Bab. 8 Terbongkar

1729 Kata
Riva pun jadi terenyuh mendengar isak tangis wanita itu. Akhirnya ia memutuskan pergi untuk menguatkan diri. Kakak Riva, tolong aku!" Riva pun mengentikan langkah ketika mendengar namanya disebut. [Bagaimana mungkin ia tahu namaku atau jangan-jangan ...] Riva segera berbalik dan memutar ke arah sisi ranjang. Kemudian ia menyibak rambut yang menutupi wajah wanita itu. "Sherly!" pekik Riva dengan sangat terkejut. Ia tidak percaya jika gadis itu adalah adiknya. Sherly segera membuka matanya dan langsung memanggil, "Kakak Riva!" mereka pun saling berpelukan dalam tangis. Riva senang bisa bertemu dengan Sherly, tetapi ia sangat sedih melihat kondisi adiknya yang memprihatinkan. Segera Riva mengambil makanan dan minuman yang dibawanya. Lalu dengan telaten ia menyuapin Sherly. Gadis itu pun terlihat makan dengan lahab. Tidak lama kemudian, Sherly terlihat lebih tenang. "Apa yang telah terjadi denganmu, ly?" tanya Riva sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut. "Kak Bela jahat, ia menjualku ke Hotel. Lalu Alex membeli dan membawaku ke rumah ini. Aku benci dia Kak, lelaki itu sudah memperkosaku!" Sherly menangis lagi dan Riva memeluknya erat untuk menenangkan kembali. Dada Riva bergemuruh ketika mendengarnya. Ia tidak percaya jika Alex tega melakukan hal itu kepada Sherly. Apakah ini karena Riva menolak lamaran Alex? Jika benar itu alasannya, Riva tidak bisa terima. Sungguh keji sekali lelaki itu menurutnya. Masih banyak pertanyaan yang ingin Riva tanyakan kepada Sherly, tetapi ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat. Setelah kenyang dan tenang, Sherly terlihat menguap dan berkata, "Kak, Riva aku ngantuk." Terlihat mata gadis itu sangat layu dan sembab. "Tidurlah, kakak akan jagain kamu!" seru Riva sambil mengusap rambut adiknya. "Tapi Kakak jangan tinggalin aku ya!" pinta Sherly sambil menggenggam tangan Riva erat. Sambil tersenyum aku Riva pun menjawab, "Iya, kamu tenang saja! Kakak ga kemana-mana Kok." Kemudian Sherly pun tertidur pulas, lalu Riva menyelimuti tubuh adiknya dan meninggalkan kamar itu. Sesampai di luar, ia segera mencari Pras untuk meminta penjelasan. Riva yakin sekali Pras pasti tahu akan hal ini. Ketika hendak menuju ruang kerja Pras, tiba-tiba Riva melihat Alex yang baru saja pulang kerja. Tangannya tampak mengepal keras, ia tidak bisa menahan amarah yang sudah menggebu di d**a. Riva akan membuat perhitungan dengan Alex sekarang juga. Alex tampak berhenti di ruang tengah. Seketika ia menoleh begitu mendengar derap langkah. Ia tampak terkejut melihat Riva yang datang karena tidak merasa memanggil. Mereka pun saling bertatapan seolah sedang bersiap untuk bertarung. Plak ...! Tanpa basa basi Riva melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Alex. Lelaki itu terlihat sangat terkejut dan marah sambil memalingkan wajahnya lagi. "Apa salah adikku, hingga kau berbuat sejahat itu kepadanya?" pekik Riva dengan geramnya. Sambil menahan perih di pipinya, Alex menatap gadis itu dengan tajam dan berkata, "Kau seharusnya bersyukur! Aku sudah menyelamatkan adikmu dan membawanya ke rumah ini, kalau tidak entah sudah banyak lelaki yang tidur dengannya!" "Kau jahat, dasar pembohong! Kenapa kau nodai Sherly?" Riva berteriak mengeluarkan semua emosinya. Alex kemudian memegang dagu gadis itu dengan kencang dan berkata dengan sinis, "Ini semua salahmu, Riva! beraninya kau telah menolak perjodohan Kita. Apa yang kurang dari diriku, hah?!" Alex membela dirinya dengan melimpahkan semua kesalahan kepada Riva. "Kenapa kau pilih aku?" Riva balik bertanya. "Aku berhak memilih siapa pun di antara ketiga putri Pak Roby," jawab Alex dengan sombongnya. Riva tampak menggelengkan kepala, tidak mengerti akan jalan pikiran Alex. Sambil menahan tangis ia bertanya kembali, "Apa salahku jika tidak mau dalam perjodohan itu?" "Sangat fatal karena ulahmu papiku kena serangan jantung dan kritis," jawab Alex sambil melepaskan dagu gadis itu. "Apa maumu, sekarang?" tanya Alex seolah menantang. "Kau harus bertanggung jawab, nikahi adikku!" seru Riva dengan geram. Alex kemudian berpikir sejenak dan menjawab, "Oke, tetapi kuingin kau memohon dulu, cepat berlutut!" sentak Alex begitu keras. Perlahan Riva pun bersimpuh, air mata yang mengalir begitu saja. Sungguh ia terpaksa melakukan ini demi membela kehormatan adiknya. Dengan suara yang bergetar, Riva pun berucap, "Kumohon, nikahilah adikku!" "Ulangi! Gunakan bahasa seorang asistan, Riva!" seru Alex kembali. Dada gadis itu kian bergemuruh, ia merasa sangat direndahkan oleh Alex. Tampak derai air mata kian berjatuhan, meskipun ia sudah berusaha menahan tangisnya. "Kumohon Tuan Muda, tolong nikahi adikku!" ucap Riva kembali dan Alex pun tersenyum puas mendengarnya. Tiba-tiba Pras datang, ia sangat terkejut sekali melihat semua itu. "Cukup, Lex! Ada apa dengan ini?" tanya Pras dengan heran. Kemudian ia mendekati Riva dan memegang bahu gadis itu. "Vani, apa yang telah terjadi dengan mu?" Riva tidak menjawab, ia segera bangkit dan menepis tangan Pras. Gadis itu berlari meninggalkan mereka. "Lex! katakan apa yang sudah terjadi!" seru Pras sambil menatap Alex yang masih memandangi kepergian Riva. "Kenapa lu, izinkan dia ke paviliun?" tanya Alex sambil menatap Pras dengan serius "Keadaan Sherly semakin memburuk, Lex dan kita butuh orang untuk menenangkannya. Jadi jangan salahkan Vani dalam hal ini!" jelas Pras yang membuat Alex terdiam. Tanpa memberi penjelasan lagi. Alex kemudian segera pergi meninggalkan Pras. Pras kemudian menyusul Riva, ia merasa tidak enak sudah melibatkan gadis itu hingga mendapat murka Alex. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan dari arah paviliun. Dengan segera Pras berbelok untuk melihat keadaan Sherly. "Mas Pras, kakak Riva mana?" tanya Sherly begitu melihat Pras yang datang. "Kakak Riva?" Pras tampak mengeryitkan dahinya. "Iya, tadi Kak Riva ada di sini," sahut Sherly dengan panik. Pras tampak terkejut mendengarnya, seketika ia mengerti jika Riva yang dimaksud adalah Vani. Gadis yang selama ini dia cari-cari atas permintaan Sherly. "Kamu tenang ya! Mas Pras akan panggil Kak Riva dulu," ujar Pras sambil tersenyum. "Cepat Mas Pras!" seru Sherly tidak sabar. Kemudian Pras pun keluar dari paviliun dan menuju ke kamar Riva. Pras tertegun begitu sampai di depan pintu kamar Riva ketika mendengar gadis itu menangis. Sungguh ia merasa bodoh, tidak menyadari kalau bentuk hidung dan alis Sherly itu mirip dengan Vani. Tangis Riva pun pecah di dalam kamar. Ia merasa sangat bersalah atas semua yang telah terjadi kepada keluarganya. Gadis itu meraung dengan perasaan sedih, benci dan marah yang berkecamuk menjadi satu. "Kau lihat saja, aku akan balas semua perbuatanmu!" teriak Riva dalam tangisnya. Beberapa saat kemudian, Riva sudah bisa mengendalikan diri dan terlihat lebih tenang. Tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamar terketuk. Tok ...! Tok ...! Riva menyeka sisa-sia air matanya dan segera membukakan pintu. Ia melihat Pras yang datang, lalu Riva pun bertanya, "Untuk apa Mas Pras ke sini? Kamu sama saja dengan Alex, tega mengurung adikku di dalam kamar itu," tutur Riva dengan emosi. "Kami tidak bermaksud seperti itu, Sherly tidak tahu alamat pasti rumah orangtua kalian yang baru. Aku juga sudah mencari dirimu selama ini," jawab Pras menjelaskan. "Kenapa kamu tidak bebaskan saja?" tanya Riva kembali. "Justru Sherly lebih aman disini, kalau sampai ketemu Bela, pasti Adikmu dijualnya lagi," jawab Pras memberitahu kemungkinan yang terjadi akan terjadi. Riva tampak berpikir, sepertinya apa yang dikatakan Pras ada benarnya juga. Lalu Riva pun memberikan pendapatnya, "Aku mengerti pasti kalian menutupi aib ini agar nama baik keluarga Pak Bram tetap terjaga kan? "Kamu jangan takut! Alex akan bertanggung jawab," sahut Pras, "Sekarang Sherly ingin bertemu denganmu," ujarnya kemudian memberitahu. Tanpa berkata apapun lagi Riva segera pergi ke pavilliun. *** Semenjak kejadian malam itu, Riva menjadi pendiam. Bahkan Mba Nur bertanya hanya dijawab seperlunya saja. Sebenarnya Pras sudah melarang Riva untuk bekerja karena. Dia dan Sherly dianggap tamu di rumah ini, tetapi gadis itu menolak. Ia tidak mau numpang hidup dengan gratis. Setelah tugasnya selesai, Riva menghabiskan waktu untuk merawat adiknya. Sherly sangat senang dan tidak takut lagi. Gadis itu merasa aman dan tenang karena ada kakaknya. "Apakah benar kamu tidak tahu di mana tempat tinggal papah dan mamah, Dek?" tanya Riva membuka pembicaraan. "Aku tidak kenal daerah itu, cuma Kak Bela yang tahu," jawab Sherly dengan polosnya. Sherly pun melanjutkan ceritanya dari awal rumah mereka disita. Ternyata Bela sangat marah sekali kepada Riva karena pergi pada acara lamaran itu. Sehingga perusahaan Pak Roby jadi bangkrut. Lalu Bela menutup semua akses agar Riva tidak bisa menemukan mereka. Pak Roby mengalami vertigo dan jatuh sakit. Sehingga membuat sisa uang yang mereka miliki habis terkuras. Sherly pun terpaksa berhenti kuliah.Ternyata tanpa diketahui keluarganya, Bela terlilit hutang hingga ratusan juta. Untuk membiayai hidupnya yang glamour dan sosialita. Disaat seperti itulah, Bela mengajak Sherly untuk bekerja. Gadis itu pun menurut karena ingin membantu kedua orang tuanya, tetapi ia justru dilelang. Mendengar cerita Sherly membuat Riva geram kepada kakaknya. Ia tidak menyangka Bela tega sekali. Gadis itu pun tampak menitikkan air mata karena merasa bersalah dan sangat menyesal atas semua yang telah terjadi. *** Riva merawat Sherly dengan baik. Bahkan Gadis 23 tahun itu juga dengan sabar melayani adiknya yang sangat manja. Perlahan kondisinya Sherly semakin membaik. Tubuhnya sudah berisi dan terlihat cantik lagi. "Jadi Kakak kerja di sini?" tanya Sherly ingin tahu. "Iya," jawab Riva sambil mengangguk, "Dek, kamu tidak bosan di kamar terus? kita ketaman yuk! Banyak bunga-bunga indah di sana," ajak Riva. "Benarkah? Ayo Kak," sahut Sherly dengan riang. Kemudian mereka pun keluar kamar dan pergi ke taman yang ada di dekat kolam renang. Sherly sangat kagum melihat taman yang begitu indah. Gadis 20 tahun itu, bagaikan seekor kupu-kupu yang baru keluar dari kepongpong. Begitu cantik di antara bunga-bunga yang merekah. "Tunggu di sini ya, kakak mau ambil minuman dulu!" seru Riva yang dijawab anggukan oleh Sherly. Setangkai mawar merah melambai, menggoda hati Sherly untuk meraih bunga itu. Tanpa ia sadari kakinya terpeleset dan tercebur ke kolam. Sherly tidak bisa berenang, kedua tangannya tampak menggapai-gapai permukaan. "Tolong ...! tolong ...!" teriak Sherly yang terlihat hampir tenggelam. Pras yang melihat kejadian itu dari atas balkon segera berlari untuk menolong. Namun, ketika sampai di bibir kolam ia menghentikan langkahnya karena Alex sudah menggendong tubuh Sherly naik ke permukaan. Sherly tampak melingkarkan kedua tangannya di leher Alex. Wajah cantiknya ia benamkan di d**a kekar itu. Alex tersenyum manis, melihat Sherly bagaikan sekuntum bunga yang baru saja terkena hujan, begitu segar dan indah. Pemuda tampan itu kemudian membopong Sherly kembali ke kamar tamu. "Mulai sekarang, kamu akan tidur di kamar ini ya!" seru Alex sambil menurunkan tubuh Sherly. Sherly tampak menggeleng dan berkata, "Aku mau sama kakak Riva." Belum sempat Alex menjawab, tiba-tiba Riva muncul dengan wajah yang panik. Kemudian ia langsung mendorong tubuh Alex agar menjauh dari Sherly seraya bertanya, "Apa yang sudah kau lakukan kepada adikku?" Riva berpikir jika Alex telah mencelakai Sherly. Seperti waktu itu yang Alex lakukan kepadanya. Alex menatap Riva dengan tajam dan berseru, "Lain kali, jaga calon pengantinku dengan baik!" kemudian ia berlalu dari tempat itu dengan perasaan yang kesal. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN