1. Foto Kemarin
Namanya Reira Fernandi Agustira. Dia hidup di keluarga sempurna dan bahagia. Keluarga yang memeluknya erat disaat suka ataupun duka. Keluarga yang sangat ia cintai walau semua tahu, bahwa ia hanya-lah seorang anak panti asuhan yang beruntung karena dipilih oleh keluarga sesempurna mereka. Kenyataan adalah kenyataan, mau tidak mau harus Reira hadapi dalam hidupnya.
Air hujan menciprati lengan kecil Reira, ia tidak menghindar sama sekali. Malahan ia mendekat ke arah air hujan. Reira menatap langit mendung, tak terasa kedua sudut bibirnya terangkat. Bukan! Reira bukan sedang tersenyum bahagia tapi ia tersenyum menyumpahi dirinya sendiri karena ia tidak bersyukur telah diberikan keluarga yang sangat menyayanginya.
"Keluarga kandung lo jahat Ra, jangan mikirin mereka lagi. Pikirin keluarga yang sangat sayang sama lo," kata Reira berbicara pada dirinya sendiri.
Sekelebat bayangan muncul, seperti angin hitam tapi itu sangat cepat. kenapa bayangan itu sering kali muncul akhir-akhir ini, menghantui Reira dan mengganggu ketenagaannya.
Reira menyentuh air hujan kembali, ia berusaha tidak memedulikan apa yang terjadi barusan. Ia menghela nafasnya lalu pergi dan masuk ke dalam kelasnya.
"Kenapa? Masih penasaran sama keluarga kandung lo?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk berhadapan dengannya.
Reira menggeleng pelan. “Mulai sekarang gue bakal lupain mereka yang sama sekali gak mikirin gue," jelas Reira sambil membuka bukunya.
Cowo itu tersenyum bangga. "Bagus dong, keluarga lo itu sayang banget sama lo jadi lo jangan ngecewain mereka, okay?"
"Makasih Al, selama ini lo selalu ada di samping gue saat suka ataupun duka."
"Sama-sama Rara sayang."
Plak
Reira tersenyum bangga karena telah memukul wajah Aldo dengan kipas-kipasan milik teman sebelahnya. Bukannya kesakitan Aldo malah tertawa, membuatnya merasa kesal sekaligus jengkel.
Aldo, dia sahabat satu-satunya Reira. Menurutnya sudah cukup Aldo saja yang menyusahkan dirinya, jangan yang lain. Kadang ia ingin sekali mempunyai banyak sahabat tapi otaknya kembali berpikir, untuk apa mempunyai sahabat banyak kalau dia tidak benar-benar ingin menjadi sahabatnya? Ia percaya pada Aldo, ya jelas saja! Aldo adalah sahabatnya dari kecil sampai saat ini, bahkan dia selalu sekelas dengannya! Membosankan bukan?
Aldo mengacak-ngacak rambut Reira. "Lo itu ya, gemesin tau nggak?"
Reira membuka bukunya kembali, ia tidak ingin berurusan lagi dengan si Aldo ini. Aldo berdiri dari duduknya.
"Kantin yuk lagi jamkos nih!" ajak Aldo seraya mengecek ke luar jendela.
"Gak deh. Gue mau tidur aja," balas Reira.
"Yaudah terserah lo. kalau ada apa-apa panggil aja gue ya."
"Iya! Bawel!"
Aldo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Setelahnya ia melenggang pergi keluar kelas meninggalkan Reira. Gadis yang sudah terlelap dengan dunia mimpinya.
OoO
Reira menatap sekelilingnya dengan tatapan heran, ia sekarang berada di tempat yang sama sekali belum pernah di datanginya. Sebuah kamar bernuansa biru langit dengan awan yang menggumpal di atas, bagaimana bisa tempat ini sesuai dengan keinginannya.
Sebuah foto keluarga menyita perhatiannya, ia langsung mengambilnya dengan sangat hati-hati. Nafasnya tercekat seketika saat melihat fotonya sewaktu ia masih bayi dipajang di samping foto keluarga, entah itu keluarga siapa ia juga tidak tahu.
Ternyata bukan hanya foto sewaktu ia masih bayi saja yang dipajang di kamar itu, melainkan fotonya yang baru saja kemarin dipotret. Ia ingat sekali kalau Aldo-lah yang telah memfotonya.
Tak terasa air matanya menetes, tangannya gemetar hebat. Sebenarnya ini kamar siapa? Kenapa fotonya dipajang di sini, siapa yang melakukannya? Hatinya bertanya-tanya.
Reira keluar dari kamar dengan diam-diam, ia melihat nama seseorang tertempel di pintu kamar.
Princess Raira
Siapa dia? Putri Raira? Apakah dia kembaranya? Tapi ia tidak mempunyai saudara kembar, namanya Reira bukan Raira. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan ini semua.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara langkah kaki mendekat ke arahnya, jantungnya seperti ingin melompat mendengar langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar sangat jelas. Reira menunduk, menemukan seseorang memakai sepatu hitam. Tidak! Reira tidak berani menampakkan wajahnya pada orang itu, ia hanya menunduk.
"Raira," lirih orang itu.
Brak
Reira sontak berdiri, terlihat Aldo sedang cengengesan. Ia menghela nafasnya lega, ternyata itu hanya mimpi tapi—apakah mimpi itu kelanjutan mimpi semalam? Saat dirinya ditarik paksa oleh dua orang pria berjubah. Tidak! sepertinya mimpi ini berbeda episode, berbeda cerita dan juga berbeda tempat.
Reira mengusap mukanya kasar, mimpinya tadi itu serasa nyata, bajunya berkeringat nyata, jantungnya yang ingin melompat nyata dan—
"Lo kok bengong Ra?" tanya Aldo penasaran.
"Gu—gue cape pengen pulang," ucap Reira mengambil tas nya.
"Tapi Ra, masih hujan lagian belum bel—"
Treng! Treng! Treng
Ucapan Aldo terpotong oleh suara bel pulang. Belum sempat Aldo melanjutkan bicaranya, Reira sudah hilang dari hadapannya. Aldo menggelengkan kepalanya pelan, tidak menyangka kalau dirinya bisa mempunyai sahabat seperti Reira.