4 Kenapa Kau Tak Menangis?

1099 Kata
Hana berharap utang ibunya lunas, tapi dia tak tahu jika utang ibunya itu ratusan juta, tak akan bisa digantikan dengan segepok uang dan celengan miliknya. Beni melirik ke arah Yosep. "Bang, cemana ini?" tanya Beni. Yosep ragu-ragu selama beberapa detik. "Aku butuh uang, Ben," jawab Yosep. "Ya sudah, ambil sajalah, Bang! ini kan uang kita juga," ujar Beni. Yosep hendak menerima uang dari tangan Hana, namun suara Hana terdengar. "Utang Ibu lunas, kan?" tanya Hana. "Mana bisa begitu? utang Ibu kau banyak, ini hanya sepersepuluh dari utangnya, belum lunas," jawab Yosep. Wajah Hana terlihat murung dan kecewa. "Hana tidak punya uang lagi, Om. Uang celengan itu adalah uang terakhir Hana tabung dari uang yang dikasih Ibu untuk mengaji di ustazah Alifah," ujar Hana. Yosep terdiam, dia melihat celengan ayam plastik. "Bang Sep, ingat, kau butuh uang," ujar Beni. Yosep mengangguk. "Ayo pergi!" ujar Yosep. Beni dan Yosep pergi meninggalkan Hana yang berdiri sendirian di depan rumahnya. * Di perjalanan, wajah Beni terlihat agak ragu, dia melirik ke arah sang kakak, rupanya wajah sang kakak juga terlihat ragu dan tidak tenang. "Ada apa, Bang?" tanya Beni. Yosep menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Tidak ada apa-apa." "Meskipun kau tak dapat semua uang yang kau pinjamkan untuk Hani, kau masih dapat sedikit uang, jadi kita tak rugi datang hari ini ke rumahnya," ujar Beni. "Ben," panggil Yosep. "Hm?" sahut Beni. "Kau yakin anak itu ditinggalkan oleh mamanya?" tanya Yosep. "Mana kutahu. Tapi mana mungkin si Hani meninggalkan anaknya, itu pasti akal-akalannya saja biar kita jangan lagi datang ke rumahnya untuk menagih utangnya," jawab Beni. Yosep mengangguk seakan percaya pada ucapan sang adik. "Semoga saja benar kata kau,” timpal Yosep. * Sesampainya di rumah, Beni melihat persediaan makanan yang ada di kulkas, apakah masih ada yang bisa dimakan ataukah tidak ada. "Semua sayur malah kering, nasi sisa kemarin juga ikut kering," ujar Beni. Dia melihat ke arah ruang tamu di mana ada Yosep yang sedang duduk di depan pintu sambil melihat ke arah bengkel miliknya yang kini ditutup permanen karena kurangnya modal untuk beroperasi. "Bang, tak ada makanan! mau makan apa kita ini? beli makanan sajalah!" seru Beni dari dalam dapur. Yosep melirik ke arah sang adik, dia merogoh uang yang tadi diberikan oleh Hana, lalu mencabut satu lembar uang pecahan seratusan. "Ini, belikan saja nasi padang di depan!" perintah Yosep. Si adik berjalan ke arah kakaknya lalu menerima uang itu. "Untuk makan saja, kulkas kita kosong. Untung ada uang yang tadi kita tagih di rumah si Hani," gumam Beni. Yosep hanya diam saja. Dia punya banyak beban pikiran. * Pada malam harinya, setelah dua saudara itu makan malam yang dibeli di luar rumah, Yosep melirik ke arah si adik yang sedang menonton tv di ruang nonton. "Abang keluar sebentar," ujar Yosep sambil meraih kunci mobil di atas meja TV. Beni mengangguk. "Mau ke mana, Bang?" tanyanya. "Cari udara segar," jawab Yosep. "Jam sebelas begini?" tanya Beni. "Hum," sahut Yosep. Beni manggut-manggut. "Mau aku ikut?" tanya Beni. "Tidak usah, sebentar saja," jawab Yosep. "Okelah, Bang," balas Beni sambil menonton TV. Yosep keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil, kakinya menginjak pedal gas, bunyi suara mobil terdengar meninggalkan rumah itu. Beberapa saat kemudian entah mengapa Yosep menyetir mobilnya berhenti di depan rumah yang tadi siang didatangi olehnya untuk menagih utang. Rumah itu rumah kontrakan Hani. Mata Yosep tercengang saat cahaya lampu mobilnya diarahkan ke arah rumah itu, rupanya anak kecil yang tadi memberi dia segepok uang, kini tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk perutnya. Merasa bahwa ada cahaya terang yang menerangi wajahnya, wajah Hana agak mengkerut. Yosep buru-buru turun dari mobil dan menghampiri Hana yang baru saja membuka matanya sambil menutup mata dengan telapak kiri kecilnya. "Bikin apa kau tidur di sini?" tanya Yosep pada Hana. Hana mengenal suara Yosep, dia buru-buru bangun masih sambil menguap lalu menatap Yosep. "Om mau menagih utang Ibu lagi?" tanya Hana alih-alih menjawab pertanyaan Yosep. "Mana Ibu kau?" tanya Yosep. Hana menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak ada di rumah, tadi pagi Ibu sudah pergi setelah Hana masuk rumah Ayah," jawab Hana. Yosep yang tadi siang tak percaya dengan omongan Hana, kini mulai mempercayai omongan Hana, bahwa dia ditinggalkan oleh ibunya. "Kau-" suara Yosep terhenti saat mendengar bunyi yang dipancarkan dari perut Hana. Kryuukk kryuukkk! Wajah Yosep terlihat datar. * Mobil berhenti di rumah Yosep. Hana melirik ke arah rumah minimalis putih di depannya. "Ayo turun!" pinta Yosep. "Di mana ini, Om?" tanya Hana. "Di Jebres," jawab Yosep. "Rumah siapa ini, Om?" tanya Hana. "Rumah Om," jawab Yosep. Hana melirik ke arah Yosep dan bertanya, "Hana makan di rumah, Om?" Yosep mengangguk. "Ya," sahut Hana. "Tidak beli makanan, Om?" tanya Hana. "Sudah jam dua belas malam, warung tutup," ujar Yosep beralasan. Hana mengangguk mengerti. "Ayo turun, ada nasi padang di rumah Om," ujar Yosep. Hana mengangguk. Yosep membukakan pintu mobil untuk Hana. Setelah Hana turun dari mobil, Yosep ikut turun. Mereka berjalan memasuki rumah Yosep. Saat Yosep membuka pintu rumah, suara Hana terdengar. "Assalamu'alaikum," salam Hana. Yosep terdiam selama beberapa detik, dia melirik ke arah Hana, lalu berkata, "Waalaikumsalam." Hana masuk rumah, sementara itu Yosep berkata, "Makan di dapur." Hana mengangguk, sambil merangkul tas ransel di punggung, Hana berjalan mengikuti Yosep ke dapur. Di ruang nonton, tv yang tadi dinyalakan oleh Beni kini layarnya sudah menghitam. Adik laki-laki Yosep sudah masuk ke kamar dan tidur di sana. "Taruh tas dulu!" pinta Yosep. Hana mengangguk. Yosep meletakan piring berisi satu bungkus nasi padang di atas meja makan. Hana mengambil piring itu lalu duduk di lantai. "Kenapa makan di lantai? duduk di kursi," ujar Yosep. "Om, Hana makan di lantai saja yah, duduk di kursi terlalu tinggi," balas Hana. Yosep mengangguk. "Makan!" pinta Yosep. Hana mulai makan. Sementara itu Yosep mengambilkan air di gelas untuk Hana minum. "Terima kasih, Om," ujar Hana. Yosep mengangguk sambil duduk di atas kursi melipat tangan. "Ke mana Ibu kau?" tanya Yosep. Hana menggelengkan kepalanya. "Hana tidak tau, Om," jawab Hana setelah menelan makanan. "Ibu kau tidak bilang mau ke mana?" tanya Yosep. Hana menatap Yosep. "Setelah kemarin Om pergi dari rumah Hana, Ibu hanya bilang mau pergi dari rumah. Kita beberes, Ibu bilang kita ke rumah Ayah,” jawab Hana. "Tau alamat rumah ayahmu?" tanya Yosep. Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak tau, Om," jawab Hana. Hana minum air lalu berdiri dari duduk lesehan. "Mau ke mana?" tanya Yosep. Hana menunjuk ke arah wastafel. "Mau cuci piring, Om,” jawab Hana. Yosep hanya diam sambil mengangguk. Yosep berpikir bahwa Hana ini agak berbeda dari karakter anak yang lain. Perbedaannya adalah Hana tidak mudah menangis setelah ditinggalkan oleh orangtua. "Kenapa kau tak menangis ditinggal Ibu kau?" tanya Yosep. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN