3 Apakah Ini Cukup?

1054 Kata
Hana duduk seorang diri di sebuah kursi tunggal, dia dilihat oleh beberapa orang yang juga duduk dekat dengannya di ruang yang sama. Seorang pria berusia pertengahan 30-an menatap ke arah Hana, sementara itu seorang wanita yang berusia sekitar awal tiga puluhan sedang memangku seorang anak perempuan yang hampir seusia dengan Hana. Ada seorang wanita tua yang sedang menggendong bayi laki-laki yang berusia tiga bulan. Hana tersenyum polos dan cerah ke arah pria yang memang adalah ayahnya. "Ayah, Ibu bilang kalau Hana sudah masuk di rumah katanya tidak boleh keluar, nanti Ayah marah. Jadi, Hana duduk di dalam rumah saja, yah, biar jangan Ayah marah," ujar Hana. "Mama tidak mau menerima anak dari Hani, dia itu perempuan tidak jelas saat menikah denganmu. Anak ini belum tentu anakmu, Bram," ujar wanita tua yang sedang menggendong bayi laki-laki ke arah Ayah Hana. Hana masih tersenyum, namun dia tak mengambil hati sang nenek yang berbicara kasar dimaksudkan padanya. "Ma, jangan bicara begitu di depan anak-anak," balas Bram. "Biarkan saja, biar anak ini juga tau kalau kamu itu bukan Ayahnya," balas nenek Hana. Hana yang tadinya tersenyum senang, kini tidak lagi tersenyum. Dia memandangi wajah sang Ayah yang terlihat serba salah. Sementara itu, wanita yang adalah istri kedua dari ayahnya tidak berkomentar, namun dia hanya menatap ke arah Bram dengan tatapan sulit diartikan. "Bram, cepat pulangkan anak ini ke Ibunya!" pinta nenek Hana. "Ayah, kenapa Nenek marah?" tanya Hana. "Hei, aku bukan Nenekmu! kamu itu bukan cucuku!" balas nenek Hana keras. Hana agak takut, dia mundur duduk ke sandaran sofa. "Ma, nanti Bram kasih pemahaman pada dia, jangan Mama teriak-teriak begini," tegur Bram. Bayi yang digendong nenek Hana menangis. Terpaksa nenek Hana harus menjauh dari Hana sambil mencibir kasar. "Anak tidak tau asal-usul datang ke sini, heum!" nenek Hana mendengus. Hana memperhatikan wajah sang nenek dan keluarga ayahnya. Bram mendekat dan agak mengambil posisi jongkok di depan Hana lalu bertanya, "Rumahmu di mana?" "Di Banyuanyar-Banjarsari, Ayah," jawab Hana. "Saya akan mengantarkan kamu untuk pulang ke rumahmu," ujar Bram. Wajah Hana terlihat kecewa. "Kenapa begitu, Ayah? apa Ayah tidak suka sama Hana?" tanya Hana. Bram menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, tapi kamu harus tau, tidak seharusnya kamu berada di rumah ini," jawab Bram. "Kenapa, Ayah? bukankah Ibu bilang kalau Ayah itu adalah Ayahnya Hana? kenapa Hana tidak boleh tinggal di rumah ini?" tanya Hana. "Karena kamu bukan anak saya," jawab Bram. Wajah Hana terlihat syok dan penuh dengan kekecewaan yang mendalam. "Tapi… kata Ibu, Ayah saya yang ini," ujar Hana sambil menunjukkan foto nikah antara Bram dan Hani. Bram memasukan foto itu ke dalam tas ransel Hana, ada beberapa lembar kertas putih namun Bram sama sekali tidak melihat kertas itu, dia justru menutup kembali tas itu lalu berkata, "Saya akan mengantar kamu pulang ke rumah." "Tapi kata Ibu, kita akan pindah rumah hari ini," ujar Hana. Bram terdiam selama beberapa detik. Suara sang istri terdengar. "Pulangkan saja dia ke rumahnya, nanti Ibunya pasti datang lagi ke rumahnya, kok, Mas." Bram mengangguk setuju. * Hana duduk termenung di depan pintu rumahnya seorang diri. Rupanya, pria yang dikira ayahnya itu baru saja meninggalkan rumah beberapa saat lalu. Di tangannya dia memeluk sebuah tas selempang kecil pemberian dari Bram. Suara mobil terdengar. Turunlah Yosep dan Beni. Dua kakak-beradik itu mendekat ke arah rumah Hana sambil memasang wajah sangar. "Hani, kau mau bayar utangmu sekarang atau tidak?!" tanya Yosep. Hana agak terkejut dari lamunan. Dia menatap ke arah dua orang pria berbadan kekar. Beni melihat Hana yang sedang duduk sambil memeluk tas selempang. "Bang Sep, ini rupanya anak si Hani yang berutang padamu," ujar Beni sambil menunjuk ke arah Hana. Yosep menatap ke arah Hana. "Hei, anak, mana Mama kau? panggilkan keluar!" perintah Yosep. Wajah Hana terlihat lesu, dia menjawab, "Om, Ibu sudah pergi." Beni dan Yosep diam selama beberapa detik. "Maksudmu?" tanya Yosep. "Ibu bilang hari ini kita akan meninggalkan rumah, tapi Ibu pergi sendirian tanpa membawa Hana," jawab Hana. Beni dan Yosep saling memandang. "Kau ditinggalkan?" tanya Yosep dengan nada tak percaya. Wajah Hana terlihat sedih, namun dia tetap mengangguk. Beni dan Yosep menelan saliva mereka, mereka masih tak percaya. "Ah, kau bohong saja, mana ada dia berani kabur lalu meninggalkan kau anaknya yang masih kecil ini! aku tidak percaya!" Yosep buru-buru memasuki rumah. Beni duduk jongkok di depan pintu sambil memandangi wajah murung Hana. Sementara itu sang kakak heboh di dalam rumah Hana. "Hani! hei! bayar utangmu! bayar! bayar!" Yosep berteriak-teriak. "Mamamu pergi ke mana?" tanya Beni. Hana menggelengkan kepalanya tidak tahu. "Hana tidak tau, Om," jawab Hana. Beni mengerutkan keningnya. "Tidak mungkin kamu ditinggalkan di sini, kamu kan masih kecil," ujar Beni tak percaya. Setelah Beni berkata, Yosep keluar rumah dengan wajah merah menahan kekesalan sambil mengumpat, "Sialan!" Wajah Hana terlihat murung, dia berkata, "Hari ini Ibu bilang Hana akan ketemu Ayah, tapi kata Ayah, dia bukan Ayah Hana…." Suara Hana terdengar lirih. "Lalu? kau di sini sendirian?" tanya Beni. Hana mengangguk. "Ayah Hana bilang Hana bukan anaknya, jadi Hana dibawa pulang ke sini lagi sama Ayah," jawab Hana. Beni dan Yosep terbengong. "Macam mana pikiran orang tua ni?" ujar Beni. Yosep berkata, "Memang rumah ini tidak ada isi sama sekali. Si Hani itu memang sudah kabur! ah! ayo ke kantor polisi! kali ini aku tidak lagi berubah pikiran! aku benar-benar akan melaporkan wanita itu!" Beni mengangguk. "Lalu dia bagaimana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Hana. Yosep mencibir, "Persetan dengan dia, bukan urusanku!" "Ayo!" Yosep berjalan ke arah mobilnya, namun terdengar suara Hana. "Om, uang ini boleh untuk bayar utang Ibu?" Hana memperlihatkan isi tas selempang yang diberikan oleh Bram padanya ke arah Yosep yang membelakangi dia. Beni yang menyusul sang kakak, kini berbalik ke arah Hana. Yosep berbalik badan dan melihat ke arah Hana. Di tangan anak kecil itu ada segepok uang tunai pecahan seratusan, atau lebih tepatnya satu bal uang seratus ribu. Nilai uang yang dipegang oleh Hana adalah sepuluh juta dengan mata uang Indonesia. Beni dan Yosep cepat-cepat mendekat ke arah Hana. "Siapa yang memberikan kau uang ini?" tanya Yosep. "Ayah Hana… um, dia bukan Ayah Hana," jawab Hana jujur. Wajah Beni dan Yosep terlihat sangat tidak percaya dengan ucapan Hana. Melihat keraguan dari dua orang itu, Hana membuka resleting tas dan mengeluarkan celengan ayam plastik dari dalam ransel, lalu memberikan celengan ayam plastik itu ke arah Yosep. "Apakah ini cukup?" tanya Hana dengan penuh nada harapan. ……
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN