Slice 98

2035 Kata

Angkasa duduk di salah satu kursi di kantin Atmaja Medika. Mukanya begitu kusut, matanya merah karena semalaman tidak tidur -- dan ada sebab lain juga sebenarnya. Seorang pelayan datang membawa secangkir kopi hitam dengan sebuah nampan. "Silakan," ucap pelayan itu seraya meletakkan cangkir kopi berikut tatapannya di meja. "Terima kasih," jawab Angkasa. Pemuda itu membuka tutup cangkir untuk membiarkan angin menurunkan suhu kopinya terlebih dahulu. Sebab lain kedua matanya memerah ... adalah menangis. Ya, sesuatu yang sudah lama tak Angkasa lakukan, baik secara sengaja ataupun tidak. Karena stigma masyarakat menganggap, laki-laki yang menangis adalah sebuah simbol kelemahan. Makanya banyak laki-laki di dunia ini yang gengsi untuk menangis secara terang-terangan. Akhirnya ia kembali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN