BAB 46 : Kencan - Bagian 1

2131 Kata
Zenon mengaduh, “Kenapa tidak beritahu dari telepon saja? Aku tidak mau mampir ke London! Aku ingin langsung pulang!” Martin lekas menolak, “Tidak mau! Jika aku memberitahu lewat telepon, kamu pasti tidak akan mau mengunjungi pamanmu ini. Apa paman harus mati terlebih dahulu baru kamu mau datang ke rumah Paman?!” Tatkala kata ‘Mati’ keluar dari ucapan Martin, Zenon langsung terdiam, begitu pun dengan Martin yang tampaknya sadar bahwa dia telah salah bicara. Setelah kematian Arsen dan Sheryl, Martin lebih dari tahu bila keponakannya itu mempunyai trauma mendalam apabila mendengar ada sanak saudara yang meninggal. Martin juga tahu alasan Zenon jarang mengunjunginya adalah karena Zenon takut akan mendatangkan kesialan untuk Martin. Namun, dilain sisi, Martin juga tidak mau sampi Zenon menjauh darinya, sehingga dia seringkali mencari alasan supaya keponakan satu – satunya itu bisa menemuinya. “Ya, intinya kamu harus datang!” seru Martin untuk mengalihkan topik. Zenon bergumam, “Hmm, aku akan datang. Kalau begitu, pastikan berita buruk tentang Peter Rodriguez sudah tertera di headline berita nanti siang.” Rasa iba Martin segera runtuh tatkala mendengar tuntutan itu, “Bocah kurang ajar! Beraninya selalu memerintah pamanmu ini!” “Aku ingin tidur lagi, sampai jumpa Paman,” balas Zenon cepat. “Zenon Dominic!” Zenon segera memutus sambungan telepon dan mematikan ponselnya supaya Martin tidak lagi mampu menghubungi dia. Karena bila dia meneruskan, Martin mungkin akan terus berbicara hingga lebih dari satu jam dan Zenon tidak mau menghabiskan waktu sepanjang itu hanya untuk berbicara omong kosong. Zenon lantas berbalik, berniat untuk kembali memeluk Xena, tetapi dia malah melihat kedua manik kelabu milik wanita itu telah terbuka lebar, mungkin akhirnya bangun karena mendengar suara percakapan yang begitu panjang. “Sejak kapan kamu bangun?” tanya Zenon dengan terkejut. Xena, “Tidak lama, kamu habis berbicara dengan pamanmu?” “Ya, dia berjanji akan membantu kita untuk menghancurkan citra Peter.” Xena tersenyum cerah, “Benarkah? Dia bersedia begitu saja?” “Kenapa tidak? Lagi pula, dia akan memberikan rekaman itu kepada media, sehingga tidak akan ada yang tahu bila yang menyebarkan rekaman itu adalah Pamanku.” “Kamu benar, masyarakat juga pasti tidak akan mencari tahu si penyebar selama berita yang dikeluarkan berhasil memancing amarah mereka.” kata Xena. Zenon menarik tangannya dari bawah kepala Xena, kemudian berbaring miring dengan menumpukkan kepala di atas tangan. “Bagaimana perasaanmu setelah berhasil membebaskan para hantu dari dendam dan penyesalan?” Xena menurunkan pandangannya dan berpikir sejenak. “sejujurnya, ketika kamu memintaku mengabulkan permintaan hantu untuk pertama kalinya dulu, aku merasa kamu hanyalah orang sinting yang tidak masuk akal. Jika mampu mengusir hantu dengan metode yang cepat, mengapa harus membantu mereka untuk membuang penyesalan?” “Namun, setelah aku melihat masa lalu dari hantu Diane dan Parlan. Aku mulai sadar bahwa dahulu mereka juga manusia, sama seperti kita. Ketika hidup, mereka sudah melalui nasib buruk dan meninggal dalam keadaan penuh penyesalan. Akan sangat tidak etis bagi kita untuk menambahkan penderitaan mereka dengan menghancurkan roh secara langsung.” Manik kelabu Xena terangkat, tampak berkilauan di bawah temaram lampu yang masih redup. “Seumur hidup, aku selalu berfokus kepada diriku sendiri, tidak begitu memperdulikan kesulitan yang sedang di alami oleh orang lain. Tapi, semenjak mendapatkan kemampuan untuk melihat kenangan hantu, tanpa sadar aku telah menumbuhkan rasa simpati dan membuatku memiliki keinginan untuk membantu mereka.” Zenon tersenyum hangat saat mendengarkan penuturan Xena. Dia sengaja tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Xena menumpahkan isi hatinya terlebih dahulu. “Setiap kali aku mendengar mereka mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepadaku, ada sesuatu di dalam hatiku yang menghangat dan seketika aku menjadi bahagia saat melihat mereka mampu tersenyum lagi.” Xena mungkin belum sepenuhnya mampu menanggulangi rasa takutnya terhadap hantu, tapi setidaknya sekarang ia tidak akan menganggap hantu sebagai suatu entitas yang mengganggu ketenangan hidupnya semata. “Akhirnya kamu mengerti,” Zenon melanjutkan, “Dibalik penampilan para hantu yang menyeramkan, terdapat begitu banyak kisah pilu yang terkubur bersama dengan tulang – belulang mereka. Bagiku, hantu adalah suatu entitas yang lahir dari ketidakadilan dunia, penindasan dari manusia lain, dan ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi kekejaman dunia ini.” Zenon telah tumbuh bersama para hantu sejak ia masih kecil, sehingga dia tidak lagi menganggap mereka berbeda dengan manusia. Setiap kali Zenon terpaksa harus menghancurkan roh hantu, ia anggap menganggap dirinya telah melakukan pembunuhan. Masa lalu para hantu itu sudah begitu menyakitkan, dan Zenon malah menuangkan minyak ke dalam api untuk menambahkan penderitaan mereka. “Tapi, tetap saja wujud mereka masih membuatku kaget bila tiba – tiba menampakkan diri.” Kata Xena seraya tertawa. “Mereka itu memang senang menjahili manusia, terutama manusia yang menampakkan rasa takut mereka. Karena itu, jika bertemu dengan para hantu, sebaiknya kamu bertingkah acuh saja.” “Bagaimana mungkin? Wajah mereka terlalu mengerikan untuk kuacuhkan.” Xena bergidik ngeri. Zenon tertawa, “Ya, aku setuju denganmu. Penampilan mereka memang sulit untuk diacuhkan.” Setelah berbincang – bincang cukup lama, keduanya tidak bisa lagi kembali tidur. Cahaya matahari sudah mulai menerobos masuk melalui kaca jendela serta ventilasi udara, sehingga Xena lebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemarin malam, mereka tidak sempat membeli peralatan mandi, akibatnya Xena hanya bisa menggunakan produk mandi yang telah disediakan oleh penginapan. Namun suasana hatinya langsung menjadi buruk saat ingat bila mereka juga lupa membeli pakaian baru dan terpaksa harus memakai pakaian yang lama. Pakaiannya memang tidak kotor, tetapi Xena merasa risih jika tidak mengganti pakaian. Karena itu, setelah mereka check out dari penginapan, Xena segera memaksa Zenon untuk pergi ke toko pakaian terlebih dahulu. Untungnya, di dekat penginapan terdapat banyak toko pakaian yang saling berdampingan sepanjang jalan. Xena memperhatikan toko itu satu – persatu dan memilih sebuah toko pakaian dengan tampilan eksterior paling mewah. Bagi Xena, berbelanja pakaian itu merupakan sesuatu yang paling meningkatkan suasana hati, sehingga dia tidak lagi menampakkan wajah ketus dan bahkan berbicara dengan lebih ramah kepada Zenon. “Mana warna yang lebih bagus?” tanya Xena seraya memperlihatkan dua buah rok pendek berwarna merah muda dan biru pastel. Zenon melirik keduanya secara bergantian, “Keduanya sama – sama bagus.” Xena mengerutkan kening, “Aku menyuruhmu untuk memilih, bukannya menyukai keduanya.” Akhirnya Zenon berpikir terlebih dahulu sebelum berkata, “Baiklah, warna biru terlihat bagus.” “Bukankah merah muda terlihat lebih cantik?” “Ya, merah muda juga bagus.” “Jawablah dengan serius!” Zenon meringis, “Tadi kamu memintaku untuk memilih, tapi kemudian kamu bilang yang satunya lebih baik. Jadi, aku harus memilih yang mana?” Merasa bila jawaban Zenon kurang menyenangkan, Xena akhirnya melangkah pergi dari pria itu dan mencari pakaian lain di barisan yang berbeda. Alih – alih mengambil rok berwarna merah muda atau biru, Xena berakhir dengan rok berwarna abu – abu. Dia membawa setelan blouse dan mengganti pakaiannya di dalam ruang ganti. Berselang beberapa menit kemudian, akhirnya Xena keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju Zenon yang tengah duduk di kursi tunggu. “Apa terlihat bagus?” tanya Xena seraya memperhatikan penampilannya sendiri. Zenon terpaku di tempatnya duduk, manik matanya bergerak dari ujung kepala hingga ke ujung kaki Xena. Biasanya, Xena lebih sering menggunakan celana panjang atau pun dress terusan dengan panjang di bawah lutut. Akan tetapi, kali ini Xena memilih model pakaian yang berbeda. Dia memakai sebuah blouse panjang berwarna beige yang dipadukan dengan rok abu – abu dengan panjang di atas lutut. Memperlihatkan kakinya yang jenjang dan tampak begitu halus. Di mata Zenon, penampilan Xena saat ini terlihat saat manis sampai membuat jantungnya tanpa sadar berdetak lebih cepat dari biasanya. “Zenon.” Panggil Xena, “Apa terlihat buruk?” Zenon buru – buru menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak. Tidak. Tidak. Kamu terlihat bagus, sangat cantik malah. Xena memang lebih cantik saat dilihat secara langsung daripada di televisi.” Begitu Xena mendengar pujian Zenon secara berturut – turut, dia tidak mampu menahan senyumannya dan bahkan suasana hatinya langsung naik hingga ke taraf bahagia. Xena juga bahkan tidak mengerti, mengapa permukaan wajahnya mulai memanas dan ia merasa malu setiap kali melihat tatapan mata Zenon. “Kamu .. Kamu juga harus mengganti pakaian.” ujar Xena untuk mengalihkan topik. “Kenapa? Pakaianku baik – baik saja.” “Jika ingin pergi ke Disneyland, kamu seharusnya memakai pakaian yang lebih cerah. Warna hitam hanya akan membuat suasana menjadi suram.” protes Xena. Selama ini, Zenon selalu mengenakan pakaian berwarna hitam atau pun gelap. Tidak pernah satu kali pun Xena melihat pria itu memakai warna yang lebih cerah atau pun lembut. Mungkin karena gaya berpakaiannya itu juga lah yang membuat aura Zenon terlihat agak suram setiap saat. “Ternyata kamu masih ingat kita akan pergi ke Disneyland!” seru Zenon senang. Dia tidak menyangka bila Xena masih ingat dengan janjinya itu dan bahkan lebih dahulu menyebutkan topik tersebut dalam pembicaraan mereka. “Tentu saja aku ingat. Kau pikir ingatanku buruk!” Merasa bila Zenon buruk dalam menentukan warna pakaian, Xena akhirnya yang memilihkan pakaian untuk Zenon. Ia mengambil sebuah baju turtleneck berwarna putih, celana cokelat muda, dan dipadukan dengan mantel berwarna coffe. Sesuai dengan dugaan Xena, karisma dari pria itu langsung terpancar lebih besar tatkala mengenakan pakaian yang lebih modis dan berwarna terang. “Tampan.” bisik Xena secara reflek yang sialnya didengar oleh Zenon. “Apa?” Zenon pura – pura tidak mendengar supaya Xena mengulangi perkataannya. Xena yang tidak mau kehilangan wajah karena ketahuan memuji Zenon berakhir mengelak. “Bagus! Penampilanmu terlihat bagus!” “Tapi, tadi kamu memujiku dengan kata tam—” “Aku akan membayar dulu!” pekik Xena yang langsung berjalan cepat menuju konter kasir. Zenon tertawa pelan saat melihat tingkah laku Xena yang selalu mudah tersipu setiap kali ia mengucapkan kata – kata yang memalukan. Walau Xena merasa bila tingkahnya memalukan, tapi Zenon selalu menganggap bila dia terlihat begitu manis sampai membuat Zenon merasa dirinya akan terkena diabetes apabila melihat Xena terlalu lama. Seusai membayar pakaian, mereka segera pergi menuju stasiun kereta luar kota supaya bisa mendatangi Disneyland yang lokasinya berada di Provinsi Lle De France. Mereka membeli tiket kereta jurusan Marne-lla-Valée dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari tempat mereka sekarang. Akibat bangun terlalu pagi, Zenon dan Xena berakhir tidur di sepanjang perjalanan. Xena juga merasa begitu rileks hari ini karena dia telah menutup mata batinnya sebelum menaiki kereta. Berselang satu jam kemudian, kereta berhasil sampai di tujuan dan membuat Zenon merasa begitu antusias. Energinya telah terisi selama tidur di dalam kereta, sehingga sekarang dia akan bertingkah seperti sebuah mesin yang kelebihan bahan bakar. “Di mana taman bermainnya? Apakah sudah dekat?” “Kita harus naik shuttle bus terlebih dahulu, baru bisa sampai di Disneyland,” balas Xena sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah lama tertidur di kursi kereta. Dibandingkan dengan Zenon yang merasa antusias karena sebentar lagi bisa pergi ke tempat yang belum pernah ia kunjungi, Xena malah merasa antusiasnya meningkat setelah melihat Zenon tampak begitu bersemangat. Tingkah pria itu mengingatkan Xena akan dirinya sendiri saat baru pertama kali pergi ke taman bermain disney ini. Tepat setelah mereka turun dari shuttle bus, Xena segera membicarakan beberapa hal yang penting kepada Zenon. “Zenon, taman bermain biasanya sangat ramai oleh manusia, ada begitu banyak anak – anak mau pun orang dewasa yang berkerumun di dalam sana. Mungkin tingkat keramaiannya akan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan stasiun atau bandara. Apa kamu sudah meminum obatmu?” Zenon mengangguk. “Jangan khawatir, aku sudah meminumnya.” “Bagus. Ketika sampai, kamu tidak boleh pergi terlalu jauh dariku, akan sangat buruk bila tiba – tiba kamu terkena serangan panik seorang diri,” peringat Xena. Zenon mengangguk sekali lagi. “Aku mengerti, aku pasti tidak akan pergi jauh – jauh!” Xena menyunggingkan seulas senyum tipis. “Kalau begitu, mari kita pergi sebelum hari bertambah siang.” Mereka berjalan beriringan menuju gerbang taman bermain yang luas. Sesuai dengan perkiraan Xena, taman bermain Paris memang sangat ramai oleh anak – anak dan orang dewasa yang ingin menikmati liburan mereka. Para anak – anak akan langsung berlarian begitu melihat gerbang disney, sedangkan orang tua mereka akan mengikuti dengan wajah yang khawatir. Xena lekas berjalan ke arah gerbang, tetapi langkahnya terhenti saat sadar bila Zenon tidak bergerak satu inchi pun dari tempatnya berdiri. Xena menoleh ke belakang, menatap wajah Zenon yang terlihat ragu – ragu untuk melangkah maju. “Ada apa?” Zenon tersenyum kaku. “Aku tidak tahu akan seramai ini.” Xena akhirnya kembali berjalan ke samping Zenon dan menautkan jari jemari mereka dengan erat. “Tidak apa. Kamu bukan lagi pembawa kesialan untuk manusia, tidak akan ada yang celaka hanya karena kamu berdiri di tengah – tengah kerumunan manusia. Jika memang setakut itu, kamu bisa terus memegang tanganku.” “Terus memegang tanganmu saat kita bermain?” “Ya, memegang tanganku.” “Bukankah kita akan terlihat seperti sedang berkencan?” • • • • • To Be Continued 19 Oktober 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN