Setelah selesai melampiaskan amarahnya kepada Zenon, Xena mulai bisa berpikir dengan jernih dan mengaktifkan ponselnya lagi. Dia langsung menahan napas tatkala melihat Felix, Helios, ketua agensi, dan bahkan orang tuanya terus mengirimkan panggilan masuk dan pesan tak berujung.
Helios malahan telah menghubungi Xena 500 kali dan mengirimkan pesan sebanyak 1000 kali. Jika boleh dikatakan, walau Helios dan Xena jarang bertemu di rumah, Helios tetap saja merupakan saudara yang agak protektif apabila sudah menyangkut masalah percintaan Xena.
Ketika masih sekolah, banyak teman laki – laki Xena yang awalnya berusaha mendekatinya, malah berakhir menjauhi Xena karena tidak kuat untuk menghadapi intimidasi dari Helios.
Untuk saat ini, Xena lebih memilih untuk menghindar terlebih dahulu dari Helios dan segera menghubungi Felix.
“Xena! Kenapa kamu susah sekali dihubungi?! Apa kamu tahu berapa kali Tuan Dawson menghubungiku? Banyak! Banyak sekali sampai aku kepalaku ingin pecah!” marah Felix dari seberang telepon.
Xena berusaha mencairkan suasana dengan tertawa miris. “Aku kurang berhati – hati, maafkan aku, Felix.”
Felix ingin kembali marah, tapi sadar bila tidak ada gunanya untuk mengungkit sesuatu yang telah terjadi. “Sudahlah. Aku akan meminta divisi public relation untuk mencari berita lain agar skandalmu ini bisa dengan cepat dilupakan.”
“Aku berhutang kepadamu. Terima kasih, Felix!”
Suara helaan napas terdengar dari Felix. “Kamu beruntung ada lebih banyak penggemar yang memberikan komentar dukungan kepadamu daripada komentar kebencian.”
“Ah? Mereka memberikanku dukungan?”
Xena tidak percaya, dia sungguh tidak percaya bila skandal seperti ini bisa mendapatkan banyak dukungan. Pasalnya, sebelum ini dia dan Dion Nixon seringkali dipasangkan, sehingga Xena berpikir bahwa penggemarnya akan merasa kecewa saat melihat wanita itu malah berkencan dengan pria lain.
Namun, siapa yang menyangka bila sangat sedikit penggemar yang menyuarakan kekecewaan mereka.
“Ya, mereka mendukung kalian. Semua ini berkat wajah pria yang berkencan denganmu itu terlihat sangat rupawan sampai membutakan mata mereka. Di dunia ini, semua orang pasti akan lebih membela seseorang yang mempunyai tampang seperti bunga.”
Felix melanjutkan, “Banyak dari penggemarmu yang bahkan berusaha mencari sosial media dari pria itu supaya bisa mengikuti akunnya. Xena, kamu sangat beruntung, benar – benar beruntung. Siapa pria itu? Apakah dia model baru? Atau malah aktor baru yang belum debut?”
“Bukan, dia bukan selebriti, dia hanya orang biasa.”
“Apa?! Kamu mengencani orang biasa? Xena, apakah kepalamu terhantuk batu selama liburan?”
“Aku baik – baik saja! Lagi pula, apa yang salah dengan orang biasa?!”
Felix mendecih, “Kamu mengencani orang biasa itu mengkhawatirkan! Bisa saja dia ingin memanfaatkan hartamu.”
“Tidak mungkin. Uangnya sudah banyak, untuk apa lagi memanfaatkanku.”
“Kamu mengencani pria kaya?! Bagus, bagus sekali! Setidaknya aku tidak perlu khawatir dan takut kamu akan ditipu oleh seorang b******n melarat yang hanya memanfaatkan ketampanannya untuk menipu banyak wanita kaya.”
Mereka berbincang selama beberapa saat sebelum akhirnya Xena menutup panggilan telepon, “Felix, aku lelah dan ingin beristirahat. Hubungi aku lagi besok bila ada sesuatu yang salah.”
“Baiklah, lain kali ingatlah untuk tetap berhati – hati supaya tidak menciptakan skandal. Aku akan menghubungimu lagi besok, sampai jumpa.”
“Mhm. Sampai jumpa."
Xena menghela napas lega seusai panggilannya terputus, ia menyandarkan punggungnya pada sofa dan melirik Zenon yang masih duduk di sudut sofa tanpa mengatakan apa – apa, terlihat seperti seorang anak kecil yang habis dihukum oleh orang tuanya.
Seketika Xena merasa bersalah karena sudah menumpahkan amarahnya kepada Zenon. “Kemarilah, aku sudah tidak marah.”
“Aku tidak percaya.”
Xena menepuk tempat kosong di sampingnya. “Aku benar – benar sudah tidak marah, Felix berkata bila banyak penggemar yang malah mendukung alih – alih memberikan komentar cacian.”
Kedua mata Zenon berbinar saat mendengar hal tersebut. “Benarkah? Bagaimana mereka bisa mendukung?”
Xena menggendikan bahunya. “Entahlah, mari kita lihat komentarnya bersama.”
Zenon perlahan mulai mendekati Xena, matanya melirik ke arah layar ponsel Xena yang berkedip setiap kali wanita itu menekan situs berita tentang mereka.
[Wah! Siapa pria itu, bukankah dia terlihat agak tampan?]
[Apa maksudmu dengan agak? Di mataku dia benar – benar tampan. Tidak salah bila seorang Xena Archer yang belum pernah mempunyai skandal kencan jatuh hati kepadanya!]
[Aku mendukung Xena dengan pria itu! Seseorang, tolong carikan aku akun sosial medianya! Aku ingin melihat fotonya lebih jelas untuk bahan observasi!]
[Apa – apaan kalian ini! Xena akan menjadi milik Dion Nixon sampai akhir!]
[Ya ampun, sadarlah bodoh! Dion Nixon hanya mencium Xena dalam film, tapi pria ini menciumnya secara langsung! Secara L-A-N-G-S-U-N-G]
[Berhenti meributkan Dion Nixon dan mulai carilah nama pria ini! Aku sangat membutuhkan akun sosial medianya!]
Sontak Xena tertawa keras saat mendengar komentar – komentar itu. Tidak salah bila Zenon berkata dia akan beruntung setiap kali membuat orang lain sial, ternyata pria ini memang sangat beruntung sampai – sampai tidak ada satu orang pun penggemar yang mencacinya!
“Lihat, kamu bahkan sudah punya penggemar bahkan sebelum muncul di media.”
“Berhenti tertawa! Itu mengerikan, bagaimana bila para wartawan akan mengejarku di jalan. Aku tidak mau! Aku tidak mau dikejar – kejar oleh manusia! Xena, kamu harus membantuku bila sampai hal itu terjadi.”
Xena berhenti tertawa, kemudian mulai memikirkan hal yang sama. Hal yang paling tidak disukai oleh Zenon adalah kerumunan manusia, apabila dia harus dikejar – kejar oleh wartawan sepanjang hari, mungkin pria itu lebih memilih untuk mengurung diri di dalam rumah seperti dahulu.
“Jangan khawatir, agensiku pasti mampu menurunkan berita itu dalam waktu satu atau dua hari. Jika memang wartawan akan mengejar kita, maka hiraukan saja, mereka biasanya akan lelah setelah kita hiraukan selama berjam – jam.”
“Tapi .. Tetap saja ..”
“Tenanglah, potret wajahmu masih tidak begitu jelas akibat pencahayaan yang buruk. Para wartawan juga pasti tidak akan langsung mengenalimu. Selama identitasmu tidak tersebar, maka kamu akan aman.” Kata Xena, berusaha menenangkan Zenon.
Zenon pada akhirnya menjadi lebih tenang dan berhenti memikirkan skenario buruk yang tercipta di dalam kepalanya. Alih – alih terus memikirkan skandal tersebut, dia mulai mencari topik pembicaraan lain yang lebih nyaman.
“Besok, sesampainya kita di London, aku ingin menemui pamanku terlebih dahulu. Apa kamu ingin ikut?”
“Tidak masalah, lagi pula nanti kita akan kembali bersama, akan susah bila tiba – tiba berpisah di London.” Jawab Xena.
Zenon, “Pamanku pasti akan terkejut saat melihatmu. Sebelumnya, Paman sempat bercerita bila dia beberapa kali pernah mengirimkan naskah film untukmu, tapi kamu selalu menolaknya. Apa naskah filmnya seburuk itu? Mungkinkah pamanku sebenarnya tidak pantas menjadi produser?”
Xena buru – buru menggeleng dan menjelaskan. “Bukan begitu. Naskah yang dikirimkan oleh pamanmu sangat bagus, terkesan sangat nyata malah. Akan tetapi, karena naskahnya terlalu nyata dan menyeramkan, aku jadi tidak berani untuk menerimanya karena takut tidak dapat tidur dengan tenang saat malam.”
Zenon tertawa pelan, diam – diam mengejek dan mengasihani pamannya dari dalam hati. Martin selalu berpikir bahwa naskahnya tidaklah layak sampai Xena terus menolaknya, tapi siapa yang tahu bahwa itu hanyalah sekadar kesalah pahaman belaka.
Malam sudah semakin larut, jadi Xena dan Zenon memutuskan untuk segera tidur supaya mereka tidak terlambat naik ke pesawat saat pagi hari.
• • •
Keesokan harinya, setelah memastikan tidak ada barang bawaan yang tertinggal, Zenon segera mengembalikan kunci ke bagian resepsionis dan memanggil taksi yang bisa membawanya dan Xena ke bandara.
Karena mereka datang di pagi hari, pengunjung di bandara cenderung tak begitu ramai, sehingga Zenon tidak merasa begitu khawatir. Seusai melewati berbagai macam pemeriksaan barang dan tiket, mereka akhirnya bisa masuk ke dalam pesawat.
Begitu pesawat mulai bergerak untuk lepas landas, Xena memperhatikan pemandangan kota paris dari balik jendela pesawat. Dia hanya melakukan perjalanan singkat ke Kota Paris, tapi sudah ada banyak hal yang telah ia lalui bersama Zenon di kota tersebut.
Walau ada banyak kenangan buruk yang Xena temui selama berada di Kota Paris, Xena lebih memilih untuk menyimpan ingatan – ingatan yang baik dari kota tersebut.
“Nana, selama di London, kita bisa tinggal di rumah milik paman untuk sementara. Paman sudah pindah ke apartemen di dekat kantor, sehingga rumah itu seringkali kupakai saat sedang berada di London. Kamu tidak keberatan, kan?”
Xena, “Aku tidak keberatan. Kapan kita akan kembali ke Desa Amynthas?”
“Dua hari lagi mungkin. Kita tidak bisa terlalu lama pergi, Fransisco pasti akan mengamuk kepadaku.”
“Walau pulang sekarang pun, Tuan Chevalier tetap akan mengamuk kepadamu.”
Karena bagaimana pun juga, Zenon telah membawa Xena pergi secara diam – diam dan meninggalkan banyak dokumen yamg belum selesai di Amynthas.
Perjalanan dari Kota Paris ke London memakan waktu hampir 6 jam, sehingga Xena tidur sepanjang waktu dan bangun saat pesawat hendak mendarat.
• • •
Zenon memasukkan barang bawaan mereka ke kursi belakang mobilnya dan segera menyetir mobil menuju kantor utama DMC Studio yang terletak di pusat bisnis Kota London.
Berselang tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di kantor DMC. Gedung dari kantor itu menjulang tinggi, mungkin terdapat 15 sampai 16 lantai, permukaan gedung yang hampir seluruhnya dilingkupi oleh kaca membuat gedung itu tampak berkilauan di bawah sinar matahari.
Kantor studio ini bahkan bisa terbilang jauh lebih besar dari gedung Eryx Management. Xena diam – diam berpikir, apakah dia bisa memanfaatkan Zenon untuk kembali mendapatkan kesempatan memainkan film – film keluaran DMC Studio?
Sekarang ini, Xena sudah mulai terbiasa melihat hantu dan telah mengalami banyak kejadian yang mengerikan. Melakoni fim horror pasti tidak akan membuat Xena ketakutan seperti dahulu.
“Xena, sebelum bertemu dengan pamanku, aku hanya ingin memberikanmu peringatan. Paman Martin itu orangnya sangat berisik, dia tidak akan pernah diam meski lawan bicaranya sudah muak untuk mendengarnya. Kamu bisa mengabaikan ucapannya apabila dia sudah terlalu berisik.”
Xena menatap wajah Zenon cukup lama sebelum berkata, “Terdengar mirip dengan seseorang.”
“Apa maksudmu …”
Ucapan Zenon terpotong oleh suara sapaan seseorang yang berdiri di ambang pintu, menyambut kedatangan mereka berdua. “Master Dominic, Tuan Martin telah menunggu Anda di dalam kantornya.”
Zenon menghentikkan langkahnya, menatap sosok wanita muda yang tengah membungkukkan punggungnya sedikit saat berhadapan dengan Zenon. Seingat Zenon, sepertinya dia belum pernah melihat wanita ini ketika datang ke kantor Martin.
Merasa bila Zenon tidak mengenalnya, wanita itu mulai memperkenalkan diri. “Saya adalah sekretaris dari Tuan Martin Dominic, nama saya adalah Adaline Wilson.”
Setelah mengetahui identitas dari wanita itu, Zenon segera tersenyum. “Ah .. Nona Wilson, saya belum pernah melihat Anda sebelumnya.”
“Saya baru direkrut tiga bulan yang lalu, wajar bila Master Dominic belum mengenal saya.” Adaline mengangkat kepalanya, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Xena. “Apa Nona ini adalah kenalan Anda?”
Zenon mengangguk, “Ya, dia datang bersama saya.”
Adaline memperhatikan wajah Xena yang tertutupi oleh masker itu dengan seksama. Meski Xena sudah berusaha menutupi wajahnya, tetap saja orang lain masih bisa menebak bahwa dia adalah Xena Archer jika memperhatikan lebih teliti. Bahkan paparazi pun dapat menemukan Xena meski dia telah berusaha keras supaya tidak menonjol di Kota Paris.
“Nona Archer?” tebak Adaline ragu – ragu.
Xena menghela napas kecil, lalu melepas penutup wajahnya dan membiarkan Adaline melihat lebih jelas. “Ya, saya Xena Archer. Senang berkenalan dengan Anda Nona Wilson.”
Adaline Wilson memang sudah terbiasa melihat para selebriti, tapi dia tidak menyangka akan bertemu dengan Xena setelah melihat skandalnya bersama Zenon malam kemarin. “Jadi, kalian benar – benar …”
Xena memotong, “Jangan salah paham, kami hanya teman dekat.”
Adaline masih tampak terkejut, tapi tidak berbicara lebih lanjut meski dia sempat berpikir keras, teman dekat mana yang akan mencium temannya sendiri di depan umum?
Tanpa meneruskan obrolan, Adaline memandu Zenon dan Xena menuju lantai paling tinggi, tepatnya menuju kantor Martin Dominic. Begitu pintu elevator terbuka, mereka bisa langsung melihat sebuah ruangan besar yang pintunya terbuat dari kaca. Dari balik pintu, Xena dapat menangkap sosok yang sedikit mirip dengan fitur wajah Zenon.
Martin segera mengalihkan pandangannya dari dokumen – dokumen yang tertumpuk di meja saat keponakannya itu masuk ke dalam ruangan.
“Kenapa datang lama sekali? Paman sudah menunggu dari kemarin!”
“Astaga, paman pikir perjalanan dari Paris ke London bisa ditempuh dalam waktu beberapa menit!”
Ketika Martin sadar bahwa Xena juga berada di dalam ruangannya. Dia segera bangkit dari kursi dan menghampiri wanita itu. “Nona Archer, katakan yang sejujurnya, apakah anak ini telah memaksakan kehendaknya kepada kamu? Atau mungkin dia telah mengancam kamu sehingga membuat kamu tidak dapat melawan?”
“Paman! Apa aku sehina itu di matamu?”
Martin mendecih. “Paman hanya ingin memastikan kamu tidak tumbuh menjadi pria b******n yang tak dapat menghargai wanita!”
Xena tertawa di dalam hati akibat melihat tingkah Zenon dan Martin yang tampak begitu mirip. Keduanya sama – sama berisik dan selalu mudah untuk menyimpulkan sesuatu.
“Jangan khawatir, Tuan Dominic. Zenon tidak pernah merendahkan harga diri saya.”
Walau pada awalnya Zenon memaksa Xena untuk bergabung menjadi shaman, setidaknya Zenon tidak pernah menuntut Xena melakukan empati saat situasi terlalu bahaya.
Namun, perkataan Xena malah membuat Martin semakin tidak yakin kepada Zenon. “Tidak mungkin. Bagaimana bisa keponakanku yang maniak hantu itu mampu memperlakukan seorang wanita dengan baik?”
Zenon, “Paman, jangan terus menghinaku! Cepat katakan saja apa bayaran yang kau inginkan, aku ingin segera pulang!”
Ucapan Zenon segera membuat Martin ingat alasan utamanya mengundang Zenon ke sini. Dia lantas berkata, “Adaline, beritahu supir untuk segera menyiapkan mobil. Kita harus segera pergi ke studio pemotretan.”
Zenon terperangah, “Hah? Kenapa kita harus pergi ke studio pemotretan? Apa ada hantu yang membuat sulit di studio sehingga paman ingin aku mengusirnya?”
“Hantu! Hantu! Selalu hantu yang ada dipikiranmu! Kamu tidak akan melakukan pengusiran hantu tapi kamu akan melakukan pemotretan!”
“Paman tidak waras! Kenapa aku harus melakukan pemotretan?!”
Kemarin malam dia baru saja dikejutkan oleh berita paparazi dan takut ada banyak kamera yang akan mengikutinya. Dan sekarang, Martin malah meminta Zenon untuk melakukan pemotretan. Bukankah artinya media akan lebih mengenal sosok Zenon?
“Hari ini, seharusnya ada jadwal pemotretan untuk katalog horror bulan depan. Tapi, salah satu model yang seharusnya menjadi shaman di sampul majalah malah mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu. Karena katalog ini mengambil tema pengusiran hantu dari berbagai negara, paman ingin kamu menjadi model pemotretan untuk shaman dari negara Tiongkok.”
Zenon menampakkan wajah ngeri. “Tidak mau! Aku tidak mau melakukan pemotretan! Aku bahkan tidak berpengalaman sebagai model, bagaimana bisa berpose di depan kamera?”
“Aduh, tidak perlu memusingkan hal yang tidak perlu. Akan ada fotografer profesional yang mengarahkanmu dan kamu hanya perlu mengikutinya. Lagi pula, dengan wajah seperti itu, pose paling buruk pun bisa menjadi sebuah mahakarya!”
“Intinya aku tetap tidak mau!”
• • • • •
To Be Continued
22 Oktober 2021