Hana selesai mencuci piring kotor lalu meletakan di rak piring. Dia agak berjinjit namun tak masalah, bisa dia jangkau.
Setelah membereskan piring kotor, Hana berbalik ke arah Yosep dengan posisi badan berdiri tegak lalu menjawab, "Ibu sudah biasa pulang malam, Om."
"Berarti besok kau pulang ke rumahmu, pasti ibu kau sudah balik ke rumah," ujar Yosep.
Hana mengangguk.
"Baik, Om."
Melihat betapa menurutnya Hana, Yosep berdiri dari kursi duduk lalu menunjuk ke arah kamarnya. "Tidur di sana!" perintah Yosep.
Hana mengangguk.
"Baik, Om." Hana kembali merangkul tas ransel lalu masuk ke kamar milik Yosep.
Di dalam kamar itu, Hana melihat dipan kayu yang dilapisi kasur busa yang berukuran panjang 200 cm dan lebar 120 cm dengan tinggi kasur 8 cm dilapisi sprei kotak-kotak hitam dan dilengkapi satu buah bantal dan guling. Ada selimut tipis di atas kasur.
Hana meletakan ransel di lantai samping dipan tempat tidur lalu mulai naik dan menutupi tubuhnya dengan selimut menyisakan kepala. Mata Hana menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Mungkin tempat baru membuatnya agak susah untuk tidur.
Beberapa kali Hana menutup mata lalu kembali membuka kelopak matanya, dia melihat lagi ke arah pintu kamar yang tertutup.
Setelah beberapa lama kemudian, mata Hana melirik ke arah lemari pakaian yang tertutup satu pintu dan satu pintu lagi hilang entah kemana. Ada lipatan pakaian amburadul di dalam lemari pakaian itu.
Beberapa saat kemudian, Hana membalikkan badan dan menatap dinding kamar, dia menutup kembali kelopak matanya dan berangsur-angsur tertidur.
*
Paginya, Beni membuka pintu kamar sambil menguap lebar.
"Jam segini sudah berisik di dapur. Bang, kau mau berbenah rumah?" tanya Beni tanpa menoleh ke arah dapur. Namun, saat melewati ruang nonton, Beni diam selama beberapa detik saat melihat sang kakak tidur di atas karpet di depan ruang nonton.
"Bang, bikin apa kau tidur di sini? macam tak ada kamar saja kau, Bang," ujar Beni.
Yosep membuka mata, namun dia kembali tidur karena merasa masih mengantuk.
Beni hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Kukira kau mau berbenah rumahmu, berisik sekali ini-" ucapan Beni terhenti saat menyadari bahwa di dalam rumah ini setahu dia, hanya dia dan kakaknya yang menghuni rumah ini. Jadi, siapa yang berada di dapur?
Beni buru-buru melangkah ke dapur dan melihat ada apa di dapur rumah mereka. Apakah ada orang pencuri pada pagi hari ini?
Seketika wajah Beni kaku lalu matanya melotot saat melihat Hana baru saja mematikan kompor gas lalu meletakan tiga telur ceplok ke dalam piring.
"Om, ayo sarapan bersama, Hana," ujar Hana saat menengok ke arah Beni.
Beni menunjuk ke arah Hana lalu dia berteriak ngeri. "Rumah kita kebakaran!"
Suara Beni yang menggelegar itu membangunkan Yosep.
*
Beni menatap Hana yang sedang berdiri dengan posisi siap di depannya. Sementara itu Yosep melirik ke arah meja makan yang rupanya sudah ada tiga porsi sarapan di tiga piring.
"Macam mana bocah ini bisa ada di sini, Bang?" tanya Beni.
"Abang yang bawa ke sini," jawab Yosep.
"Apa? aku tidak tuli, kan?" Beni mengusap kupingnya.
Yosep mengangguk.
"Ini anak orang, untuk apa kau bawa ke sini? lagian juga, hei! bocah, untuk apa kau nyalakan kompor? mau membakar rumah ini?!" Beni seperti orang yang kalang kabut saat melayangkan pertanyaan pada Yosep dan Hani secara bersamaan.
Hani hanya diam, dia menunggu Yosep yang menjawab terlebih dahulu.
"Dia ditinggalkan mamanya," jawab Yosep.
"Ah! tidak peduli aku, Bang! pulangkan! pulangkan!" ujar Beni sambil mengibaskan telapak tangannya.
Yosep hanya menarik napas lalu mengembuskan napas kasar.
"Hari ini kata Om Yosep, Hana nanti dibawa pulang lagi ke rumah," ujar Hana setelah Yosep tak mau membalas ucapan sang adik.
Beni mengangguk puas.
"Memang seharusnya itu yang dilakukan padamu. Anak orang macam mana bisa dibawa ke sini? dia juga punya orang tua,” ujar Beni.
Yosep hanya diam. Lalu dia menatap lagi menu sarapan yang ada di atas meja.
"Dari mana kau dapatkan telur dan roti?" tanya Yosep.
Hana menunjuk ke arah kulkas.
"Ada di kulkas, Om," jawab Hana.
Yosep melirik ke arah Beni.
"Kemarin kau bilang tidak ada makanan apapun di dalam kulkas, lalu ini apa?" tanya Yosep.
"Kemarin aku malas goreng telur, mending beli makan saja di luar, kita kan juga sudah ada uang kemarin," balas Beni.
Yosep hanya diam lalu mengambil sarapan miliknya.
Melihat bahwa ada roti dan telur ceplok di atas meja, Beni mulai mengambil satu dan langsung memasukannya ke dalam mulut. Sementara itu, Hana hanya melihat Beni dan Yosep sarapan dengan posisi berdiri tegak.
Beni meraih roti dan telur kedua, namun Yosep memukul tangan Beni.
"Kasih ke dia!" perintah Yosep.
Beni melirik ke arah Hana yang sedang berdiri. Hana tersenyum membuka lebar giginya lalu berkata, "Hana masih kenyang, Om. Tadi malam Hana makan banyak."
Beni mengangguk puas mendengar jawaban dari Hana, dia hendak menggigit roti dan telur ceplok namun tangan Yosep merampas roti dan telur itu dari tangan Beni, alhasil Beni hanya makan angin kosong.
"Ini, makan! setelah itu Om bawa pulang kau ke rumahmu," ujar Yosep.
Hana mengangguk, dia menerima roti dan telur dari Yosep. "Baik, Om."
*
Hana diturunkan di depan rumahnya, Beni dan Yosep kembali ke rumah mereka.
Saat malam tiba, Yosep melihat makanan yang dibawa oleh sang adik, itu adalah nasi padang lagi.
Yosep meletakkan dua piring di atas meja dan mulai makan.
"Aku bilang beli tiga bungkus, kenapa kau cuma beli dua bungkus?" tanya Yosep.
Beni yang sedang makan, melirik ke arah sang kakak. "Kan cuma kita berdua saja Bang yang ada di rumah ini, memangnya kau mau makan dua bungkus?" tanya Beni.
Yosep tidak jadi makan, dia berdiri dari kursi lalu mengambil kunci mobil di atas meja makan. Yosep berjalan meninggalkan sang adik yang sedang makan, namun Beni berpikir mungkin saja kakaknya marah.
Beni buru-buru meletakan piring dan menjilat tangan lalu menyusul sang kakak.
"Bang, kau marah padaku?" tanya Beni.
Yosep malah masuk ke dalam mobil, Beni juga ikut masuk.
"Mari, kubelikan lagi satu bungkus," ujar Beni.
Namun, Yosep hanya diam mengendarai mobilnya.
Tak lama kemudian, mobil Yosep malah berhenti di depan rumah Hana lagi.
Beni yang melihat malam-malam begini Hana masih berdiri tegak sama seperti posisi yang tadi pagi dia ditinggalkan oleh mereka, Beni terhenyak.
Hana mengetahui bahwa itu pasti adalah Yosep dan Beni yang keluar dari mobil. Dia berjalan pelan menuju Yosep dan Beni yang juga sedang menuju ke arahnya.
"Om, mau menagih utang Ibu lagi?" tanya Hana.
"Mana Ibu kau?" tanya Yosep.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Ibu tidak pulang, Om," jawab Hana lirih.
Air mata Yosep tumpah.
…..