan berperan sebagai shaman, maka warna pakaian yang ia gunakan adalah warna putih, membuat wajah Zenon terlihat semakin cerah.
Tanpa membuang banyak waktu, keduanya segera keluar dari ruangan dan berjalan menuju studio pemotretan.
• • •
Sesampainya di dalam studio, Zenon sudah disambut oleh beberapa staff studio. Sedangkan Martin mengawasi mereka dari kejauhan seraya menguncikan pandangannya kepada Zenon.
Xena tidak akan berguna di antara staff, sehingga dia berjalan mundur dan duduk tidak jauh dari lokasi pemotretan. Dia tidak dapat pergi terlalu jauh dari jarak pandang Zenon, karena pria itu pasti akan merasa panik apabila ditinggalkan seorang diri.
Karena tema dari majalah yang akan diterbitkan adalah shaman dan kisah mistis dari berbagai belahan negara, maka dalam satu studio bisa berlangsung beberapa pemotretan sekaligus. Oleh sebab itu, ruangan terasa begitu penuh dan sedikit panas.
“Xena, apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini?!” suara antusias seseorang yang cukup familier membuat Xena menoleh.
Kedua mata Xena sontak membulat tatkala melihat sosok Felix sedang berjalan ke arahnya bersama dengan aktris saingan Xena di acara penghargaan, Elaine Chastelair.
Alih – alih menjawab, Xena malah turut mengajukan pertanyaan kepada Felix, “Felix, kenapa kamu pergi bersama Nona Chastelair?”
Meski merasa terkejut dengan keberadaan Xena, Felix lebih khawatir akan perasaan Xena saat dia berkata. “Ah, Nona Chastelair baru saja mendata tangani kontrak dengan Eryx Management saat kamu masih di masa pemulihan dahulu. Aku belum sempat mengatakannya kepadamu.”
Xena menelan ludahnya sendiri. “Sekarang kamu menjadi manajernya?”
“Ya … aku manajernya untuk sementara.”
Entah Xena harus bereaksi seperti apa saat manajer yang paling Xena percaya malah pada akhirnya mendampingi seseorang yang selalu menjadi saingan Xena. Beruntung Xena masih bisa bersikap profesional dan tidak menyalahkan Felix karena menjadi manajer Elaine selama dia menjalani hiatus.
“Nona Archer, lama tidak berjumpa.” suara Elaine yang terdengar agak sarkastik membuat Xena mendecih di dalam hatinya.
Xena memang tidak pernah menaruh kebencian secara berlebih kepada Elaine, tetapi Elaine selalu saja mencari masalah dengannya sehingga membuat Xena merasa enggan untuk berdiri dekat dengan wanita itu. Dan hari ini, Elaine bahkan terlihat lebih menyebalkan dengan banyaknya aksesoris yang menempel di tubuhnya, membuat wanita itu terlihat lebih norak alih – alih cantik.
Akan tetapi, bukan hanya aksesoris Elaine yang membuat Xena merasa terganggu, melainkan aura Elaine yang terlihat lebih berat dari biasanya.
Karena merasa ada yang tidak beres, Xena akhirnya membuka mata batinnya untuk melihat aura Elaine secara lebih jelas.
“Apa kamu juga ingin menjadi cantik?”
Suhu tubuh Xena sontak mendingin tatkala ia melihat ada sosok hantu wanita berdiri tepat di depan matanya. Sosok itu terlihat begitu kurus, hampir menyerupai tengkorak apabila tidak memiliki kulit di tubuhnya. Akan tetapi, hal yang paling menyeramkan terletak pada bagian wajahnya. Wajah hantu wanita itu terlihat memiliki banyak sayatan – sayatan kecil yang terbuka, memperlihatkan daging dan tulangnya yang sudah membusuk sampai membuat Xena hampir muntah saat itu juga.
• • • • •
To Be Continued
23 Oktober 2021