Chapter fifteen

986 Kata
Sinar mentari pagi yang masuk ke dalam kamar kedua pasangan suami istri yang masih terlelap dengan selimut tebalnya, dengan keadaan saling berpelukan. Nevan membuka matanya karena merasa terganggu oleh sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamar. Ia menoleh ke samping Neyra yang masih tertidur di pelukannya. Ia bisa melihat wajah damai Neyra saat tertidur. "Van," panggil Neyra tanpa membuka matanya. "Hmm." "Udah jam berapa?" tanya Neyra. "Jam delapan lewat lima belas menit," jawab Nevan. Neyra melebarkan kedua kelopak matanya. "Apa??" "Ih kok lo gak bangunnin gue sih. Astagaa Van malu tau sama Mama dan Bunda," ucap Neyra yang masih berada di pelukan Nevan. "Lo-nya aja yang kebo," ujar Nevan mengeratkan pelukannya di pinggang Neyra. Neyra berusaha melepaskan tangan Nevan yang berada di pinggangnya. "Pasti mereka udah nungguin kita di bawah." "Van lepas gak. Malu tahu sama Bunda dan Mama. Masa bangun jam segini sih. Lepas." Nevan membenamkan kepalanya di ceruk leher Neyra. Ia bisa mencium aroma vanilla dari tubuh Neyra. "Mereka pasti paham kok." "Van lepas. Ihh geli tahu." Titah Neyra berusaha melepaskannya. Tetapi tetap saja gagal. "Nevan lepas gak. Ini udah jam berapa Van. Gue juga mau beres-beressin baju-baju kita." Titah Neyra kesal. "Untuk apa?" tanya Nevan. "Lo lupa? Kita kan di hotel," jawab Neyra. "Kita tinggal di Apartemen gue," ucap Nevan. Perkataan Nevan membuat Neyra tersentak kaget. "Kenapa gak di rumah Bunda aja sih?" CUP Tiba-tiba saja Nevan mengecup pipi Neyra. "Morning kiss dulu. Yaudah sana mandi," ucap Nevan tersenyum senang, karena berhasil mencium Neyra. "NEVAN!!" Teriak Neyra. Nevan menutup telinganya sambil tersenyum penuh kemenangan. Nevan lebih suka tersenyum jika berada di dekat Neyra. Entah apa yang merasukinya sampai mudah tersenyum seperti ini. Sekitar lima belas menit Neyra keluar dari kamar mandi dan menuju ke meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya. "Mandi cepat!" Titah Neyra, melihat Nevan masih malas malasan di atas kasur. "Hmm," Balas Nevan. "Mandi, jangan hmm hmm doang," ucap Neyra kesal melihat Nevan yang masih fokus dengan handphone miliknya. Nevan meletakkan handphone nya di meja samping ranjang hotel. "Iya, bawel." "Cepetan." "Iya Neyra iya." ucap Nevan kesal melihat Neyra yang terus memaksanya. Neyra berjalan ke arah koper miliknya dan Nevan. Ia mengambil baju dan celana santai Nevan lalu ia letakkan di atas ranjang. Selang beberapa menit Nevan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk dari pusar hingga lutut dan menampilkan perut sixpack nya. Neyra menelan salivanya melihat perut sixpack Nevan "Aduh, mata gue," Batin Neyra. Nevan menyeringai "Kenapa? Tergoda, ya?" Neyra menggelengkan kepalannya. "Dih, gak yah!" Nevan berjalan mendekati Neyra yang sudah duduk di tepi ranjang. "Yakin?" Neyra menggelengkan kepalanya lagi. "Ya..kin lah." "Okeh gue buktiin," ucap Nevan yang sudah duduk di depan Neyra dan mendekatkan wajahnya ke wajah Neyra. "Van lo mau ngapain sih. Jangan macem-macem deh lo." Ceklekk... Bunda Nevan membuka pintu kamar keduanya dan berdiri di depan pintu menatap Neyra dan Nevan. "Eh Bunda ganggu ya. Yaudah lanjutin aja. Bunda keluar dulu. Maaf Bunda ganggu kalian," ucap Bunda Nevan tersenyum seraya menutup pintu kamar hotel. Nevan dan Neyra saling tatap. "Lo gak ngunci pintu?" tanya mereka serentak. Neyra mengerutkan keningnya. "Yang masuk terakhir kan lo." "Gue lupa," ucap Nevan. Neyra menjauhkan wajahnya dari wajah Nevan. "Gara-gara lo ni. Malu tahu sama Bunda." "Namanya juga lupa," balas Nevan seraya berjalan mengambil bajunya dan memasuki kamar mandi untuk mengganti bajunya. Tak lama setelah itu Neyra berjalan berdampingan dengan Nevan menuju restoran hotel untuk sarapan pagi. Nevan menghentikan langkah Neyra. "Tunggu." Neyra menaikan sebelah alisnya. "Kenapa?" tanya Neyra. "Jangan pake lo-gue di depan orangtua kita," jawab Nevan. "Terus pake Aku-Kamu gitu?" tanyanya. Nevan mengangukkan kepalanya menjawab, Neyra menggelengkan kepalanya. "Dih, gue gak bisa." "Coba bilang I Love You." Titah Nevan Neyra mendengus kesal. "Untuk apa Nevan? Gak jelas banget deh lo." "Coba aja. Cepetan!" Paksa Nevan. "Gak mau." Tolak Neyra. "Cepetan. Orang tua kita udah nunggu." Titah Nevan tersenyum jahil "I Love You," ucap Neyra. "Artinya apa?" tanya Nevan. "Aku cinta kamu," jawab Neyra. Nevan tersenyum puas. "Itu bisa pake Aku-kamu." Neyra mendengus kesal, menyadari kalimat itu meluncur dari mulutnya sendiri. ... "Eh, udah selesai ya ehem-nya?" tanya Bunda Nevan berniat menggoda Neyra. "Mereka ngomongin apaan sih?" Bisik Neyra ke Nevan. "Malam pertama," jawab Nevan. "Maksudnya?" tanya Neyra lagi. "Mereka nanya tentang proses pembuatan anak." jawab Nevan dengan jelas. Neyra membulatkan kedua bola matanya mendengar Nevan mengucapkan proses pembuatan anak membuat pipinya berubah menjadi merah merona. Neyra menyeringai. Ia yakin Nevan menjahilinya. Apalagi ia masih sekolah, mana berani Nevan melakukannya. "Siapa takut. Mau berapa ronde?" Nevan membelelalakan kedua bola matanya, "Wahh nantangin." "Bisik-bisik apa tuh." Sela Kevin penasaran melihat Nevan dan Neyra asik mengobrol berdua. Nevan mengubah ekspresi wajanya menjadi dingin. Ia hanya akan memperlihatkan senyumnya sama Neyra dan orang yang lebih tua. "Kepo," balas Neyra. "Durhaka lo sama Kakak." Tunjuk Kevin. "Udah-udah. Kapan makannya kalau begini," ujar Ayah Nevan menengahi. "Ohh iya Van kamu mau tinggal di rumah Bunda atau di apartemen kamu?" tanya Bunda Nevan. "Apartemen aja," jawab Nevan singkat. "Kenapa gak di rumah Bunda aja sih?" "Aku sama Neyra mau belajar mandiri, Bun," ucap Nevan. "Udah Bun biarin aja. Nevan kan udah punya perusahaan sendiri," ucap Ayah Nevan. Walau terlihat berantakan, sebenarnya Nevan memiliki jiwa yang mandiri. Nevan membangun perusahaannya sendiri tanpa bantuan ayahnya. Ia juga punya berbagai cabang perusahaan di jakarta. "Yaudah deh terserah kalian aja," ucap Bunda Nevan pasrah. "Habis ini kalian mau ke Apartemen?" tanya Papa Neyra, sambil mengunyah sarapannya. "Iya Pah," jawab Nevan. "Udah beres-beres belum?" tanya Bunda Nevan. "Udah Bun," jawab Neyra. "Yaudah cepetan makan. Jangan lupa ambilin suaminya makan. Itu udah tugas kamu lho Ney," ucap Fina. "Iya, Ma," balas Neyra. Neyra mangambilkan nasi dan semua lauk pauk yang ada di atas meja dan memberikannya untuk Nevan. Mereka makan sesekali bercanda gurau dan menggoda suami istri yang baru menikah. Nevan sama sekali tidak membalas. Kecuali kalau ia di tanya. Ia akan berubah seratus delapan puluh derajat jika bersama Neyra. Menjadi mudah tersenyum dan itu hanya ditunjukkan untuk Neyra seorang. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN