Mungkin bagi Asistan lain, kerja di rumah orang kaya raya itu enak. Sedikit pekerjaannya dapat gaji besar, meskipun harus tinggal di sana untuk stand by bila dibutuhkan kapan saja.
Namun, tidak bagi Riva jiwa mudanya merasa terkurung. Padahal ia baru bekerja dua minggu, tetapi Riva sudah bosan dengan pekerjaan itu. Jika saja tidak sedang menunggu Alex untuk memberitahu di mana kedua orang tuanya berada, mungkin Riva sudah berhenti kerja.
Riva tidak pernah menyangka akan bekerja di rumah Alex. Semua terjadi seperti kebetulan. Bagaikan sebuah sekenario yang harus ia perankan. Mau tidak mau Riva harus jalani pekerjaan ini demi keluarganya.
Baru saja pekerjaan Riva rampung, seperti biasa ia berniat untuk menemui Mba Nur. Namun, ketika melewati kolam tiba-tiba Riva melihat Alex baru saja naik sehabis berenang. Sungguh gadis itu terkesima melihat body Alex yang atletis dengan perut six pack bagaikan roti sobek.
Di dalam hati Riva mengakui jika Alex memang tampan dan keren, meskipun terlihat dingin dan jutek. Gadis itu pun berpikir dengan kekayaan yang Alex miliki, pasti banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. Namun, kenapa memilih dirinya yang jelas-jelas tidak mau dalam perjodohan itu? Sungguh Riva tidak mengerti.
Seketika Riva segera membuang pandangan. Ia tidak ingin terlihat norak melihat ketampanan Alex. Ketika akan berbelok ke ruang kerja Mba Nur, tiba-tiba sebuah panggilan menghentikan langkah gadis itu.
"Hei, kamu!"
Riva berbalik dan menghadap ke arah sumber suara. Ternyata Alex memanggilnya dari bibir kolam. Ia segera menghampiri dengan jantung yang berdebar. Mungkin Alex akan memberitahu di mana keluarga gadis itu berada
"Iya, Tuan ada apa?" tanya Riva ketika sampai di dekat Alex.
Alex menoleh dan berseru, "ambilkan handuk itu!"
Riva tampak menghela napas panjang dan segera meraih sebuah handuk yang tersangkut di kepala bangku tidak jauh dari bibir kolam. Padahal Alex bisa mengambilnya sendiri.
"Ini Tuan," ujar Riva sambil menyodorkan handuk itu ke arah Alex.
Alex segera meraih sekenanya sehingga tangan gadis itu ketarik. Seketika tubuh Riva kehilangan keseimbangan dan jatuh ke kolam sedalam dua meter. Sementara itu, Alex segera naik ke atas permukaan dan berlalu.
"Satu, dua, tiga," hitung Alex sambil melihat ke arah kolam.
Blur ...!
Tepat pada hitungan ke tiga, kepala Riva tersembul dari kolam. Dengan segera ia naik ke permukaan. Alex tampak tersenyum simpul sambil ia menyeruput lemon ice tea dengan nikmat.
"Vani kamu kenapa?" tiba-tiba Pras datang dan sangat terkejut melihat tubuh Riva yang basah kuyup, "Kamu kejebur kolam? Kok bisa?" tanyanya kemudian dengan cemas.
"Dia ga hati-hati, punya mata jelalatan," sahut Alex yang membuat Riva mengepalkan tangan seketika.
"Sudah cepat ganti baju sana! Nanti kamu masuk angin," seru Pras dengan seulas senyum yang mengembang. Berpikir jika Riva terpesona oleh Alex.
Riva melihat Alex yang menaikan alis kepadanya. Tanpa berkata apapun, ia segera berlalu dari tempat itu dengan menahan amarah. Riva langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaian. gadis itu sungguh tidak mengerti kenapa Alex melakukan semua ini.
"Kau harus kuat Riva!" lirih Riva sambil mengeringkan rambutnya. "Baiklah, kau jual kubeli," tukas Riva sambil menatap wajahnya di cermin dengan sinis.
Tidak lama terdengar suara pintu kamar diketuk.
Tok ..! Tok ...!
Riva segera membukakan pintu dan melihat Mba Nur datang sambil membawakan secangkir teh hangat.
"Kamu ga apa-apa? Tadi kata Mas Pras Vani kejebur kolam?" tanya Mba Nur dengan cemas.
"Aku baik-baik saja, Mba," jawabku sambil mempersilahkan Mba Nur masuk.
"Ni Mba bawain teh hangat," ujar Mba Nur sambil memberikan minuman itu.
"Iya Mba, terima kasih," ucapku sambil menyeruput teh hangat itu dengan perlahan.
"Kamu pasti ga hati-hati ya karena terpesona sama Tuan Alex yang tampan," tebak Mba Nur sambil tersenyum.
Riva hanya tersenyum kecil sambil menelan teh hangat itu. Ingin rasanya ia menampar wajah Alex dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi itu tidak mungkin. Biarlah untuk sementara Riva membiarkan Alex merasa menang dulu.
"Ya sudah kamu istirahat saja dulu!" saran Mba Nur yang dijawab anggukkan oleh Riva.
Setelah Mba Nur pergi, Riva merebahkan tubuh di atas kasur. Untuk menghilangkan pening akibat benturan dengan air karena kaget. Untung ia pandai berenang, kalau tidak mungkin dirinya sudah pingsan. Barangkali baru ditolong oleh Tuan Muda sombong itu, pikir Riva sambil memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian Riva pun terjaga. Tiba-tiba perutnya terasa lapar, ia melirik jam yang menunjukan pukul 13.00 WIB. Akhirnya gadis itu keluar kamar untuk mencari makanan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika melihat Pras yang sedang menuju ke arah belakang rumah. ia melihat lelaki itu membawa nampan yang berisi makan siang.
[Mas Pras, bawa makan buat siapa ya?] tanya Riva di dalam hatinya.
Riva pun jadi penasaran lalu perlahan mulai mengikutinya. Ketika sampai di sebuah pilar ia menghentikan langkahnya dan melihat Pras masuk ke paviliun.
Riva kemudian kembali ke ruang belakang dan melihat Mba Nur sedang merapikan dapur.
"Mba?" sapa Riva memecah keheningan.
"Eh Vani, baru mau dianterin makan siang. Tuh sudah Mba siapkan," sahut Mba Nur sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Terima kasih, Mba Nur," ucap Riva sambil mengambil makanan itu dan memakannya dengan lahab. "Mba lagi ada tamu ya?" tanya gadis itu ketika menyudahi makan siangnya.
"Tamu siapa?" Mba Nur balik bertanya.
"Tadi aku lihat Mas Pras bawa makan siang ke paviliun, memang ada yang sedang menginap?" tanya Riva kembali.
"Oh, itu mungkin buat Mas Pras," jawab Mba Nur menutupi.
Setelah meneguk air putih Riva pun kembali bertanya, "Tapi kan Mas Pras kamarnya di atas Mba?"
Mba Nur merasa terpojok kemudian ia menyilangkan telunjuknya di bibir,
"Sssttt ...! pelan-pelan kalau bicara!" Mba Nur segera menarik gadis itu ke arah wastafel.
"Tidak ada yang boleh cari tahu, siapa yang ada di sana?" ujarnya setengah berbisik.
"Memangnya kenapa, Mba?" tanya Riva semakin penasaran, "Aku janji deh ga akan bilang ke siapa-siapa," ucap Riva sedikit mendesak.
"Cukup tahu saja ya! di paviliun ada calon istri Tuan Muda. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan. Hanya Mas Pras saja yang bisa membujuknya,'' tutur Mba Nur menjelaskan yang disambut anggukkan oleh Riva.
"Mba Nur! tolong dicuci ya!" Tiba-tiba Pras sudah berada di belakang mereka. Sambil membawa sepiring nasi yang tidak habis.
Dengan segera mba Nur menghampiri dan Riva pura-pura tidak melihat sambil mencuci piring bekas makannya. Sekilas ia melirik ke arah Mas Pras yang menatapnya.
"Vani, bagaimana keadaanmu?" tanya Pras dengan perdulinya.
Riva pun segera berbalik dan menjawab, "Alhamdulillah ... aku baik-baik saja, Mas."
"Syukurlah kalau begitu. Jika kamu merasa tidak enak badan bilang ya!"
seru Mas Pras yang membuat Riva merasa diperhatikan.
"Iya, Mas," jawab Riva.
Setelah Mas Pras pergi, Riva tampak menghembuskan nafas lega dan Mba Nur mengelus dadanya.
"Pokoknya kamu tidak boleh ke paviliun. Tuan Muda akan marah jika ada yang ke sana! bisa dipecat nanti kita," ujar Mba Nur mengingatkan.
"Iya, Mba," jawab Riva terlihat menurut, meskipun ia masih penasaran.
[Andai Alex sebaik Mas Pras, pasti aku sudah mengetahui keberadaan keluargaku.] Gumam Riva di dalam hati. Tiba-tiba ia teringat larangan Alex agar tidak memberitahu kepada Pras kalau dia adalah Riva.
"Jangan-jangan ... aku harus cari waktu yang pas untuk bicara dengan Mas Pras. Dia pasti tahu sesuatu yang penting," lirih Riva sambil berlalu dari tempat itu.
***
Beberapa hari kemudian, ketika pukul 14.00 WIB Riva terlihat jenuh sekali. Gadis itu melihat suasana rumah sangat sepi dan sunyi. Mba Nur tidak terlihat, mungkin sedang beristirahat di kamarnya. Begitu juga dengan para Asistan yang lain. Sementara itu dari tadi siang Mas Pras tidak terlihat entah pergi kemana dan Alex tentu belum pulang dari kantor.
Riva tampak berjalan ke taman belakang. Tatapannya tertuju ke arah paviliun. Jiwa petualangnya pun tertantang untuk menuju ke sana. Dengan nekat gadis itu pun melangkah perlahan, sambil sesekali menoleh. Suasana menuju paviliun begitu sunyi. Hanya terdengar suara angin yang bersemilir bergesekan dengan dedaunan.
Tiba-tiba Riva mendengar suara tangisan yang terbawa oleh angin. Setelah sampai di depan kamar, ia terlihat menempelkan telinga di pintu dan isakan itu kian terdengar pilu.
"Vani!" Riva pun terperanjat dengan segera ia membalikkan badan. Betapa terkejutnya gadis itu, melihat Pras sudah berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang tajam.
"Ikut ke ruangan saya!" seru Pras dengan serius.
Riva segera mengikuti Pras dengan jantung yang berdetak cepat. Ketika memasuki ruangan kerja Pras, ia berusaha bersikap tenang.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Mas Pras penuh curiga.
"Maksud Mas Pras?" Riva balik bertanya.
"Apa kamu seorang Polwan?" Pras kembali bertanya dengan penuh selidik.
"Oh ..., bukan mas," jawab Riva dengan jujur.
"Lalu apa yang kamu lakukan di paviliun?" Pras kembali mencecar gadis itu.
"Saya cuma ingin membantu Mas Pras saja kok?" jawab Riva dengan santai.
Pras menatap Riva dengan tajam dan berkata, "Kamu belum sebulan kerja di sini, sudah banyak tahu rupanya. Siapa yang memberikan info, Mba Nur?" Sepertinya Pras tidak suka dengan pernyataanku.
"Bukan ...! saya dengar sendiri tadi wanita itu menangis. Kasihan Mas, nanti ia bisa depresi. Biarkan saya mencoba untuk menenankannya siapa tahu berhasil!" Riva berusaha untuk menyakinkan Pras.
Pras terdiam memikirkan kata-kata Riva. Sepertinya ia mempertimbangkan pendapat gadis itu.
***
Akhirnya, setelah hampir sejam Riva pun keluar juga dari ruangan itu. Ia segera menuju ke belakang di mana Mba Nur tampak cemas menunggu kedatangannya.
"Sudah Mba bilang Vani, jangan ke sana, kamu dipecat ya?" tanya Mba Nur dengan cemas.
"Tidak tahu Mba, nanti sore temani saya mengantar makanan untuk dibawa ke paviliun ya!" pinta Riva yang dijawab anggukan oleh Mba Nur.
Sehabis menyelesaikan shalat azhar Riva kembali bersiap. Dengan dibantu Mba Nur mereka membawa makanan ke pavilun. Pras terlihat sudah menunggu di depan pintu kamar.
"Mas Pras, nanti kalau Tuan Muda tahu gimana?" tanya Mba Nur dengan takut.
"Saya yang akan bertanggung jawab. Lagi pula Tuan Muda pulang malam hari ini. Kita tunggu di luar saja!" tutur Pras sambi membukakan pintu.
Kreekk ...!
Riva masuk dengan tenang, kamar itu tampak bersih, rapi dan wangi. Ia melihat di atas kasur ada seorang wanita kurus berbaring sambil menangis, tetapi Riva tidak bisa melihat wajahnya karena memunggungi.
Wanita itu terisak dengan suara yang hampir habis. Hati Riva pun terenyuh, sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar karena tidak ingin larut dalam kesedihan.
BERSAMBUNG