Harja bangun lebih awal pagi itu, dan seperti biasa dia menyiapkan sarapan pagi, dan mempersiapkan semua yang dibutuhkan Kania untuk sekolahnya. Harja sudah rutin dengan kebiasaannya ini sejak Kania bersamanya, bangun lebih pagi, merapikan kamar dan segalanya di rumah, dan dia merasa hidupnya jauh lebih berwarna dan bermakna. Pikirannya enteng, terutama sejak sudah berdamai dengan Nindya dan masa lalunya. Ketika sarapan sudah siap berupa sandwich dan s**u, Harja merasakan pelukan hangat dari Sindi. Dia membalikkan badan dan membalas pelukan istrinya itu yang wajahnya masih terlihat mengantuk. “Hm? Sudah bangun rupanya. Tidurmu nyenyak semalam?” tanya Harja, mencium pipi Sindi lembut. Sindi mengangguk, wajahnya menunjukkan sikap manja, ingin Harja selalu mendekapnya erat. “Mas, jangan ma

