Malam ini masih di hari yang sama, Tari menunggu Andra menyelesaikan syutingnya. Ia duduk di sudut ruangan dengan pakaian yang masih seperti kemarin. Bedanya sekarang ia mengenakan masker, Andra yang menyuruh katanya ia risih melihat wajah asisten barunya itu. Tapi hal ini ternyata juga memiliki sisi positif bagi Tari. Jelek-jelek gini kalau pakai masker yang liat sampai penasaran.
Tak lama syuting yang melelahkan telah selesai, Andra menghela napas sembari berjalan menuju sudut ruangan tempat Tari berada. Tari buru-buru berdiri dan menyiapkan air minum untuk Andra. Harus gesit pokoknya karena ini masih hari pertama kerja. Belum juga sampai, Tari dikagetkan sekaligus takjub melihat adegan di depannya. Seorang wanita tidak sengaja menabrak Andra hingga berakibat semua kertas yang dipegangnya jatuh. Buru-buru wanita itu memungut kertasnya berkali-kali menggumamkan kata 'maaf'. Dan apa yang dilakukan Andra? Dia ikut jongkok membantu memunguti kertas tersebut seraya tersenyum berniat tebar pesona. Diberi perlakuan seperti itu tentu saja wanita itu meleyot. Nah, ini nih yang buat Tari gedek. Sikap Andra ke cewek lain itu soft, kalau ke dirinya udah kayak set*n.
Melihat Andra yang mendekat ke arahnya setelah membantu wanita tadi, Tari memaksakan diri memberikan senyuman seraya menyodorkan sebotol air. Andra hanya melirik botol itu itu tanpa berniat menerima. Bahkan tangan Tari sudah pegal dibuatnya.
"Gue lupa bilang, tiap selesai syuting gue selalu minum kopi. Beliin gue kopi di kafe depan, jangan lama!!" begitu rupanya. Tari menurunkan tangannya. Dan kembali lagi menengadahkan tangan ketika teringat sesuatu.
"Duitnya mana?" ya kali beli kopi tanpa duit.
"Pake duit lo dulu," setelah itu Tari keluar dan menyebrang jalan menuju kafe sebelah.
Ngomong-ngomong ia tidak tahu kopi apa yang disukai Andra. Melihat-lihat menu yang tertera, batinnya menjerit kala matanya menangkap hal tak lazim. Harga kopinya mahal cuy! Ayolah.. ia hanya memiliki uang tujuh belas ribu dan kopi yang paling murah di sini seharga lima belas ribu. Terpaksa ia membeli kopi itu, toh nanti Andra akan mengganti uangnya.
Kenapa juga kafe ini bisa sangat ramai mengingat harga minuman di sini mahal-mahal. Kopi di warteg dekat rumahnya cuma seharga lima ribu rupiah per cangkir, itupun sudah dapat ia katakan mahal. Semoga saja rasanya tidak mengecewakan.
.
.
Cuih!
"Kopi apaan nih?! Gak enak," baru juga diseruput udah dilepehin aja. Amejing sekali tuan aktor kita.
"Duit gue cuma cukup beli kopi itu," sebelumnya Andra sudah memberitahunya untuk tidak terlalu formal. Lagian kalau mau menghina makanan atau minuman tolong jangan di depannya. Ia tidak terbiasa mengeluarkan uang untuk membeli minuman seperti itu. Kini Tari hanya mampu memalingkan wajah enggan menatap wajah kesal Andra.
"Mudah banget lo ngerusak mood gue," membuang minuman itu ke tempat sampah padahal baru diseruput secuil. Setidaknya kalo gak mau diminum berikan saja pada Tari. Gadis itu hanya mampu meratapi uang lima belas ribunya. Sabar, ia yakin malaikat pembagi rezeki tidak akan korupsi.
Berjalan sambil mengikuti Andra dari belakang sambil membopong tas yang berisi perlengkapan sang aktor. Mereka menuju ke parkiran. Masuk ke dalam salah satu mobil mewah di sana.
"Ngapain lo di belakang? Lo kira gue supir?!" ucap Andra begitu Tari masuk ke kursi penumpang di belakang. Ada apa dengan pria ini? Apa yang dia tahu hanya marah-marah?
"Maaf" keluar kembali lalu masuk menuju pintu depan mobil. Mendudukkan dirinya di kursi depan di samping Andra yang mengemudi.
"Huh... ngapain lagi lo di sini?" tanya Andra jengah. Tari mengangkat sebelah alis bingung. Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini? Capek dia tuh!
"Kan tadi katanya gak boleh duduk di kursi belakang"
"Ya terus lo boleh duduk di kursi depan gitu?"
"Ya memang begitu, kan?"
"Keluar!"
"Ta-tapi kan-"
"Keluar gue bilang!"
"Ta-tapi kan katanya gue dapet fasilitas tempat tinggal?"
"Emang dapet, tapi lo harus pergi sendiri. Rumah gue ada di Jl. Semoga Setia. Jadi segera angkat kaki dari mobil gue!" akhirnya Tari kembali keluar dengan perasaan dongkol. Inginnya ia menutup pintu mobil keras, tapi mana mungkin ia melakukannya. Bisa dipecat nanti.
.
.
Berjalan sendirian di bawah sinar rembulan. Alhamdulillah, untungnya alamat rumah Andra tidak jauh dari sini. Tapi ia sangat capek dan lapar sekarang. Ingin mengeluh tapi bukankah ia harus lebih bersyukur atas pekerjaan yang berhasil didapatnya? Bisa nggak sih langsung kaya mendadak aja gitu gak usah kerja. Malam hari begitu dingin menusuk kalbu. Dingin-dingin gini enaknya diselimuti kekayaan.
Akhirnya rumah Andra sudah terlihat. Rumah berukuran kecil dan terlihat sederhana untuk ukuran seorang aktor sukses. Mengetuk-ngetuk pintu menunggu sahutan pemilik rumah.
Cklek!
"Oh baru sampai lo," Andra muncul penampilan yang beda. Jika biasanya ia terlihat kasual dan bergaya, maka sekarang ia nampak lebih sederhana dengan baju kaos tanpa lengan dan celana pendek. Masuk ke rumah tak lupa memberi isyarat pada Tari agar ikut masuk ke dalam. Tari diam aja, gak ada energi buat ngomong.
"Rumah gue kecil, cuma ada satu kamar jadi lo bisa tidur di sofa," lanjutnya. Tari pikir Andra memiliki rumah mewah yang super wow. Tapi hanya rumah sederhana yang bahkan hanya memiliki satu kamar. Tapi setidaknya rumah ini lebih terlihat manusiawi dibanding rumahnya di kampung. Yang aneh dari rumah ini adalah dindingnya dipenuhi foto Andra yang tak terhitung jumlahnya.
"Gue laper, masakin gue sesuatu. Lo bisa masak, kan?" perintah si Tuan Bos.
"Lo mau makan apa?" mengambil pelajaran dari insiden kopi sebelumnya. Tari akan bertanya terlebih dahulu agar tidak berakhir melakukan hal yang sia-sia. Sumpah udah capek banget dia, mana perutnya masih kosong.
"Apapun yang lo masak bakal gue makan"
Langsung saja Tari bergegas ke dapur setelah mengetahui letaknya dari Andra. Dibukanya kulkas tetapi isinya hanyalah minuman keras dan beberapa minuman cola. Tak ada satupun bahan makanan.
Lanjut memeriksa lemari guna mencari sesuatu yang bisa dimasak. Alangkah takjubnya ia ketika melihat mie instan dengan berbagai rasa tersusun rapi di sana. Diambilnya satu bungkus lalu dimasak.
Lima menit kemudian setelah mie-nya masak. Tari membawa dengan hati-hati nampan berisi semangkuk mie menuju ke meja makan. Dilihatnya Andra yang sibuk bermain handphone.
"Nih, udah masak" meletakkan nampan dengan hati-hati.
"Gue gak suka mie," melirik sekilas pada mie instan di hadapannya.
'Terus kenapa lemari lo penuh mie instan, bambang? Lagian tadi lo bilang bakal makan apapun yang gue masak.' Batin Tari, mana berani ia mengucapkan secara gamblang.
"Liat tingkah gak becus lo bikin gue ngantuk," menghela napas sebelum beranjak menuju ke kamarnya.
"Maaf" hanya ini yang bisa diucapkan Tari.
"Oh ya, kalau ada orang lain datang, jangan bukain pintu!" berhenti di tengah jalan memberi tahu hal yang sangat penting itu.
"Iy-iya, emm gue boleh nanya gak?" tanya Tari. Sudah daritadi dirinya dilanda rasa penasaran.
"Hm"
"Cuma kita berdua yang tinggal di sini?"
"Nggak, di sini ada ikan peliharaan gue juga, beberapa cicak di dinding, semut, nyamuk dan keknya ada tokek sembunyi di belakang lemari. Besok lo jangan lupa bersihin kolam ikan gue sebelum berangkat," Andra lalu lanjut berjalan tanpa menunggu tanggapan dari lawan bicara.
Itu artinya cuma berdua kan? Bagaimana ini? Tari tidak bisa hidup serumah dengan pria yang bukan mahramnya. Mungkin ia hanya perlu meminjam ruangan untuk sholat isya, barulah setelah itu memikirkan kelanjutan nasibnya. Tak lupa menghabiskan mie yang sudah ia masak, mumpung laper. Mubazir kalau dibuang mending ia makan saja.
.
.
.
"Huff..dingin banget"
Malam adalah waktu yang bahaya, bengong dikit aja langsung mikirin hidup. Di sinilah Tari sekarang, meringkuk di luar teras tepat di depan pintu. Sesekali menggosok tangan menghalau kedinginan. Ia memutuskan tidur di luar setelah meminjam sebuah sarung yang ia temukan di dalam rumah.
Dan masih dalam kondisi yang sama seperti hari sebelumnya, hidupnya sedang berada di puncak komedi.