Rencana yang gagal
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan keras dari sebuah pintu kamar hotel dengan nomor kamar 176. Seorang gadis dengan rambut panjang sepinggang berdiri di depan pintu. Wajahnya memerah akibat kebanyakan minum di salah satu bar didekat hotel itu.
Entah bagaimana dia masuk ke hotel ini dan menemukan kamar 176. Evelyn Salsabila, gadis yang berdiri di depan pintu itu. Kedatanganny bukan hanya kebetulan, dengan membawa misi dan dendam ia semakin tak sabar penunggu kamar itu membuka pintunya.
"Ck sial*n! Kenapa dia tak kunjung membuka pintunya!" batin Evelyn dengan mencebik kesal.
Dia terus menggedor pintu itu dengan sangat keras. Hingga seseorang membukakan pintunya.
Cklek!
Pintu di buka menampakan seorang pria dengan nafas tak beraturan dan keringat yang membanjiri tubuhnya. Terlihat dari pemampilannya yang hanya menggunakan kaos tipis. Sekian detik lalu dia berusaha mati-matian menekan hawa nafsunya setelah salah seorang wanita jal*ng memberi obat perangsang dalam minumannya.
Namun ketukan di pintu yang terus menerus mengganggu sangat membuatnya kesal. Segera ia membuka pintu dan melihat wanita dengan dres hitam selutut itu kelihatan seperti mabuk.
Anantha Abyan Anggara seorang duda kaya raya yang sangat terkenal di kota itu. Selain kekayaan dan wajah tampannya dia juga terkenal akan ke kejamannya. Pria itu tak segan untuk menghabisi orang-orang yang menghalanginya.
Segera Anantha menarik Evelyn masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu meringis, menatap tajam pria yang berdiri kokoh di hadapannya.
Persekian detik kemudian dia menyadari, ada sesuatu yang tidak beres dengan pria di hadapannya. Tampaknya waktunya datang tidaklah tepat.
"Apa langsung kebun*h saja dia sekarang? Selagi dia mabuk," pikir Evelyn.
Tangan mungilnya mulai masuk menyelusup dalam celah rok dress yang dipakainya. Kini sebuah pistol ada di tangannya. Evelyn menyeringai lalu mengalihkan pandangannya pada Anantha yang masih berdiri membelakanginya.
"Kau akan mat* Anantha! Kau akan mat* sampai nanti ayahmu tau seperti apa rasanya kehilangan keluarga yang sangat dia sayangi dan cintai," batin Evelyn.
Evelyn mengangkat tangannya membidikkan pistol itu ke arah kepala Anantha dengan pelan dia menarik pelatuknya.
Dor!
Tembakan itu meleset ketika Anantha tiba-tiba menghindar lalu berbalik dan tersenyum miring mengejek Evelyn.
"Kau harus lebih berlatih lagi sayang." Anantha mendekati Evelyn lalu membelai rambutnya. "Bagaimanapun caranya kau tidak akan mampu membun*hku!"
Di cengkramnya kuat rahang Evelyn membuat gadis itu meringis kesakitan. Tangan mungilnya sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Anantha. Meski pria itu tengah tak sadar ternyata sikap kewaspadaannya masih ada.
Di dorongnya kuat pundak Evelyn sampai gadis itu terbaring di atas ranjang.
"Pers*tan dengan siapapun dirimu! Ini konsekuensi karna kau menggangguku!"
Dengan buas ia mencium Evelyn. Tentunya gadis itu tak serta merta diam dan pasrah dengan keadaan, dia mencoba berontak. Memukul, menggingit bahkan sesekali menendang namun usahanya seperti tak ada apa-apanya bagi Anantha.
Malam itu, malam yang seharusnya menjadi malam untuk pembalasan dendam Evelyn justru malah menjadi malam petaka. Dimana dia harus kehilangan mahkota kesuciannya, kehormatannya yang telah ia jaga dan pertahankan selama dua puluh satu tahun ini. Direnggut secara paksa oleh pria yang dikenal sebagai anak pembunuh keluarganya, Anantha Abyan Anggara.
***
Malam berlalu, awan pagi yang tampak hitam kelabu. Gerimis mulai mengguyur bumi di pagi itu. Terhanyut dalam buaian mimpi kedua insan itu kini masih tertidur pulas dengan saling berpelukan.
Pria di samping wanita itu, Anantha mengerjapkan matanya. Menyadari seorang wanita di sampingnya dia sontak terkejut. Lalu bayangan akan kejadian semalam memutar begitu saja dalam ingatannya. Ia berdiri lalu meraih boxer-nya yang berada tak jauh.
Disibakkannya selimut yang masih membalut tubuh polos Evelyn. Wanita itu agak meringkuk kedinginan setelah selimutnya yang hangat diambil paksa. Noda darah yang memerah di seprei putih itu membuat Anantha mendengus kesal.
"Hah dasar bod*h bagaimana aku bisa sebejad ini! Ini pertama baginya dan aku telah merenggut kesuciannya!" Anantha mengumpati dirinya.
Bugh!
Dipukulnya keras dinding kamar itu, darah segar merembes di buku tangannya. Ia menatap sendu ke arah Evelyn yang masih tertidur pulas dengan meringkuk. Di kembalikannya selimut yang tadi dirampasnya.
Sebuah pistol tergeletak di lantai tak jauh dari nakas mencuri perhatian Anantha. Di ambilnya pistol itu, sebuah tanda. Tanda yang tak sembarangan, gambar dua daun di pistol itu membuat Anantha tak asing.
Di dekatinya Evelyn, lagi-lagi menyingkap selimut yang tdi sempat di selimutkannya kembali. Di punggung Evelyn, sebuah tato dua daun seperti di pistol tadi. Senyuman aneh terukir di wajahnya.
"Ck! Hebat! Rupanya kau mau membun*hku! Pemb*nuh bayaran? Lagi-lagi siapa yang memusuhiku?"
Gambar dua daun itu, lambang dari sebuah organisasi pembunuh bayaran yang tersembunyi. Ini bukanlah kali pertama bagi Anantha mendapati pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya. Tapi kali ini berbeda, seorang gadis kecil lah yang dikirimkan padanya. Jika sebelum sebelumnya para pria besar yang dikirimkan kini rasanya lebih menarik.
Di ambilnya pakaian Evelyn yang berserakan di lantai. Ditemukannya handphone disana. Iapun mulai mencari cari informasi dari sana.
Dari handphone itu Anantha mengetahui nama gadis yang ditidurinya itu, Evelyn Salsabila. Gadis yatim piatu yang dirawat dan dibesarkan oleh Barca Wilson's. Pemimpin dari organisasi pembunuh bayaran.
"Eugh." Evelyn melenguh pelan, mata bulatnya perlahan terbuka.
Rasanya begitu lelah, bahkan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Pelan dia duduk, menatap Anantha dengan datar.
"Aku akan bertanggung jawab," ucap Anantha kemudian.
Evelyn membelalak mendengar ucapan pria yang berdiri disampingnya. Bukannya tak bersedih atau kesal, tapi saat ini Evelyn tak ingin terlihat lemah oleh Anantha.
"Tunggu! Jika aku bisa menikahinya maka lebih mudah untukku memb*nuhnya dan ayahnya yang kejam itu!" batin Evelyn.
Anantha tersenyum miring, di dekatinya Evelyn perlahan. Ia duduk di samping Evelyn lalu memegang dagunya membuat tatapan mereka saling ber-adu.
"Kenapa diam? Kau tak mau aku bertanggung jawab?"
"Kau gil* jika setelah menodaiku kau tak mau bertanggung jawab! Aku bukan w************n yang bisa kau pakai begitu saja!"
Ditepisnya kasar tangan Anantha, mengingat perbutan ayahnya yang telah membuat kehidupannya begitu sengsara. Bahkan mengingat kejadian semalam sangat membuatnya kesal. Wajah Anantha yang sangat mirip ayahnya itu sangat membuat Evelyn ingin menghujaminya dengan pisau.
"Tanggung jawab atau aku akan nelaporkanmu pada polisi!"
Anantha terkekeh. "Kau tau mudah bagiku untuk lepas dari polisi, nona Evelyn."
"Da-darimana kau bisa tau namaku?!"
"Haha, tentunya bukan hal sulit bagiku. Mau kusebutkan lagi informasi lain darimu? Anak angkat dari Barca Wilson's. Seorang pembunuh bayaran? Gadis yatim piatu yang malang."
Anantha tersenyum manis menatap Evelyn yang mulai menegang.
"Jadi ... katakan padaku siapa yang membayarmu untuk membunuhku?" bisiknya tepat di telinga Evelyn membuat wanita ia agak merinding. "Katakan atau kau yang aku bunuh!"
Tatapan penuh penekanan itu membuat Evelyn mundur perlahan. Entah kemana nyali yang ia kumpulkan selama ini. Sebelum dia kesini semalam dia telah mengumpulkan segenap tekad bahkan dendamnya yang begitu besar.
"Pe-pemimpin perusahan Reynhard. Dia yang menyuruhku! Menjauh dariku!"
"Bagus! Aku suka gadis penurut sepeeti ini. Jadi mau aku bertanggung jawab?"
Evelyn terdiam sebentar tangannya telah meraih vas bunga kecil yang ada di atas nakas. Jika saja Anantha benar-benar nekat mau memb*nuhnya. Tangannya sudah bersiap akan memukul kepala Anantha, namun hal itu gagal seketika Anantha mencengkram tangannya kuat membuat Evelyn nelepaskan vas bunga itu hingga jatuh ke lantai.
"Jangan pernah mencoba untuk melakukan hal diluar batas!"