Luna
Sakti masih menatapku tajam. Kali ini bahkan dia sampai mematikan TV yang sejak tadi dibiarkan menonton dirinya. Lalu dia berkata tanpa basa-basi. "Aku tahu siapa kamu sebenarnya,” ucapnya dengan tatapan serius.
Hening berlangsung selama lima detik. Kami hanya saling bertatapan dengan menyimpan rahasia masing-masing yang sebentar lagi akan dibongkar seutuhnya.
“Maksudmu apa?” tanyaku setelahnya, tetap tenang dan berusaha mengontrol emosi supaya tidak ketahuan. Pura-pura tidak mengerti.
"Aku tahu kamu bukan manusia. Kamu adalah siluman kucing betina yang hidup di dalam tubuh manusia," ungkapnya terus terang. Sakti tak segan lagi untuk membongkar identitasku yang sebenarnya.
Jelas saja, kalimat itu membuatku terkejut bukan main. Aku selalu takut akan ketahuan, tapi justru malah Sakti tahu duluan. Aku tertangkap basah sekarang.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa selama ini diam saja? Apa kamu ... juga bukan manusia?" tanyaku penuh selidik.
Nampaknya, Sakti sudah menduga bahwa pertanyaan seperti itu akan diajukan terhadap dirinya. Mendapat pertanyaan itu, Sakti pun menjawab tegas. “Aku adalah jelmaan makhluk lain yang berbaur dengan manusia. Aku tinggal di dunia manusia sudah berabad-abad yang lalu. Tugasku hanya satu. Aku diutus untuk menertibkan para siluman yang melanggar aturan. Para siluman menyebutku ... Polisi Siluman,” terangnya. Sekarang, ia juga tak segan untuk menunjukkan identitas aslinya.
Sejenak, aku terdiam. Aku berusaha mencerna apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah Sakti bicarakan. Semua kalimat Sakti telah memunculkan banyak tanda tanya dalam kepalaku.
“Kenapa kamu diam? Apa kamu terkejut? Kamu pasti tidak menyangka ini kan?” tanyanya kemudian. Memecah kebisuanku. Sekarang, kulihat ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Pantas saja, selama ini aku merasa ada yang aneh denganmu. Pantas saja kamu menghilang setelah menolongku. Pantas saja kamu menjebakku dengan ikan saat kamu menunjukkan dirimu. Pantas saja kamu tidak bertanya saat aku bilang kalau aku hilang ingatan. Pantas saja kamu memaklumiku saat aku tidak tahu benda-benda yang ada di bumi. Semua itu karena kamu sudah tahu kalau aku bukan manusia. Benar kan?” ucapku sejujurnya, mengungkapkan kecurigaanku selama ini.
“Tidak sepenuhnya begitu. Saat pertama kali aku melihatmu, aku bisa merasakan ada energi lain di sekitarku. Aku bisa mencium ada energi lain selain manusia. Energi siluman. Tapi saat aku menolongmu, aku mencium energi siluman yang bercampur dengan energi manusia. Itu sebabnya aku menghilang setelah menolongmu. Aku menghilang untuk mencari tahu. Untuk memastikan. Lalu aku berasumsi kalau kamu hidup di dalam tubuh manusia. Ternyata benar, karena buktinya kamu tidak bisa menghilang seperti makhluk-makhluk tak kasat mata lainnya,” terang Sakti kemudian.
“Lalu kamu datang padaku untuk menertibkanku, begitu?” tebakku menduga-duga.
“Tepat sekali! Karena kamu sudah melanggar aturan,” tegasnya seraya menatapku.
“Apa kesalahanku? Aku tidak membuat kesalahan dan tidak melanggar aturan. Aku memang hidup di dalam tubuh manusia. Tapi tubuh yang kuhidupi adalah tubuh orang yang sudah meninggal. Aku tidak menghilangkan nyawa pemilik tubuh. Jadi itu bukan kesalahan. Itu bukan pelanggaran,” aku membela diri. Tentu saja aku tidak mau disalahkan.
“Itu kan menurutmu. Sedangkan menurut yang lain, kamu juga tidak tahu kan? Sekarang biar kuberitahu pelanggaran yang sesungguhnya,” katanya lagi.
“Apa lagi maksudmu sekarang?” aku kian tak mengerti dengan perkataannya.
“Maksudku, pelanggaran yang kamu lakukan adalah ... kamu ... sudah ikut campur dalam urusan manusia. Kamu sudah melewati batasanmu.”
“Batasan? Apa yang kamu bicarakan? Batasan apa maksudnya?”
“Batasan antara siluman dan manusia. Dalam keadaan apa pun, tidak diperbolehkan adanya hubungan antara manusia dengan siluman. Entah itu hubungan kerjasama, permusuhan, ataupun yang lainnya. Itu dilarang keras. Keduanya harus berada pada jalannya masing-masing. Tidak boleh saling mengganggu dan berurusan satu sama lain. Itu tidak dibenarkan sama sekali. Sementara, apa yang terjadi padamu? Kamu sudah berurusan dengan manusia dan terlibat jauh dalam dunianya. Kamu bahkan telah mengambil tubuh seseorang tanpa izin. Dan sekarang, aku merasakan bahwa kamu mulai menyukai manusia. Itu sebabnya kamu harus ditertibkan.”
“Aku selalu menyukai siapapun yang kutemui. Apa itu salah?” tanyaku, mempermasalahkan bagian yang ini.
“Bukan itu maksudku. Kamu baru saja menunjukkan tanda-tanda sedang jatuh hati pada manusia. Jantungmu yang berdebar cepat itu, itu tanda-tandanya,” terang Sakti lagi.
Hening, lagi-lagi berlangsung sesaat. Sampai akhirnya, aku melempar sebuah pertanyaan. “Sekarang apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Kamu mau menangkapku dan memberiku hukuman?”
“Aku mau memberimu pilihan,” kata Sakti.
“Pilihan?”
“Ya. Pilihan. Ini adalah cara Polisi Siluman menertibkan para pelanggar. Tapi karena kasusmu sangat langka, aku akan memberikan pilihan yang berbeda dari biasanya. Pilihanmu adalah, mengembalikan tubuh itu kepada pemiliknya, atau tetap menjadi manusia dengan persyaratan yang mutlak,” tawar Sakti, mengemukakan pilihannya. “Jika kamu memilih untuk mengembalikan tubuh, maka otomatis kamu akan jadi siluman kucing lagi. Tapi jika kamu memilih tetap menjadi manusia, maka kamu harus mengikuti tiga aturan,” tambahnya kemudian.
“Apa aturannya?” aku penasaran.
“Aturan yang pertama, kamu hanya diberi waktu 100 hari untuk hidup sebagai manusia dalam tubuh tersebut.”
“100 hari?”
“Iya. Setelah 100 hari, semua akan kembali pada tempatnya. Yang kedua, kamu tidak boleh punya perasaan lebih terhadap manusia. Kamu dilarang jatuh hati pada manusia. Jika itu terjadi, maka kekuatanmu sebagai siluman kucing perlahan akan menghilang. Yang ketiga, kamu tidak boleh melakukan hal buruk terhadap tubuh itu. Karena bagaimanapun, itu adalah tubuh orang lain. Jadi kamu harus menjaganya sebaik mungkin.”
“Hanya itu?” aku memastikan.
“Jangan berpikir bahwa ini terlalu mudah.”
“Aku tidak berpikir seperti itu. Haruskah kutentukan sekarang?”
“Jika kamu perlu waktu untuk berpikir, aku akan memberimu waktu satu malam. Besok kamu harus memberikan jawabannya.”
Sungguh, ini adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah kuketahui sebelumnya. Ini benar-benar di luar dugaan. Sekarang aku tersudut dalam pilihan yang sungguh sangat mengerikan. Sakti memang memberikan dua pilihan. Tapi bagiku, itu hanya satu. Aku tidak punya pilihan lain selain harus jadi manusia. Itu pun, aku hanya punya waktu 100 hari. Aku benar-benar tidak sengaja jadi manusia.
“Tidak usah menunggu sampai besok. Aku pilih yang kedua. Aku akan tetap jadi manusia. Akan kuikuti semua persyaratannya,” kataku setelah berpikir sejenak. Aku mengatakannya tanpa ada nada-nada keraguan.
“Baiklah kalau begitu. 100 harimu dihitung dari hari pertama kamu menggunakan tubuh itu. Itu artinya, sampai saat ini sisa waktumu tinggal 95 hari,” ungkap Sakti lagi. “Satu lagi, ini adalah konsekuensi dari pilihanmu. Saranku, kurangi interaksi dengan Ken. Kamu tidak boleh sampai menyukainya.”
“Jangan khawatir. Yang kamu cemaskan tidak akan pernah terjadi. Aku tidak tertarik dengan manusia,” aku menegaskan.
Dan percakapan malam itu pun berakhir.
(*)