Tuan Muda Pemarah

1181 Kata
Gak bisa pungkiri kalau ranjang hotel memang nyaman. Tari si gadis rantau yang sial melulu perlahan menutup matanya menuju ke alam mimpi setelah menyelimuti diri dengan selimut tebal nan lembut. Suara gemericik air dalam kamar mandi di dalam ruangan itu tidak dapat mengusik tidur nyamannya. Tidak menyadari kemungkinan adanya orang lain dalam ruangan yang sama dengannya. Cklek! Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dengan elitnya. Sesosok pria tampan baru saja keluar setelah menyelesaikan aksi membersihkan diri. Handuk di pinggang bertengger menutupi area privasinya dan jangan lupakan sebuah handuk kecil lain bertengger di rambutnya yang basah. Berjalan keluar menuju tempat di mana pakaiannya berada. Sesekali menggosok handuk kecil di atas kepalanya guna mengeringkan rambut yang masih terdapat tetesan air jatuh ke lantai. Meregangkan sedikit otot kekarnya sebelum beranjak menuju ranjang mencari handphone canggihnya. Berniat mengecek email atau chat penting yang masuk. Sesampainya di ranjang, ia terperanjat kaget melihat gundukan selimut di atas sana. Ia bingung, bukankah jalang yang ia sewa sudah ia suruh pulang tadi? Kenapa masih ada di sini?! Hal sepele seperti ini sudah merusak moodnya yang baru saja membaik setelah mandi. "Heh! Bangun!" perintahnya dengan menepuk-nepuk keras gundukan selimut itu. Tapi seseorang yang dibangunkan tidak bergeming. Dengan kesal disibaknya selimut itu. Betapa kagetnya sang pria begitu melihat sosok lain yang kini perlahan bangun sambil sesekali menguap dan belum membuka mata sepenuhnya. "Apaan sih?! Ganggu tidur orang aja", Tari menggosok-gosokkan mata menjernihkan pandangan. Kurang kerjaan banget orang yang membangunkannya padahal ia yakin dirinya belum tidur lama. Nanta, sosok pria atletis tersebut membelalakkan mata hazelnya ketika mengetahui bahwa gadis urakan di depannya ini bukan jalang yang memuaskannya tadi. Buru-buru mencari handphone lalu mendial sebuah nomor yang biasanya dihubunginya saat memiliki banyak waktu luang. "Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?", ujar suara asing di seberang. Tari yang baru sadar sepenuhnya bingung, kenapa ada pria asing dikamarnya? Apalagi pria itu hanya mengenakan handuk menutupi area privasinya. Tari sontak bangun tergesa-gesa, memikirkan berbagai kemungkinan. Ayolah, ini adegan yang paling mainstream yang ada di sinetron. "Siapa kau? Kenapa ada dikamarku?!" Tari menuding pria tersebut, namun tidak direspon. Nanta lebih memilih sibuk menjawab telepon. Apakah pria ini pencuri atau mungkin saja ia penguntit?! Mana si tampan cuma make handuk lagi, kan susah buat positif thinking. "Bukankah saya hanya memesan satu jalang? Kenapa kau mengirim dua wanita?! Dan lagi, apakah stok jalang kalian menipis hingga mengirimkan jalang dengan bentukan seperti ini!", Nanti masih memarahi orang di seberang sana dan kali ini ia sambil menunjuk-nunjuk Tari. Tari yang mengerti pembicaraan mereka kini merasa tak terima. "Hey! Perhatikan omongan anda, Pak. Saya bukan jalang!" sanggah Tari walaupun masih dikacangin. Ya sudalah, diem aja mendingan. Emang terkadang kita perlu diam untuk meredam ego. "Maaf, Tuan. Mungkin terjadi kesalahan di sini. Kami hanya mengirimkan Kanya untuk menemani tuan karena kami tahu hanya Kanya yang biasa tuan pesan", ujar suara di seberang masih dengan sangat sopan. Tak mungkin mereka berani melawan. Berani melawan artinya kau sama saja mengakhiri hidup. Nanta memijit pelipisnya lalu mematikan sambungan telepon. Ia memandang aneh pada Tari yang menutupi badannya dengan selimut seakan-akan takut diperkosa. Tari terus menatap waspada pada pria itu. 'Kalau bukan jalang, mungkin gadis ini pelayan', pikir Nanta. "Apa yang kau lihat?! Cepat bersihkan ruangan ini!" perintahnya mutlak pada Tari yang menyernyit bingung. Di tambah sorot mata Nanta yang terlihat menganggap rendah dirinya. Apa pria ini mengira dia seorang petugas bersih-bersih? Bagaimana mungkin?! Malahan Tari adalah tamu terhormat di sini. "Saya bukan tukang bersih-bersih, Pak! Anda yang salah karena masuk ke kamar orang lain seenaknya", pernyataan Tari tambah membuat Nanta bingung. Gadis itu bukan jalang, bukan juga tukang bersih-bersih. Tiba-tiba Nanta membulatkan matanya ketika pikiran negatif terbesit dalam benaknya. Kejadiannya secepat kilat, tiba-tiba tongkat bisbol yang entah kenapa bisa ada di dalam ruangan itu kini ia todongkan pada Tari. "Itu berarti kau pencuri!" tuduh Nanta tanpa tahu kebenarannya. "Hah? Bukan!" Bagus, sepertinya kesialan yang didapat Tari kini bertambah. "Mana mungkin kau mau mengaku!" Nanta kembali mengambil handphone lalu mendial sebuah nomor. "Anda jangan asal menuduh ya, saya juga tamu di sini!" Tari berusaha memberi penjelasan tapi Nanta hanya tertawa remeh. Menatap dirinya dari atas ke bawah seakan menilai. "Heh...kau tamu? Kalau dilihat dari penampilanmu bahkan pelayan di sini terlihat lebih baik. Kau bayar dengan apa sampai bisa masuk ke sini?" Cukup! Pria ini sudah keterlaluan. Mengepalkan tangan, siap membalas ucapan tak berdasar itu sebelum terdengar pintu ruangan terbuka beserta suara langkah kaki terburu-buru beberapa orang. Cklek! "Lama sekali! Apa semua pekerja di sini selamban siput?!" Nanta yang pertama kali membuka suara ketika tiga pekerja hotel datang menghadap. Mereka menunduk takut dengan raut penyesalan. Tari bingung melihatnya, sampai segitu takutnya pekerja di sini pada pria emosian itu. "Maafkan kami, Tuan", jawab salah seorang dari mereka yang diyakini kepala pekerja di hotel ini. "Bagaimana bisa seorang gelandangan masuk ke sini?! JAWAB!" kembali menunjuk Tari. Sedangkan yang ditunjuk memutar bola mata jengah. Udah kebal! Sekalian jaga image di depan orang. Tari yakin bukan hanya ia yang pernah dihina seperti ini. Karena peristiwa-peristiwa yang ada hanyalah pengulangan dari peristiwa sebelumnya, hanya bentuk dan pelakunya yang berbeda dari masa ke masa. Pegawai wanita yang tadinya menunduk kini mulai menjelaskan dengan sesopan mungkin. "Maaf atas kecerobohan kami, Tuan. Ruang aula beserta lantai lima sudah di sewa oleh orang-orang perusahaan minuman kemasan. Mereka mengadakan acara undian berhadiah dan kebetulan gadis yang anda maksud adalah salah satu pesertanya", Tari mengangguk menyetujui. Andai saja sedari tadi pria itu mencoba mendengar omongannya, mungkin masalah tidak akan seheboh ini. "Lantai lima? Lalu kenapa dia bisa ada di lantai tiga?!" "Maaf, Tuan. Mungkin beliau tersesat dan salah masuk kamar", ujarnya masih dengan menunduk sopan. Nanta kembali berdecak kesal. Lalu memberi isyarat tangan mengusir, menyuruh mereka keluar. "Sekali lagi kami mohon maaf, Tuan", sebelum pergi pegawai wanita itu memberi isyarat pada Tari agar mengikutinya. Tari yang sudah mengerti alur setelah menyimak kejadian tadi hanya menurut. Jujur ia merasa bersalah, gara-gara ia yang salah kamar mereka di marahi habis-habisan. Gak mau juga dia tinggal lama-lama bareng Nanta yang emosian. Semua kembali ke tempat bertugas masing-masing. Kini Tari hanya ditemani Nadia, pegawai wanita yang menolongnya tadi. Nadia mengantar Tari menuju ke kamar Tari yang seharusnya. "Saya minta maaf, Mbak. Gara-gara saya mbak dimarahi tadi", harusnya ia masuk ke kamar 296 bukan kamar 269. "Tidak perlu dipikirkan, Mbak. Tuan Nanta memang orangnya suka marah. Jadi hal ini sudah biasa kami alami" "Apakah dia atasan di sini, Mbak?" Tari sudah lama penasaran. Kenapa pekerja di sini setunduk itu pada Nanta. "Bukan, Tuan Nanta adalah putra pemilik hotel ini. Beliau sering menghabiskan waktu bersama jalangnya di sini jadi kami sudah terbiasa dengannya" terjawab sudah, pantes mereka takut. Ternyata dia adalah pria yang memanfaatkan kekuasaan orangtua. "Oh ya, untuk sebentar malam tidak ada agenda yang perlu dilakukan. Sebaiknya mbak Tari beristirahat menikmati fasilitas hotel kami. Jangan lupa besok bersiap untuk acara utama sekaligus pengumuman pemenang undian" "Sip, do'ain juga semoga saya yang menang" "Iya, kalau gitu saya pamit dulu" melambaikan tangan perpisahan sampai Nadia hilang di belokan sana. Tidak sabar menunggu hari esok. Semoga besok menjadi definisi kebahagiaan untuknya. Tapi maaf-maaf aja nih, bre. Gak ada hidup yang isinya cuma bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN