Bab. 9 Menentukan pilihan

1680 Kata
Alex terlihat begitu penat, memegang beberapa perusahaan seorang diri. Ditambah masalahnya dengan Riva dan Sherly. Bagaimana jika papinya pulang dan melihat mereka. Pemuda itu tampak berpikir keras untuk menjelaskan semuanya nanti. Alex tampak menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Lalu ia meraih segelas orange jus dingin yang tersedia di meja. Tiba-tiba Pras datang dan duduk menemaninya. Kemudian ia bertanya membuka pembicaraan, "Kapan lu akan menikahi Sherly?" "Menurut lu kapan baiknya?" Alex balik bertanya. "Sebaiknya tunggu papi pulang," jawab Pras memberikan pendapatnya, "Sambil menunggu, sebaiknya lu cari info di mana Pak Roby sekarang tinggal!" saran Pras kemudian. "Maksud lu!" tanya Alex singkat. "Lu suruh orang untuk cari keberadaan Pak Roby, pasti mereka ingin bertemu dengan anak-anaknya," jawab Pras dengan jelas. Alex tampak berpikir sesaat lalu ia pun bergumam di dalam hati,[Saran Pras boleh juga dengan begitu gue bisa mengancam Riva agar tetap menjadi asisten di rumah ini. Sampai gadis itu ga akan pernah nikah] Tersungging seulas senyum licik dari bibir Alex. "Oke," jawab Alex dengan acuh tak acuh. "Lex, gue mau bicara serius sama lu," ujar Pras sehingga menarik perhatian Alex, "Sebenarnya papi ke Singapura untuk menjalankan operasi jantung." Alex tampak terkejut mendengar hal itu. Hampir saja gelas di tanganya terlepas. Dengan spontan ia pun bertanya, "Operasi jantung? Kenapa lu ga bilang sama gue?" "Beliau yang minta dirahasiakan, ia tidak mau anak kesayangannya bersedih lagi dan jadi panik karena keberhasilan operasi itu fifty-fifty," ujar Pras menjelaskan. Alex tampak menghela nafas panjang dan berkata, "Gila lu ya, hal sepenting itu dirahasiakan dari gue." "Sorry Bro, gue cuma ngejalanin amanat," ucap Pras sambil tersenyum. "Terus kenapa sekarang lu baru cerita?" tanya Alex kemudian. "Tadi papi ngasih kabar kalau operasi jantungnya berhasil dan ia akan segera pulang dalam waktu dekat ini," jawab Pras yang kembali berhasil membuat suprice buat Alex. Alex menjadi terharu, rupanya itu alasan papinya langsung terbang ke singapura. Ia merasa menyesal sudah souzon selama ini. Untuk membuat papinya bahagia, Alex pun mengutarakan rencananya, "Gue juga akan bikin kejutan buat Papi dengan menikahi Sherly, sorry ya Pras, selama ini gue sudah salah paham sama lu," ucap Alex dengan menyesal. Pras pun menjawab dengan anggukkan sambil tersenyum, tetapi ada kesedihan terpancar dari matanya yang di sembunyikan dalam diam setelah mendengar rencana Alex. *** Tidak butuh waktu yang lama bagi Riva, untuk menyakinkan Sherly agar mau menikah dengan Alex. Gadis itu sangat penurut. Apalagi sejak kemarin pemuda itu menunjukan sikap yang baik kepada adiknya. Seperti malam ini, Alex mengajak Sherly untuk dinner berdua. Riva terlihat sibuk membantu adiknya merias diri. Hanya dengan beberapa tepukan bedak tipis dan sedikit lipstik, sudah membuat Sherly terlihat sangat cantik. Gaun malam berwana peach blossom tampak membalut tubuh gadis itu yang bagaikan gitar spanyol. "Kakak, aku takut," ucap Sherly dengan hati yang berdebar. "Kamu tenang saja! Ada Kakak dan Mas Pras di sini," jawab Riva sambil menyisir rambut adiknya yang keriting gantung. Akhirnya Sherly sudah siap, Riva pun mengantarnya sampai depan pintu. Ia terus memantau adiknya sampai hilang berbelok ke arah balkon. Sherly tampak gugup, saat melihat Alex sudah menunggunya di meja makan. Pemuda itu terlihat begitu tampan dan rupawan dengan setelan casualnya. Alex terus memandang Sherly yang sangat cantik jelita. Kemudian, gadis itu duduk setelah Alex mempersilahkannya. Sesekali pandangan mereka beradu dan saling tersenyum. Sherly terlihat grogi menatap jamuan dinner yang sangat romantis ini. Kemudian ia mengambil hidangan pembuka dan mengunyahnya perlahan. Sherly terlihat terus menunduk karena Alex selalu menatap dengan pesonanya. "You are beautyful ...," puji Alex dengan senyum yang menawan. "Thank you," balas Sherly sambil tersipu malu. Lagu MLTR ' Paint my love' mengalun, membuat dinner itu semakin romantis. Kemudian Alex berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Sherly. Perlahan wanita itu memberikan jemarinya untuk Alex raih. Kedua tangan Alex tampak melintang di pinggul Sherly yang ramping, sedangkan dengan perlahan Sherly melingkarkan tangannya di leher Alex dan mereka pun mulai berdansa beriringan dengan musik. ("From my youngest years Till this moment here I've never seen Such a lovely queen From the skies above To the deepest love I've never felt Crazy like this before *Pain't my love You should paint my love It's the picture of a thousand sunsets It' the freedom of a thousand doves Baby you should paint my love Been around this world The i met you girl It's like coming home To a place i've known Since you came into my life The days before all fade to black n White Since you came in to my life Everything has changed") back to * Tanpa mereka sadari sepasang mata tampak berkaca-kaca. Pras menyaksikan semuanya dari taman belakang. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat pemandangan itu. Sepertinya Pras diam-diam sudah menaruh hati kepada Sherly, sejak pandangan pertama. Entah dirinya sanggup atau tidak karena sebentar lagi wanita yang dicintainya akan menjadi nyonya di rumah ini. "Maafkan aku Mas Pras, begitu banyak hati yang terluka akibat ketidak pedulianku waktu itu. Salah satunya adalah dirimu," ucap Riva menghampiri Pras seolah tahu perasaan lelaki itu. Pras tampak menghela nafas panjang, ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya di hadapan Riva. Kemudian Pras pun menyahut, "Semua bukan salahmu, Va. Mungkin mereka berjodoh, pasangan yang serasi," jawab Pras menutupi perasaannya, "Besok jika Pak Bram pulang, kurasa mereka langsung disuruh secepatnya menikah. Oh ya, a okpakah kamu masih mau bekerja disini, va?" tanya Pras mengalihkan pembicaraan. "Entalah, mungkin aku akan kembali mencari kedua orang tuaku," jawab Riva tidak pasti, "titip Sherly ya Mas! Jangan biarkan Alex menyakitinya," pinta Riva dengan serius. "Kamu jangan khawatir! Aku jamin Alex tidak akan menyakiti Sherly," jawab Pras yang membuat Riva tenang. Pras tampak terhibur dengan kehadiran Riva tidak lama kemudian, mereka terlihat berbincang dengan akrab. Bahkan sesekali tertawa, saat bercerita mengenai seputar kehidupan masing-masing. Untuk beberapa saat Pras bisa melupakan kesedihannya.Tak terasa malam kian merambat jauh. Bahkan mereka tak menyadari, Alex dan Sherly telah selesai dinner. "Kakak," panggil Sherly ketika melihat Riva datang. "Gimana dinner ya?" tanya Riva sambil tersenyum menggoda. "Ih ..., akak nakal," jawab Sherly dengan pipi yang bersemu merah, "Kak, tadi Alex janji akan cari tahu di mana papah dan mamah tinggal," ujar Sherly dengan antusias. Riva hanya tersenyum getir, ia sudah tidak percaya sama lelaki itu sejak Alex membohonginya tempo hari. "Ya sudah, kamu istirahat sana!" seru Riva sambil mencubit hidung Sherly yang bangir. "Aku mau tidur sama kakak," pinta Sherly dengan manja. "Aish ... masa calon pengantin masih minta dikelonin sih. Kakak panggilin Alex ya, biar nemenin kamu malam ini." Goda Riva sambil tertawa kecil. "Ih ... ga mau ah, aku malu. Ya udah deh aku tidur dulu," ujar Sherly sambil naik ke atas tempat tidur. Riva tersenyum sambil menarik selimut ke tubuh Sherly. "Jangan tinggalin aku sebelum bobo!" seru Sherly yang dijawab anggukan oleh Riva. Tidak lama kemudian Sherly pun sudah terlelap. Riva kemudian keluar dari kamar tamu. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya ke tembok. "Apa-apaan ini?" tanya Riva ketika Alex memepet tubuhnya. "Diam!" seru Alex sambil menatap tajam ke arah gadis itu, "Dengar baik-baik! Jika aku dan Sherly sudah menikah, kamu harus tetap bekerja di sini! Riva tampak tidak mengerti maksud Alex lalu ia pun bertanya, "Apa tujuanmu sebenarnya?" Alex tampak tersenyum dan menjawab, "Nanti kau juga akan tahu." "Kalau aku tidak mau?" Riva balik bertanya. "Lihat saja apa yang akan kulakukan terhadap adikmu!" jawab Alex sambil hendak pergi meninggalkan Riva yang mulai terlihat geram. Dengan spontan Riva pun membalikkan tubuh Alex dan berkata, "Jika kau punya dendam hadapi aku, jangan cuma bisa mengancam perempuan! Kau kira aku takut padamu," ujar Riva sambil menantang Alex. "Lancang, berani sekali kamu!? Akan kubuat kau menangis darah!" Alex mencoba untuk meraih rambut Riva, tetapi dengan cepat gadis itu berkelit dan menepis tangan Alex. Alex semakin meradang terdengar suara gemertak giginya yang beradu. "Riva, kamu belum tidur?" tanya Pras yang tiba-tiba datang. "Iya Mas, ini mau ke kamar," jawab Riva sambil berlalu. Setelah Riva pergi, Pras menoleh ke arah Alex dan bertanya, "Lex, apakah lu masih benci sama Riva?" "Dia kurang ajar sama gue," jawab Alex sambil berlalu pergi. Pras hanya dapat menggeleng melihat sikap Alex yang keras kepala. *** Alex terjaga ketika mendengar suara ponsel yang berdering. Dengan malas ia meraih handphone untuk melihat siapa yang telah berani mengusik tidurnya. "Lex, papi sudah pulang tuh," terdengar pesan suara yang dikirim oleh Pras. Alex terperanjat ia tidak percaya jika Pak Bram sudah kembali tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Sekilas ia melirik jam yang telah menunjukan pukul 07.00. Dengan segera Alex pun bergegas ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Alex segera keluar kamar. Lelaki itu tampak tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan papinya. Alex melihat Pak Bram yang sedang berdiri di gazebo taman belakang. Ia pun segera menghambur dengan senangnya. "Papi!" Alex memanggil sambil memeluk orang yang disayanginya. "Gimana kabar Papi?" tanya Alex kembali "Seperti yang kamu lihat, Papi sudah merasa lebih baik," jawab Pak Bram dengan tersenyum. "Syukurlah aku senang mendengarnya. Tapi papi jangan menyembunyikan rahasia lagi ya!" ucap Alex sambil mengungkapkan kecemasannya. Pak Bram hanya tersenyum sambil mengajak putranya duduk. "Aku juga punya kabar baik, Alex sudah punya calon istri, Pi!" ujar Alex dengan mata yang berbinar. "Sebentar, aku akan kenalkan Papi dengan gadis itu, dia ada di kamar tamu." "Oh ..., gadis yang di kamar tamu itu. Papi sudah ketemu dia tadi. Apakah kamu yakin akan menikah dengannya?" tanya Pak Bram sambil menatap anaknya dengan serius. "Alex yakin dan tidak akan mengecewakan Papi lagi," jawabnya dengan mantab. "Ya sudah, sepertinya wajah kalian memiliki chemistry yang kuat, Papi setuju," tutur Pak Bram dengan bahagia. "Sebaiknya kalian segera menikah secepatnya!" serunya kembali. "Baik, Pi, aku akan ngurus pernikahan kami segera," jawab Alex dengan seriusnya. "Bagus, Oh ya papi juga tadi lihat Pras dengan seorang wanita. Mereka terlihat cocok sekali. Bagaimana kalau kita jodohkan mereka?" Pak Bram meminta pendapat Alex. "Terserah papi saja," jawab Alex sambil tersenyum. "Nah itu mereka, Pras!" panggil Pak Bram sambil melambaikan tangannya. Melihat Pak Bram melambai, Pras segera menghampiri, tetapi betapa terkejutnya Alex ketika melihat wanita yang sedang berjalan di samping Pras. Pak Bram tampak memperhatikan wanita yang berada di samping Pras dan berkata, "Sepertinya saya kenal dengan kamu." Pak Bram tampak mengingat siapa gadis itu. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN