Salah Kamar

1163 Kata
'Tersenyumlah, Tari. Jadilah wanita paling bahagia'. Itulah sepintas kata terakhir yang emaknya katakan sebelum menyerahkan sebuah kalung berharga pada Tari. Tapi apa sekarang? Kalung itu bahkan sudah tidak berada ditangannya. Kenard yang berada di depannya duduk bersilang kaki di atas kursi taman sambil memainkan kalung rampasannya. Dikejadian sebelumnya setelah mereka lolos dari gerombolan anjing kerasukan, Kenard tanpa disangka menarik kalung yang berada di tangan Tari hingga kembali berada digenggamannya. Tari yang awalnya ingin pasrah, kembali menolak menyerah ketika teringat dengan senyum tulus emaknya yang mengamanahkan kalung berharga tersebut padanya. "Please dek...kembaliin kalung gue", pinta Tari membujuk memelas masih berdiri dihadapan Kenard yang congkak. "Gue bukan adek lo! Lagian kalung ini milik Jarot, bawahan gue yang setia. Mana bisa gue kasih ke orang lain", balas yang lebih muda dengan santai. "Eh itu kalung milik gue ya! Malahan si Jarot yang ngerampas!" si Tari jadi ikutan ngegas pemirsa. Kenard lagi-lagi sibuk memainkan kalung itu tanpa berniat merespon Tari. "Gue bukan orang sini, hanya kalung itu yang gue miliki sekarang. Jadi tolong kembaliin. Gue janji bakal ngelakuin apapun tapi kalung gue harus balik", berniat negosiasi. Awalnya ia pikir Kenard tidak akan terpengaruh, tapi dilihatnya pemuda itu tampak berpikir. "Apapun?" tanya Kenard memastikan. "Iya, selagi gue bisa", jawab Tari mantap yang memicu terangkatnya sudut bibir Kenard. "Hmm...", Kenard dengan pose berpikir sesekali memperhatikan orang yang berlalu lalang di sekitar taman bermain tempat mereka berada. Netranya fokus pada anak sekolah yang berseragam sama seperti dirinya sedang berjalan sendirian dengan tas di punggungnya, juga sesekali memperbaiki kacamata yang melorot. "Lo liat anak itu? Sana samperin dan minta paksa duitnya", tunjuknya lurus pada pemuda berkacamata yang terlihat culun. "Hah?! Lo gila! Gue gak bisa!", Tari jelas akan menolak. Tetapi hal ini sudah diprediksi oleh Kenard. "Ooo gitu...sayang banget kalung seindah ini jadi milik Jarot", tantang Kenard dengan wajah menyebalkan. Tari bimbang tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin ia tega memalak orang lain. Lagi-lagi perkataan emak muncul dibenaknya. 'Tersenyumlah, Tari'. Sebuah kata yang enak didengar dan menyejukkan hati. Tapi bila dilanda galau seperti ini, mana mudah wajah ini berhias senyum. Yang ada mendung bergayut. Rasanya tak puas jika tidak menumpahkan air mata. Apakah jika ia menangis Kenard akan luluh? Tentu hal ini tidak bisa dijadikan opsi mengingat Kenard yang sifatnya mirip iblis. Takdir sudah pasti terjadi. Jangan hancurkan diri dengan larut dengan persoalan. Jika jiwa tenang, lambat laun urusan akan menjadi mudah. Benar! Ia tak harus mengemis kasihan pada Kenard. Juga tidak harus menjadi penjahat dengan memalak orang lain. Tampak berpikir sekilas sebelum dengan segera ide gila muncul. Mereka ada di taman, ia dapat memanfaatkan situasi ini. Menarik napas sejenak, sebelum.. "TOLONG!!! PEMUDA INI INGIN MEMPERKOSA SAYA!" teriak Tari keras mengundang perhatian orang-orang yang awalnya sibuk berlalu lalang kini menghampiri mereka heboh. Inilah salah satu keuntungan dari suara cempreng yang dimiliki kaum hawa. Kenard otomatis membelalakkan matanya kaget. Tidak menyangka cewek kampungan itu akan melakukan hal sejauh ini. Ia sontak berdiri dari duduknya dan menatap tajam Tari dengan tangan yang siap membekap mulut berisik itu. Gadis sembilan belas tahun ini menyadari hal yang akan dilakukan Kenard. Ia pun segera mengambil kalung yang tanpa sadar Kenard letakkan di bangku taman kemudian berlari menuju salah satu warga yang mendekati mereka. Kini sudah banyak orang-orang yang berkumpul menyaksikan drama pulsu itu. "Tolong saya, Pak! Saya dipaksa dan ingin diperkosa", ucapnya dengan ekspresi ketakutan yang khas sambil berdiri berlindung di belakang pundak salah satu warga yang hadir. Sungguh akting yang sempurna. Pasalnya kini orang-orang di sana menatap Kenard menghakimi. Jangan tanya bagaimana perasaan Kenard saat ini. Sangat geram sampai rasanya ingin membunuh seseorang. Sekarang ia bertanya-tanya, mengapa ia tidak segera memutilasi saja si cewek kampungan itu agak berhenti mendatangkan masalah untuknya. Benar-benar jengkel rasanya, apalagi kini orang-orang di sekitar sudah mengerumuni mereka. "Pemuda ini lebih baik diserahkan pada polisi!" ucap salah seorang warga. Cih! Kenard berdecih sekilas sebelum berlari menerobos kerumunan lalu kabur menjauh dari sana secepat mungkin diikuti beberapa warga yang mengejar. Tak akan ia lupakan penghinaan ini. Untuk saat ini mungkin ia kabur, namun selanjutnya akan ia cari cewek kampungan itu sampai ke ujung kampung sekalipun dan akan menghancurkannya. Beda halnya dengan Tari yang masih pura-pura menangis dipundak seorang ibu-ibu yang berusaha menenangkannya. Padahal dalam hati ia tertawa setan atas keberhasilannya melawan Kenard. Tapi ada satu hal yang akan ia ingat seumur hidup. Jangan pernah berpapasan dengan seorang Kenard. Baik disengaja ataupun tidak karena ia yakin pemuda itu pasti tidak akan mudah melepaskannya. Suasana mulai tenang ditandai oleh kerumunan orang-orang yang mulai bubar. "Oh ya, bu. Ibu tau alamat ini ada di mana? Saya sudah hampir seharian ini mencarinya", tanya Tari tak lupa akan tujuan awalnya datang ke kota ini. "Alamatnya ada di sana, jalan lurus saja lalu belok kanan. Tempatnya dekat dari sini dan mudah ditemukan karena gedungnya besar", jawab ibu itu menunjuk arah tujuan. Dengan menyeka air mata palsu terlebih dahulu, barulah setelahnya ia mengucapkan terima kasih lalu bergegas. Lokasinya sangat dekat sehingga ia bisa sampai cepat walaupun dengan berjalan kaki. "Akhirnya...", ucapnya lega dengan senyum yang perlahan terbit. Seakan berbagai masalah yang telah menimpanya hilang seketika. Ternyata benar, yang ia butuhkan hanya sabar karena sabar itu tak tertakar. Bersama air mata ada senyuman. Bersama duka ada kegembiraan. Bersama bencana ada karunia. Bersama ujian ada pemberian. Itu semua adalah sunatullah yang pasti berlaku dan kaidah yang tidak bisa ditolak. Hanya perlu berbaik sangka dan membayangkan datangnya kebaikan. "Selamat sore, pak. Apa benar ini tempat lokasi untuk peserta undian?" tanyanya hati-hati pada seorang satpam. "Benar, mbak. Silahkan masuk, nanti akan diarahkan oleh panitia. Peserta yang lain sudah hadir dua hari yang lalu", jawab satpam tua itu dengan sopan. "Baik, terima kasih pak" Selanjutnya Tari melakukan verifikasi dengan panitia guna memastikan kalau dia benar-benar salah satu peserta undian. Kan jaman sekarang banyak tih penipuan makanya si panitia was-was. . . "Ini kuncinya, mbak. Harap dijaga baik-baik. Kamar kamu ada di kamar nomor 296. Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, saya mohon pamit dulu", panitia tersebut memberi kunci kamar pada Tari lalu pamit dengan sopan. Tak lupa Tari mengucapkan kalimat terima kasih. Tempat berkumpul para peserta undian berada di sebuah hotel megah dan mewah. Mereka akan tinggal menikmati fasilitas di sana sampai hari pengumuman. Bisa dibilang ini pertama kalinya Tari menginjak hotel. Bahkan tadi panitia mengajarinya cara menaiki lift. Saat ini suasana hatinya sedang berbunga-bunga. Dapat ia bayangkan tidur dikasur empuk, makan makanan enak, dan menikmati pemandangan kota saat malam melalui jendela seperti yang sering ia lihat di film-film. Merarik napas entah kesekian kalinya. Tari sudah berdiri di depan sebuah pintu kamar bertuliskan 269. Diperiksanya kenop pintu. Ternyata pintunya tidak terkunci sehingga ia tidak perlu repot menggunakan kunci kamarnya . Karena terlalu antusias langsung saja ia masuk ke dalam dan berbaring diranjang empuk menikmati kenyamanan yang pertama kali ia rasakan. Beban-bebannya terasa lenyap seketika. Inikah yang dinamakan dari jurang sengsara menuju puncak bahagia? Semoga saja. Karena diakibatkan kenyamanan tiada tara yang dirasakannya serta efek terlalu lelah, ia pun tertidur tanpa menyadari adanya suara gemericik air pada kamar mandi di dalam ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN