07 Hangover Soup

1448 Kata
1 Tahun Kemudian 6 bulan sudah Gizca menjalankan aktifitasnya sebagai CEO Stiller Corps secara mandiri tanpa bantuan Mr.Hill lagi. Meskipun tak jarang ia berbeda pendapat dengan Adrian karena sikap keras kepala dan cepat menyimpulkan, namun pada akhirnya ia seringkali harus mengakui kekalahannya pada lelaki berusia 27 tahun itu. Bagaimanapun Adrian memang lebih lama ada di bidang ini dan berpengalaman. Cara Gizca bekerja yang sangat berbeda dengan Mr.Hill memberikan perubahan pada pola kerja setiap karyawannya. Hal ini juga berlaku pada Graham dan Gary yang terus direpotkan Gizca karena gadis ini ternyata jauh lebih teliti daripada Mr.Hill. Graham dan Gary tak lagi bisa mempengaruhi setiap keputusan sang CEO. Meskipun demikian, Gizca bukanlah tipe CEO yang semena-mena, karena tiap masukan dari karyawannya selalu menjadi bahan pertimbangannya mengambil keputusan. Dia hanya tidak bisa dipengaruhi dan dipaksa oleh siapapun. Dan ini memang adalah sifat alamiah Gizca sejak kecil. Hubungannya dengan Gio pun masih sangat baik. Bahkan tak jarang Gio selalu ada disisinya hampir 24 jam, hampir tak ada bedanya dengan Adrian jika saja Gio bisa mengatur schedule adik sepupunya ini. Bisa dikatakan bahwa Giovanni adalah sahabat Gizca di kota besar ini. ***** Weekend adalah waktu yang tepat untuk bersantai, mengistirahatkan sejenak pikiran dari sibuknya aktifitas di hari-hari sebelumnya. Tak terkecuali gadis yang belum lama ini menyelesaikan pendidikan bachelornya. Ya, meskipun ia tak akan sepenuhnya beristirahat, karena semenjak terjun langsung ke dunia bisnis, ia telah menjelma menjadi seorang workaholic yang akan selalu siap bekerja bahkan saat tengah malam atau hari minggu sekalipun. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi saat ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur untuk sarapan. Begitu memasuki ruangan serba hijau pastel itu, perhatiannya tertuju pada seseorang yang sedang sibuk disamping kompor sedang menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dimasak. Dia adalah Adrian yang masih terlihat kusut khas baru bangun tidur. Namun penampilannya ini tak pernah bisa menyembunyikan sosoknya yang memang setampan dan segagah model kelas A. Gizca berjalan mendekati Adrian yang masih belum sadar akan kehadirannya. Ia berdiri tak jauh dari tempat Adrian dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada lemari es dibelakangnya. Kedua tangannya ia lipat di depan d**a sembari terus memperhatikan setiap gerak Adrian. “Kau sedang apa?” Tanya Gizca kemudian. Adrian yang sedikit kaget mengalihkan pandangannya pada Gizca. Tatapannya terlihat tidak terlalu fokus, masih terlihat sangat jelas betapa mengantuknya pria ini. “Aku minum terlalu banyak semalam, hangover kali ini terlalu parah.” Jawabnya dengan suara serak. “Aku mau membuat sup untuk meredakannya.” “Kenapa tidak meminta bibi untuk membuatnya? Kau bahkan belum bisa membuka matamu dengan benar.” “Sudah berapa lama kau tinggal disini? Masa' kau tidak tahu kalau masakan bibi tidak sesuai dengan seleraku?” Gizca memutar kedua bola matanya, merasa jengah dengan Adrian yang sangat pemilih. “Duduklah! Aku akan membuatkannya untukmu!” Pinta Gizca. Ia menarik lengan Adrian, membawanya menuju kursi di samping meja bar. “Kau bisa masak?” Tanya Adrian dengan tidak yakin. Namun Gizca tidak menjawab pertanyaannya dan malah terus melakukan aktifitasnya memasak sup. “Kau tahu aku pemilih, kan? Bagaimana jika aku tidak suka? Kenapa kau mau memasak untukku? Mengapa kau peduli padaku? Apa kau khawatir melihatku seperti ini? Apa kau menyukaiku? Aku jadi terharu kau perhatian padaku, nona Gizca Angela Stiller.” Ujar Adrian dengan petanyaan yang bertubi-tubi. Sepertinya rasa kantuk pria ini telah menguap dengan sangat cepat. Gizca yang kesal mendengarnya kembali memutar kedua bola matanya. “Berisik! Diam kau, Cavaro!” Bentak Gizca. “Aku hanya tidak mau melihat dapurku hancur karenamu!” “Ah, kau meremehkanku! Begini-begini aku lulusan terbaik sekolah memasak di Italia.” Balas Adrian tidak terima. “Kalau saja aku tidak masuk kedunia bisnis, aku bisa jadi Chef terkenal saat ini.” “Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Tidak ada yang menahanmu untuk bertahan bersamaku.” Adrian yang sejak tadi tak bisa diam, tiba-tiba mengatupkan kedua bibirnya tak lekas memberikan jawaban atas pertanyaan bos cantiknya. Gizca membalikkan tubuhnya, menatap Adrian yang tertunduk diam. Ia sendiri heran, mengapa pertanyaan sesederhana ini bisa membungkam mulut pria berkulit eksotis itu. “Kenapa kau tidak menjadi Chef saja kalau itu memang yang kau sukai?” Tanya Gizca kembali. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih ramah. Adrian menyatukan jari-jarinya dengan pandangan mata tetap tertunduk. “Aku sudah berjanji pada tuan Gavin untuk menjagamu setelah kau kembali.” Gumam Adrian lirih, lebih untuk didengarnya sendiri. Gizca yang tak mendengar jawaban Adrian dengan jelas memintanya untuk mengulangi jawaban pria itu. “Kau bilang apa?” Adrian kini menaikkan kepalanya, memandang Gizca dengan lekat dan tajam hingga kedua bola mata abu-abu itu terlihat jelas, sangat atrractive dan menghanyutkan. Gizca yang dipandang dengan tatapan seperti itu menjadi kikuk sendiri. Ia menggerakkan bola matanya tak tentu arah, bingung, sedangkan jantungnya seakan berdetak semakin cepat seiring dengan tatapan Adrian yang semakin tajam. “Supmu akan jadi overcook kalau tidak kau perhatikan.” Ucap Adrian mengalihkan pembicaraan. Mendengar peringatan asisten pribadinya itu, Gizca segera membalik tubuhnya untuk mematikan kompor. Ia kemudian mengangkat sup yang telah mendidih dan  menuangkannya ke dalam dua buah mangkuk dan segera menyajikannya diatas meja bar. Tak lupa pula dua gelas air putih ikut ia sajikan. Setelahnya Gizca duduk dikursi kosong berseberangan dengan Adrian. “Makanlah!” Perintah Gizca. Adrian segera mengambil sendok dan mencicipi hasil masakan Gizca. Sementara Gizca sendiri tampak tak terlalu peduli dengan reaksi Adrian setelah mencoba sup buatannya. Ia lebih memilih untuk fokus pada sarapannya sendiri. “Hhmm…lumayan. Tidak terlalu buruk.” Komentar Adrian. Ia yang awalnya sangat berhati-hati saat mencoba masakan Gizca, kini kembali menikmati supnya tanpa sedikit keraguan. Sejujurnya, itu adalah salah satu hangover soup terbaik yang pernah Adrian coba. Tentu saja selain sup buatannya sendiri, tak ada yang bisa menandinginya. “Tumben kau mau makan berdua denganku? Jangan-jangan, kau benar-benar sudah mulai menyukaiku ya?” Tanya Adrian kemudian dengan wajah yang berbinar-binar. “Cepat selesaikan makanmu, Cavaro!” Balas Gizca yang lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Adrian. “Oh, ayolah…kau suka padaku kan? Iya, kan? Memangnya siapa juga yang bisa menolak pesonaku yang tak ada duanya ini? Sudah tampan, tidak suka main perempuan, rajin, pintar, dapat diandalkan, badan bagaikan dewa Yunani, punya selera humor yang tinggi, dan-” “Dan sangat berisik!” Sahut Gizca memotong ucapan Adrian yang begitu membanggakan dirinya sendiri. Adrian menatap tajam Gizca dengan kesal, sangat kesal karena lagi-lagi ia diabaikan oleh gadis cantik dan menarik yang sayangnya adalah bosnya ini. Namun justru sikap cuek Gizca-lah yang membangkitkan jiwa berisik dan cerewet seorang Adrian Cavaro. Gizca tahu betul bahwa saat berada dihadapan orang lain, terutama wanita, Adrian akan menjadi sangat cool dan berkharisma. Gizcapun tak habis pikir, mengapa pria ini menjadi begitu menyebalkan saat hanya berdua dengannya. “Kau menyebalkan, miss Gizca Stiller!” Sungut Adrian tidak terima. Gizca tak menanggapi ucapan Adrian, ia malah sibuk membersihkan alat makannya setelah sup dimangkuknya habis. Gizca kemudian berjalan meninggalkan ruang makan, meninggalkan Adrian yang masih belum juga selesai memakan supnya. ***** Saat ini Gizca tengah berada di ruang belajarnya, memeriksa beberapa berkas yang belum sempat ia sentuh beberapa hari sebelumnya. Sebenarnya ia bisa saja meminta pegawainya yang berjumlah ribuan itu untuk sekedar mengecek file-file penting, namun kepribadian Gizca yang sangat teliti tak mengizinkan dirinya sendiri untuk berleha-leha. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang telah bertaruh nyawa untuk melindungi semua asetnya saat ini. Tok tok tok Bunyi pintu ruang belajar Gizca diketuk dari luar. “Masuk.” Ujar Gizca mengizinkan siapapun itu yang sedang berada di luar ruangan. Adrian membuka pintu perlahan, ia mengintip kegiatan Gizca sejenak sebelum benar-benar melangkahkan kaki sepenuhnya menuju meja Gizca. “Ada apa?” Tanya Gizca dengan menatap datar Adrian. Adrian menghela nafasnya perlahan, “Green tea latte, miss!” Jawab Adrian seraya meletakkan secangkir green tea latte buatannya keatas meja kerja Gizca. Sudah menjadi kebiasaan pria hispanic ini untuk membawakan minuman favorit Gizca setiap kali gadis ini mulai menenggelamkan dirinya dalam lautan file-file berkas yang sebenarnya masih bisa ditunda untuk dikerjakan. “Thanks!” Balas Gizca dengan senyum simpulnya. Ia segera mengambil cangkir dan menyeruput cairan hijau itu sedikit demi sedikit. “Jangan terlalu keras bekerja! Otak dan tubuhmu juga butuh istirahat!” Seru Adrian memperingatkan. “Tidak banyak, kok.” “Berbicara tentang pekerjaan, aku baru saja menerima email dari Santos Tech. Mereka mengingatkan tentang upgrade kontrak hari senin.” “Dimana laporan perkembangan sistem yang mereka buat? Apa kau sudah memberikannya padaku?” “I-itu…se-sebenarnya…m-mereka belum memberikan la-poran-nya.” Jawab Adrian terbata. “Sudah berapa lama kita bekerja sama dengan Santos Tech?” Tanya Gizca serius. “5 tahun. Biasanya mereka selalu tepat waktu memberikan laporan, tapi sudah sekitar 6 bulan ini mereka sering terlambat mengirimnya.” “Maksudmu sejak aku memengang kendali penuh di perusahaan, mereka lalu berubah?” Adrian mengangguk. “Itu sama saja dengan tidak menghargaiku.” Gerutu Gizca sambil mencengkeram ballpoint ditangannya dengan erat. “Kabari mereka kita tidak akan meneruskan kontrak!” “Tapi Giz, mereka adalah salah satu sumber pemasukan utama Stiller Corps.” “Siapa yang peduli? Mereka bahkan tidak mau menghargaiku sebagai investor.” “Coba dipikirkan lagi! Siapa tahu kali ini mereka sedang ada masalah internal. Kita temui dulu, tanyakan kenapa mereka berubah? Kau tidak harus langsung setuju untuk berinvestasi kembali. Setidaknya beri mereka kesempatan untuk menjelaskan!” Gizca terlihat mempertimbangkan saran Adrian. Ia menumpukan dagunya pada kedua tangannya yang bertaut. Inilah yang Gizca sukai dari cara kerja Adrian yang selalu berpikiran positif dan berkepala dingin. Pria itu selalu bisa menghindarkan Gizca dari mengambil keputusan yang gegabah. Ting Suara pemberitahuan dari ponsel Adrian membuyarkan pikiran Gizca. Adrian mengambil ponselnya dan mengeceknya. Seketika raut wajahnya berubah tersenyum cerah. “Ada apa dengannya tiba-tiba tersenyum seperti itu?” Batin Gizca. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN