06 Young CEO

1881 Kata
***** Keesokan Paginya, Stiller Corps Headquarter ***** Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi saat ruangan berkapasitas 100 orang itu dipenuhi oleh pria dan wanita berpenampilan formal dan rapi. Mereka terdiri dari beragam rentang usia bahkan ras. Wajar saja, New York adalah tempat berkumpulnya hampir semua ras dari seluruh dunia. Orang-orang ini adalah jajaran direksi Stiller Corps dari semua anak perusahaan dan divisi. Tak ketinggalan, Graham dan Gary juga telah duduk manis di kursinya yang terletak diujung tepat disamping kiri kursi CEO. Tak berapa lama, serombongan orang memasuki ruangan rapat yang langsung disambut oleh jajaran direksi dengan berdiri dari duduknya dan menunduk hormat pada orang yang memimpin rombongan. Ia adalah Melvin Hill, CEO sementara Stiller Corps. Mr. Hill segera duduk dikursinya diikuti dengan Gizca yang duduk disampingnya. Sedangkan Adrian langsung berjalan menuju podium disudut ruangan dan Gio duduk di sebelah kanan kursi CEO, berhadapan langsung dengan sang ayah, Graham. Setelah seluruh peserta rapat kembali duduk di kursinya masing-masing, Adrian segera membuka agenda rapat hari ini. “Good morning! Terima kasih atas kehadiran bapak-ibu direksi sekalian. Agenda rapat hari ini adalah untuk memperkenalkan CEO baru Stiller Corps yang akan dikenalkan secara langsung oleh Mr. Melvin Hill selaku CEO aktif Stiller Corps. Untuk mempersingkat waktu, kepada Mr. Hill dipersilahkan.” Mr. Hill berdiri dari duduknya dan memulai sambutannya. “Terima kasih, Mr. Cavaro.” Ujar Mr. Hill dengan senyum simpulnya. “Seperti yang kita semua ketahui, saya hanyalah CEO sementara Stiller Corps yang kita cintai ini. Saya sangat berterima kasih kepada Alm. Mr. Gavin Stiller dan istrinya yang telah memberikan saya kesempatan langka ini. Sebelum beliau wafat, Mr. Stiller meninggalkan wasiat untuk memberikan seluruh asetnya pada sang putri yang saat itu masih bayi. Dan saat ini, setelah 20 tahun berlalu akhirnya pemilik resmi Stiller Corps telah kembali, dan saya dengan resmi mengumumkan bahwa saya akan mengembalikan posisi saya sebagai CEO kepada Ms. Gizca Angela Stiller.” Mr. Hill mengulurkan tangannya kearah Gizca yang duduk disampingnya. Gizca pun menerima uluran tangan Mr. Hill dan segera bangun dari duduknya. Ia merapikan pakaiannya sebentar sebelum melakukan sambutannya. “Terima kasih, Mr. Hill dan terima kasih untuk semua yang telah hadir di sini. Saya adalah Gizca Angela Stiller, putri tunggal Gavin Padraig Stiller yang akan mengambil alih posisi Mr. Hill dalam beberapa bulan kedepan. Karena saya masih sangat awam dan amatir dalam hal ini, tolong bantuan semuanya agar Stiller Corps bisa menjadi lebih baik kedepannya. Sekian.” Setelah memberikan sambutan singkatnya, Gizca kembali duduk di kursinya. Beberapa orang terlihat berbisik membicarakan betapa mudanya CEO baru mereka. Graham dan Gary terlihat ogah-ogahan, sementara Gio tersenyum bangga pada adiknya yang terlihat santai tanpa sedikitpun aura gugup yang terlihat. Mr. Hill segera kembali mengambil alih jalannya rapat. “Untuk menyambut CEO baru kita, akhir pekan ini akan diadakan pesta penyambutan di ballroom Stiller Hotel. Saya harap hadirin sekalian bisa menghadirinya beserta dengan karyawan lainnya.” “Dan atas permintaan Ms. Stiller, saya mohon agar tidak ada karyawan yang mempublikasikan sosok Ms. Stiller kepada media, karena bagaimanapun berada diposisi ini akan sangat merubah kehidupan pribadi Ms. Stiller. Kami mohon kerjasama rekan-rekan semuanya.” “Untuk operasional perusahaan, saya sendiri masih akan ikut berpartisipasi selama beberapa bulan kedepan. Dan Ms. Stiller disini meminta untuk pertemuan pribadi dengan masing-masing divisi dimulai dari besok, jadi mohon dipersiapkan. Jadwal dan detailnya, nanti Mr. Cavaro akan mengabari melalui email perusahaan.” Jelas Mr. Hill panjang. Mr. Hill menganggukkan kepalanya kepada Adrian yang masih berdiri dibalik podium dan ia menyerahkan kembali jalannya rapat pada asistennya itu. “Demikian agenda rapat hari ini, terima kasih!” Seru Adrian mengakhiri rapat. Ia segera turun podium dan mengikuti Mr. Hill serta Gizca yang telah berjalan keluar ruangan meninggalkan para jajaran direksi yang juga mulai bersiap-siap kembali pada pekerjaannya masing-masing. ***** “Puas kamu melihat anak kampung itu bisa duduk di kursi itu?” Tanya Gary sambil mengeratkan rahangnya pada Gio. Saat ini ruang rapat telah sepi, hanya tersisa Gary dan Gio yang sengaja ditahannya agar tidak pergi lebih dulu. “Tentu saja aku senang melihat adikku mendapatkan haknya kembali.” Jawab Gio dengan smirk khasnya yang mengembang disudut bibirnya. “Gak usah jadi pahlawan kesiangan deh! Aku ini kakakmu, aku tahu bagaimana cara kerjamu.” “Memangnya bagaimana?” Gary mendekatkan wajahnya pada telinga Gio, “kau mungkin bisa menipu semua orang dengan senyum manismu, tapi apa kau lupa siapa yang telah menutupi semua perbuatanmu dulu? AKU! Jadi, jangan berani-berani kau menusuk kami dari belakang, adik kecilku!” Gary menepuk pundak Gio pelan dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Gio yang masih menampilkan senyum manis di wajahnya. Tak berapa lama, iapun ikut keluar dari ruang rapat dan segera kembali ke posisinya. ***** Seharian ini agenda Gizca hanyalah mengikuti setiap kegiatan Mr. Hill sambil belajar cara kerja perusahaan. Kemanapun mereka pergi, Adrian selalu ada di sekitar mereka, begitupula Gio. Seperti saat jam makan siang ini, mereka telah berada di cafeteria kantor yang cukup nyaman dan luas. “Kak, kapan Harvey akan menyelesaikan pengurusan dokumen pindah kampus ku?” Tanya Gizca pada Gio di sela makan siangnya. “Kamu masih kuliah, Giz?” Tanya Mr. Hill menyela. “Iya Mr. Hill, seharusnya 1 tahun lagi aku lulus.” Jawab Gizca. “Kampusmu di Indonesia masih memprosesnya. Harvey bilang mungkin 2 sampai 3 hari lagi selesai.” Jelas Gio. “Kalau saya boleh tahu, Gizca dulunya kuliah di jurusan apa?” Tanya Mr. Hill kemudian. “Business Management, sir.” Jawab Gizca cepat. “Syukurlah, aku tidak harus menjadi gurumu nanti.” Gumam Adrian yang masih asik dengan makanannya. Gizca mengernyitkan dahinya tanda tak paham dengan maksud Adrian, namun ia tak mengucapkan sepatah katapun pada pria dihadapannya itu. “Kau nanti kuliah yang benar dan pahami betul-betul pekerjaan Mr. Hill, jangan menyusahkanku saat kau sudah mengambil alih perusahaan sepenuhnya nanti.” Lanjut Adrian memberikan penjelasan dengan nada sedikit acuh. “Jangan mengguruiku! Bukan aku yang memintamu mendampingiku, kau sendiri yang mengajukan diri menjadi asistenku.” Balas Gizca sinis. “Hah…aku hanya tidak mau jadi pengangguran setelah Mr. Hill pensiun nanti. Jangan kira aku menyukaimu!” Sanggah Adrian. “Aku bisa memberikanmu pekerjaan di bidang lainnya kalau kau mau.” Ujar Gizca. “Dan turun dari lantai CEO? Bisa hilang pamorku didepan para gadis!” Seru Adrian dengan kekehan renyahnya. Mr.Hill dan Gio yang menyaksikan keduanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka tanpa ingin menengahi perdebatan kecil itu. Flashback “Aku menerima tawaranmu Mr.Hill.” “Benarkah?” Tanya Mr.Hill. “Hey, aku tidak ingin bekerja bersama denganmu!” Seru Gizca mencoba protes. “Kau tidak punya pilihan, nona Gizca! Karena hanya aku dan Mr.Hill yang mengetahui detail proyek-proyek Stiller Corps. Giovanni mungkin bisa menjadi asistenmu, tapi dia tidak akan bisa meyakinkan klien untuk percaya lagi pada perusahaan. Kau tahu kan background keluarga Giovanni seperti apa? Kalau kau ingin kehilangan banyak proyek dengan memperkerjakannya, silahkan! Aku tak akan rugi apapun, nona Gizca!” Jelas Adrian panjang lebar. Gizca yang terlihat kesal kemudian menumpukan satu tangannya pada meja dan memijat keningnya untuk berfikir lebih keras. Suasana kembali sunyi untuk sesaat menunggu Gizca membuat keputusan. “Aku tak akan membiarkan Giovanni ular itu semakin dekat dengan aset-aset tuan Gavin. Bahkan posisi manager finance sudah terlalu bagus untuknya!” Batin Adrian. “Aku juga tinggal disini, jadi akan lebih mudah untuk kita berkomunikasi nantinya.” Tambah Adrian. “Bagaimana, Gizca?” Tanya Mr.Hill tak sabar menunggu keputusan gadis bermata hazel tersebut. “Alasan Adrian memang masuk akal Giz. Jangan merasa tidak enak padaku kalau kau menjadikannya asistenmu. Lagipula kita juga masih satu kantor, kau bisa memanggilku kapapnpun kau membutuhkanku.” Kata Gio memberikan saran dengan halus. Gizca mengambil nafasnya perlahan kemudian membuangnya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Gio dalam, “Maafkan aku, kak!” “Kau menyetujui saranku, Giz?” Tanya Mr.Hill yang dibalas dengan anggukan Gizca. Adrian yang melihatnya menampilkan senyum miring dari sudut bibirnya. Flashback End Kantin itu kini telah dipenuhi oleh karyawan Stiller Corps yang sedang beristirahan makan siang. Tak jarang terdengar bisik-bisik membicarakan Gizca yang baru pertama kali mereka lihat. Beberapa gadis juga terdengar membicarakan perdebatannya dengan Adrian karena mereka duduk di tengah ruangan. “Kudengar gadis itu CEO kita yang baru!”  “Apa gadis itu anak Mr.Hill?” “Kudengar dia pemilik asli perusahaan ini.” “Maksudmu dia anak CEO lama yang sudah meninggal itu?” “Iya. Dia masih muda sekali.” “Apa Mr.Cavaro akan berhenti juga kalau Mr.Hill pensiun nanti?” “Kuharap tidak. Dia adalah semangatku untuk berangkat ke kantor. Tanpanya tak ada lagi penyedap mata kita!” “Tapi kalau Mr.Cavaro tidak berhenti dan jadi asisten CEO baru kita bagaimana?” “Apanya yang bagaimana?” “CEO kita masih sangat muda dan cantik. Bagaimana kalau dia suka pada Mr.Cavaro? Kita bisa kalah saing nanti.” Adrian yang mendengar gosip itu dengan samar jadi tersenyum-senyum sendiri. Menjadi pusat perhatian para karyawan adalah makanan sehari-harinya dan ia juga sangat menikmatinya. Namun mendengar kemungkinan gadis didepannya ini bisa saja menyukainya nanti malah membuat senyum Adrian semakin mengembang. Ia tidak bisa memungkiri bahwa Gizca memang menarik dan cantik, ia tak akan menolak jika Gizca memang menyukainya. Hanya saja gadis itu sangatlah acuh pada keberadaannya. Mengingat hal ini, senyum Adrian langsung padam, berganti raut wajah datar yang tak bisa ditebak. Ia melirik Gizca yang ada dihadapannya, memandangnya dengan tatapan tajam. “Bermimpilah! Mungkin itu akan mengabulkan keinginanmu!” Ujar Gizca lirih yang hanya bisa didengar Adrian. Tanpa Adrian sadari, ternyata Gizca memang memperhatikannya sejak tadi. Setiap perubahan raut wajahnya tak luput dari pandangan Gizca. Adrian pun hanya bisa mencengkeram sendok dan garpu ditangannya semakin erat setelah mendengar reaksi dingin Gizca yang membuatnya kesal. Dddrrttt…ddrrttt… Getar ponsel Adrian mengalihkan perhatian keempat orang yang sedang duduk bersama itu pada benda pipih persegi panjang yang ada di atas meja. “Terima kasih pada siapapun yang membuat ponsel itu berbunyi.” Batin seseorang. Adrian segera melihat pemberitahuan dari ponselnya yang terus bergetar. Ia beberapa kali menggerakkan jarinya diatas layar kaca ponsel. “Mr.Hill, 20 menit lagi anda dijadwalkan bertemu dengan CEO Hanil Farmasi untuk membahas investasi vaksin yang minggu lalu mereka ajukan.” Ujar Adrian setelah memastikan pemberitahuan dari ponselnya. “Baiklah!” Mr.Hill segera menyudahi makan siangnya. “Kau ikut juga Giz?” “Iya, sir.” “Adrian, segera siapkan berkas-berkasnya!” “Baik, sir.” “Kau duluan saja Giz, nanti aku akan menyusulmu.” Pinta Gio. “Tidak perlu, Gio. Kau kembali saja ke ruanganmu!” Perintah Mr.Hill. “Gizca tidak apa-apa, kan?” “Ah, iya kak. Aku akan baik-baik saja. Nanti kalau aku perlu kakak, aku akan memberitahu kak Gio.” Jelas Gizca yang dibalas anggukan dan senyuman Gio. “Baiklah kalau begitu.” Balas Gio. “Ayo, kita siap-siap!” Mr.Hill segera meninggalkan cafeteria diikuti Gizca dan Adrian di belakangnya. Namun sebelum berjalan, Adrian sempat membisikkan sesuatu ke telinga Gio, “dia tidak akan membutuhkanmu karena dia punya aku!” “Tapi Gizca hanya percaya padaku, Mr.Cavaro!” Balas Gio dengan tenang. “We’ll see!” Adrian segera menyusul Mr.Hill dan Gizca yang mulai menjauh dari ruangan itu. Gio kembali duduk ditempatnya dan menyelesaikan makan siangnya dalam diam. ***** Hari-hari berikutnya pun Gizca masih terus mengikuti segala kegiatan Mr.Hill dengan bantuan Adrian di sana sini. Meskipun perdebatan-perdebatan kecil masih selalu mewarnai keseharian mereka, baik dirumah maupun dikantor. Seminggu setelahnya, acara pesta penyambutan CEO baru dilaksanakan sesuai dengan rencana awal. Hampir seluruh karyawan Stiller Corps yang ada di New York hadir malam itu. Jumlahnya mungkin sekitar lebih dari 1000 orang, menjadikan Stiller Hotel sangat ramai. Tak lupa juga jurnalis hadir untuk meliput penyambutan sang CEO. Namun pengamanan yang ketat membuat mereka kesulitan untuk mendapatkan gambar petinggi Stiller Corps yang baru. Karyawan yang hadirpun tak seluruhnya bisa melihat atau bertemu langsung dengan Gizca karena keadaan yang memang sangat ramai. Meskipun demikian, acara tetap berjalan dengan lancar dan tanpa gangguan yang berarti. Perlahan tapi pasti, Gizca mulai bisa menyesuaikan diri dengan status barunya. Iapun yang juga mulai masuk kuliah kembali, mampu menyeimbangkan jadwalnya dengan baik. Melelahkan namun juga menyenangkan, itulah yang Gizca rasakan saat ini. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN