Setelah berpikir sejenak Pak Bram pun menebak, "Kamu salah satu putri Pak Roby kan?"
"Iya Pak," jawab Sherly dengan raut muka yang lugu.
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Pak Bram kembali dengan lembut
"Sama kakak Riva," jawab Sherly dengan jujurnya.
Alex terlihat memegang dahinya, ia terlihat panik dan tegangsambil menatap Pras yang terlihat bingung.
"Jadi calon istrimu Riva, Lex?" tanya Pak Bram sambil menatap putranya yang terlihat tegang.
"I ... iya Pi," jawab Alex dengan gugup.
"Bagus, rupanya kamu sudah mendapatkan wanita yang kamu inginkan. Tapi kenapa calon istrimu memakai baju asisten?" tanya Pak Bram dengan heran. Sehingga Alex pun tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat itu Pras segera mengalihkan pembicaraan, "Oh mungkin Riva ingin memasak buat papi."
Pak Bram tampak mengangguk dan berseru, "Cepat panggil Riva Lex, ajak dia sarapan bareng kita! Sekalian papi ingin tanya kabar Pak Roby."
"Biar aku saja yang panggil kakak Riva," ujar Sherly yang dijawab anggukan oleh Pak Bram.
Kemudian Alex pun mendekat ke arah Pras sambil berbisik, "Temani papi dulu!"
"Oke," jawab Pras dengan pelan.
Alex kemudian segera menyusul Sherly untuk memanggil Riva.
Riva baru saja hendak mengerjakan tugasnya, saat Sherly datang dengan Alex di belakangnya. Ketika Sherly hendak berbicara, Alex segera mendahuluinya.
"Cepat ganti bajumu dengan warna yang sama!" seru Alex dengan raut wajah yang tegang sambil menatap ke arah Riva.
"Kenapa?" tanya Riva tidak mengerti.
"Aku ga mau papi tahu kamu kerja di sini," jawab Alex dengan serius.
"Lalu kenapa, kalau beliau tahu aku kerja di sini?" Riva kembali bertanya.
"Kamu tadi pagi ada di kamar Sherly dan bertemu seorang Bapak-bapak kan?" tanya Alex dengan sorot yang tajam.
"Iya, aku tahu dia papimu." Riva menjawab dengan tenangnya.
"Papiku mengira, kau lah wanita yang akan kunikahi, Riva!" sambung Alex dengan begitu galau.
"Tinggal jelaskan saja kepada Beliau! Bukan aku yang ingin kau nikahi, tetapi Sherly gampang kan?" ujar Riva dengan santainya
"Aku tidak mau membuat papiku bingung, Riva. Beliau baru saja melakukan operasi jantung dan sedang dalam masa pemulihan," tutur Alex dengan serius.
"Oh ...! jadi kau ingin melepaskan tanggung jawab untuk menikahi Sherly?" Riva terlihat geram dengan maksud Alex.
Alex menatap Riva yang menggampangkan masalah ini kemudian ia berkata, "Situasinya tidak memungkinkan dan aku tidak mau terjadi sesuatu lagi terhadapnya. Cepat ganti baju, papiku menunggu kita untuk sarapan!" seru Alex sambil menarik tangan gadis itu.
"Oke," jawab Riva sambil melepaskan tangannya.
"Oh ya, satu lagi jika papi tanya tentang orangtuamu. Kamu harus jawab mereka baik-baik saja!" seru Alex mengingatkan.
"Pinter sekali kamu memanfaatkan situasi Alex. Kita perlu membahas hal ini lagi nanti," ujar Riva menanggapi saran Alex yang licik menurutnya.
"Iya nanti kita bahas lagi," jawab Alex kemudian ia menoleh ke arah Sherly dan berseru, "Oh ya satu lagi, kamu jangan bicara apapun Sherly!" seru Alex yang membuat gadis itu terlihat ketakutan.
"Kakak," panggil Sherly sambil sembunyi di belakang Riva.
"Jangan berani ancam adikku!" seru Riva dengan memasang badan.
Seketika Alex pun terdiam dan membiarkan Riva berlalu dari hadapannya.
Tidak lama kemudian Alex, Riva dan Sherly datang bergabung untuk sarapan. Mereka pun segera duduk melingkari Pak Bram.
"Saya senang sekali akhirnya kamu mau menikah dengan Alex," ungkap Pak Bram sambil tersenyum ke arah Riva.
"Iya Pak, maaf ya waktu itu aku tidak ada di tempat," jawab Riva dengan santun.
"Yang sudah, biarlah berlalu! Oh ya sekarang bagaimana keadaan orang tuamu?" tanya Pak Bram ingin tahu.
Sambil melirik ke arah Alex Riva pun menjawab, "Alhamdulillah ... baik Pak."
"Saya ingin berjumpa dengan mereka untuk membicarakan pernikahan kalian," ujar Pak Bram yang membuat Alex, Riva dan Pras tampak terkejut.
"Aku dan Pras sudah membahas ini dengan Pak Roby, Pi. Beliau menyerahkan semuanya kepada kita. Jadi mereka akan datang pas akad," tutur Alex menjelaskan sambil menatap Riva sekilas.
Sementara itu Riva tampak terdiam sambil mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka ternyata Alex sangat pandai bersandiwara. Ingin sekali Riva mengatakan yang sebenarnya, tetapi ia teringat akan certa Alex mengenai kondisi papinya. Gadis itu takut Alex murka dan tidak menikahi Sherly Jika, terjadi apa-apa dengan Pak Bram.
Mereka tampak menikmati sarapan dengan santai sambil sesekali bercakap.
"Kalian jangan merasa sungkan, anggap saja rumah ini seperti kediaman sendiri!" seru Pak Bram sambil menatap ke arah Riva dan Sherly.
"Iya Pak," jawab Riva setenang mungkin.
Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan sarapannya ya! Saya mau istirahat dulu," seru Pak Bram sambil berdiri dan pergi meninggalkan mereka.
Setelah Pak Bram pergi Alex dan Pras yang tampak menghela nafas panjang.
Sementara itu Riva terlihat menatap Alex dengan tajam, "Kau sungguh hebat Lex. Menutupi kenyataan yang sebenarnya."
"Ini semua salahmu, kenapa tadi ada di kamar Sherly?" sahut Alex yang membuat Riva bertambah geram.
"Aku mengantar sarapan, kenapa kamu meninggalkan kamar Sherly," tanya Riva kepada adiknya.
"Aku hanya pergi ke taman sebentar," jawab Sherly sambil tertunduk.
"Lu juga Pras kenapa ga cepat nyuruh Sherly kembali ke kamar?" tanya Alex yang mulai terlihat pening.
"Tadi pas lagi di taman, gue baru tahu papi sudah pulang ketika melihat mobilnya ada di garasi," jawab Pras dengan alibinya.
"Mau ga mau kamu harus menikah denganku, Riva. Gimana menurut lu, Pras?" tanya Alex meminta pendapat.
Pras tampak berpikir sesaat dan menjawab,"Untuk kebaikan papi, lu memang harus menikah dengan Riva."
"Kau sendiri gimana, Sherly?" tanya Alex kemudian.
"Terserah Kak, Riva saja," jawab Sherly sambil menatap Riva.
"Ga Mas Pras! Alex harus bertanggung jawab kepada Sherly," tolak Riva tidak setuju.
"Dengar dulu! Pernikahan kita ini hanya formalitas saja. Setelah itu aku akan menikahi Sherly," ujar Alex menjelaskan.
"Maksud kamu kita menikah bohongan?" tanya Riva yang belum mengerti maksud Alex.
Alex tampak menghela nafas panjang dan berkata lagi, "Ya ga lah, papi bukan orang bodoh yang bisa dikibuli. Setelah beberapa bulan pernikahan aku akan menalakmu dan menikahi Sherly Bereskan." Alex menjabarkan rencananya.
"Lalu apa yang akan lu katakan kepada papi jika kalian berpisah?" Pras bertanya tentang kemungkinan yang akan terjadi.
"Gampang itu, gue akan atur," jawab Alex dengan enteng.
Kini semua mata tertuju kepada Riva. Gadis itu tidak langsung menjawab, dirinya masih bingung. Apakah dia harus menikah dengan Alex, orang yang tidak pernah ia cintai.
Meskipun lelaki itu sangat tampan dan kaya raya, tidak membuat Riva merasa suka sedikitpun. Bahkan sampai saat ini, ia masih marah dan benci kepada Alex. Dia masih ingat bagaimana lelaki itu dengan sombong, menyuruhnya untuk memohon untuk menikahi adiknya malam itu.
Namun, Riva tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi. Tiba-tiba sebuah ide terbesit di benaknya. Kemudian gadis itu pun berkata,"
"Baik ... aku mau menikah denganmu, tetapi ada syarat yang harus kau penuhi dalu!"Riva menatap Alex dengan serius.
"Cepat katakan! Apa syaratnya?" jawab Alex dengan tidak sabar.
"Aku butuh uangmu," jawab Riva sambil berpikir.
"Berapa yang kau butuhkan? sebutkan!" Alex bertanya dan menantang.
"Sherly kembali ke kamarmu!" seru Riva kepada adiknya. Tanpa membantah Sherly pun segera meninggalkan mereka.
Dengan tersenyum sinis Riva berkata, "Aku ingin kau malam ini, pergi ke hotel tempat Sherly dilelang. Gunakan uangmu untuk membuka mulut kakakku! Agar ia mau mengatakan, di mana kedua orang tuaku berada," tutur Riva dengan jelas.
"Kalau Bela tau maksud rencana ini gimana?" tanya Alex sambil berfikir.
"Aku tidak mau tahu, itu urusanmu! Jika rencana ini gagal maka, tidak akan ada pernikahan di antara kita," tukas Riva sedikit mengancam. "Oh ya! jika alamat itu sudah kau dapatkan, segera kabari Mas Pras!" sambung gadis itu kembali dan berlalu pergi dari hadapan Alex yang terdiam.
Pras yang menyimak percakapan itu, tampak kagum dengan syarat yang diajukan Riva.
"Brilliant ...!" seru Pras, " Sepertinya lu mendapatkan lawan yang setimpal, Lex!" Pras berkata sambil meninggalkan Alex yang masih berfikir.
***
Sebuah mobil mercedes hitam, tampak berhenti di halaman depan hotel bintang lima kemudian, seorang lelaki parlente turun dan masuk dengan ditemani Bodyguardnya.
Alex terlihat memasuki sebuah ruangan. Dimana, banyak lelaki kaya biasa nongkrong dan minum sambil ditemani wanita-wanita yan sangat cantik.
Seorang wanita paruh baya mendatangi Alex dengan genitnya.
"Hai! butuh teman ga?" tanya wanita itu sambil menghisap sebatang rokok.
"Boleh ..., Aku ingin wanita yang di meja pojok sana!" jawab Alex sambil menatap tajam wanita seksi yang sedang menemani minum seorang om-om.
"Jangan yang itu! Dia sudah dibooking. Masih banyak wanita cantik yang lain,"
"Kau bisa urus itu, bukan?" jawab Alex sambil menyerahkan selembar cek.
Wanita itu pun terbelalak, melihat nominal yg tertera di atas cek tersebut kemudian, ia mengangguk dengan tersenyum.
"Suruh Wanita itu datang ke kamar no. 140 sekarang!" Seru Alex sambil berlalu.
Bela terlihat senang ketika, ia dibooking oleh seseorang dengan tarif yang begitu fantastis. Setiba di kamar yang dituju dirinya langsung masuk. Betapa terkejutnya Bela, ketika melihat pria yang sedang duduk menunggunya.
"Rupaya kau, mana adikku?" tanya Bela dengan serius.
"Adikmu sangat cengeng dan payah. Maka daripada itu, aku ingin mengembalikannya kepada kedua orang tuamu," ucap Alex sambil tersenyum manis.
"Boleh, asal kau membayar jumlah hari bersama dengan adikku!" jawab Bela dengan perhitungannya.
"Oke," jawab Alex sambil menyerahkan selembar cek lagi ke Bela.
Seperti wanita tadi, Bela terbelalak melihat nominal cek tersebut. Tanpa berpikir panjang, ia pun menyebutkan alamat yang dipinta Alex.
"Kau pasti tidak akan membayarku, dengan mahal untuk sebuah alamat bukan?" tanya Bela sambil mendekat. "Kuingin tahu seberapa jantannya dirimu." Tangan Bela mulai nakal mengelus d**a Alex yang kekar.
Wanita itu kian mendekatkan tubuh sintalnya. Alex adalah seorang lelaki normal, gairahnya pun bergejolak melihat kemolekan tubuh Bela. Ia tampak beberapa kali menelan silvanya.
Bela terus menggoda Alex, tangannya terus bergerak nakal sampai mengelus paha lelaki itu. Dimana tampak milik Alex yang menonjol.
Alex segera menangkap tangan Bela sebelum menyentuh juniornya yang mulai menegang dan berkata,"
"Aku ingin dirimu mandi dulu! Agar lebih segar untuk kujamah nanti," Alex berkata sambil menahan tubuh Bela dengan tangan satunya.
"Baiklah," jawab Bela sambil tersenyum nakal.
Bela pun segera meningglkan Alex dan masuk ke kamar mandi. Tidak berapa lama kemudian. wanita itu keluar dengan tubuh yang hanya terbalut handuk saja.
BERSAMBUNG