Olivia merasa pusing, kedua matanya sulit sekali terbuka. Lalu ketika dia bisa membukanya perlahan, sama-samar Olivia bisa melihat sekitarnya. Aneh, tempat ini terlalu asing baginya. Dan beberapa detik setelahnya, Olivia merasa semakin janggal saat menyadari mulutnya ditutupi oleh lakban dan kedua tangannya terikat dibelakang kursi yang dia duduki. Olivia terbelalak ngeri mana kala menemukan Helena duduk di atas meja dengan santainya, dan tertawa geli menatap ke arahnya. Kini Olivia mengingat sesuatu. Siang tadi, seseorang mengetuk pintu rumahnya dan saat Olivia membukakan pintu, dia menemukan seorang lelaki tidak dikenal yang tiba-tiba saja menyuntikkan sesuatu disekitar lehernya dan membuatnya tidak sadarkan diri. “Hai, Olivia...” sapa Helena dengan suara ramahnya seperti biasa. “b

