Raira menatap takut kearah Deva, dari tadi menatap Raira tajam tapi dia tidak mengatakan apapun. Raira pura-pura sibuk dengan buku-buku yang ada di meja belajarnya, terus-terusan menatap Deva membuatnya merinding. Deva menutup buku Raira dengan paksa. Raira menelan salivanya dengan kasar, mendongkak keatas menatap sebentar Deva. "A-ada apa kak?Ara takut,"ucap Raira terbata-bata. Deva mencengkram dagu Raira agar mendongkak kearahnya, keringat Raira sudah memenuhi pelipisnya. "Kau tidak mendengarkan ucapan kakak!"ucap Deva dingin. "Sakit kak,"rintih Raira. "Jika kau terus-terusan membantah ucapan saya, saya tidak akan segan-segan untuk membuatmu sakit lebih dari ini!"bentak Deva membuat tubuh Raira gemetar. "Aku ngak membantah kakak,"elak Raira. Deva semakin memperkuat cengkramannya,

