Sakti Pagi itu, aku dibangunkan oleh getar dan bunyi handphone di atas meja samping tempat tidur. Aku yang rasanya baru tidur sekitar tiga jam lalu, terpaksa harus bangun walau mata dan badanku masih berat untuk melakukannya. Aku mengangkat telepon itu. Rupanya itu panggilan dari Niko. Ada apa Niko menelpon sepagi ini? “Ya. Hallo, Niko! Ada apa?” sapaku saat mengangkat telepon. “Maaf, aku ganggu pagi-pagi. Ini tentang kedai kita. Hari ini kamu ada waktu gak?” kata Niko di seberang telepon sana. “Aku belum lihat jadwal. Baru bangun soalnya. Memangnya ada apa?” aku penasaran. “Aku baru aja dihubungi oleh seorang investor dari luar pulau. Investor yang waktu itu pernah aku ceritain. Nah, katanya, sore nanti dia bakal datang ke sini dan mau nawarin kerjasama dengan kedai kita. Kamu bi

