BAB 47 : Kencan - Bagian 2

1831 Kata
“Bukankah kita akan terlihat seperti sedang berkencan?” Xena yang tadinya sudah mengulurkan tangan, kembali menarik tangannya dan berjalan lebih dahulu. “Tidak jadi!” Zenon lekas menahan tangan Xena, kemudian menautkan jemari mereka menjadi satu. “Jangan terlalu sering marah, wajahmu bisa semakin tua.” “Kamu mengataiku tua?!” “Tidak ada yang mengejekmu tua. Ayo, cepat masuk, cuacanya sudah semakin panas.” Kata Zenon seraya menarik tangan Xena. Padahal awalnya Zenon terlihat begitu ragu untuk melangkah maju, tetapi sekarang malah merasa begitu semangat seolah sikap lesunya tadi hanyalah sebuah tipuan agar Xena memperlakukannya dengan baik. Tapi, di beberapa titik, Xena tidak merasa keberatan apabila Zenon berusaha mencari perhatian kepadanya. Begitu mereka memasuki gerbang, mata mereka dimanjakan oleh pemandangan yang terlihat seperti tengah berada di dunia fantasi. Terdapat hamparan pepohonan rindang di bagian tepi jalan, ada pun rumah – rumah tradisional yang berdiri sejajar di sepanjang jalan, membuat mereka seolah sedang memasuki sebuah desa. Ini adalah kali pertama Zenon datang ke tempat ini, sehingga Xena memandunya untuk pergi ke berbagai macam tempat yang menyenangkan. Xena membawa Zenon pergi ke kawasan yang dipenuhi oleh tokoh – tokoh disney. Ketika kecil, Zenon hanya mampu melihat mereka melalui televisi, tetapi sekarang ia seakan memasuki layar kaca dan melihat tokoh – tokoh itu secara langsung. Jiwa anak kecil yang sudah lama tertekan di dalam diri Zenon mulai mendongkrak keluar, membuatnya menjadi lebih bersemangat. Zenon menyapa beberapa pengguna kostum yang berada di pinggir jalan, memperhatikan setiap tingkah mereka yang benar – benar terlihat seperti tokoh sebuah kartun. Ia bahkan sempat memeluk seorang badut yang mengenakan kostum mickey mouse dan Xena dengan senang hati memotretnya. Tatkala hari mulai menjelang siang, mereka berpindah tempat ke kawasan wahana bermain Adeventure Land, sebuah kawasan yang dipenuhi oleh wahana – wahana yang mampu memacu adrenalin. Keduanya telah banyak melalui hal buruk selama beberapa hari belakangan ini, sehingga melepaskan penat dengan berteriak di atas wahana merupakan ide yang tidak buruk. Mereka memutuskan untuk mencoba wahana Big Thunder Mountain Coaster Ride, sebuah wahana roller coaster yang membuat pengunjung merasa seperti mereka sedang berkendara di wilayah pegunungan terjal. Setelah mengantri selama beberapa saat, akhirnya tiba giliran untuk Zenon dan Xena menaiki wahana. Tatkala kereta mulai melaju secara perlahan, Xena berkata, “Wahana ini agak menakutkan, jika merasa takut, kamu boleh berpegangan kepadaku.” Zenon, “Aku akan mengingatnya.” Kecepatan kereta secara berkala mulai bertambah cepat saat medan jalannya menurun. Ketika berada di penghujung turunan, kereta tiba – tiba saja langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Kereta tersebut memasuki sebuah terowongan yang begitu gelap dengan rel yang sangat terjal. “Kenapa begitu cepat!” teriak Xena. Meski awalnya dia yang memperingatkan Zenon supaya berpegangan kepadanya bila takut, pada akhirnya Xena lah orang yang memeluk lengan Zenon dengan begitu erat dan berteriak setiap kali kereta akan menuruni jalan yang terjal. Sedangkan Zenon hanya tertawa setiap kali melihat permukaan kulit Xena bertambah pucat seiring berjalannya waktu. “Xena, jika takut. Kamu bisa terus memelukku.” ujar Zenon sambil tertawa. “Jangan mentertawakanku!” pekik Xena. Selama beberapa menit terus melalui medan terjal dan terowongan gelap, akhirnya kereta berhenti. Karena merasa kepalanya masih berputar – putar, Xena segera mencari tempat duduk di tempat yang tidak terlalu ramai sambil menunggu Zenon membelikannya minuman dingin. Xena melepaskan masker yang menutupi wajahnya agar bisa bernapas dengan lebih leluasa, kemudian dia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya dari orang lain. Sesungguhnya, kini Xena mulai tidak perduli apabila ada seseorang yang mampu mengenalinya, tapi dia pasti akan menyeret Zenon ke dalam skandal jika paparazi memotret kebersamaan mereka. Akan menjadi hal yang buruk bila Zenon harus dikejar – kejar oleh banyak wartawan. “Ah! Dingin!” Xena segera mengangkat kepala tatkala merasakan adanya sekaleng minuman dingin menempel di pipinya. Ia mendapati Zenon tengah berdiri di hadapannya, sebelah tangannya memegang dua kaleng minuman dingin, sedangkan sebelah tangannya lagi menarik mantel hingga menutupi bagian samping wajah Xena dari pandangan orang lain. “Minumlah, tidak akan ada yang melihat.” kata Zenon. Xena tertawa pelan saat melihat perhatian kecil yang dilakukan oleh Zenon. “Terima kasih.” Xena lekas menenggak minuman dingin itu dengan cepat dan kembali memakai maskernya. Melihat Xena tidak lagi minum, Zenon beralih duduk di samping Xena dan menenggak minuman miliknya sendiri. “Ke mana lagi kamu ingin pergi?” tanya Xena. Zenon berpikir sejenak. “Mungkin ke wahana yang tidak begitu ekstrim. Kamu mungkin akan sakit jika kita kembali menaiki wahana yang membuat mual.” Perkataan Zenon ada benarnya, tetapi Xena merasa bila dirinya menjadi penghalang untuk Zenon bersenang – senang. “Aku bisa menunggu di bawah jika kamu masih ingin menaiki wahana yang ekstrim.” Zenon menggelengkan kepalanya. “Jika kamu tidak ikut naik wahana, permainannya akan tidak menyenangkan.” “Kenapa? Bukankah rasanya akan sama saja dengan atau tanpa aku?” “Tentu saja beda! Kita kan sedang berkencan, jika aku naik sendiri, maka rasanya akan berbeda!” Seketika wajah Xena kembali memanas begitu ia mendengar kata – kata seperti itu. Ia memalingkan wajahnya dan berkata pelan, “Berhenti bermain – main dengan kata kencan seperti itu.” “Siapa yang bermain?! Aku tidak bermain – main. Kita kan memang sedang berkencan.” Tidak mau lagi memperdebatkan hal yang memalukan seperti ini, Xena segera bangkit dari kursi dan mengajak Zenon untuk ke wahana lain yang lebih ringan. “Kita bisa pergi wahana penjelajahan saja!” Xena melangkah lebih dahulu, sedangkan Zenon menyusul dengan cepat. Pria itu menoleh sejenak, diam – diam tersenyum karena merasa terhibur saat melihat ekspresi Xena yang terlihat malu. “Oh, kudengar selalu ada pertunjukkan kembang api setiap malam di sini?” “Jika cuacanya cerah, seharusnya ada kembang api. Kamu ingin melihatnya?” Zenon membalas dengan antusias, “Tentu! Tidak ada salahnya melihat kembang api.” Sepanjang sisa hari, keduanya menghabiskan waktu dengan menaiki wahana yang ringan seperti mengunjungi kastil atau pun memasuki kereta petualangan. Meski Xena tidak begitu antusias untuk pergi ke taman bermain sebelum ini, tetapi begitu dia bermain dengan Zenon dan menghabiskan waktu bersama dengan pria itu, dia menjadi lebih antusias dan bahkan merasa begitu senang. Tanpa sadar, mereka berdua sudah berpegangan tangan sepanjang hari. Kali ini bukan karena ingin mengisi energi, melainkan hanya karena keinginan yang tak mendasar. Ketika malam tiba, mereka pergi ke depan kastil putri tidur untuk melihat pertunjukkan akhir dari taman bermain Disneyland. Bagi sebagian orang yang datang, pertunjukkan di malam hari adalah pertunjukkan yang paling mereka tunggu, sehingga wajar apabila kastil putri tidur sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung saat malam hari. Beruntung baik Zenon dan Xena sama – sama mempunyai tubuh yang tinggi, sehingga meski mereka berdiri di bagian belakang kerumunan, mereka masih mampu melihat kastil dengan mudah. Begitu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam, lampu – lampu di seluruh taman bermain padam, membuat jalanan menjadi gelap gulita sehingga para pengunjung tidak dapat melihat wajah orang di samping mereka. Karena alasan itu lah, Xena akhirnya memberanikan diri untuk membuka masker supaya bisa bernapas dengan lebih leluasa. Beberapa saat kemudian, permukaan kastil putri tidur mulai memproyeksikan animasi yang bergerak. Cahaya berwarna – warni memenuhi kastil dan animasi dari kartun – kartun disney mulai terlihat silih berganti. Suara alunan musik yang keras terdengar memenuhi jalanan disney, membuat para pengunjung menatap pertunjukkan dengan takjub. Air mancur disemprotkan ke udara, terlihat seperti sebuah gelombang yang mengikuti alunan musik. Kembang api bermunculan tanpa henti, terlihat seperti air mancur berwarna merah yang ditembakkan ke atas langit malam. Pertunjukkan tersebut begitu indah, bahkan anak – anak kecil tidak mampu menutup mulut mereka karena merasa begitu senang. Xena memalingkan wajahnya, menatap bagian samping wajah Zenon yang terlihat menawan setiap kali refleksi cahaya dari kastil muncul di wajahnya. Sejujurnya, Xena juga belum pernah mengunjungi taman bermain bersama orang selain keluarganya. Mungkin karena ia dilahirkan di sebuah keluarga yang terkenal, orang lain menjadi segan untuk mengajaknya berteman, bukan karena Xena terlihat sombong, tapi karena orang lain takut akan terseret masalah apabila bergaul dengan keluarga Archer. Sekali pun mempunyai teman, kebanyakan dari mereka hanya ingin memanfaatkan kekayaan dan popularitas Xena demi keuntungan mereka sendiri. Mereka bahkan tidak pernah memberikan perhatian – perhatian kecil kepada Xena. Hanya Zenon satu – satunya orang asing yang bisa berada di sekitar Xena tanpa merasa takut akan bermasalah dengan Keluarga Archer. Hanya Zenon pula yang selalu berbicara omong kosong sepanjang hari tapi mampu mengucapkan kata – kata yang bisa menenangkan hati tatkala Xena sedang berada di suasana hati yang buruk. Bagi Xena, kehadiran orang seperti Zenon merupakan hal yang baru untuknya. Terkadang dia akan marah setiap kali melihat Zenon menggodanya tapi dia bertingkah seperti itu karena setiap kali Zenon menggodanya atau memberikan sentuhan kecil, Xena akan merasa ada sesuatu di dalam hatinya yang berusaha keras untuk merangkak keluar. Bahkan hanya dengan menatap wajah Zenon dalam diam saja, Xena mampu merasakan detak jantungnya menjadi lebih cepat dan tidak terkendali. “Zenon, apa kamu senang setelah seharian bermain?” Zenon memalingkan wajahnya dari pertunjukkan untuk menatap Xena. Dia tersenyum lembut dan berkata, “Tentu saja aku senang. Berkat Xena, aku bisa melakukan hal yang belum pernah kulakukan saat kecil.” Suara musik di sekitar mereka bertambah kencang, suara letupan kembang api juga semakin keras begitu ada lebih banyak kembang api yang diledakkan ke atas langit. Oleh karena itu, Zenon harus mendekatkan wajahnya dengan wajah Xena setiap kali ia ingin berbicara. “Nana, aku benar – benar begitu senang hari ini. Lain waktu, bisakah kita pergi berkencan ke tempat yang lain?” Xena mendecih, “Siapa yang ingin berken—” Buk! Seorang anak kecil yang tengah berlari tanpa sengaja mendorong punggung Zenon, membuat wajah pria itu semakin dekat dengan wajah Xena sampai bibir mereka berdua saling bersentuhan satu sama lain. Zenon meneguk ludahnya sendiri, sedangkan Xena membulatkan kedua matanya lebar – lebar. Suara kembang api ditembakkan ke langit secara beruntun, membuat semua pengunjung menatap ke atas langit. Keadaan lingkungan yang gelap, turut menghalangi pandangan orang lain untuk melihat perbuatan Zenon dan Xena. Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat. Aliran darah yang hangat berdesir dengan cepat di bawah kulit mereka, menyebabkan jantung harus bekerja ekstra sampai suara detaknya bisa terdengar dengan jelas dari luar. Secara reflek, Xena hendak mendorong Zenon supaya menjauh, tetapi ia merasa ada tangan yang menahan bagian belakang kepalanya sehingga bibir mereka tetap saling bersentuhan. Xena berusaha untuk berontak. Namun, sekujur tubuhnya tiba – tiba saja menjadi beku tatkala Zenon mulai menggigit kecil bibir bagian bawahnya, membuat kepala Xena terasa kosong dan bahkan kakinya menjadi selembut kapas. Pada akhirnya, dia berhenti berontak dan menutup kedua matanya, membiarkan Zenon melumat bibirnya pelan – pelan. Deru napas pria itu dapat Xena rasakan di permukaan kulitnya, terasa begitu hangat dan membuat Xena semakin melupakan daratan. Berselang beberapa saat kemudian, suara musik dan kembang api berhenti, begitu pun dengan Zenon yang menghentikkan ciuman  dan melepaskan tautan pada bibir mereka. Ketika cahaya lampu mulai dinyalakan kembali, keduanya hanya saling bertatapan dalam diam dengan permukaan wajah yang sudah dipenuhi oleh rona merah. Zenon yang biasanya mampu berbicara banyak hal, tiba – tiba saja bingung harus mengatakan apa. • • • • • To Be Continued 20 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN