"Laper... pengen makan rujak", gumam seorang gadis berumur 19 tahun. Sesekali membolak-balik halaman buku ditangannya. Bukan dibaca, cuma dibolak-balik aja sambil berguling-guling di kasur lapuknya.
Menghela napas panjang, lalu menyembunyikan wajahnya dibawah bantal. Masih kepikiran peristiwa tadi. Nyesel dia tuh, harusnya tadi dia gak sok baik ke Aisyah. Mana rujaknya ada dua tadi. Kan bisa tuh dia ngasih satu aja ke Aisyah terus yang satunya lagi dia makan.
Tok.. tok...
"Tari, emak masuk ya", sahutan dari luar.
Buru-buru Tari bangun dan membenarkan letak barang-barang dikasurnya yang berantakan. Takut nanti dimarahin Ratna.
Ratna masuk dengan senyum keibuannya seperti biasa. Ia duduk dipinggir kasur anaknya. Sedangkan sang anak duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kamu udah packing pakaian? Beneran mau pergi besok?", tanya sang ibu memulai percakapan.
"Iya"
"Emmm emak rasa kamu gak perlu pergi demi kupon undian yang belum tentu diketahui keberuntungannya, di sini aja ya. Kita cari kerja sama-sama"
Tari menjawab dengan gelengan keras. Menampilkan raut wajah cemberut. Bukannya gemes malah tambah b***k diliatnya.
"Cuma seminggu kok, habis itu Tari bakalan pulang secepatnya. Sekalian nyari kerja di luar kota juga, kan katanya di sana gajinya lebih tinggi dibanding di sini. Ntar gajinya tinggal di transfer ke emak."
"Seminggu? Emang uang yang emak kasih cukup buat hidup seminggu di kota? Jangan bercanda kamu!"
"Pasti cukup kok, mak. Tenang aja", bela Tari pada diri sendiri. Mencoba meyakinkan sang ibu walaupun dirinya sendiri ragu.
"Kamu gak lupa kan kalo pernikahan Kepin tinggal empat hari lagi? Kamu jelas gak bisa hadir kalo perginya seminggu", nah iya pernikahan Kepin udah hampir. Gak kerasa udah mau nikah aja dia. Padahal dulu sering digosipin punya pacar tapi LDR, karena seringnya Kepin liburan ke luar kota tiap tahun. Jadi Ratna sama Tari menyimpulkan kalo Kepin punya pacar di luar sana.
"Tari inget kok! Makanya Tari mau nyari hadiah di luar kota yang mau kukasih ke Kepin. Masa hadir ke pernikahan temen sendiri gak bawa apa-apa"
"Heleh, gegayaan kamu bawa hadiah segala. Kamu bawa batu juga pasti bakal diterima sama Kepin"
Tari gak jawab apapun lagi, cuma diam sambil nunduk. "Tari tetap pengen pergi, mak", finalnya.
Ratna menghela nafas, ia cukup peka sebenarnya dengan kondisi anaknya. Diangkatnya bingkisan ditangannya lalu diletakkan di atas kasur tepat di depan Tari.
"Rujak, dari Kepin. Katanya bilang kalo masih kurang"
"Hm", agak kaget sebenarnya. Tapi sebisa mungkin tidak menampilkan reaksi apapun.
"Kalo gitu emak mau istirahat dulu. Makan malam udah emak siapin di atas meja. Mimpi indah anak manisnya emak", mengusap rambut sang anak sebelum bergegas keluar dari kamar.
Tari hanya tersenyum teduh, beruntung banget dia punya emak sebaik ini. Rujak di depannya hanya ditatap dengan lamat. Perlahan senyum bahagia tersungging dibibirnya.
Karena udah laper banget jadi langsung aja rujaknya disantap. Agak heran sewaktu melihat kertas note kecil terlampir dibungkusan rujak. Dibacanya note tersebut yang isinya ngajak gelud.
"Habisin nih rujak sampe lo mati keselek"
-Kevgans forever
Di detik itu juga Tari tak dapat menahan ringis tawanya. Bisa-bisanya si Kepin ngelawak padahal tadi siang ekspresinya mendung banget.
"Enak banget, tapi kecut", begitulah rasa rujak. Kecut tapi tetap dihabiskan. Sama halnya dengan hidup, agak pahit tapi harus tetap dijalani.
Tari mengarahkan pandangan ke luar jendela. Dapat dilihat pemandangan menakjubkan langit malam dari sana. Gelap namun indah.
"Ya Allah, kalo dia jodohku maka dekatkanlah. Tapi kalo bukan yah parah aja, udah baper ini", lirihnya hampir tak terdengar.
Itu menjadi kalimat terakhir malam itu sebelum ia terlelap. Melupakan makan malam yang sudah Ratna siapkan untuknya. Dasar anak durhaka!
.
.
Disinilah mereka pagi ini, mengantar Tari ke bandara yang akan berangkat jam 8 pagi. Ratna tak henti-hentinya memeluk putri semata wayangnya, sambil sesekali nangis bombay. Alexa sendiri jengah melihatnya, ia bolos sekolah hari ini karena ingin mengantar Tari. Sedangkan Kepin cuma diam daritadi, belum dapet giliran bicara.
"Pokoknya kalo udah sampai langsung telpon Alexa supaya emak gak khawatir", pinta Ratna. Gak punya handphone makanya berkabar lewat Alexa, tetangga mereka.
"Iya, mak"
"Kak Tari jaga diri ya di sana, inget balik kampung!" pesan Alexa. Kan biasa tuh kalo udah nyaman sama kampungnya orang jadi sering lupa balik.
"Iya deh, lo mending beliin gue air. Haus nih", ish ish malah keenakan babuin anak orang.
Ratna menyenggol lengan Tari sambil mengisyaratkan lewat tatapan mata 'jangan gitu, gak sopan!' . Tari membalas dengan cengengesan.
"Ish karena ini hari terakhir kakak di sini jadi aku beliin deh. Kak Kevin mau juga?", tanya Alexa tapi hanya dijawab gelengan oleh Kepin.
"Tante ikut temenin kamu beli air ya", ajak Ratna dibalas yang anggukan. Ratna langsung saja menarik lengan Alexa untuk ikut dengannya. Meninggalkan dua orang sahabat yang masih canggung itu.
Dua menit pun terlewat tanpa ada yang membuka suara. Tari akhirnya memutuskan mengalah, gak sanggup diem-dieman. Berdehem sebentar sebelum berbicara.
"Ekhem, lo gak mau bilang apa-apa gitu sama gue?"
Kepin terlihat berpikir sebelum menjawab, "Jaga diri, jangan nyusain orang di sana, jangan lupain gue", hanya itu. Singkat padat dan jelas.
"Ok sekarang giliran gue", kini Tari membuka tas selempang kecilnya dan mengambil sebuah kertas. "Ini daftar pesan-pesan gue ke elo, gak banyak kok cuma dikit. Gue bacain ya", lanjutnya.
"Jangan males kerja.
Jangan kerja terlalu keras.
Berhenti misahin kucing berantem, takutnya lo terlibat rumah tangga mereka.
Pulang ke rumah lo sesekali. Emak lu pasti kangen.
Berhenti benci tomat.
Sholat tepat waktu.
Ngupil ditempat sepi aja.
Usahain cuci baju sendiri.
Lupain hutang-hutang gue ke elo. Selesai", Tari menatap Kepin yang cuma diem. "Lo denger yang tadi, kan?" lanjutnya.
"Hm iya, ada lagi gak?" balas Kepin setelah memperhatikan orang di depannya ini berlagak gelisah seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Gue titip emak ya, Pin. Hubungi gue kalo ada sesuatu"
"Gampang. Ntar gue jagain"
"Cih, sok-sokan bisa jangain emak. Jagain ayam warna-warni aja mati tuh ayam", cibir Tari yang dibalas tatapan tajam oleh lawan bicaranya.
"Lo gak punya sesuatu penting gitu yang pengen dibicarain sama gue? Gue bakal pergi jauh loh ini. Kita gak tau kedepannya bakal gimana. Bisa jadi ini pertemuan terakhir kita", lanjut Tari. Tidak mudah mengatakan ini, sesekali Tari menggigit bibirnya random. Mengharapkan kata-kata yang ia nantikan dari orang dihadapannya.
Kepin yang awalnya fokus melirik orang-orang yang sibuk berlalu-lalang disekitar mereka kini menunduk menatap sahabat yang lebih pendek darinya itu. Senyum jahil seketika muncul, "Hm..gimana ya? Sebenarnya gue sendiri seneng lo pergi jauh, kalau bisa request gak usah balik ke sini lagi"
Senyum jahilnya perlahan menghilang ketika netranya menangkap ekspresi sendu nyerempet kesal dari Tari. "Tapi kalo lo gak balik, gue jadi kasihan sama orang-orang yang bakal lo repotin di sana. Emak lo juga gak mungkin lo ditinggalin. Jadi terserah mau balik atau nggak", lanjutnya.
Tari tidak tahu ingin membalas apa. Kepin yang b**o ini bahkan menganggapnya merepotkan. Ah, tidak! Sepertinya dirinya yang lebih b**o di sini karena sudah salah mengartikan hal rumit di antara mereka. Pendengarannya menangkap suara Ratna dan Alexa yang menuju ke arah mereka. Dengan terburu-buru, dicarinya sesuatu di dalam tasnya. Setelah pencarian grasak-grusuk itu, akhirnya menemukan kertas yang terlipat kecil sekali.
"Nih, ambil. Jangan dibaca dulu. Baca pas di rumah lo aja", memberikan kertas tersebut pada Kepin yang menaikkan sebelah alisnya menunjukkan raut bingung.
"Ok"
Ratna dan Alexa ikut nimbrung kembali dengan banyak cerita. Tari sesekali menanggapi dan masih terus memeluk emaknya bahkan sesekali meremas bahu wanita tua itu melampiaskan rasa yang menyeruak. Ratna membalas tapi tetap melanjutkan cerita hebohnya dengan Alexa. Kepin hanya kembali terdiam.
Tak terasa tiba waktu untuk keberangkatan. Mengucapkan kalimat perpisahan masing-masing. Terlihat Ratna yang masih setia nangis bombay melepaskan anak semata wayangnya itu. Mereka terus melambaikan tangan bahkan sampai Tari tak terlihat.
"Udah, tante. Ayo pulang keburu siang", Alexa menuntun tetangganya yang masih tidak ingin beranjak dari sana. Ia juga mengajak Kepin pulang tapi pemuda itu cuma menyuruhnya pulang duluan. Alexa membalas dengan anggukan mengira Kepin masih punya urusan di sini.
Di sini, sang pemuda masih ditempat yang sama. Perlahan membuka kertas yang sudah bonyok karena sedari tadi di genggamannya erat. Terkekeh melihat isi yang membuatnya penasaran sedari tadi. Lucu sekali, tidak banyak tulisan di sana. Cuma pesan yang berisi tiga kata.
Bukan senyum jahil yang kini tampil dibibirnya, melainkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat,
"Iya, gue tau. Cuma gue diem".