Sembilan

1641 Kata
Kaki Naila menuruni anak tangga, membawa satu koper yang ditariknya. Sesampainya di bawah, ia menghampiri Papa mertuanya ---lebih tepatnya, mantan Papa mertua--- juga kakak ipar. "Om. Naila pergi dulu. Makasih selama beberapa bulan ini udah sayangin Naila kayak anak sendiri. Makasih buat semuanya. Naila mau pamit." "Panggil Papa aja, nggak pa-pa Naila. Kamu jangan terlalu masukin kata-kata Mama ke dalam hati. Dia cuma lagi emosi." Satria tak ingin Naila memiliki rasa bersalah terhadap kematian Aksa. Itu akan menyiksa batinnya sendiri. "Nggak pa-pa, kok, Pah. Semua ucapan Mama itu bener. Gara-gara aku Aksa meninggal." "Aksa meninggal itu karena takdir Tuhan. Jangan nyalahin diri kamu sendiri. Kamu harus janji sama Kakak, kamu jangan nyalahin diri kamu. Lagipula, Aksa nggak bakal suka." Naila mencoba tersenyum menanggapi pesan kak Angga. "Makasih ya, Kak. Kakak udah aku anggap kayak kakak aku sendiri. Aku seneng bisa kenal sama Kakak, aku seneng bisa bikin kue bareng Kakak. Pokoknya makasih buat semuanya." Nada ketulusan keluar dari mulutnya. Mengisyaratkan kalau dia benar-benar bahagia karena pernah ikut serta menjadi bagian dalam keluarga ini. Mata Naila beralih lagi kepada Satria. Satria membuka kedua tangannya, menyuruh Naila untuk memeluknya. Naila tidak bisa menolak, lekas dia memeluk Satria dengan hangat. "Papa seneng punya menantu seperti kamu. Kamu membuat hidup anak saya jadi lebih berwarna. Saya bangga Aksa telah mencintai perempuan seperti kamu. Tapi, mungkin sampai di sini. Kapan-kapan, kalau kamu kangen, kamu boleh dateng ke sini. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu. Jangan pernah berpikir Papa benci sama kamu. Dan semoga, suatu saat nanti, Mama bisa mengerti." Di balik punggung Satria, Naila lihat foto berukuran besar yang terpajang di tembok ruang tamu dengan sangat kokoh. Ia harap, foto pernikahan itu tak akan pernah dilepas. Tapi, ia tak akan terlalu berharap. Cepat atau lambat, Mama Belinda akan mencopot foto bersejarah itu, mengingat dia yang sangat membenci Naila. Selang waktu beberapa detik, Satria melepaskan pelukannya, melemparkan senyum kepada Naila. Senyum yang mengingatkan Naila kepada Almarhum Aksa. "Sekali lagi, makasih, Pah." Satria mengangguk. "Titip salam buat Mama." "Iya." "Kakak anter, ya." Angga menawari. "Nggak usah, Kak. Ada satu tempat yang harus Naila kunjungin." Angga tidak bisa memaksa. Ia mengangguk samar. "Ya udah hati-hati Naila." Angga membawa Naila ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan selama beberapa saat. Naila merasa beruntung, Om Satria dan Kak Angga masih mau menganggapnya keluarga. Hubungan kakak-adik ipar dalam jiwa Naila dan Angga sangat melekat. "Kakak janji bakal terus temuin kamu. Jangan sedih, ya. Aksa nggak bakal suka liat kamu cengeng." Angga selalu mencari cara supaya Naila bisa tetap kuat. Jujur dia sangat menyayangi Naila semenjak melihatnya terluka kehilangan Aksa yang begitu mencintainya. Dulu, Aksa dan Angga selalu berjanji. Agar mereka bisa saling menyayangi pasangan masing-masing, kelak. Aksa bisa menyayangi istri Angga, Angga juga yang bisa menyayangi istri Aksa. Pernah bermimpi untuk doble date, sama-sama bahagia. Namun, itu semua hanya sebatas angan yang kini tak akan pernah terwujud. Aksa telah meninggalkan istrinya sendirian. Angga berjanji, akan membuat kesedihan Naila menjadi berkurang. *** Tiba di rumahnya dan Aksa terdahulu, Naila membuka kunci pintu yang seminggu ini tidak ia singgahi. Membuka rumah ini, akan kembali membuka kenangan Aksa. Sebelum datang ke rumah ayahnya, Naila akan tinggal di sini selama satu hari. Masuk ke ruang tamu, Naila lihat dirinya dan Aksa sedang mengepel lantai sambil bercinta. Kalau dalam film, seperti pengulangan adegan yang telah lalu, berubah warna menjadi hitam-putih. Kakinya bagai terlilit tanaman liar, memaksa memaksa tubuh agar tetap tinggal. Mengenang masa-masa indah. Bak rekaman yang kembali terputar, fragmen nostalgia berkelebat dalam benaknya. Naila berusaha menahan air mata, jangan menangis lagi. Dia datang ke sini bukan untuk menangis. Tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Naila tak mau berandai-andai bagaimana jika Aksa tidak meninggalkannya pergi, maka mereka akan tinggal di sini lagi, bersama-sama. Ruangan itu dipenuhi foto-foto Aksa dan Naila. Dari semenjak mereka pacaran, sampai menikah. Semua foto romantis itu begitu menyiksanya. Terasa menusuk. Di mana ada pertemuan, akan ada perpisahan. Dan lihatlah foto-foto kebersamaanmu ketika dengannya, semoga bisa sejenak menahan rindu. Efeknya mungkin kamu akan menangis. Menjelang sore, Naila habiskan waktu di ruang tv. Duduk menyandarkan bahu di sofa. Menonton acara-acara yang membuat suasana hatinya kembali normal. Naila memilih acara komedi, agar bibirnya melukiskan tawa. Dulu Aksa sering mengganti channel tv sesuka hatinya, mengganggu Naila ketika ia sedang serius menyaksikan acara gosip. Sekarang, tak akan ada mengganggunya. Ia bisa sepuasnya menonton apa pun. Dan nyatanya, tak ada Aksa duduk di sebelah dan menganggunya, itu sama sekali tidak menyenangkan. Seharusnya Naila tertawa ngakak ketika para komedian melakukan aksi konyol, tapi ia hanya melekukkan senyum tipis. Dalam rumah ini, hanya terdengar suara dari speaker tv, selebihnya, suasana sangatlah sepi. Naila masih bisa merasakan kehadiran Aksa. Seiring berjalannya waktu, malam telah menjemput. Naila menidurkan tubuhnya di atas kasur. Matanya memandang area kasur di sebelah, biasanya itu adalah tempat tidur Aksa. Tapi sekarang tempat itu kosong. Telapak tangannya menyentuh bagian seprai tempat Aksa menikmati mimpi dengan lembut. Naila telah menganggap dirinya gila, masih berharap kembalinya Aksa ke sini. Berharap Aksa akan menemaninya tidur malam ini. Dia tidak sedang hidup dalam cerita dongeng. Contohnya; seperti dongeng putri salju. Putri salju meninggal setelah memakan apel pemberian nenek sihir. Tapi sang pangeran datang, dengan penuh ketulusan dia mengatakan kalau dia sangat mencintai sang putri. Hingga setelahnya, sang putri kembali terbangun dari tidur panjangnya. Lalu mereka hidup bahagia bersama selamanya. Sementara Naila, bagaimana pun dia memohon, Aksa tak akan pernah kembali. Naila menyisir rambutnya di depan cermin. Di belakang, ada Aksa sedang berjalan mendekat, memakai pakaian serba putih. Naila tersenyum, Aksa mulai melingkarkan tangannya di pinggang ramping istri tercantiknya. Harum semerbak menyergap rongga hidungnya. "Kamu cantik banget." "Tumben muji aku. Biasanya bilang aku jelek." "Nggak pa-pa, dong. Sekali-kali." Naila meletakkan sisir itu di atas meja rias. Membalas pelukan Aksa dengan membelai pipinya. "Kamu harus janji sama aku ya, Na. Kamu harus jadi cewek yang kuat. Jangan gampang nangis. Percaya, suatu saat kamu bakal dapetin kebahagiaan yang lebih. Tanpa aku, kamu harus bisa. Aku nggak tau apa kamu bisa setia atau nggak. Yang jelas di sini, aku akan tetap mencintai kamu. Kamu boleh mencintai pria lain, asalkan itu buat kamu bahagia. Kamu berhak bahagia Naila. Meskipun bukan aku alasannya. Pakai kalung pemberian aku, untuk mengenang semua kisah kita. Maaf aku nggak bisa jadi orang yang selalu ada buat kamu. Maaf aku telah mengingkari janji." Naila tercenung. Mengapa Aksa malah berkata demikian? Pelukan Aksa melonggar, dia mengecup pipi Naila. "Aku pergi dulu." "Jangan, jangan pergi Aksa." Naila segera berbalik. "Aku mohon jangan pergi. Kamu harus tetep sama aku. Aku nggak mau kehilangan kamu Aksa. Please jangan pergi. Aku mohon. Kamu nggak mau liat aku ngelahirin 10 anak kita?" "Tapi aku harus pergi." "Jangan! Jangan pergi! Jangan tinggalin cinta aku. Aku nggak sanggup kehilangan kamu." Tanpa terasa air mata Naila jatuh menetes. Ini terasa nyata. Dalam tidurnya, Naila menangis sesenggukan, meringkuk di atas bantal. Bersedu-sedan di antara keheningan malam. Hatinya terasa ngilu. Barusan Aksa datang ke dalam mimpinya, menyampaikan pesan-pesan. Bahkan sekarang, Naila merasa sedang dipeluk Aksa. *** Suara burung cicit menggema. Itik-itik menguik. Sebagai tanda bahwa pagi ini adalah pagi yang cerah menerangi bumi. Naila telah kembali ke rumah ayahnya, di sinilah ia akan tinggal, semua akan kembali seperti semula. Sang Ayah muncul di lawang pintu, dan ini untuk yang pertama kalinya Naila melihat ayahnya. "Ayaaah." Naila berjalan, melepaskan koper yang dibarkan terbanting ke atas teras. Lalu berhambur memeluk tubuh ayahnya, setengah rindu, setengah sakit. Hanya kepada ayahnya ia bisa menumpahkan air mata itu dengan leluasa. Kali ini Naila tak akan bertanya apa-apa, ia hanya ingin menangis dalam pagutan ayahnya. Di balik kacamata, ayah Naila menitikkan air mata. Ikut merasakan kepedihan yang dirasakan putrinya. Ia mengerti. Ia mengerti. Naila telah melewati masa sulit. Ini adalah tangisan terkeras Naila, mengeluarkan semua unek-unek sampai bisa lepas. Rengkuhannya kian kuat. "Maafin Ayah, Nak. Maafin Ayah. Gara-gara Ayah kamu harus ngalamin hal berat seperti ini. Kalau aja Ayah nggak menyuruh kamu menikah cepat-cepat dengan Aksa, kamu nggak akan tersiksa separah ini. Ayah yang udah nyebabin ini semua. Ayah malu, Ayah nggak sanggup datang ke pemakaman Aksa, Ayah nggak sanggup liat kamu nangis karena kehilangan dia. Ini semua terlalu berat untuk Ayah. Maafin Ayah Naila, Maafin ayahmu yang jahat ini." Telah kehilangan Ibu, dan sekarang Naila juga harus kehilangan suaminya. Surya tidak mengerti, mengapa takdir sejahat itu meperlakukan Naila yang selalu sabar dalam menghadapi semua cobaan. Mengapa harus putrinya? Mengapa? "Maafin Ayah." Naila belum berhenti menangis. Terlalu terperosok dalam kelaraan yang menikam jiwa. Layaknya orangtua kebanyakan, mereka akan sedih melihat anaknya demam. Mereka tidak bisa menjalani aktifitas seperti biasa, bermain, pergi ke sekolah, dan makan makanan enak. Kadang para orangtua meminta untuk memindahkan demam anaknya ke tubuhnya, agar anaknya bisa kembali bermain riang. Sekarang pun, kalau bisa, Surya ingin rasa sakit hati yang dialami Naila, bisa beralih kepadanya. *** Semenjak itu, aku dan Ayah hidup seperti biasa. Kami melupakan kesedihan secara bersama-sama. Melewati waktu yang bergulir sangat cepat. Ayah selalu membuatku tersenyum, dia yang selalu berada di sisiku. Dia yang menjadi penuntunku, kemanakah aku harus melangkah.  Setiap hari, aku dan Ayah selalu bercanda dan mengobrol sangat dekat. Dulu, Ayah tak seramah ini. Namun semenjak aku kehilangan Aksa, Ayah berubah. Mungkin dia tak ingin anak kesayangannya ini berlarut dalam kesedihan. Aku yang tak ingin membuat usaha Ayah sia-sia, berusaha keras untuk tetap tersenyum. Jangan sampai aku mengecewakan dia. Apa kalian menangis membaca kisah yang terlalu menyedihkan ini? Tolong, jangan kasihani aku. Aku akan tetap menjadi Naila yang kuat. Tak butuh belas kasihan. Aku akan menghadapi dunia. Aku yakin, kebahagiaan lain akan segera menjemput. Tak peduli kalau sekarang aku telah menjadi seorang..., janda. Ada satu hal yang harus kalian tahu. Kak Angga begitu baik kepadaku. Kami sering bertemu. Baik sengaja, atau tidak sengaja. Selain Ayah, dia yang selalu membuatku tertawa. Membuatku merasa bahwa masih tersisa orang yang begitu menyayangiku. Mentang-mentang dia kakak dari Aksa, aku kadang bisa menangkap sinar di matanya, persis seperti mata Aksa. Wajah mereka memang berbeda, tapi sikapnya selalu mengingatkanku kepada Aksa. Terima kasih Kak Angga, aku sayang kakak. Aku harap, kita akan selalu seperti ini. Naila menutup buku diary-nya. Memandang langit malam. Besok, adalah satu tahun kepergian Aksa. Naila berencana untuk berziarah ke makam Aksa. Senyum bulan sabit tercetak di bibirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN