Tidak pernah ada tombol ulang dalam kehidupan. Sama halnya dengan ketidakberuntungan yang dialami gadis yang sedang merantau. Ini pertama kalinya Tari berada jauh dari emaknya. Menapaki jalan ditengah panas terik matahari dengan berbagai penyesalan karena kecerobohannya sendiri.
Beberapa menit yang lalu ia akhirnya sampai ke kota tujuan, tentunya dengan senyum terpatri di wajahnya. Menghentikan angkot yang lewat berniat menuju ke alamat tujuan.
"Haahh...lega...." menyimpan tas bawaannya dan duduk bersandar menikmati keindahan kota yang nyatanya berdebu, berasap, serta panas menyengat.
Puas dengan pemandangan baru yang dilihatnya, tak terasa angkot berhenti di tujuan. Tari sejenak memberikan senyuman kepada penumpang lain sebelum turun serta tak lupa membayar ongkos. Ia sangat haus saat ini. Untung netranya menangkap sebuah minimarket yang cukup besar. Langsung saja dirinya masuk dan membeli minuman segar. Disinilah kesialan terjadi, tepatnya saat ingin membayar minuman yang dibelinya. Tasnya hilang! Barulah ia teringat kalau tasnya masih di angkot.
"Maaf mas, saya gak jadi beli" dengan panik dan tergesa-gesa ia berlari keluar mencari angkot yang ditumpanginya tadi. Namun nahas, angkot tersebut sudah tidak berada ditempatnya.
"Gimana nih?! Mana semua angkot modelnya sama semua", paniknya dengan raut menyedihkan. Tak ingin diam saja, ia menghentikan semua angkot yang lewat dan mengecek keberadaan tasnya membuat sopir marah-marah. Tari menghentikan aksinya karena dipirkirnya percuma. Inginnya naik ojek dan mengejar angkot yang dicarinya, namun sayangnya lagi ia tak punya uang. Handphone, uang, dan beberapa baju miliknya ada di tas itu. Lihat, mudah bukan. Dunia dengan dirinya yang apes sukses tercapai.
Tari merogoh saku roknya, senyum lega muncul saat didapatinya kupon dan kalung pemberian emaknya masih berada di sana. Setidaknya masih ada sedikit harapan untuknya. Adzan berkumandang, Tari putuskan sholat dan menenangkan pikiran. Berharap ada kemudahan yang menantinya.
Kembali berjalan lunglai, keluhan tak hentinya ingin keluar dari mulutnya yang sedari tadi ia tahan. Mengeluh akan panas matahari itu sama saja dengan menjilat perkataannya sendiri. Teringat dulu saat Kepin sering mengeluh kepanasan karena cosplay jadi jemuran tiap pergi atau pulang jualan. Tapi yang Tari katakan pada Kepin hanya 'Matahari juga makhluk Allah, coba baik padanya maka ia juga akan baik sama lo. Jangan mau enaknya doang'. Bolehkah ia menarik kata-katanya sendiri?
Bosan berjalan tak tentu arah, Tari memutuskan melewati lorong sempit nan sepi guna mencari kesejukan. Semakin berjalan masuk semakin mencekam juga suasananya. Pada akhirnya helaan nafas lega keluar saat dilihatnya sekumpulan orang-orang berjongkok sambil berbincang-bincang. Ia berniat menanyakan lokasi yang tertera pada kuponnya karena dirasa sudah berjalan cukup jauh, mungkin lokasinya sudah dekat.
"Siang, bang. Saya mau nanya, Jl. Buah Asem ada di mana ya?"
Orang-orang yang awalnya berbincang kini menatapnya, seakan semua mata tertuju padanya. Ada yang aneh, pakaian mereka agak berbeda lebih mirip seperti preman. Kalau diperhatikan lagi, mereka semua laki-laki! Sebagian ada yang memang mirip preman murni dan sebagiannya lagi tampak lebih muda didukung dengan celana abu-abu khas anak SMA. Salah satu dari anak SMA itu maju sedangkan yang lain hanya memperhatikan sambil merokok.
"Wah...wah...gimana kalau duduk bersama kami dulu nona? Nanti kami antarkan", ajak salah seorang anak SMA yang bertindik dan rambutnya aneh. Oh tidak! Sudah dipastikan Tari bertanya pada orang yang salah. Dear cewek-cewek korban fiksi, inikah yang namanya badboy yang selalu kalian anggap keren? Bukannya ganteng ini malah mirip sangkakala terakhir njir!
"Emm..maaf, saya buru-buru dan harus pergi", inginnya mengambil ancang-ancang untuk kabur sebelum tangannya dicekal kuat oleh bocah nakal itu.
"Eits gak usah buru-buru, kita kan belum bersenang-senang", ujarnya menyeringai bak setan. Tari berusaha melepaskan cekalan tangan itu, tapi nihil. Bocah nakal ini sangat kuat.
"Tolong...lepasin gue!" Mohonnya yang hanya dianggap angin lalu oleh lawan bicaranya. Tari diseret lebih dekat dengan perkumpulan mereka. Jelas terlihat orang-orang didepannya ini tidak ada yang baik tampilannya didukung dengan wajah mereka yang sangar.
"Woy, Jarot! Geledah nih cewek! Habis itu terserah lo mau apain dia, lagian cewek ini jauh banget dari tipe gue", perintahnya kepada salah satu preman botak yang sedari tadi sibuk merokok. Preman yang diketahui bernama Jarot itu lantas berdiri dan membuang puntung rokoknya. Sedangkan yang lain hanya menatap sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
"Ok. Serahin sama gue"
Apa ini?! Apakah ia akan digilir? Tari tidak ingin berfikiran negatif, tapi kejadian sekarang hanya menimbulkan perasaan tidak enak untuknya. Bolehkah ia menangis sekarang setelah dirinya kini dicengram kuat oleh si Jarot. Selama ini belum pernah ada pria yang berani menyentuhnya sekalipun itu Kepin. Ah tiba-tiba ia jadi teringat dengan sahabatnya itu. Akan bagaimana ia berakhir hari ini. Apakah Kepin atau seseorang akan datang menolongnya seperti cerita fiksi romantis? Itu belum pasti. Yang pasti adalah ia masih mempunyai Tuhan yang 'Maha Besar' lebih besar dari masalahnya.
"Huff...tetap tenang", batin Tari pada dirinya sendiri.
"Woy! Cepat jalan", perintah Jarot menyeret gadis malang itu ke tempat yang lebih sepi.
"Bang tolong lepasin gue, sumpah gue gak punya apa-apa lagi", pinta Tari memelas.
"Hush diem, serahin harta lo cepet sebelum gue geledah!"
"Beneran bang, gue gak punya harta berharga sekarang"
"Udahlah! Keras kepala banget", si Jarot langsung saja merogoh saku rok Tari karena dilihatnya dari penampilan gadis ini pasti ia tidak punya apa-apa berharga. Pakaiannya terlihat sangat sederhana, rok panjang dengan baju lengan panjang pasaran serta jilbab segitiga yang terlihat pudar warnanya.
"Tolong bang! Kembaliin kalung gue, itu satu-satunya harta berharga yang gue miliki" pintanya memelas ketika kalung pemberian emaknya telah berada ditangan Jarot. Untung Jarot tidak mengambil kuponnya karena dia kira itu cuma sampah.
"Gak bisa! Kalung ini bisa gue jual. Lumayan duitnya buat beli rokok", ujarnya sambil mengantongi kalung rampasannya.
"Tolong jangan ambil..", kali ini mata Tari sudah berkaca-kaca.
"Sekarang lo milik gue, ayo hibur gue sedikit", dengan senyum menyeringai, Jarot perlahan menyibak rok Tari dari bawah. Sumpah, air mata Tari yang sedari tadi ditahannya perlahan jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar hebat. Apakah ini akhir hidupnya? Bahkan harga dirinya pun sudah tidak berharga. Berusaha memberontak ketika roknya ingin disibak lebih jauh tapi tenaga si Jarot lebih kuat darinya. Memejamkan mata pasrah sebelum...
Plak!!
Perlahan namun pasti, seseorang memukul kepala belakang si Jarot dengan keras sampai Jarot yang awalnya jongkok kini terbaring meringis di atas tanah.
"Ngapain lo di sini?! Gue laper, sialan! Sana beliin gue makanan!", ucap sosok tinggi tersebut. Kejadiannya terjadi begitu saja, Tari sontak membuka matanya ketika mendengar suara geplakan keras.
"Ehh si bos, udah bangun ya. Kirain masih tidur hehe", Jarot bangkit mengusap bagian belakang lehernya canggung.
"Cepet! Yang biasa" perintahnya dingin.
"Baik, bos", Jarot buru-buru bangun dan hendak bergegas.
"Eh tunggu! Siniin duit yang lo dapetin!" ucapnya dingin sebelum Jarot bergegas pergi.
"Cewek buluk ini gak punya duit bos, cuma ada kalung ini", balas Jarot sambil menyerahkan kalung yang tadi dikantonginya ke tangan Kenard, bosnya.
Tari daritadi cuma diam menyimak percakapan dua orang asing didepannya. Sebenarnya ia bisa saja kabur, tapi tidak mungkin ia merelakan kalung berharga itu jatuh ke tangan orang lain. Entah ia bersyukur karena ditolong pemuda itu atau merasa was-was karena takut setelah lepas dari lubang buaya malah masuk ke mulut harimau.
Diperhatikannya lamat-lamat pemuda yang katanya bos preman didepannya ini. Sungguh tidak masuk akal! Pemuda tersebut masih mengenakan celana abu-abu khas SMA dan baju seragamnya yang tertutup blazer hitam senada dengan tindik di telinganya yang menjadikannya tampak lebih keren. Oh dan jangan lupakan tato dileher bagian kirinya. Kenapa bocah SMA seperti ini menjadi atasan para preman yang lebih tua darinya?! Bahkan Jarot lari terbirit-b***t bergegas pergi sebelum Kenard marah.
Kenard mengalihkan pandangannya fokus menuju gadis pendek yang berdiri tak jauh darinya. Tari balas menatap, kalau dipikir-pikir pemuda di depannya ini memiliki wajah menawan hanya tatapannya yang tajam dan dingin persis seperti serigala. Ia berharap pemuda ini bersifat baik sehingga tidak mempersulit dirinya.
Terhitung sudah beberapa menit berlalu, Kenard masih menatap Tari tanpa mengalihkan pandangan. Tari sendiri menjadi kikuk dan merasa tidak nyaman diperhatikan seperti ini.
"Emm hai..as-assalamu'alaikum.." ucap Tari pada akhirnya memecah keheningan. Tetapi Kenard tetap diam tak menunjukkan reaksi apapun sambil tetap menggenggam kalung rampasan itu.
"Ma-maaf, tapi bi-bisa kembaliin kalung gue? Nanti gue bayar kalau udah ada uang", lanjutnya tapi masih tidak mendapat balasan.
Drrrt...drrrt...drrrt...
Getaran di handphone canggihnya mengalihkan Kenard. Sebelum berbalik mengangkat panggilan, ia memberikan death glare pada Tari seakan berkata 'Lo diem disini! Jangan kemana-mana!' dan diangguki otomatis oleh Tari seolah-olah saling membaca pikiran masing-masing.
Kenard mengangkat telepon sambil memunggungi Tari dengan kalung yang masih berada ditangannya. Tak ingin memanfaatkan kesempatan emas itu, Tari tanpa babibu langsung menarik paksa kalung tersebut lalu kabur secepat mungkin.
Sang pemuda SMA ini tentu geram. Berdecih sekilas dan langsung saja ia matikan teleponnya lalu berlari mengejar gadis kampungan itu.
"Woy! Balikin kalung gue, njirr", teriak Kenard sambil tetap berlari mengejar.
"Enak aja! Ini kalung gue, ege!", rupanya Tari tak mau kalah pemirsa. Jelaslah, dia kan wanita kuat. Cukup wanita indosi*r aja yang lemah, dirinya jangan!
Inilah yang terjadi, mereka bermain kejar-kejaran bak anak kecil. Tari sendiri sudah lelah terbukti dengan kakinya yang semakin terasa berat namun ia tetap memaksakannya berlari tiap kali Kenard hampir meraihnya. Lagian kenapa Kenard dengan bodoh mengejarnya hanya karena kalung biasa? Kurang kerjaan banget.
Tari berlari tak tentu arah masih dengan Kenard yang setia mengejarnya di belakang. Ia yakin kalau ia berhenti sedetik saja maka pastilah Kenard dapat menangkapnya. Tari memutuskan lari ke arah jalan yang tampak sepi tanpa ragu. Entah apa yang terjadi, Kenard tiba-tiba berhenti mengejarnya dan berhenti di ujung belokan. Tari yang merasa aneh tentu saja ikut berhenti dan menengok kebelakang menyaksikan raut pias Kenard. Apakah Tari memenangkan pertandingan ini? Tanpa sadar ia menjulurkan lidah mengejek ke arah Kenard yang berdiri sangat jauh dari jaraknya.
Dengan kelegaan hati, Tari yang awalnya berjalan santai kini mempercepat langkahnya ketika mendengar langkah cepat dibelakangnya. Terlihat Kenard yang kembali mengejarnya dengan larian yang lebih cepat dibandingkan tadi. Kenard awalnya memutuskan untuk melepaskan Tari karena ia sangat ogah melewati jalan ini. Tapi sayangnya Tari dengan bodohnya memeletkan lidah seakan menantangnya. Kenard tentu saja tidak ingin kalah. Ia bahkan rela berlari melewati jalanan terlarang ini hanya untuk membuat gadis kampungan itu kapok dan menyesal.
Dan untuk kedua kalinya, mereka kembali bermain kejar-kejaran. Awalnya hening karena masing-masing sibuk memaksa kaki yang memberat berlari melebihi batas. Tapi kini situasi mulai berubah ketika suara samar-samar tertangkap telinga, bahkan suara samar-samar itu terdengar lebih keras.
Guk!
Guk! Guk! Guk!
Ah, sial! batin Kenard.
Entah mengapa sekarang mereka malah lari berdampingan menghindari kejaran anjing. Apalagi anjingnya punya geng yang nguasain teritori, gayanya sengak abis! Tak berhenti menggonggong. Gerombolan anjing mengejar mereka tanpa ampun.
"Apa lagi ini Ya Allah..."batin Tari.
"Lo jangan lari, monyet! Itu anjingnya makin ngejar kalo lo lari!" Teriak Kenard keras.
"Lo juga hosh ngapain ikut lari?! Kenapa gak hosh berhenti aja?!" Balas Tari teriak dengan ngos-ngosan. Tidak ada yang mau mengalah, malahan kini mereka terlihat seperti mengikuti lomba lari.
Grrr Guk! Guk!
Gerombolan anjing ganas itu semakin cepat berlari. Tari sudah berkali-kali hampir jatuh karena keseimbangan yang goyah. Kembali memaksakan kakinya bergerak sampai titik penghabisan. Sementara Kenard sibuk memikirkan cara selamat dari anjing-anjing itu.
"Akh! Sakit", Tari tanpa sadar terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Sebelah sepatu baletnya terlepas. Ia sudah menduganya dari awal, sulit untuk berlari dengan sepatu itu. Sementara anjing ganas itu semakin mendekat.
"Ngapain lo duduk santai di sana?! Cepet berdiri!" Kenard menjadi geram sendiri. Sebenarnya ia bisa saja pergi duluan, tapi agak kasian melihat gadis kampungan ini. Ia tidak ingin melepaskan Tari begitu saja, setidaknya ia bisa membuatnya menderita terlebih dahulu.
Tari langsung berdiri dan ingin mengambil sebelah sepatunya yang terlepas sebelum Kenard menarik tangannya kuat dan menyeretnya berlari bersama.
"Lepasin! Sepatu gue tertinggal!", masih tidak rela meninggalkan sepatu kesayangannya. Tapi anjing-anjing itu sudah berada tepat dibelakang mereka sekarang.
"Hosh.hosh..Tinggalin aja sepatu butut lo", teriak Kenard yang terlihat sudah ngos-ngosan. Berlari sekuat tenaga sekaligus menyeret orang lain yang enggan berlari sangatlah sulit. Untung saja ia laki-laki perkasa.
"Gue bukan Cinderella yang bisa ninggalin sepatu seenaknya!", masih berdebat sekali-kali menegok kebelakang tepatnya pada sepatunya yang sudah berpindah lokasi ke mulut salah satu anjing yang menggigit sepatunya.
"Repot banget lo", cibir Kenard. Ide gila tiba-tiba muncul di otaknya. Mereka berhenti sejenak.
"Eh eh mau ngapain lo?!" panik Tari ketika Kenard tiba-tiba membungkuk ke arah kakinya.
Sebelah sepatu Tari yang tersisa kini berada di tangan Kenard. Memposisikan diri menghentakkan kaki kedepan dan mengangkat tangan seperti mau melemparkan batu. Teringat nasihat abangnya tentang tips menghadapi anjing. Membuat postur tubuh tampak lebih besar dan mengancam, anjing punya naluri untuk melarikan diri saat menghadapi mahluk yang hendak melemparkan sesuatu. Di lemparnya sepatu Tari ke arah gerombolan anjing itu. Tari sendiri hanya melihat dengan pandangan kosong, masih loading. Itu sepatunya kan?
"Lo ngapain, SETAN!!!" teriak Tari, akhirnya keluar kata mutiara dari lisannya dengan suara keras. Siapa coba yang rela kalo satu-satunya sepatu yabg berharga malah dikorbanin buat anjing.
Setelah dilempari sepatu dan mendengar suara keras Tari yang mereka kira gertakan, akhirnya anjing-anjing itu kabur melarikan diri. Sudut bibir Kenard terangkat, bangga akan diri sendiri. Berbeda dengan Tari ingin menangis saja, sekarang alas kaki pun ia tak punya. Anjing yang kabur setelah dilempari sepatu malah turut membawa sepatunya pergi. Nih anjing mau pulang sekalian bawa oleh-oleh.
"Sekarang, lo masih ada urusan sama gue", Kenard menyeringai bak setan. Tari sudah tidak tau harus ngapain, setelah berhadapan dengan anjing kini ia digenggam serigala. Bagaimana dirinya kedepannya? Hanya karena sebuah kupon hadiah kecil, sudah bermacam-macam pengalaman yang didapatnya. Sudahlah, kata pasrah mungkin tidak terlihat buruk untuk ia coba.