BAB 1 MALAM BULAN PURNAMA
Sakti
Gelap. Itulah yang pertama kali nampak saat membuka mata usai meditasi di alam terbuka.
Tidak ada warna lain yang bisa kulihat selain hitam pekat. Semuanya tampak gelap sejauh mataku memandang. Aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi dengan dunia ini. Aku tidak bisa membedakan apakah ini di dunia mimpi atau masih dalam meditasi.
Semuanya serba hitam, sampai aku berhasil menggerakkan kepala untuk menengadah ke langit malam. Langit yang kulihat memang berwarna gelap. Setidaknya untuk beberapa detik setelah aku menghadapkan wajah ke langit. Tapi perlahan, kondisi langit berangsur cerah. Ia mulai terang benderang sampai terlihat bulan purnama sempurna dengan cahayanya yang memikat mata.
Aku sadar, telah terjadi sesuatu beberapa detik yang lalu. Entah itu terjadi sesuatu dengan bumi ini, atau terjadi sesuatu dengan diriku.
Saat aku menatap bulan, aku melihat sesuatu yang tiba-tiba muncul. Benda hitam dari kejauhan yang makin lama makin membesar. Seakan jatuh dari langit dan mengarah kepadaku. Kalian tahu itu apa? Itu adalah seekor kucing yang jatuh dari ketinggian dan menghantamku seketika hingga membuatku tersungkur.
Benar. Itu benar-benar kucing. Bukan kucing terbang, melainkan kucing hitam. Ia seolah dijatuhkan oleh kekuatan cahaya bulan hingga mendarat di atas tubuhku. Bukan, lebih tepatnya di mukaku. Meninggalkan rasa perih di beberapa bagian wajah.
Keterlaluan sekali kucing itu. Seperti tak ada tempat lain yang lebih layak buat mendarat.
Tanpa rasa bersalah, kucing itu pun turun dari tubuhku dan berlalu begitu saja. Meninggalkan aku dengan segala perasaanku. Kaget, heran, dan perih.
Dalam posisi duduk, mataku terus membuntuti kepergian kucing itu. Ini aneh. Kucing itu sudah tak nampak di sekitarku, tapi penglihatanku seperti bisa mengikuti kucing itu kemanapun ia pergi.
Dalam penglihatanku, kucing itu menyusuri jalanan. Ia sampai di tepi jalan beraspal dan terus berjalan entah menuju mana. Sampai akhirnya, ia menghilang saat cahaya lampu mobil dari arah berlawanan menyilaukan pandangan.
Dan di saat itulah aku terbangun. Apakah itu mimpi? Benar. Itu hanya mimpi. Mimpi buruk sekaligus aneh, yang entah pertanda apa.
Kuraba pipi, kening dan leherku, untuk memastikan ada atau tidaknya luka-luka di bagian tersebut. Perihnya terasa sungguhan, tapi tanganku tak menemukan bekas luka segorespun. Setelah kuperiksa di cermin, wajahku masih mulus-mulus saja. Tidak ada tanda-tanda luka atau bekas kuku kucing seperti dalam mimpi barusan.
"Syukurlah, masih ganteng," kataku. Merasa lega.
Waktu masih menunjukkan pukul 19:30 malam. Ini tentu terlalu dini untuk aku tidur dengan mimpi semacam itu. Tapi apa boleh buat, rasa kantuk di sore hari membuatku tidur lebih awal. Ini artinya, kurang lebih sudah dua setengah jam aku tertidur dengan lampu yang padam.
"Pantas saja di mimpiku gelap gulita, rupanya ruangan ini belum dinyalakan lampu," gumamku. Merasa lucu sendiri. Sambil hendak menyalakan lampu-lampu lainnya.
Aku lantas teringat akan bulan purnama yang ada di mimpi tadi. Segera kulihat langit malam dari jendela apartemen. Ternyata benar, malam itu memang sedang bulan purnama.
Saat kupandangi bulan purnama itu, penglihatan aneh seperti dalam mimpi kembali terjadi. Bedanya, kali ini aku melihat seekor kucing benar-benar jatuh dari bulan dan mendarat di bumi. Kucing ini menyusuri jalanan yang sama persis seperti di mimpi tadi. Di arah yang berlawanan, aku juga melihat ada seorang wanita yang mengemudikan sedan hitam dengan kecepatan tinggi. Wajahnya seperti panik dan ketakutan. Lalu ia hampir menabrak kucing itu. Ia berhasil membanting setir, tapi malah menabrak batu besar di pinggir jalan. Pintu mobilnya terbuka sendiri, dan tubuhnya tergeletak di samping mobil. Lalu, kulihat kucing tadi mendekat. Ia melangkahi tubuh wanita itu dan penglihatan itu tiba-tiba menghilang.
Aku sungguh tidak tahu, apakah ini penglihatan masa depan, masa lalu, ataukah masa sekarang yang sedang terjadi di tempat lain. Terlepas dari penglihatan apa pun itu, intuisiku mengatakan, ada sesuatu yang tidak beres.
Kuperhatikan bulan purnama itu sekali lagi. Kuperhatikan dengan seksama dalam pandangan yang sebaik-baiknya. Kali ini aku sampai menggunakan alat khusus yang biasa digunakan untuk melihat benda angkasa di langit sana. Dengan bantuan alat itu, aku bisa melihat lebih jelas objek yang kutuju. Dan benar saja, memang ada sesuatu yang tidak beres. Telah terjadi sesuatu di bulan sana. Dan bumi menerima dampaknya.
***
Luna
Meski mataku belum terbuka, aku bisa merasakan bagaimana angin menyentuh kulitku. Angin dingin malam itu, mengusap lembut sekujur tubuhku yang masih kaku. Perlahan, aku juga bisa merasakan bagaimana jemari tanganku mulai bergerak. Lalu, kurasakan kelopak mataku terbuka sempurna.
Aku memaksa tubuhku untuk bangun. Kurasakan perih dan sakit di beberapa bagian tubuh. Rasanya sakit sekali. Badanku seolah remuk, hingga sulit digerakkan. Aku juga mencium aroma darah segar yang sepertinya mengalir di sekitar wajahku. Tapi itu bukan masalah besar. Yang terpenting, aku harus segera meninggalkan tempat ini.
Ada sensasi pening luar biasa yang membuatku hampir terjatuh saat mencoba berdiri. Tapi untungnya, aku berhasil menyeimbangkan tubuhku lagi.
Kulihat ke sekitar, semuanya tampak gelap dan sepi. Tak ada satupun yang melintas. Bahkan tidak seekor binatangpun. Ini benar-benar malam yang sangat sunyi, di antara rimbunnya pohon-pohon besar di tempat itu.
Aku lantas menengadah ke langit. Kulihat bulan purnama sempurna bersinar terang di atas sana. Ini sungguh luar biasa. Ini adalah pemandangan indah yang baru kulihat lagi setelah berabad-abad hitungan waktu bumi. Dan di saat itulah aku benar-benar sadar, bahwa aku sudah tidak berada di bulan lagi. Aku sudah kembali ke bumi. Ya, aku menjadi makhluk bumi lagi.
***
Ken
Aku tak punya pilihan lain selain meneruskan apa yang telah menjadi kebiasaanku selama dua tahun terakhir. Mengisolasi diri, serta menukar siang dan malam, sudah menjadi makanan sehari-hari. Ini tidak lebih dari kebutuhan yang menjadi kebiasaan pada akhirnya.
Dulu, aku juga hidup normal seperti manusia pada umumnya. Aku pandai bergaul, punya banyak teman, dan selalu senang bertemu dengan orang baru. Aku menjadikan siang sebagai siang, dan malam sebagai malam.
Hanya saja, sesuatu yang buruk memaksaku bertransformasi hingga sejauh ini. Aku tidak bisa lagi menjadikan siang sebagai siang, dan malam sebagai malam. Aku terpaksa menukar siang dengan malam, dan sebaliknya. Itu terpaksa dilakukan demi mengurangi interaksi dengan manusia.
Tapi, bukan berarti aku antipati terhadap yang namanya manusia. Aku hanya mengurangi interaksi, dengan tujuan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak perlu.
Meski begitu, aku sadar betul bahwa mungkin bagi sebagian orang, ini akan terasa ganjil, aneh, dan tidak lazim. Apa pun itu, aku tak akan ambil pusing selama urusanku tidak menjadi urusan orang lain dan sebaliknya. Aku baru akan merasa pusing ketika apa yang kulihat itu benar sungguhan.
Ya. Malam ini aku sedang melihat robot buatanku yang menjadi barang gagal, menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Robot yang didesain dalam rupa seorang wanita asia, yang selalu kupajang di pojok ruang tamu, menunjukkan gerakan fisik yang nyata, layaknya manusia sungguhan. Ketika robot itu mulai berjalan dan berubah wujud menjadi manusia sungguhan, ketika itu pulalah pandanganku jadi gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
(*)