Sindi masih mengeluhkan rasa sakit di s**********n setelah baru saja mendapat sentuhan pertamanya. Dia pikir tidak sesakit yang dia bayangkan, ternyata lumayan perih dan pegal. “Sakit,” rengek Sindi yang meringkuk di dalam dekapan suaminya. “Namanya juga pertama kali, pasti sakit. Tapi nanti kalo sudah sering, kamu nggak sakit lagi.” “Kapan nggak sakitnya, Mas?” Harja tertawa kecil. “Mas jangan ketawain aku.” “Bukan ngetawain kamu, Sayang.” Harja menjawil hidung Sindi gemas, tidak menyangka Sindi kesakitan dan kaku saat diajak bersetubuh. Padahal Sindi lumayan gampang terangsang dan meraih kepuasan saat miliknya disentuh dan dijilat. Namun, ketika sudah mendapatkan sentuhan pertama pernikahan, dia kesakitan, dan seolah tidak mau melakukannya lagi. “Jadi kenapa Mas ketawain aku?” ula

