Bab. 6 Pertemuan kembali

1626 Kata
DENDAM SANG CEO 6 Akhirnya Riva mendapat penempatan di salah satu perumahan elit di Jakarta. Ia kemudian diantar ke sebuah rumah yang sangat besar dan mewah, bergaya Eropa klasik berpadu dengan American style. Hunian itu berpagar tinggi dan kokoh sehingga lebih tepat dibilang seperti istana kecil. "Permisi, apa benar ini kediaman keluarga Pak Bram?" tanya Riva kepada sequrity yang sedang berjaga. "Betul, Mba mau ketemu sama siapa?" jawab sequrity itu sambil balik bertannya. "Saya asistan dari Yayasan Lady Rose," jawab Riva sambil tersenyum. "Sebentar ya, Mba!" seru sequrity itu lalu menghubungi seseorang, "Ayo Mba, ikuti saya!" ajaknya kemudian membukakan pintu untuk Riva. Riva begitu takjub melihat megahnya rumah itu. Pandangannya menyapu bagian halaman yang luas. Tampak sebuah taman yang indah dan asri dengan beraneka tanaman hias dan bunga yang terawat. Sementara di sisi samping, terdapat garasi yang berisi mobil- mobil mewah yang berjajar dengan rapi. Ia mengikuti Sequrity untuk diantar kesebuah ruangan. Setelah sampai, lelaki itu tersebut mengetuk pintu. Tidak lama kemudian terdengar seruan dari dalam. "Silahkan masuk!" Riva segera masuk, di sana seorang pria dengan berpakaian rapi sudah menunggu dirinya. "Silahkan duduk Mba!" ucap lelaki itu dengan ramah. "Terima kasih," balas Riva kemudian, ia menyerahkan surat tugasnya. Pria tersebut menerima dan membaca dengan seksama. Setelah itu, ia menjelaskan beberapa peraturan dan gaji sebesar lima juta yang akan diterima oleh Riva. Pras memandang Riva dengan kagum, belum pernah ia mendapat Asistan muda dan cantik seperti ini. Akhirnya Pras bertanya untuk meminta kepastian, "Jadi Mba Vani, sudah siap untuk bekerja?" [Vani? pasti Om Rudi lupa memberitahu nama asliku kepada pengurus Yayasan,] gumam Riva dalam hati. "Ya Pak, saya siap," jawab Riva dengan yakin. "Jangan panggil Saya Bapak! cukup Mas Pras saja ya!" Pras berkata sambil mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Riva. "Mari ikut, saya akan tunjukan tempat dan tugas yang akan Mba kerjakan." Pras kemudian berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu. Riva segera mengikuti Pras. Sekali lagi ia terkagum ternyata, dalam rumah itu sangat besar. Terdapat barang-barang mewah dan berseni. Seperti lukisan, guci dan lainnya. Akhirnya mereka sampai di bagian belakang rumah itu yang terdapat sebuah kolam renang dengan dikelilingi oleh taman yang begitu indah. "Mba Nur!" panggil Pras kemudian, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya. Ya, Mas Pras," jawabnya dengan sopan. "Perkenalkan ini Vani, tolong beri tahu tugas dan tunjukkan kamarnya ya!" seru Pras dengan bahasa yang halus. "Baik, Mas Pras," sahut Mba Nur sambil mengangguk. "Mba Vani jangan sungkan untuk bertanya dan belajar kepada Mba Nur, kalau ada perlu dengan saya cari di ruangan tadi!" seru Pras sambil tersenyum yang membuat lelaki itu terlihat manis. "Iya, Mas Pras," jawab Riva sambil membalas senyum Pras. "Oh ya begitu, saya tinggal ya. Semoga betah dan kerasan bekerja di sini!" ucap Pras sebelum ia pergi berlalu. "Silakang Mba, ikut saya!" ajak wanita tersebut dengan ramah. Riva pun mengangguk dan mengikuti Mba Nur. Ternyata ia mendapat tugas mencuci dan menyetrika baju, sedangkan tugas Mba Nur sendiri adalah Asistan Koki. "Hanya itu saja Mba pekerjaan saya?" tanya Riva sambil mengikuti Mba Nur yang menunjukkan beberapa ruangan lain lalu kamar untuknya. "Iya Mba, Vani. Di sini banyak asisten, jadi sudah ada tugasnya masing-masing," jawab Mba Nur menjelaskan. "Panggil Vani saja Mba! saya kan baru di sini," ujar Riva yang dijawab anggukkan oleh Mba Nur. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar. "Silahkan!" Mba Nur membukakan pintu kamar dan meraka pun masuk. "Di dalam lemari pakaian, ada seragam untuk Vani," ujar Mba Nur, "Ya sudah, Mba tinggal dulu. Nanti Vani langsung saja ketempat tadi!" seru Mba Nur yang dijawab anggukan oleh Riva. Lalu Mba Nur pergi meninggalkan kamar itu. Riva tampak melihat sisi tempat itu lumayan nyaman seperti kamarnya dulu. Ada juga sebuah televisi dan dispenser yang tersedia. Kemudian ia membuka lemari dan memasukan baju-baju yang dibawanya. Lalu mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kemeja semi formal. Rambutnya yang lurus sebahu diikatnya dengan rapi.Tidak berapa lama, ia keluar dari kamar untuk melaksanakan tugasnya. Gadis itu sangat cekatan, dalam sejam pekerjaannya sudah selesai. Mungkin karena baju yang dicucinya juga sedikit. Di antara putri Pak Roby, Riva lah yang paling mandiri. Jadi ia tidak kaget mendapat pekerjaan seperti ini. Setelah pekerjaannya rampung, Riva menghampiri Mba Nur sambil bertanya, "Mba, apa ada yang bisa saya bantu?" Mba Nur yang sedang duduk menoleh ke arah Riva dengan menjawab, "Belum ada van, duduk sini!" seru Mba Nur sambil menepuk tempat di sebelahnya. "Mba, memangnya ada berapa orang yang tinggal di rumah ini? Kok, tadi saya mencuci baju cuma sedikit?" tanya Riva ingin tahu. "Cuma tiga orang, Tuan Besar, Tuan Muda dan Mas Pras," jawab Mba Nur, "Tuan Besar sedang berobat ke Singapura, Mas Pras jarang minta dicuciin yang tadi Mba Vani kerjakan itu, hanya baju Tuan Muda saja," tuturnya sambil menjelaskan. Riva pun tampak mengangguk mendengarnya. Riva merasa bersyukur menjadi asistan di rumah ini, meskipun ia lulusan S1. Tentunya ini semua lebih baik daripada tinggal di rumah Om Rudi. Mendapat pekerjaan yang ringan. Dapat gaji lumayan, makan dan kamar yang nyaman dan layak lagi. "Mas Pras itu, siapanya Tuan Besar Mba?" tanya gadis itu kembali. "Mas Pras adalah asistan pribadi Pak Bram. Ia juga yang mengatur dan mengawasi kita semua di sini," jawab Mba Nur menjelaskan. Riva kembali terlihat mengangguk tanda mengerti. *** Riva adalah gadis yang supel dan energik. Baru beberapa hari bekerja, dia sudah terlihat akrab dengan beberapa asistan lainnya. Ia pun tak sungkan untuk membantu, bila ada yang membutuhkan. "Mba Riva, bisa minta tolong, ga?" tanya Mb Nur sambil merasa kesakitan. Riva yang melihat Mba Nur menyeringis, segera bertanya, "Ya Mba, ada yang bisa saya bantu?" "Tolong antarkan jus orange ini ke kamar Tuan Muda ya! perut Mba tiba-tiba mules ni." Mba Nur segera menyerahkan nampan ke tangan Riva. "Kamarnya yang mana, Mba?" tanya Riva tidak tahu. Mba Nur berlari kecil ke kamar mandi sambil menjawab, "Di lantai atas, sebelah kanan yang besar." Dengan sigap Riva segera berlalu. Setelah mencapai anak tangga terakhir, ia menuju ke kamar sebelah kanan. Kemudian gadis itu pun masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Tok ...! Tok ...! Dalam kamar itu sangat besar dan rapi. Riva melihat seorang pemuda yang sedang menghadap balkon membelakanginya sambil menelephone. "Mencari satu orang saja kalian ga bisa." Suara lelaki itu terdengar samar. Riva segera meletakan Orange jus di atas meja yang berada di dekat pria tersebut. "Ini orange jusnya Tuan Muda," ucap Riva dengan sopan. "Terima kasih Mba Nur," jawab pria itu sambil membalikan badan. Betapa terkejutnya ia, melihat gadis yang kini sedang berdiri di hadapannya. [Jadi gimana Tuan, apakah kami terus mencarinya?] Alex terdiam sesaat, sambil terus mengunci sosok gadis itu yang sedang menatapnya juga. [Batalkan!] seru Alex sambil mematikan ponsel kemudian perlahan ia mendekat ke arah Riva. Mereka saling memandang satu sama lain dengan terkejut dan tidak percaya. Alex masih belum yakin apa yang dilihatnya. Benarkah wanita yang ia cari-cari kini berada di rumahnya? "Riva," lirihnya sambil terus menatap gadis tersebut dengan tajam. "Kamu ...," panggil Riva dan ia pun mengingat kapan mereka bertemu, [Jangan-jangan dia adalah Alex, orang yang sudah memilih aku. Oh ... tidak mungkin.] gumam Riva dengan jantung yang berdetak cepat. Ia tidak menyangka sekarang dirinya bekerja di rumah pria yang hendak melamarnya. Sementara itu Alex masih menatap tajam ke arah Riva, seperti seekor elang yang mengintai mangsanya. Alex takut salah melihat seperti yang sudah-sudah. Sesaat ia memejamkan mata dan membuka kembali. Kini ia yakin gadis dengan sorot mata yang tajam, bibirnya yang mungil, tinggi semampai itu adalah Riva. Alex menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di hadapan Riva. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Setelah melihat seragam asistan dikenakan oleh Riva, Alex pun tersenyum dengan sinis. "Oh ya, apa kamu tau orang tua ku pindah kemana?" Entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Riva. Sesaat Alex terdiam, ia tampak berpikir dan menjawab dengan juteknya. "Tentu." Mendengar jawaban Alex yang singkat, Riva menyadari jika ada kemarahan yang terpancar dari sorot mata lelaki itu. Maka ia pun segera mengucapkan, "Maafkan aku waktu itu. Aku tidak berniat untuk menyakiti siapapun." Alex tampak tersenyum simpul, ia masih tidak menyangka gadis yang menolak untuk menjadi Nyonya Alex. Justru memilih jadi asistan tangga di rumahnya. Kemudian ia pun berkata dengan sinis, "Aku tidak butuh penjelasanmu." Mendengar jawaban Alex yang tidak enak. Riva pun pamit untuk pergi, "Kalau begitu saya mau kembali bekerja." gadis itu pun hendak berbalik. Tunggu!" seru Alex yang menghentikan langkah Riva. "Ada apa?" tanya Riva dengan sungkan. "Ada syaratnya untuk mengetahui di mana orang tuamu berada," ujar Alex memberitahu. "Katakanlah!" jawab Riva dengan penuh harap. "Jangan pernah bilang kesiapa pun kalau kamu adalah Riva, putri Pak Roby terutama sama Pras!" seru Alex yang menbuat Riva heran. "Kenapa?" tanya Riva tidak mengerti. "Turuti saja dan jangan banyak bertanya!" Alex berseru dengan seriusnya. "Baiklah, tapi benarkah Tuan tahu orang tuaku pindah kemana?" tanya Riva meminta kepastian. "Kerja dulu yang rajin! Nanti aku kasih tahu." Alex berkata dengan ketus sambil memikirkan sesuatu, "Kamu boleh pergi!" serunya kemudian. Riva tampak mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Alex. Alex terus memandangi Riva sampai hilang dari pandangannya. Lalu berkata, "Tidak semudah itu meminta maaf Riva, setelah apa yang telah kau lakukan. Aku akan tunjukan kepadamu, siapa Alex Bramasta," tuturnya dalam kebencian. Tiba-tiba sebuah rencana terbesit di benaknya. Alex merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Ia akan membuat Riva menyesal telah menolaknya tempo hari. "Kini kau dalam genggamanku, Riva. Akan kubuat kau memohon dan memelas kepadaku." Tangan Alex mengepal keras. Setelah keluar dari kamar Alex, Riva pun berpikir bekerja di rumah ini adalah sebuah kebetulan. Lelaki yang ia tolak itu kini menjadi Tuannya. Mungkin ini adalah cara Allah mempertemukan ia dengan keluarganya melalui Alex. Riva bertekad akan bekerja dengan giat. Agar ia bisa cepat bertemu dengan keluarganya. Tanpa ia sadari sebuah rencana besar sedang disusun oleh Alex untuk melampiaskan dendamnya. BERSAMBUNG. Selamat membaca, jangan lupa to love n follow me ya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN