Big Baby Boss

1182 Kata
Tadinya ingin dapat hari yang happy ending, kenyataannya baru juga happy eh udah ending. Baru saja berleha-leha menikmati fasilitas hotel bahkan jika ia masih punya handphone, galerinya mungkin sudah penuh dengan foto-foto pamer. Sayangnya kini Tari harus menerima takdir yang asem. Jika seseorang senang maka ia akan mendatangi orang yang ia cintai. Jika seseorang sedih maka ia akan mendatangi orang yg mencintainya. Lalu ke manakah Tari harus pergi? Orang yang mencintainya terlalu jauh dengannya. Orang yang ia cintai mungkin sudah berbahagia dengan orang lain. Fakta bahwa ia bukan termasuk salah satu dari tiga pemenang undian begitu mengguncangnya. Batinnya bertanya-tanya, jadi untuk apa ia berdiri di sini jika bukan karena harapan untuk menang? Sudah banyak hal yang terjadi, sekarang ia tidak memiliki harta apapun selain kalung pemberian emaknya. Kebahagiaan menyelimuti ketiga pemenang yang mendapatkan tiket liburan beserta uang tunai. Mereka terlihat bahagia di depan sana. Sedangkan gadis lusuh bin pesek ini cuma memandang mereka nanar, iri juga sih. "Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati karena kami masih punya hadiah menarik yang tidak kalian sangka-sangka," suara ceria pembawa acara di depan sana memenuhi ruangan. Bisakah Tari berharap dengan hadiah yang tak disangka-sangka ini? Peserta yang bernasib sama dengannya juga mulai mengharap bahkan beberapa dari mereka tengah merapalkan doa. "Dan hadiahnya ialah.... Jeng jeng jeng! Bisa berfoto dengan Andra si aktor tampan kita." Hah?! Apa ini? Berfoto dengan orang terkenal merupakan hadiah yang tak disangka-sangka? Tari bahkan lebih memilih uang lima ribu rupiah dibanding berfoto seperti itu. "Bagi pemenang silahkan maju mengambil hadiahnya. Dan peserta lain silahkan mengantri di sisi kanan saya untuk sesi berfoto." Peserta yang nyatanya berkelamin perempuan semua sontak berteriak histeris. Berlomba-lomba maju mengambil antrian pertama. Dan apa itu? Apa Tari salah lihat? Ketiga pemenang utama lebih memilih ikut mengantri berfoto daripada menerima hadiah utama mereka. Tari tak habis pikir, apa gunanya foto seperti itu yang hanya dicetak di kertas kemudian nantinya akan menjadi sampah. Acara undian sukses berjalan lancar dengan cewek-cewek yang masih histeris sesekali melompat kegirangan. Sedangkan Andra yang katanya aktor tampan itu sibuk menebar pesona di depan penggemarnya. Makin menggleparlah mereka.Tak ingin diam, Tari mendatangi salah satu panitia di sana. "Mas, izin nanya. Hadiah berfoto saya boleh di uangkan gak? Please saya lagi butuh banget duit," tawarnya memelas. "Maaf, Mbak. Tidak bisa ditukar, ini sudah menjadi kebijakan kami. Dan juga apa mbak ingin menyia-nyiakan kesempatan berfoto dengan aktor berparas dewa itu? Rugi kalau melewatkan kesempatan ini" "Asal mas tau, jangankan berfoto dengan aktor berparas dewa. Saya saja yang tetanggaan dengan Dewa tidak pernah sekalipun tertarik melihat wajahnya," iya. Jadi si Tari ini tetanggaan sama si Dewa, si bocil anak epep. Baru bocah tapi udah ngeselin banget apalagi kalo ngeliat muka songongnya. "Haha selera humor Mbak lumayan juga. Mbak boleh ambil satu karton minuman kami, silakan ambil di sebelah sana," apanya yang humor? Tari beneran tetanggaan sama si Dewa. Asal tahu saja rumahnya dihimpit oleh dua bocah berisik, Dewa dan Alexa. Itulah mengapa hidupnya sangat tentram sampai sekarang. Mimpi! . . Berjalan menuju pintu keluar dengan sekardus minuman kemasan yang ia angkat mati-matian. Dus ini lumayan berat, untunglah ia adalah wanita kuat. Tari berniat menjual minuman tersebut pada warung-warung kecil terdekat. Alhamdulillah niatnya tersampaikan. Kini ia memiliki uang tujuh belas ribu, sedikit tapi sudah cukup. Ia menjual minuman tersebut di warung kecil terdekat di sekitar hotel. Baru saja ingin melanjutkan langkah, seseorang menarik lengannya kuat. Wanita yang menarik lengan bajunya ini terlihat ngos-ngosan dengan raut menyedihkan. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Tari pelan tapi wanita itu masih saja menarik lengan bajunya. "To-tolong! Tolong saya!" jawab wanita itu panik. Rambutnya terlihat berantakan dengan kelopak matanya yang menghitam. Membawa-bawa map yang sepertinya berisi sesuatu yang penting. Jika ditelisik, penampilan wanita ini terlihat seperti pekerja kantoran. Rapi, modis, dan tentunya cantik. "Saya akan bantu sebisa saya, Mbak. Tapi tolong tenang dulu dan berhenti menarik baju saya", wanita itu perlahan tenang dan mulai mengatur napasnya normal. "Maafkan sikap tidak sopan saya" "Iya, gakpapa" "Kalau boleh tau, apa Mbak butuh uang?" pertanyaan macam apa itu! Tentu saja Tari butuh! "Iy-iya butuh banget, kenapa ya?", tanyanya penasaran. "Baguslah, saya memiliki lowongan pekerjaan yang mudah disertai gaji yang tinggi" "Kerja apa, Mbak?" balas Tari antusias. "Pekerjaan ini hanya perlu merawat seseorang. Seperti membangunkan dari tidur, mengatur kegiatan sehari-hari, dan mendidik. Apa Mbak tertarik?", penawaran ini terlihat menggiurkan bagi Tari. Merawat anak kecil mungkin tidak terlalu sulit baginya. "Saya.." "Oh tunggu, jangan ditolak dulu. Gajinya bisa mencapai lima juta perbulan. Mbak juga bisa mendapat fasilitas berupa tempat tinggal dan makanan. Bagaimana? Menarik, bukan?" "Saya mau Mbak!" mana bisa Tari menolaknya apalagi setelah mengetahui jumlah gaji yang menggiurkan. Hanya pekerjaan yang boleh menolaknya tapi dirinya tidak boleh menolak pekerjaan. "Kalau gitu, silakan Mbak tulis nama dan tandatangani surat ini lalu saya akan menyetorkan ke bos saya", membuka sebuah map yang sedari tadi dipegangnya lalu menyodorkan map tersebut pada Tari untuk ditandatangani. Tari yang masih mabuk membayangkan gaji yang tinggi, langsung menandatangani berkas tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu. "Sudah", katanya sambil menyerahkan pulpen milik wanita itu. "Baik, tunggu di sini ya. Saya akan memperkenalkan Mbak dengan bos saya", wanita itu pergi dengan senyum yang tak henti-hentinya terlampir di wajah. Dari jauh wanita itu terus berteriak sesekali melompat kegirangan, "AKU BEBAS! AKHIRNYA AKU BEBAS! THANKS GOD" Tari memandang aneh wanita itu. Bebas dari apa? Apa segitu bahagianya ia mendapat karyawan baru untuk bosnya? Terlihat mencurigakan. Kenapa juga ia mesti memikirkan itu. Lebih baik bekerja keras mengumpulkan uang agar ia bisa pulang ke kampung halamannya. . Setelah menunggu selama beberapa menit, dilihatnya seorang satpam lari tergesa-gesa ke arahnya. "Hosh..hosh... Mbak dipanggil menghadap sama bu Mira", dari sini ia tahu wanita tadi bernama Mira. "Baik. Terima kasih, Pak" segera bergegas masuk kembali ke hotel. Di depan sana ia bisa melihat Mira dengan seorang pria yang tidak diketahui wajahnya karena membelakanginya. Merapikan pakaian serapi mungkin sebelum menuju ke arah mereka. Berjalan dengan gugup takut membuat kesan yang buruk. "Ah perkenalkan ini Tari yang akan menggantikan posisiku. Dan Mbak Tari perkenalkan dia Andra, orang yang akan Mbak rawat", ujar Mira begitu Tari sudah berada tepat di depannya. Andra juga perlahan membalik badan melihat asisten barunya. "Lo liat apa, hah? Mau gue colok mata lo?!" perkataan Andra sinis ketika Tari terdiam melihatnya. Tari masih loading. Tunggu! Andra? Si aktor tadi? batin Tari. Sepertinya ada yang aneh di sini. "Gue gak mau basa-basi. Sana! bawain barang-barang gue" perintah Andra dingin pada Tari. Mira yang kesal dengan kelakuan mantan bosnya itu seketika menginjak sebelah kaki Andra. "Heh, yang sopan!", ucap Mira dengan nada berbisik pada Andra. Tari masih diam mematung. Apa ini? Bukankah dia akan bertugas merawat anak kecil? Kenapa Andra? Ah sial, beginilah akibatnya jika tidak membaca kontrak baik-baik. Bukannya merawat anak imut dan lucu, kini ia lebih mirip menjadi babu bayi besar. Walaupun ganteng tapi ngeselin abis, padahal ini kesan pertama lho. Setidaknya Andra harus pura-pura baik dulu kek, sombongnya bisa nyusul bentaran. Kenapa juga orang dewasa seperti Andra harus dirawat?! Hikmah apa yang harus Tari petik dari kejadian menjengkelkan ini? Ia tahu dunia memang suka bercanda, tapi kenapa dia mulu yang dibercandain? Pulang ke rumah membawa bata, Sudahlah, Tari tak bisa berkata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN