Jdor! Jdor!!
Suara gedoran pintu keras tak hentinya bersahutan. Masih pukul tiga pagi dini hari dalam suasana teramat dingin. Seorang wanita cantik berpakaian minim lengkap dengan koper ditangannya masih terus berusaha menggedor-gedor pintu kuat walaupun sudah dihalau oleh Tari.
"Maaf, Mbak gak boleh masuk" ucap Tari masih berusaha menghalau cewek aneh itu.
Teringat pesan yang disampaikan Andra semalam untuk tidak membiarkan masuk orang lain. Ia tidak boleh gagal, alasan takut dipecat sudah cukup baginya.
"Siapa sih?! Sana menyingkir!" cewek berpakaian minim itu terus melakukan aksinya menggedor-gedor pintu. Bahkan kuku jarinya yang panjang sukses menggores punggung tangan Tari. Tari meringis kecil, bukannya cengeng tapi luka kecil seperti ini juga bisa menyakitkan.
"Tolong! Berhenti Mbak nanti bisa mengganggu tetangga," bujuk Tari. Heleh! Padahal jujur ia sama sekali tidak peduli dengan tetangga. Lagian rumah tetangga sangat jauh dari sini, kecuali rumah yang tak berpenghuni itu lumayan dekat dengan rumah Andra. Ia lebih takut dipecat oleh Andra dibanding memusingi tetangga. Kan gak lucu kalau baru bekerja sehari sudah langsung dipecat.
"Gue gak peduli!" katanya mendorong Tari menjauh darinya lalu kembali ingin melanjutkan aksinya sebelum
Kriet...
Suara pintu terbuka dari dalam menampilkan sosok Andra dengan muka bantalnya. Tapi walaupun begitu.., apa tidak bosan tampan setiap saat? Terlihat kalau ia sangat terganggu dengan suara bising yang mengusiknya. Terlalu cepat untuk say goodbye pada tidur nyenyaknya.
"Ngapain sih? Berisik banget!" tanya Andra menatap Tari. Yang ditanya hanya mengangkat bahu mode tak bersalah sambil menunjuk ke arah cewek tadi. Toh memang benar, cewek itu yang tiba-tiba muncul marah-marah sambil menggedor-gedor pintu rumah orang lain. Kalau bukan karena wajahnya yang cantik dan penampilannya yang rapi maka Tari dapat segera mengklaim cewek ini sebagai orang gila.
"Aku gak mau putus sama kamu, Ndra!" langsung to the point aja nih cewek. Basa-basi dikit kek!
"Lo jauh-jauh dateng ganggu tidur gue cuma buat ngomongin hal itu?" Andra heran, masih ada orang senekat itu. Mana masih jam tiga pagi!
"Kamu masih ingat kan sama tawaran kamu bulan lalu? Aku jawab iya. Aku mau nikah sama kamu" berujar dengan semangat dan meraih tangan Andra untuk ia genggam. Menampilkan senyum secantik mungkin.
"Hah? Ngebacot ya? Tawarannya udah kadaluarsa," tentu saja tautan tangan tersebut langsung dihempaskan oleh aktor fenomenal kita. Reaksi yang bagus, pertahankan nak! Lagian tawarannya sebulan lalu kok baru dijawab sekarang? Sorry gak ada garansi. Udah lewat pokoknya.
"Tapi aku hamil anak kamu! Kita bertiga bisa bahagia bersama" memperlihatkan wajah yang sengaja diimutkan sambil mengelus perutnya yang agak sedikit buncit.
"Bukannya udah gue bilangin? Itu bukan anak gue!"
"Ini anak kamu, Ndra. Kita ngelakuin itu kemaren," masih ngotot menjawab.
"Ya terus langsung jadi gitu? Mikir dikit perut lo udah kembung. b**o banget gue sampai gak curiga"
"Tapi kamu pernah bilang cinta sama aku!" melasnya. Padahal Andra mengatakan kata tersebut pada semua wanita yang dia kencani. Bukan hanya dia.
"Udahlah, mending lo cari bapak anak lo daripada ngerusuh di sini. Lagian kita udah putus" capek banget dia tuh. Kerja seharian dimulai dari ngisi acara sponsor, syuting malem hari, dan lelah batin karena asisten barunya yang gak becus. Oh iya! Ia lupa kalau punya asisten.
"Aku gak mau! Aku gak bisa hidup tanpa kamu"
"Sama, gue juga gak bisa hidup tanpa napas" ya kali tanpa kamu, najis!
"Kamu berubah, Ndra. Apa kamu selingkuh lagi? Siapa cewek ini?" menunjuk nyalang pada Tari yang tidak tahu apa-apa. Yang daritadi cuma diam menyimak. Pikirnya 'seru juga pertengkaran mereka'. Kenapa juga Tari harus terjebak dengan situasi yang mirip sinetron.
"Ngaca, Ra. Lo yang selingkuh sampai bisa bunting gitu", memijit pelipisnya lelah. Jujur Andra hanya butuh tidur sekarang.
"Ta-tapi kamu duluan yang selingkuh! Bahkan sekarang udah punya cewek baru!"
"Lo salah, dia udah jadi istri gue bukan pacar. Jadi jangan ganggu hidup kami lagi. Yuk sayang kita masuk, nanti kamu kedinginan di luar," mengisyaratkan pada Tari untuk mengikuti alurnya. Tari yang awalnya kaget berusaha bersikap biasa saja. Tapi tak dapat dipungkiri kalau tidak keberatan dengan perkataan Andra tadi. Pokoknya jangan sampai baper!
Tari menunduk sungkan pada Rara sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
Blam!
Pintu ditutup keras oleh Andra begitu Tari sudah masuk ke rumah. Masih terdengar gedoran beserta teriakan tak terima dari mantan Andra. Tapi sepertinya si pemuda lebih memilih duduk di sofa tanpa menghiraukan sang mantan.
"Gimana kalo tuh cewek ngerusak citra lo? Bahaya kalo berimbas ke karir," perkataan Tari ada benarnya. Tapi entah kenapa Andra terkesan biasa saja seakan tak peduli.
"Nggak bakal, yakin 100%" jawab Andra yakin. Percuma juga Tari khawatir, yang dikhawatirkan bahkan tidak peduli sama sekali.
"Gimana kalo itu beneran anak lo? Lo nantinya bakalan nyesel udah menelantarkan mereka." Tari sebenarnya kasihan pada Rara. Wanita itu sedang hamil dan harus menerima penolakan seperti ini.
"Bukan anak gue! Udah deh gak usah bacot" lagi-lagi Andra menolak mengakui.
"Dengerin gue ya, jangan sampai lo nyesel. Gimana kalo lima tahun ke depan lo tiba-tiba ketemu sama bocah yang wajahnya mirip banget sama lo. Dan kemudian lo tau kalo dia anak lo. Dan akhirnya lo ngemis maaf dan cinta ke ibunya karena udah menelantarkan mereka. Lo juga mau menebus kesalahan tapi udah terlambat. Emang lo mau kalo kejadian itu terjadi?" terang Tari panjang. Ia gak mau kalo Andra ngalamin drama-drama 'anak dulu baru cinta' yang biasa mirip dengan novel yang ia baca.
Andra kembali menghela napas, "Sekali lagi gue bilangin, bayi yang dikandung Rara bukan anak gue! Gue yakin, gue aja ketemu dia pas di bar. Ada kemungkinan dia bakal aborsi"
Tari hanya diam, masih kasihan pada Rara. Pasti sulit sekali membesarkan seorang anak sendiri.
"Nih" lanjut Andra memberikan sebuah kunci pada Tari yang hanya berdiri sedari tadi.
"Hah?" jelas Tari bingung. Untuk apa kunci ini? Ingin bertanya lebih lanjut sebelum Andra lebih dulu menjawab pertanyaan di kepalanya.
"Kunci kamar gue, lo bisa kunciin gue dari luar. Besok pagi buka lagi pintunya pas bangunin gue," berdiri dari duduknya menuju ke arah kamar bertemu pusat kenyamanan, kasur.
Tari hanya memandang kosong sebuah kunci di tangannya. Ngomong-ngomong kunci ini terlihat imut dengan gantungan simbol huruf K yang membuatnya menarik. Berjalan menuju pintu kamar Andra lalu melakukan tugas yang diberikan padanya. Setelah yakin pintu sudah terkunci rapat, ia kembali duduk di sofa.
'Mungkin tak apa tidur di sofa ini, toh Andra juga gak mungkin bisa keluar dari kamarnya' pikirnya. Mungkin sekarang ia bisa tenang. Yah memang setiap orang punya cara berbeda untuk 'tenang'. Jujur Tari sangat mengantuk, ia belum tidur sama sekali tadi dikarenakan banyak nyamuk yang konser di teras.
Sedangkan pemuda di dalam sebuah kamar, tepatnya di bawah gundukan selimut. Sudut bibirnya terangkat samar ketika mendengar suara pintu yang dikunci. Andra sadar kalau Tari belum tidur sama sekali sedari tadi. Ia sempat melihat Tari merebahkan diri di teras melalui jendela kamarnya. Awalnya ia mengira Tari hanya ingin menghitung semut tapi ternyata gadis itu malah memilih tidur di tempat dingin seperti itu.
"Dasar, cewek bodoh!" kata terakhirnya sebelum menuju ke alam mimpi.
.
.
Pagi ini Andra kelimpungan di dalam kamar, ia teramat sangat ingin buang air kecil. Masalahnya yaitu kamar mandi terletak di luar dan pintu kamarnya masih setia terkunci. Siapa sangka ia yang akan lebih dulu bangun pagi dibanding asisten barunya itu. Berulang kali pintu kamarnya dia gedor bahkan didobrak kuat sambil meneriaki nama Tari. Sedangkan yang diteriaki masih menikmati tidur nyenyaknya. Ingatkan Andra kalau Tari adalah manusia kebo.
'Ah sial' batinnya. Sekarang Andra benar-benar menyesal.