BAB 48 : Skandal

2033 Kata
Zenon batuk beberapa kali untuk mengalihkan pandangan mereka. “Ah, itu … aku .. aku sepertinya terbawa suasana.” Xena turut memalingkan wajahnya, merasa terlalu malu untuk membalas. Dia sudah terbiasa melakukan adegan ciuman dengan aktor lain, bahkan lebih dari ini. Namun, tidak ada satu pun aktor yang mampu membuat perasaan Xena meledak – ledak seperti ini. Apa ini? Perasaan macam apa yang sesungguhnya tengah menggerayangi hati Xena? “Ya, kita hanya terbawa suasana.” Kata Xena pada akhirnya. Ciuman mereka berawal dari ketidaksengajaan dan bertambah intim hanya karena suasana disekitar mereka mendukung. Ketika Zenon ingin berbicara lagi, suara pengumuman untuk segera meninggalkan taman bermain terdengar melalui intercom, sehingga membuat satu – persatu pengunjung mulai berhamburan pergi. Begitu pun dengan Zenon dan Xena yang turut berjalan beriringan tanpa mengucapkan kata – kata. Suasana di sekitar mereka menjadi sangat canggung, bahkan Zenon saja sampai tidak menemukan celah untuk membuka obrolan. Pikiran Zenon mulai berteriak kepada dirinya sendiri, mencaci tindakannya yang gegabah dan malah membuat hubungan mereka menjadi kian canggung. Akan tetapi, hati Zenon malah sedang menaburkan bunga dan merasa begitu gembira karena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mencium bibir Xena yang terasa lembut dan manis seperti permen kapas. Jika seandainya lampu padam lebih lama lagi, mungkin dia bisa mencium Xena lebih lama, melumat bibirnya tanpa henti sampai membuat bibir itu menjadi lebih merah. Tidak. Logika Zenon menampar keras pemikiran kotornya itu. Ciuman mereka awalnya hanya sesuatu yang tidak sengaja tapi Zenon memanfaatkan momen itu untuk mencium Xena lebih dalam. Bagaimana bila Xena tidak merasa nyaman dan menganggap Zenon sebagai pria yang c***l? Jika sampai Xena berpikiran seperti itu, maka dia juga tidak ada bedanya dengan Peter Rodriguez. “Maaf!” Seru Zenon seraya membungkukkan punggungnya di hadapan Xena. Xena mengangkat alisnya karena terkejut, “Ada apa? Mengapa minta maaf?” Dengan wajah yang tertunduk, Zenon berkata, “Maaf karena telah menciummu secara tiba – tiba! Aku lepas kendali, maafkan aku! Kamu boleh memukulku jika merasa kesal!” Xena menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan berbisik pelan. “Ya .. ciuman tadi juga tidak bisa dibilang sengaja dan sebenarnya itu tidak begitu buruk …” Suasana di antara mereka lantas kembali hening, bahkan Xena reflek menutup mulutnya menggunakan tangan karena merasa telah mengatakan hal yang bisa membuat salah paham. Zenon akhirnya mengangkat kepalanya sedikit dan bertanya, “Tidak buruk? Apa artinya kamu menyukainya?” “Jangan menyimpulkan dengan gegabah! Tidak buruk bukan berarti aku menyukainya!” pekik Xena. Zenon tertawa kecil saat melihat ujung telinga Xena tampak semerah darah. “Maaf, aku salah.” Intonasi suara Zenon tidak terdengar seperti orang yang bersalah di telinga Xena. Karena itu, Xena kembali berteriak, “Jangan pernah melakukan hal yang aneh tanpa persetujuanku!” “Oh, artinya bila aku bertanya maka kamu memperbolehkanku untuk menciummu lagi?” “Zenon Dominic! Berhenti memelintir ucapanku!” kesal Xena seraya menghentakkan kakinya ke atas permukaan tanah dan meninggalkan Zenon. Zenon melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyusul Xena, senyuman di wajahnya terpatri semakin jelas tatkala ia tahu bila Xena menganggap ciuman itu tidaklah buruk. “Nana, bagaimana bila kita menikah? Kamu boleh mengambil seluruh aset kekayaanku jika ingin.” canda Zenon yang tentunya dibalas dengan ucapan ketus dari Xena. “Tidak butuh! Jika hanya menawarkan harta kekayaan, aku juga punya!” Zenon meletakkan tangannya di belakang kepala dan berjalan mundur, ia memperhatikan kedua manik kelabu Xena yang sedari tadi terus bergerak gusar setiap kali bertemu pandang dengan Zenon. Beberapa saat sebelum mereka keluar dari gerbang taman bermain, Zenon melihat seorang penjual gulali tengah membereskan dagangannya. Di atas meja etalasenya, masih terdapat dua buah gulali berwarna merah muda yang tampak kontras dengan gelapnya malam. Tanpa mengatakan apa pun, Zenon berlari menuju penjual gulali tersebut dan membiarkan Xena berjalan lebih dahulu. Sadar bila Xena tidak berniat untuk menunggunya, Zenon buru – buru menyerahkan beberapa lembar uang dan mengambil dua gulali tersebut dari penjual tanpa meminta kembalian. “Nana! Jangan meninggalkanku begitu,” Zenon mengatur napasnya yang memburu akibat berlari untuk mengejar Xena. Xena memperhatikan dua gulali yang kini di pegang oleh Zenon. “Apa kamu sesuka itu dengan manisan permen?” “Ini bukan untukku sendiri.” Zenon tersenyum seraya menyerahkan satu gulali kepada Xena. “Jika kamu tidak menginginkan hartaku, maka aku bisa menawarkan cinta yang manis seperti rasa permen ini.” Perkataannya itu klise, malah cenderung menggelikan bagi Xena. Jika pria lain yang mengatakan hal itu, maka Xena akan menganggap pria itu sedang bermain – main dengan hati wanita dan juga akan mengecapnya sebagai pemain wanita. Namun, Zenon sangat jauh dari deskripsi seorang pemain wanita. Dia tidak pernah menggoda wanita lain seperti dia menggoda Xena. Ajakannya untuk menikah memang terdengar seperti lelucon, tapi pada satu titik tertentu, Xena kadang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Xena mungkin membenci semua pria yang senang menggoda, tetapi Zenon adalah pengecualian. “Tidak butuh! Aku tidak mau menikah sekarang!” meski berkata demikian, Xena tetap mengambil permen yang diberikan oleh Zenon dan diam – diam memakannya secara perlahan. “Jika tidak mau menikah sekarang, berarti kamu ingin menikah nanti?” Xena mendelik, “Zenon!” Zenon tertawa terpingkal – pingkal sampai sedikit air mata keluar dari sudut matanya. “Hahaha .. Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi, jadi berhenti berteriak sebelum tenggorokanmu sakit.” Angin dingin mulai menerpa permukaan kulit Xena, membuat wanita itu menggigil sedikit dan menyesal tidak membeli mantel di toko pakaian. Dia menggosok kedua tangannya untuk menghasilkan panas sementara. Secara mengejutkan, Zenon tiba – tiba saja memegang tangan kanan Xena dan memasukkan tangan mereka ke dalam mantel milik Zenon, membuat salah satu tangan Xena terasa lebih hangat. “Kita sudah sering berpegangan tangan. Jadi, ini bukan suatu tindakan yang aneh.” Xena bergumam, “Mhm.” Xena melihat ke arah tangannya dan gulali secara bergantian. Seulas senyuman tipis tanpa sadar tercetak dari balik masker wajahnya. Menerima cinta dari Zenon, sepertinya kedengaran tidak begitu buruk. • • • Sesampainya di hotel tempat awal mereka menginap, Zenon lekas merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan kaki yang masih menjuntai di permukaan lantai. Setelah berlarian terus – menerus sepanjang hari, Zenon merasa bila energinya telah terkuras dan menjadi malas untuk menggerakan tubuh lebih lanjut. Xena menghela napasnya, berusaha menarik kaki Zenon supaya pria itu terjatuh dari tempat tidur. “Jangan langsung tidur setelah pergi, tempat tidurnya akan kotor.” “Tapi kemarin kamu juga melakukan hal yang sama.” “Walau aku melakukan kesalahan, bukan berarti kamu harus mengikutinya! Cepat turun dari tempat tidur dan duduk di sofa jika tidak mau mandi!” teriak Xena yang langsung membuat Zenon bangkit dari tempat tidur dan berpindah ke sofa. Xena lantas mengambil pakaian tidurnya dari dalam tas, kemudian berjalan menuju kamar mandi. “Sebelum kamu membersihkan diri, jangan coba – coba untuk tidur di atas tempat tidur.” Zenon menghela napasnya. “Mhm, tidak akan naik.” Begitu Xena masuk ke dalam kamar mandi, Zenon segera berbaring di atas sofa dan mulai mengulangi kata – kata Xena dengan nada mengejek. “Zenon jangan begini, Zenon jangan begitu. Semuanya saja tidak boleh.” Sembari menunggu Xena keluar, Zenon mulai menyalakan ponselnya setelah seharian sengaja dimatikan karena tidak ingin acara kencannya diganggu oleh orang lain. TING! TING! TING! Seketika saja ratusan notifikasi masuk ke dalam ponselnya tanpa henti, membuat Zenon mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak biasanya ia mendapatkan panggilan dan pesan sebanyak ini. Dan lebih anehnya lagi, hampir semua orang yang kenal dekat dengannya berusaha menghubungi Zenon. Mulai dari Fransisco, Xie Jia, Mia, dan bahkan pamannya selalu menelepon secara bergantian. [Zenon! Angkat telepon paman!] [Master Dominic! Ternyata diam – diam kamu hebat!] Zenon melihat Xie Jia mengirimkan sejumlah sticker bergambar ibu jari dan hati. [Zenon Dominic, bisakah dalam satu hari kamu tidak membuat masalah?!] Melihat beberapa pesan Fransisco yang tampak marah membuat Zenon mengernyitkan kening. Memangnya dia membuat masalah apa? Sebuah panggilan masuk tiba – tiba saja masuk, nama Martin tertera di permukaan layar sehingga Zenon mengangkatnya tanpa ragu. “Paman, mengapa kalian semua begitu ribut?” “Zenon! Paman tidak menyangka kamu bisa berbuat demikian!” “Hah? Berbuat apa? Memangnya aku kenapa? Paman, aku belum merusak properti orang lain bulan ini.” “Kamu lebih baik membakar rumah orang lain daripada terkena masalah seperti ini! Cepat kamu buka internet dan lihat berita apa yang sedang menduduki peringkat pertama dan kedua!” Zenon menyalakan mode loud speaker, kemudian menggulir ponselnya untuk mencari berita terkini. Begitu dia membuka aplikasi berita, kedua matanya sontak membulat dan seketika dia berkeringat dingin. “Pa..Paman. Bisakah kamu meminta seseorang untuk menghapusnya? Aku bisa dipukuli sampai mati hari ini bila beritanya tidak hilang.” pinta Zenon dengan suara yang memelas, hampir ingin menangis karena merasa nasibnya tidak akan baik malam ini. “Ini masalahmu sendiri! Paman tidak akan ikut campur!” “Paman! Mengapa harus bertingkah kejam kepada keponakanmu yang tertindas ini.” Bukannya mendengar suara Martin, Zenon malah mendengar suara Xena dari arah belakang. “Siapa yang menindasmu?” Xena melangkah keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk. Ketika mendengar suara ribut Zenon dari dalam kamar mandi, Xena memutuskan untuk mandi dengan cepat dan keluar. Zenon refleks mematikan manggilan dari Martin dan menatap Xena dengan wajah yang dipenuhi oleh ketakutan. “Xena, Nana, Nanaku yang baik. Ketika melihat berita tadi, aku melihat ada kabar baik dan buruk, berita mana yang ingin kamu dengar terlebih dahulu?” Garis siku – siku tercetak di kening Xena, merasa heran dengan tingkah laku Zenon yang mencurigakan. “Jangan merusak kabar baik, jadi lebih baik katakan kabar baik terlebih dahulu.” “Kabar baiknya, berita tentang Peter Rodriguez berhasil naik ke media dan menduduki peringkat pertama di setiap sosial media dan platform berita. Ada banyak masyarakat yang marah dan bahkan mengutuk perbuatan Peter yang telah memanfaatkan kepolosan model – model wanitanya.” Mendengar kabar itu, Xena melompat kecil dan tersenyum senang. “Benarkah? Hah, akhirnya aku bisa merasa lega. Sedari kemarin, hatiku belum tenang selagi Peter Rodriguez belum mendapatkan ganjarannya. Jika perbuatannya sudah seterkenal ini, pasti tindakan hukum akan segera dilakukan.” Zenon mengangguk, “Mhm. Karirnya pasti akan hancur sebentar lagi dan dendam Tuan Gustov serta Nona Estelle akan sepenuhnya tuntas.” “Lalu, apa isi dari berita buruknya? Apa Peter Rodriguez melakukan pembelaan sehingga dia tidak dapat ditahan?” tanya Xena dengan khawatir. Alih – alih langsung menjawab, Zenon malah mengambil napas beberapa kali sebelum akhirnya menyerahkan ponsel miliknya kepada Xena. Wanita itu segera mengambil ponsel yang diserahkan tanpa bertanya, kemudian melihat deretan berita yang menduduki peringkat 10 besar. 1.     Peter Rodriguez disinyalir melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap model – model wanita muda, terdapat bukti rekaman perkataannya. 2.     Aktris besar Xena Archer yang dikabarkan sedang dalam masa pemulihan, ditemukan tengah berciuman dengan seorang pria misterius di taman bermain Disneyland, Paris. Sekujur tubuh Xena lantas menjadi sekeras batu, ia bahkan tidak mampu mengedipkan matanya tatkala menatap foto paparazi yang memperlihatkan dirinya dan Zenon tengah berciuman di tengah kembang api. Resolusi kameranya cukup bagus, pertanda bahwa ada paparazi yang memang sedang mengintainya dari kejauhan dan Xena tanpa sengaja malah menghasilkan berita yang menarik untuk paparazi tersebut. “Ini … apa – apaan. Kenapa ..” Kenapa bisa dirinya yang tengah melakukan hiatus malah menghasilkan skandal besar? Zenon menjatuhkan lututnya ke atas permukaan lantai dan bersimpuh di hadapan Xena. “Maafkan aku! Nanaku yang baik, tolong ampuni aku!” Xena menggertakan giginya dan mulai menampakkan kedua mata yang dipenuhi oleh kobaran api. “ZENON DOMINIC! Semua ini salahmu!” Karena merasa begitu marah, Xena mulai mencubiti tubuh Zenon tanpa henti. Cubitan Xena memang tidak keras, tetapi bila dilakukan berulang kali, tentu saja Zenon akan merasa sakit. Tidak ingin menjadi korban amukan Xena, Zenon berusaha menghalau tangan Xena dan berlarian di dalam ruangan. Zenon lantas bersembunyi di balik sofa dan berseru, “Paparazi mungkin saja sudah memotret sejak awal! Aku sudah bilang, ada seseorang yang mendorongku sehingga kita tanpa sengaja bersentuhan!” “Tetap saja itu salahmu! Seharusnya kamu bisa menahan keseimbangan tubuhmu sendiri agar tidak terhuyung ke depan! ZENON, JIKA SAMPAI KARIRKU HANCUR, KAMU HARUS MENAFKAHIKU SAMPAI MATI!” Zenon keluar dari tempat persembunyiannya. “AKU AKAN MELAKUKANNYA!” “Zenon! Aku sedang tidak bercanda!” “Aku juga tidak bercanda!” • • • • • To Be Continued 21 Oktober 2021  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN