“Sebenarnya, mereka putramu," perkataan Shilla bagai kaset yang terus terulang. Bagaimana mungkin? Mempunyai putra tapi tak pernah sekalipun membuatnya? Apa Shilla bilang? Mabuk? Sebelum hari pemberangkatan Ia ke Jerman? Tidak mung- eh, sebelum berangkat kan memang dirinya pergi ke club malam bersama Cello dan teman lainnya. Apakah mungkin? Tapi bagaimana? Ah, Revan bingung sendiri jika memikirkan hal itu. Shilla. Cinta pertama, sekaligus orang pertama yang mematahkan hatinya. Menghancurkan semua yang semula utuh. Memberi lubang besar tak kasat mata. Melenyapkan segala kepercayaan besar tentang cinta. Revan ingin percaya akan semua. Semua kebenaran yang di katakan Shilla. Sang pujaan yang sampai kini masih bertahan. Bertahan pada tahta tertinggi di hati. Sungguh Revan tak tega meli

